Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 42 Penjelasan


__ADS_3

Penjelasan dari mulut Ferdi sangat ditunggu-tunggu oleh Velicia sudah sangat lama. Dan kini dia baru akan mendapatkan penjelasan itu dari suaminya.


Apa penjelasan yang diberikan oleh Ferdi adalah yang sebenarnya? Atau akan terkuak hal lain yang belum diketahui oleh Velicia?


Selama ini Ferdi selalu menutupi semuanya dari Velicia meskipun mereka sudah berumah tangga selama lima tahun.


Namun, ketika Velicia mengancamnya dengan kata perpisahan, sontak saja Ferdi ketakutan dan mengatakan apa yang ingin didengar oleh istrinya.


"Tolong dengarkan penjelasanku."


Ucapan Ferdi itu membuat Velicia memusatkan perhatiannya pada suaminya.


Ferdi menceritakan apa yang terjadi pada saat makan siang waktu itu. Sayangnya apa yang dikatakan oleh Ferdi tidak sama dengan apa yang dilihat oleh Velicia waktu itu.


Namun, Velicia mencoba percaya pada suaminya. Dia menganggap bahwa dirinyalah yang salah mengira, meskipun dalam hati kecilnya dia yakin dengan apa yang dilihatnya.


Oke Mas, untuk saat ini aku mencoba percaya padamu. Aku harap kamu memang benar dan tidak ada kejadian lagi seperti saat itu, Velicia berkata dalam hatinya sambil menatap dalam mata suaminya.


Ferdi tersenyum dan memegang kedua tangan Velicia setelah melihat istrinya diam saja tanpa mengatakan apapun pada dirinya.


Dia menganggap istrinya sudah percaya padanya dan memaafkan dirinya. 


Sedangkan Velicia, dia memang sengaja tidak mengatakan apapun pada suaminya karena dia mencoba untuk percaya pada apa yang dikatakan suaminya kali ini.


Bukan karena dia mengalah pada suaminya, hanya saja dia sudah lelah berdebat dengan suaminya dan juga lelah berdebat dengan hatinya.


Dia ingin hidup damai seperti sebelumnya. Seperti waktu pertama kali mereka menikah dan sebelum ibu mertuanya selalu menekannya karena belum mendapatkan keturunan.


"Istirahatlah, akan aku belikan kamu makanan dan setelah itu minumlah obatnya," ucap Ferdi sambil menyelimuti istrinya.


Velicia hanya menurut tanpa menjawabnya. Dia ingin mengetahui sejauh mana suaminya bisa menjadi suami yang baik, seperti yang diharapkannya akhir-akhir ini.


Ferdi duduk termenung di bangku depan kamar inap Velicia. Dia melihat pintu kamar tersebut dengan tatapan frustasi. 


Tidak ada dalam bayangan Ferdi peristiwa seperti yang terjadi hari ini. Menurut bayangannya, hari-harinya bersama dengan Velicia akan baik-baik saja seperti biasanya, seperti awal mereka menikah.


Hari berikutnya, dokter yang menangani Velicia datang untuk memeriksanya.


"Kondisi Bu Velicia sudah membaik, hanya saja tidak secepat perkiraan saya. Apa mungkin ada hal yang bisa saya bantu Bu agar kondisi Ibu bisa cepat membaik?" ucap dokter tersebut setelah memeriksa keadaan Velicia.

__ADS_1


Velicia tersenyum tipis menanggapi ucapan dari dokter yang memeriksanya. Dalam hati dia berkata,


Bagaimana dokter bisa membantu saya jika masalahnya adalah masalah rumah tangga saya. Dan tidak mungkin juga keadaan saya bisa cepat membaik jika beban pikiran saya sangat banyak dok.


Dokter tersebut mengerti jika Velicia menyembunyikan sesuatu darinya. Dan dia menduga jika itu bukan ranahnya untuk mengetahuinya.


"Baiklah Bu, saya harap Bu Velicia kondisinya semakin membaik. Jangan lupa diminum semua obatnya. Dan jangan terlalu banyak pikiran, karena bisa juga mempengaruhi proses kesembuhan Ibu," ucap dokter tersebut sebelum dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Velicia menganggukkan kepalanya sambil berkata dengan lirih,


"Terima kasih dok."


Dokter tersebut pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia melangkah untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Terima kasih dok," ucap Ferdi yang sedari tadi berdiri sedikit menjauh dari tempat tidur pasien ketika Velicia sedang diperiksa.


Dokter tersebut menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Ferdi, kemudian dia teringat akan sesuatu.


