Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 39 Runtuhnya sebuah kepercayaan


__ADS_3

Hati Velicia sudah tidak bisa menerima lagi kenyataan yang dia dengar. Dia lebih memilih meninggalkan tempat itu agar dia tidak kembali mendengar fakta yang sangat menyakiti hatinya.


Tangan Velicia memberikan kode pada kedua temannya agar mereka mendorong kursi roda Velicia.


Mereka segera mendorong kursi roda Velicia menuju kamarnya dengan mengambil jalan yang berbeda agar tidak diketahui oleh dokter tersebut, karena pintu ruangan dokter itu sedikit terbuka.


Rani dan Vira tidak mengatakan apapun pada Velicia. Mereka tahu jika saat ini Velicia sedang tidak ingin membicarakan hal itu. Dan mereka tahu jika Velicia pasti ingin menyendiri untuk menenangkan pikirannya.


Kursi roda Velicia kini mengarah ke kamarnya. Rani dan Vira kaget ketika mendapati Ferdi yang sudah berada di dalam ruangan tersebut.


"Ve, kami pulang dulu ya. Cepat sembuh Ve agar kamu bisa kembali mengajar lagi," ucap Vira sambil memeluk tubuh Velicia yang masih duduk di kursi roda.


Vira melepaskan pelukannya, bergantian dengan Rani yang kini sedang memeluk Velicia sambil berkata,


"Cepat sembuh ya Ve. Sabar dan ikhlas ya Ve. Semoga semuanya berjalan dengan baik."


Velicia mengangguk lemah dengan berurai air mata mendengar harapan dan doa  yang disampaikan oleh kedua temannya.


Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Suaranya serasa hilang seperti tidak bisa bersuara lagi.


Mereka berdua meninggalkan Velicia yang masih duduk di kursi rodanya. Sedangkan Ferdi duduk di sofa yang ada dalam ruangan tersebut. 


Ferdi melihat Velicia dengan tatapan bersalah. Sedangkan Velicia menatap nyalang suaminya yang telah bertahun-tahun berbohong padanya.


Selama kurang lebih lima tahun mereka hidup bersama menjadi suami istri, baru hari inilah menjadi hari yang paling menyakitkan bagi Velicia. 


Melihat perselingkuhan Ferdi memang menyakitkan, tapi mendengar fakta yang baru saja dia dengar membuat hidupnya hancur seketika.


Velicia merasa perjuangan dan pengorbanannya untuk mendapatkan keturunan selama ini telah sia-sia. Bahkan pengabdiannya sebagai seorang istri seolah dipandang sebelah mata oleh Ferdi. Dan harga dirinya merasa diinjak-injak oleh suaminya sendiri.


"Ve, bagaimana keadaanmu? Apa kamu sudah lebih baik?" tanya Ferdi sambil berjalan mendekati Velicia.


Velicia tampak bersungut kesal melihat wajah suaminya. Darahnya semakin mendidih mengingat fakta yang barusan didengarnya. Hatinya serasa tertusuk ribuan jarum ketika mendengar suara suaminya.


"Ve, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Ferdi sambil memegang tangan Velicia.

__ADS_1


Seketika Velicia menghempaskan tangan Ferdi dan dia menatap tajam Ferdi ketika akan memegang tangannya kembali.


Sontak saja Ferdi terkejut dan menatap heran pada istrinya. Kemudian dia berkata,


"Ada apa Ve? Kenapa kamu bersikap seperti itu pada suamimu?"


Velicia tersenyum sinis pada Suaminya yang terdengar seperti sangat mengkhawatirkannya.


"Suami? Suami yang bagaimana yang minta dihormati istrinya? Suami yang tega membohongi istrinya?" tanya Velicia dengan sinis.


Ferdi menghela nafasnya panjang. Dia tidak mengira jika istrinya itu masih marah padanya.


"Ve, aku sudah bilang. Aku tidak pernah berselingkuh dengan wanita manapun. Aku setia padamu. Bahkan aku tidak pernah punya niatan untuk berselingkuh sedikit pun," sahut Ferdi dengan tegas sambil menatap intens mata Velicia.


"Ah.. perselingkuhan, kenapa aku bisa lupa akan hal itu?" ucap Velicia sambil tertawa getir menertawakan dirinya sendiri.


Ferdi menatap heran pada Velicia. Menurutnya istrinya kini berubah sikap semenjak kemarin malam setelah kehadiran Lani ke dalam kamar inapnya.


