Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 52 Perasaan bersalah


__ADS_3

Operasi!


Operasi!


Operasi!


Kata itu selalu terngiang di telinga Ferdi seperti jadi momok menakutkan baginya. Kata yang tidak ingin didengarnya malah menjadi syarat agar hubungan rumah tangga mereka bisa tetap utuh.


"Baiklah," ucap Ferdi lirih dengan terpaksa.


Velicia pun tidak menyangka jika suaminya yang selalu menunda operasinya akan semudah itu berjanji untuk mau melakukannya. 


Bahkan setiap Velicia membicarakan tentang masalah tersebut, pasti Ferdi selalu mengalihkan pembicaraan mereka agar tidak lagi membahas tentang masalah tersebut.


Namun, ada yang aneh dengan hati Velicia. Dia sendiri merasakan hal itu, hal yang tidak diketahuinya.


Aneh, kenapa perasaanku biasa saja? Harusnya aku senang Mas Ferdi mau melakukan operasi itu. Tapi kenapa aku merasa biasa saja? Apa aku sudah tidak berharap terlalu besar dari dia lagi?


Velicia berkata dalam hatinya, dia meraba hatinya untuk mencoba mencari tahu apa yang sedang dirasakannya.


"Kapan?" tanya Velicia untuk mengenyahkan bayangan Raymond dari hatinya karena dia merasa bersalah pada suaminya.


"Apa tidak bisa menunggu aku sampai siap dulu?" tanya Ferdi dengan wajah mengibanya.


Velicia kembali tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya di bagian depan tubuhnya sambil berkata,


"Siapnya kapan Mas? Udah lima tahun kita seperti ini. Aku curiga, apa jangan-jangan Mas Ferdi melakukan itu agar tidak bisa meninggalkan jejak jika berselingkuh dengan wanita lain."


Sontak saja Ferdi membelalakkan matanya karena terkejut dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya. Dia tidak menyangka jika istrinya akan berpikiran sejauh itu tentang apa yang dilakukannya, tentang vasektomi dan tentang hubungannya dengan Lani.


"Apa maksudmu Ve? Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Dan aku tidak pernah selingkuh," ucap Ferdi dengan emosi.


Velicia kembali tersenyum meremehkan pada Ferdi setelah mendengar ucapannya tadi. Kemudian dia berkata,


"Mungkin saja Mas Ferdi melakukan itu agar jika Mas berselingkuh dengan wanita lain tidak bisa mendapatkan anak dari mereka."


Sontak saja Ferdi beranjak dari duduknya dan mendekati istrinya dengan tangan yang sudah terangkat, bersiap untuk memukul.


"Kenapa Mas? Mau menampar aku? Atau mau memukulku? Tampar Mas… tampar! Pukul jika Mas mau!" seru Velicia berapi-api melihat reaksi suaminya.


Selama lima tahun pernikahan mereka, baru kali ini dia melihat suaminya bersikap seperti itu padanya. Bahkan meninggikan suaranya pun tidak pernah.

__ADS_1


Dan baru kali ini juga Velicia bersikap seperti itu pada suaminya. Biasanya dia hanya menjadi seorang istri yang penurut dan selalu ada untuk suaminya tanpa meminta bantuan apapun dari suaminya.


Seketika kesadaran Ferdi kembali. Dia menurunkan tangannya dan mengepalkan tangannya ketika sudah berada di samping tubuhnya.


"Maaf," ucap Ferdi lirih sambil menundukkan kepalanya.


Velicia yang sudah berapi-api karena emosinya itu, segera mengusap air matanya yang dengan lancangnya turun ketika dia sedang menantang suaminya untuk menampar dan memukulnya.


Air matanya itu entah yang keberapa kali keluar untuk hari ini. Rasanya air matanya tidak habis-habis hanya untuk suaminya saja.


Hingga dia berpikir dan berkata dalam hatinya,


Pantaskah aku perjuangkan rumah tangga ini Mas, jika air mata yang ku tumpahkan untukmu lebih dari cukup hanya untuk sehari ini saja. Bagaimana dengan hari-hari kemarin dan esoknya? Apa air mataku tidak akan habis hanya untukmu Mas?


Velicia berkata dalam hatinya sambil menatap nanar penuh kemarahan pada suaminya.


Ferdi mengambil kedua tangan Velicia sambil berkata,


"Maafkan aku."


Seketika Velicia menghempaskan kedua tangan Ferdi yang sedang memegangnya. Dia menatap tajam pada suaminya itu sambil berkata,


"Aku sudah kenyang dengan permintaan maafmu Mas. Aku tidak butuh janji, aku butuh bukti. Jika Mas bersungguh-sungguh, buktikan!"


