Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 62 Sebuah kebahagiaan


__ADS_3

Hujan yang begitu derasnya membuat mereka tidak bisa pulang untuk saat ini. Bahkan tidak ada bus yang lewat saat itu.


Raymond melihat ada penginapan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berada. Dia mengurai sedikit pelukannya dan menatap intens manik mata wanita yang ada dalam pelukannya itu.


"Ve, aku ingin bersamamu," ucap Raymond dengan suara lembut dan tatapan yang penuh cinta.


Bohong jika Velicia tidak menginginkan untuk bersama dengan Raymond. Dia juga memiliki perasaan dan keinginan yang sama dengan Raymond. Perasaan cinta dan ingin memilikinya serta ingin selalu bersamanya.


Di sinilah mereka saat ini. Di dalam penginapan yang tidak jauh dari halte tadi.


Brak!


Pintu kamar ditutup oleh mereka dengan terburu-buru. Raymond meraih tubuh Velicia ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat seolah tidak ingin dipisahkan.


Tangan Velicia pun menyambut hangat pelukan Raymond dan sama seperti Raymond, dia pun mengeratkan pelukannya, seolah tidak ingin terpisah darinya.


Perlahan bibir Raymond mendarat pada bibir Velicia. Dia mengecup bibir Velicia dengan perlahan, sangat halus dan tidak menuntut, sehingga Velicia merasa sangat nyaman dan merasakan bibir Raymond mengecupnya dengan penuh perasaan.


Semakin lama ciuman mereka semakin panas, hingga mereka tidak memikirkan apapun. Bagi mereka saat ini yang terpenting adalah perasaan dan kebahagiaan mereka.


Dengan bibir mereka yang masih saling bertautan, langkah kaki mereka menuntun mereka berdua menuju ranjang yang ada di kamar tersebut.


Raymond merebahkan tubuh Velicia di atas ranjang dengan sangat pelan dan hati-hati. Tubuh Raymond mengungkung tubuh Velicia yang berada di bawahnya. Dan mata mereka berdua saling menatap dengan penuh cinta.


Perlahan tangan Raymond membuka baju Velicia. Dan tangan Velicia tidak menganggur, dia pun  membuka baju Raymond.


Drrrt… drrrt… drrrtttt…


Ponsel Raymond dan Velicia yang berada di saku celana mereka bergetar secara bersamaan. 


Raymond melepaskan ciuman mereka, kemudian dia berkata,


"Ve, angkatlah teleponmu terlebih dahulu."


"Kamu juga Ray," ucap Velicia sambil beranjak dari ranjang.


Velicia mengambil ponselnya dari saku celananya sambil berjalan keluar kamar. Raymond pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


"Halo, ada apa Mas?" tanya Velicia ketika menerima teleponnya.


Bunda di mana? Ini sudah malam, tanya Ferdi dari seberang sana.


"Ehmmm… aku, aku masih di rumah temanku. Kami masih berkumpul bersama," jawab Velicia dengan sedikit gugup.


Ferdi merasakan hal yang aneh dari jawaban istrinya. Dia merasakan kegugupan Velicia meskipun tidak melihatnya secara langsung.

__ADS_1


Kenapa sampai malam? tanya Ferdi kembali.


"Di luar hujan sangat deras. Tidak ada bus yang lewat, jadi kemungkinan kita akan telat pulang," jawab Velicia yang mencoba mencari alasan.


Apa Bunda akan menginap di sana? tanya Ferdi menyelidik.


"Entahlah. Kita lihat situasinya dulu. Lebih baik Mas Ferdi tidur saja lebih dulu, jangan menungguku," jawab Velicia, setelah itu dia menggigit bibir bawahnya karena merasa bersalah telah membohongi suaminya.


Apa perlu aku jemput? tanya Ferdi seolah memaksa untuk menjemput istrinya.


"Tidak, tidak usah. Hujan di sini sangat deras. Sangat berbahaya jika berkendara dalam keadaan seperti ini. Aku akan pulang setelah hujan reda," sahut Velicia dengan cepatnya karena takut suaminya akan benar-benar menjemputnya.


Raymond melihat layar ponselnya menyala dengan nama istrinya yang tertera di sana. Dia tidak menerima panggilan teleponnya itu karena mendengarkan obrolan Velicia dengan suaminya melalui telepon.


Pintu kamar itu tidak tertutup sempurna, hingga Raymond masih bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Velicia dengan sangat jelas dari tempatnya duduknya saat ini.


Pintu kamar itu sedikit terbuka karena Velicia keluar kamar dengan tergesa-gesa sehingga tidak menutup pintu kamar itu dengan benar.


Raymond yang masih duduk di atas ranjang menatap nanar pintu tersebut ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Velicia.


Dia sadar jika perasaannya dan perbuatannya sekarang ini tidak benar. Dan telepon dari istrinya yang berkali-kali itu membuat Raymond semakin merasa bersalah hingga dia tidak bisa mengangkat telepon tersebut karena rasa bersalahnya itu.