Kenapa dia bisa lupa? Bukannya dia marah karena hal itu? Ferdi berkata dalam hatinya sambil menatap heran istrinya.


"Bunda?" ucap Velicia sambil terkekeh.


"Jangan lagi panggil aku Bunda. Tahukah kamu Mas jika sebutan itu membuatku sedih dan sakit hati?" ucap Velicia dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Ferdi terkejut hingga matanya terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia tidak menyangka jika panggilan yang diberikannya selama ini bisa membuat istrinya sedih dan sakit hati.


"Kamu kenapa?" tanya Ferdi dengan suara melemah.


"Kenapa? Dipanggil oleh suami dengan sebutan Bunda tanpa memiliki anak. Apa Mas pikir aku baik-baik saja? Dan ternyata kamu memanggilku Bunda hany untuk kucing peliharaanmu Mas? Mana hati nuranimu?" tanya Velicia dengan suara yang sedikit tercekat disertai turunnya genangan air mata dari pelupuk matanya.


Ferdi kembali membelalakkan matanya mendengar perkataan dari istrinya. Ternyata selama ini kesalahannya tanpa disadarinya sangat banyak pada istrinya. 


"Ve, maafkan aku Sayang. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya-"


"Hanya membuatkan neraka untukku?" tanya Velicia sambil tersenyum sinis pada Ferdi.

__ADS_1


Kini mata Ferdi membelalak sempurna dan dia mundur satu langkah karena kaget mendengar ucapan Velicia.


"Kamu ingat dulu Mas, ketika kamu melamarku? Bukankah kamu berjanji akan memberikan surga untukku? Tapi kini, aku merasa seperti hidup di neraka Mas," ucap Velicia dengan suara yang tercekat menahan tangisnya.


Ferdi kembali berjalan maju mendekati istrinya. Kemudian dia kembali memegang tangan istrinya.


Namun, lagi-lagi Velicia menghempaskan tangan Ferdi yang memegang tangannya untuk menenangkannya.


"Maafkan aku Ve. Maafkan aku Sayang. Tolong maafkan aku," ucap Ferdi dengan wajah mengiba.


Velicia tersenyum sinis dan menatap tajam suaminya mendengar perkataan maaf yang keluar dari mulut suaminya.


"Maaf? Maaf untuk apa Mas? Untuk perselingkuhanmu? Atau untuk tindakan vasektomi yang kamu lakukan tanpa sepengetahuanku?" ucap Valecia dengan menatap penuh luka pada suaminya.


Lagi-lagi Ferdi terkejut dengan apa yang diucapkan oleh istrinya. Dia tidak mengira jika Velicia, istrinya itu mengetahui tentang vasektomi yang dilakukannya selama ini.


"Ve, itu…," Ferdi tidak dapat menyelesaikan ucapannya.


"Kenapa? Kenapa Mas Ferdi menikah denganku jika tidak ingin mempunyai anak denganku? Apa Mas Ferdi ingin mempunyai anak dengan wanita itu?" 


Tangisan Velicia tidak bisa dibendung lagi. Air matanya jatuh dengan derasnya membasahi pipinya.


"Bukan begitu Ve. Aku tidak berselingkuh dengan siapapun. Hanya kamu yang ada di hatiku dan aku hanya memcintaimu. Percayalah padaku Ve," ucap Ferdi sambil memegang dengan erat tangan Velicia.


Tangisan Velicia semakin menjadi. Bahkan bahunya bergetar karena tangisannya.


"Maafkan aku Sayang. Maafkan… aku akan jelaskan semuanya. Tapi tolong, tenanglah. Jangan seperti ini karena bisa memperparah penyakitmu. Tolong jangan pikirkan apapun agar kamu bisa cepat sembuh," ucap Ferdi sambil memeluk Velicia yang sedang menangis.


Tangisan Velicia semakin keras. Sepertinya dia menumpahkan semua kesedihan, rasa kesal dan sakit hatinya melalui tangisannya.


Didorongnya tubuh Ferdi agar menjauh darinya. Dia masih merasa tidak bisa memaafkan Ferdi begitu saja. 


Ferdi tidak mau menjauh dari istrinya. Dia tetap bertahan meskipun Velicia mencoba melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuh Ferdi darinya.


"Maafkan aku Sayang. Katakan apa saja yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku," ucap Ferdi dengan suara lembut dan tatapan mengiba pada Velicia.

__ADS_1


__ADS_2