Dia kembali menangis dalam kamar tamu. Suara tangisnya itu diredam menggunakan bantalnya hingga dia tertidur kelelahan karena menangis.


Ferdi merasa bersalah pada istrinya. Dia mencari istrinya di seluruh ruangan dalam rumahnya.


Dia membuka pintu kamar tamu dan menghela nafasnya ketika melihat istrinya sudah tertidur dengan wajah yang tertutup bantal.


Ferdi berjalan masuk ke dalam kamar tersebut dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya.


Tangannya ragu-ragu ketika akan meraih tubuh istrinya untuk dipeluknya. Tapi niatnya sudah bulat, dia berniat akan meluluhkan kembali hati istrinya.


Dengan ragu-ragu Ferdi melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya. Merasa tidak ada penolakan dari istrinya, Ferdi lebih mengeratkan tubuhnya pada tubuh istrinya.


Velicia yang sudah tertidur dengan pulas tidak merasakan pelukan dari suaminya. Sepertinya Velicia sudah terlalu lelah menangis seharian ini sehingga dia tertidur tanpa membersihkan jejak air matanya.


Sedangkan di rumah Raymond, dia merasakan ada yang tidak beres dengan perasaannya. Dia selalu memikirkan Velicia dan mengkhawatirkan keadaannya.


Kenapa aku jadi seperti ini? Apa yang sedang aku pikirkan sekarang? Mengapa wajah Velicia selalu ada dalam pikiranku? Bahkan senyuman dan tangisannya terasa nyata bagiku.

__ADS_1


Raymond sibuk berkata dalam hatinya sambil melihat-lihat hasil jepretan kameranya ketika berada di pantai tadi.


Ceklek!


Pintu rumah Raymond terbuka sehingga mengalihkan perhatiannya pada pintu rumahnya.


"Sayang… aku pulang…," seru Tania berjalan dari arah pintu dengan sedikit sempoyongan.


Sontak saja Raymond berdiri dan mendekatinya untuk menolongnya.


"Kamu kenapa Tania? Katanya hari ini kamu gak pulang?" tanya Raymond sambil menuntun istrinya menuju sofa.


Didudukannya Tania pada sofa tersebut. Dan Raymond pun duduk di sebelahnya, memandang istrinya yang dalam keadaan tidak rapi.


"Aku merindukanmu, jadi setelah urusan jamuan makan malam selesai, aku segera pulang untuk menemuimu," jawab Tania sambil tersenyum seperti orang bodoh.


"Kamu mabuk?" tanya Raymond sambil menutup hidungnya sedari tadi saat Tania berbicara.


Tania terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Aku tau kamu pasti marah. Tapi aku tidak bisa menolak ajakan mereka untuk meminum wine yang mereka siapkan untuk kami. Tenang saja, aku masih sangat sadar kok."


Raymond menghela nafasnya kasar. Dia memandang istrinya yang dalam keadaan mabuk dan tersenyum padanya.


Dia tidak bisa marah pada Tania karena istrinya itu sedang dalam keadaan kerja saat itu. Dan kini dia menyalahkan dirinya sendiri.


Maafkan aku Tania, harusnya aku yang ada dalam posisimu jika aku menerima tawaran dari orang tuamu. Sayangnya aku menolaknya sehingga kini kamu yang harus bekerja menggantikanku.


Raymond berkata dalam hatinya sambil menatap iba pada istrinya. 


Tania memejamkan matanya dan kepalanya terjatuh pada punggung sofa. Kemudian Raymond menggendong Tania ala bridal style menuju kamar mereka.


Diselimutinya tubuh istrinya itu hingga sebatas leher. Dan dia kembali menatap istrinya itu dengan beberapa pertanyaan dalam hatinya.


Apa benar aku bisa mencintaimu setelah hampir lima tahun pernikahan kita dan hanya sekitar satu tahun kita hidup bersama? 


Sekelebat bayangan wajah Velicia dengan senyuman manisnya terlihat kembali di pelupuk mata Raymond. Hingga dia melihat kembali bayangan ciuman mereka yang hanya menempelkan bibirnya saja.


Dia merasa sangat bersalah pada istrinya dan dia berjanji dalam hatinya untuk mengenyahkan perasaan yang dirasakannya pada Velicia.


Aku akan berusaha untuk mencintaimu Tania. Asalkan engkau bisa membantuku untuk mencintaimu, Raymond kembali berkata dalam hatinya.

__ADS_1


Diciumnya dahi Tania, kemudian dia merebahkan badannya untuk tidur dengan memeluk tubuh istrinya.


__ADS_2