Setelah pembicaraannya di telepon bersama suaminya sudah usai, Velicia kembali masuk ke dalam kamar tersebut dengan rasa bersalah pada Raymond. Dengan canggungnya dia berjalan ke arah ranjang mendekati Raymond.


Namun, logika Raymond menyuruhnya menyudahi untuk hari ini. Dia sadar jika tadinya alam mendukung kisah mereka, tapi saat ini, sepertinya kisah mereka harus usai di tahap seperti ini.


"Kita pulang saja Ve, suamimu sudah menunggumu," ucap Raymond dengan suara lirih.


Velicia merasa tidak enak pada Raymond. Dia menangkap kesedihan dari suara dan mata Raymond.


Velicia yakin jika yang menelepon Raymond adalah istrinya. Tapi dia tidak mendengar apapun dari luar kamar tadi. Hanya saja dia merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh Raymond.


Raymond memang tidak mengatakan apapun selain mengakhiri pertemuan mereka hari ini. Tapi Velicia tahu jika Raymond juga merasa bersalah pada istrinya, sama seperti dirinya yang merasa bersalah pada suaminya.


"Aku pulang dulu ya Ray. Maaf," ucap Velicia sebelum mengambil tas ransel miliknya yang dilemparnya ke sembarang arah ketika mereka baru masuk ke dalam kamar tersebut.


Kemudian dia berjalan menuju pintu untuk pulang terlebih dahulu. Tapi ketika dia akan membuka pintu, Raymond menghentikannya.


"Ve, hati-hati," ucap Raymond dengan tatapan yang seolah tidak ingin melepaskan kepergian Velicia.


"Kamu juga Ray," ucap Velicia sebelum keluar dari kamar tersebut.


Malam itu mereka pulang sendiri-sendiri. Seolah alam telah mempermainkan mereka, hujan pun reda ketika mereka memutuskan untuk pulang.


Di rumah, Ferdi merasa bosan seharian bersama dengan Cinta. Baru kali ini dia merasakan hal seperti itu. Mungkin karena Velicia yang mengatakan akan pulang telat sewaktu mereka berbicara di telepon tadi, sehingga membuat Ferdi merasa kehilangan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja bibirnya melengkung ke atas ketika menerima pesan dari seseorang. Segeralah dia keluar dari dalam rumahnya menuju pagar rumahnya.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Ferdi ketika sudah berada di depan pagar rumahnya.


"Saya kangen sama Cinta Bapak," ucap seorang perempuan dengan senyum riangnya.


Ferdi mengernyitkan dahinya. Dia merasa aneh dengan jawaban dari perempuan tersebut.


"Maksud saya, saya kangen sama Cinta dan Bapak," ucap perempuan tersebut setelah melihat ekspresi wajah Ferdi yang seperti tidak mengerti maksud dari ucapannya.


Ya, benar. Perempuan itu adalah Lani. Dia kembali datang ke rumah Ferdi di waktu yang sama dengan hari sebelumnya, hari di mana dia memberikan Cinta pada Ferdi.


Ferdi terkekeh mendengar ucapan Lani. Dan kekehan dari Ferdi itu membuat Lani sangat senang. Dia merasa berhasil membuat Ferdi tertawa.


"Pak, saya belum makan. Temani saya makan yuk," ucap Lani dengan memperlihatkan puppy eyes nya pada Ferdi.


Merasa Ferdi juga kelaparan karena sejak tadi belum makan, dia menyetujui ajakan Lani padanya.


"Ya sudah, saya akan ambil dompet ke dalam dulu," ucap Ferdi sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Tanpa sepengetahuan Ferdi, Lani mengikuti Ferdi di belakangnya ketika berjalan masuk ke dalam rumah.


"Wah… rumah Bapak nyaman juga ya," ucap Lani ketika berada di dalam rumah Ferdi.


Seketika mata Ferdi terbelalak mendapati Lani yang sudah berada di dalam rumahnya.


"Lan, kok kamu bisa berada di sini?" tanya Ferdi dengan heran.


Lani tersenyum manis pada Ferdi. Kemudian dia mendekati Ferdi.


Cuuup!


Mata Ferdi terbelalak mendapatkan ciuman dari bibir Lani yang mendarat sekilas pada bibirnya.


Kemudian Lani berlari kecil keluar rumah Ferdi ketika melihat Ferdi yang masih mematung di tempatnya.


"Pak Ferdi, ayo berangkat!" seru Lani dari depan pintu.


Ferdi tersadar dari lamunannya dan dia tersenyum senang sambil tangannya memegang bibirnya. Kemudian dia bergegas dengan berjalan cepat menuju luar rumah agar Lani tidak menunggunya terlalu lama.


"Ayo kita berangkat," ucap Ferdi dengan riangnya dan senyuman yang tidak pernah dia tampakkan pada Lani.


Lani pun ikut senang, dia melingkarkan tangannya dengan bergelayut manja pada lengan Ferdi.


Yes, berhasil! Lani bersorak dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2