"Maaf Pak, Bu, sepertinya istri saya tidak bisa menemui Bapak dan Ibu untuk konsultasi seperti yang saya anjurkan waktu itu. Istri saya sedang ada di luar kota. Jadi saya mohon maaf," ucap dokter tersebut yang merasa sungkan pada Velicia.


Velicia tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya pada dokter tersebut yang sedang melihat ke arahnya. Kemudian dia berkata,


"Tidak apa-apa dok, kami sudah memiliki dokter yang sejak awal menangani masalah kami."


"Apa kalian akan berkonsultasi kembali pada dokter tersebut?"


Velicia kembali tersenyum, tapi senyumannya kini berbeda. Dia tersenyum manis sambil melihat ke arah suaminya dan menjawab pertanyaan dokter tersebut,


"Iya dok, tapi hanya suami saya saja yang akan ditangani oleh dokter tersebut."


Sontak saja Ferdi terkejut dan membelalakkan matanya mendengar perkataan dari istrinya.


Tak hanya Ferdi yang terkejut, dokter tersebut pun terkejut dan berpikir seperti apa yang dipikirkan Velicia. Tanpa sadar dokter itu pun tersenyum senang mendengarnya. Kemudian dia berkata,


"Maksudnya?" 


"Hanya suami saya dan dokter tersebut yang tau dok," jawab Velicia sambil tersenyum getir.


Dan dokter tersebut mengerti kemungkinan yang sedang terjadi ketika melihat ekspresi Ferdi yang berubah.

__ADS_1


Selang beberapa hari, kondisi Velicia sudah membaik. Hanya saja dokter belum mengijinkannya untuk bisa kembali pulang.


Namun, Velicia meminta dengan sedikit memaksa pada dokter agar diijinkan pulang. Dokter pun akhirnya mengijinkan Velicia pulang dengan catatan dia harus istirahat total selama di rumah, sama dengan pada saat berada di rumah sakit.


Velicia pun menyetujuinya dan dia berjanji pada dokter tersebut akan mematuhi semua persyaratan yang diberikan dokter padanya.


Akhirnya Velicia pulang pada hari itu juga dan Ferdi mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil yang belum pernah dilihat oleh Velicia.


"Sepertinya ini mobil baru. Apa Mas Ferdi meminjam dari kantor?" tanya Velicia sambil melihat ke arah belakang kursinya.


"Ini mobil baru kita," jawab Ferdi sambil tersenyum.


Velicia mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari suaminya. Kemudian dia berkata,


"Mobil baru kita? Sejak kapan?" 


"Sejak kemarin," jawab Ferdi singkat sambil mengemudikan mobilnya.


"Kenapa? Bukannya Mas Ferdi bilang ini pemborosan ketika aku menyarankan Mas untuk membeli mobil waktu itu?" tanya Velicia dengan menampakkan wajah herannya.


"Aku berubah pikiran sekarang. Aku tidak mau kamu lelah," jawab Ferdi sambil tersenyum dengan tatapannya mengarah pada jalanan yang ada di depannya.


Velicia tersenyum sinis mendengar jawaban dari suaminya. Dalam hatinya dia berkata,


Karena aku atau karena wanita itu Mas? Kenapa tidak sejak dulu saja kamu membeli mobil ini ketika aku memintanya?


"Kapan Mas Ferdi akan kembali berkonsultasi dan menjalani operasi sesuai dengan janji Mas padaku?" tanya Velicia ketika mereka berada dalam mobil.


Ferdi yang sedang mengendarai mobilnya merasa kaget dan wajahnya  berubah menjadi tegang, seolah menunjukkan bahwa dia sedang ketakutan.


"Nanti," jawab Ferdi singkat sambil mengendarai mobilnya.


Sontak saja Velicia memicingkan matanya dan menatap suaminya dengan kecurigaan sambil berkata,


"Nanti kapan Mas? Mas Ferdi tidak sedang membohongiku kan?"


Ferdi menghela nafasnya kasar dan dia menjawab pertanyaan Velicia tanpa menoleh padanya, pandangannya masih saja lurus pada jalanan yang ada di hadapannya.


"Nanti, setelah kamu sembuh."

__ADS_1


Velicia tersenyum kecut mendengar jawaban dari Ferdi. Menurutnya, Ferdi tidak ada niatan sama sekali untuk menepati janjinya.


"Yang akan berkonsultasi dan menjalani operasi itu Mas Ferdi, bukan aku. Jadi, kenapa harus menunggu aku sembuh terlebih dahulu?" ucap Velicia dengan sinisnya.


__ADS_2