Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 8 Taman pertemuan


__ADS_3

Velicia hanya mengaduk-aduk makanannya saja tanpa mencicipinya. Sepertinya nafsu makannya sudah hilang.


"Ve, kamu gak jadi makan? Makanlah meskipun sedikit Ve," ucap Vira di sela kunyahan makannya.


"Kamu tadi kan bilang katanya kamu sangat lapar sekali dan kamu yang mengajak kita makan di sini. Jadi kamu harusnya makan yang banyak Ve, karena ini tempat makan favorit mu," Rani menimpali ucapan Vira.


Iya, benar, tempat ini adalah pilihanku. Aku yang mengajak mereka untuk makan di tempat ini. Seandainya aku tidak datang ke tempat ini, pasti aku tidak akan bertemu dengan mereka. Tapi aku bersyukur, dengan datangnya aku ke tempat ini, aku jadi tau apa yang dilakukan Mas Ferdi di belakangku. Meskipun dengan datang ke tempat ini membuatku sangat terluka, Velicia berkata dalam hatinya.


"Ve, kamu gapapa kan?" tanya Vira yang terlihat cemas dengan keadaan Velicia saat ini.


Aku harus makan agar aku punya tenaga dan juga aku lah yang mengajak mereka ke sini, Velicia kembali berkata dalam hatinya sambil memberikan senyum paksanya pada kedua temannya.


Velicia memakan makanannya dengan sangat lahap. Hanya saja terlihat sangat jelas sekali jika makannya itu sangat dipaksakan. Sehingga dia sering terbatuk-batuk karena tersedak.


"Aaah… kenyang juga ya akhirnya," ucap Velicia sambil tersenyum lebar dan terlihat dipaksakan.


Vira dan Rani mengerti jika Velicia memaksakan makannya. Tapi mereka berdua enggan berkomentar karena mereka tahu kesedihan hati Velicia. 


Bahkan mereka berdua enggan menanyakan, berkomentar ataupun membahas tentang Ferdi.


"Kita balik sekarang ya," ucap Velicia sambil beranjak dari duduknya.


Rani dan Vira pun mengikuti Velicia tanpa harus banyak bertanya. Mereka berpisah di depan tempat makan tersebut. Kini arah yang mereka tuju berbeda. Mereka berjalan lain arah sesuai dengan arah rumah mereka.


"Huffftttt… sepertinya aku harus main dulu di taman agar semua pikiranku menjadi fresh kembali seperti bunga-bunga yang ada di taman," ucap Velicia seiring langkah kakinya menuju taman yang ada di dekat komplek rumahnya.


Duduk di kursi taman dengan memandang anak-anak kecil yang sedang bermain membuat hati Velicia sedikit tenang.


"Memang ya anak-anak kecil itu bisa membuat kita menjadi tenang," ucap Velicia lirih sambil tersenyum memandang segerombolan anak kecil yang sedang bermain.


Banyak sekali anak kecil yang bermain di taman itu. Ada yang bermain perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, bermain petak umpet, bermain pasir dan ada juga yang bermain kelereng serta lompat tali.


Namun ada yang paling membuat Velicia senang melihatnya. Anak-anak kecil itu bermain gelembung sabun dan ada di antara mereka yang mengejar gelembung sabun tersebut. Rasanya dia ingin ikut memainkannya.

__ADS_1


Velicia beranjak dari duduknya. Tas jinjingnya kini dia pakai sebagai sling bag. Dia menghampiri anak-anak tersebut dan berkata,


"Adik-adik, Tante boleh ikutan main gak?"  


Semua anak-anak yang bermain gelembung sabun itu menoleh padanya. Mereka saling menatap seolah saling bertanya memperbolehkan Velicia main bersama mereka atau tidak.


"Tante bukan orang jahat kan?" tanya salah seorang dari mereka.


"Dia guru di sekolahku. Hai Bunda," ucap salah seorang anak di antara mereka sambil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.


"Oh hai, Rio kan?" Velicia menyapa anak tersebut.


"Iya Bunda. Kenapa Bunda ada di sini?" tanya Rio dengan rasa penasarannya.


"Rumah Bunda kan daerah sini. Sepertinya asik main gelembung sabun. Apa Bunda boleh ikut kalian main?" tanya Velicia sambil mengeluarkan gaya khas mengajarnya di sekolah TK.


"Mmm… boleh kan teman-teman?" Rio meminta pendapat teman-temannya.


"Mmm… belinya di mana? Ini ada uang, apa kalian mau beli?" tanya Velicia sambil mengedarkan pandangannya mencari penjual gelembung sabun dan merogoh uang di saku celananya.


"Biar Rio saja yang beli Bunda. Yang jual ada di sebelah sana," jawab Rio sambil menunjuk arah si penjual gelembung sabun.


"Jauh gak? Belinya sama Bunda aja ya," ucap Velicia sambil melihat ke arah penjual gelembung sabun yang ditunjukkan oleh Rio.


"Gak perlu Bunda. Tadi Rio aja beli sendiri di situ," tukas Rio sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, ini uangnya. Kamu bisa beli sebanyak mungkin yang kamu mau," ucap Velicia sambil memberikan selembar uang lima puluh ribu pada Rio.


"Yeee… kita bisa beli banyak," Rio bersorak diikuti teman-temannya yang lain.


Kemudian Rio menuju penjual gelembung sabun bersama dengan dua orang temannya yang lain.


Velicia menunggu bersama dengan teman-teman Rio yang lainnya. Mereka meniup gelembung sabun dan yang lainnya mengejarnya. Velicia pun ikut mengejar gelembung sabun tersebut. Hingga Rio datang membawa banyak botol gelembung sabun, mereka mulai bermain kembali.

__ADS_1


"Bunda, ini satu botol buat Bunda main. Bunda bisa meniupnya seperti kami," ucap Rio sambil memberikan satu botol gelembung sabun pada Velicia.


Velicia tersenyum sambil tangannya menerima botol gelembung sabun yang diberikan Rio padanya.


"Terima kasih ya. Ayo kita main bersama," ucap Velicia sambil memainkan gelembung sabun tersebut.


Setelah puas meniupnya, Velicia memberikan gelembung sabun yang dia bawa pada teman-teman Rio karena dia ingin berlarian mengejar gelembung sabun yang sudah ditiup bersama dengan anak-anak yang lain.


Tanpa sadar Velicia bermain bersama dengan anak-anak itu hingga sore hari. Dan banyak dari mereka yang sudah dijemput oleh ibunya untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Raymond berjalan pulang ke rumahnya melewati taman tersebut. Setiap sore dia selalu senang melihat anak-anak yang bermain dan berlarian berkejar-kejaran di taman bermain itu.


Dengan berbekal kamera digitalnya yang selalu dia bawa ke mana-mana, Raymond mengambil gambar anak-anak yang sedang bermain tersebut dan mengambil gambar banyak hal yang membuatnya tertarik.


"Ve? Apa benar itu Velicia?" ucap Raymond lirih sambil tersenyum lebar melihat tingkah Velicia yang sedang bermain bersama anak-anak dengan riangnya.


Kamera itu diarahkan ke arah Velicia. Dia mengambil banyak gambar Velicia bersama anak-anak tersebut. Tawa riang Velicia membuat Raymond tersenyum tanpa sadar.


Tiba-tiba Velicia berlari menepi dan dia membungkukkan badannya pada tempat sampah yang ada di sana.


Tampak dari kejauhan Velicia tidak baik-baik saja. Raymond yang memperhatikannya sedari tadi menjadi khawatir melihatnya.


"Dia kenapa ya? Apa dia baik-baik saja? Aaah… sepertinya dia tidak baik-baik saja," Raymond bermonolog sambil melihat ke arah Velicia yang masih sama seperti tadi.


Tanpa berpikir panjang lagi, Raymond melangkahkan kakinya menuju Velicia. Dia tidak tega melihat Velicia yang sedang memuntahkan makanannya hingga meneteskan air matanya dan keringat yang keluar dari pelipisnya.


Tangan Raymond memijat pelan tengkuk Velicia dengan harapan bisa membantu melancarkan muntahnya.


Velicia yang merasa ada tangan memijat tengkuknya, dia menoleh ke belakang.


Matanya terbelalak melihat Raymond yang tersenyum manis padanya.


"Kamu baik-baik saja Ve?" tanya Raymond dengan raut wajah khawatirnya.

__ADS_1


__ADS_2