Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 85 Salah jatuh cinta


__ADS_3

Kini mereka berempat makan dalam satu meja. Raymond duduk di sebelah Tania dan Velicia duduk di depan Raymond, bersebelahan dengan Ferdi.


Tatapan mata Raymond selalu tertuju pada Velicia yang terlihat tidak nyaman memakan makanannya.


Ingin sekali Raymond memeluknya saat ini. Bahkan dia tidak bisa menahan dirinya untuk bisa menatap wajah wanita yang selalu hadir di pelupuk matanya itu.


Velicia pun begitu. Dia tidak bisa menahan kerinduannya pada laki-laki yang sangat dicintainya. Bahkan dia menahan sekuat tenaga air mata yang ingin menerobos keluar dari matanya.


Tahan Ve… tahan… Dia suami temanmu. Jangan lagi egois, Velicia berkata dalam hatinya.


"Akhirnya kita bisa makan bersama dengan suami kita ya Ve," ucap Tania sambil tersenyum setelah menelan makanannya.


Velicia tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan Tania padanya. Tapi dia tidak menjawabnya, dia tetap memakan makanannya seolah dia sedang kelaparan.


"Bagaimana jika lain kali kita melakukan perjalanan dua hari satu malam bersama? Pasti sangat menyenangkan. Benar kan Sayang?" tanya Tania sambil menoleh dan tersenyum pada suaminya.


"Entahlah," jawab Raymond sambil tersenyum kaku tanpa melihat ke arah istrinya, dia berpura-pura sibuk dengan makanannya.


Tania mencebik mendengar jawaban dari suaminya. Kemudian dia bertanya pada Velicia,


"Bagaimana Ve? Kamu setuju kan?"


Velicia kaget mendengar namanya disebut oleh Tania. Sontak saja dia menoleh ke arah Tania yang sedang tersenyum padanya, menunggu jawaban darinya.


"Aku tidak yakin kita bisa mempunyai waktu luang yang sama," jawab Velicia sambil tersenyum paksa pada Tania.


"Itu mah gampang Ve. Semua bisa diatur. Kamu kan guru, sama seperti suamiku, jadi hari libur kalian pasti sama. Kalau aku gampang, bisa menyesuaikan. Dan suami kamu…" Tania menjeda ucapannya karena belum tahu pekerjaan dari suami Velicia.


"Saya kerja di perkantoran kok. Jadi, untuk hari libur sama dengan istri saya," sahut Ferdi sambil tersenyum pada Tania dan Raymond.


"Nah, kebetulan sekali. Nanti akan aku urus semuanya. Aku akan mengatur acara liburan kita," ucap Tania dengan sangat antusias dan tersenyum lebar pada semuanya.


Ferdi pun ikut tersenyum lebar menanggapi perkataan Tania. Sedangkan Raymond dan Velicia, mereka berdua tidak bisa tersenyum seperti pasangan mereka. 

__ADS_1


Raymond dan Velicia memang ingin pergi bersama, tapi tidak bersama dengan pasangan mereka. Mereka hanya ingin berdua saja menikmati kebersamaan mereka.


Namun semua itu hanya angan-angan mereka saja. Ingin sekali mereka benar-benar melakukannya dan bergandengan tangan di depan banyak orang layaknya pasangan kekasih yang normal.


Akankah itu semua terjadi pada kami? Sedangkan saat ini saja aku yang memutuskan hubungan kami. Hatiku benar-benar sakit dan menderita. Apakah ini yang dinamakan patah hati? 


Velicia berkata dalam hatinya. Dia benar-benar tidak pernah merasakan seperti itu, sehingga dia baru mengenal rasanya patah hati saat ini. Dan baru kali ini juga dia mencintai laki-laki sebanyak dan sedalam ini.


Sayangnya mereka berdua dipertemukan pada saat yang salah. Mereka bertemu pada saat mereka sama-sama memiliki pasangan. Seolah nasib mempermainkan mereka berdua yang salah jatuh cinta pada pasangan orang lain.


Aku ingin melakukan liburan itu denganmu Ve. Hanya denganmu, tanpa adanya orang lain, meskipun orang lain itu adalah pasangan kita.


Raymond berkata dalam hatinya dengan mencuri pandang pada Velicia yang ada di hadapannya.


Setelah mereka selesai makan, Tania mengambil foto mereka semua dengan memegang ponselnya ke atas dan mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka semua.


"Ayo kita foto bersama. Sebagai kenang-kenangan kita pernah makan bersama di tempat ini," ucap Tania pada mereka semua agar lebih mendekat dan melihat ke arah ponselnya.


Ferdi dan Tania tersenyum manis. Sedangkan Raymond dan Velicia berekspresi datar. Sesuai dengan apa yang mereka rasakan, mereka senang karena bisa bertemu, tapi hati mereka tersiksa karena mereka tidak bisa bersama.


"Maaf Bu, jika Ibu berkenan, biar saya bantu fotokan," ucap salah satu waiters yang kebetulan melewati meja mereka.


Seketika mata Tania berbinar. Dengan segera dia memberikan ponselnya pada waiters tersebut dan mengajak Velicia untuk berdiri di dekatnya.


Tania dan Velicia berdiri berdampingan di depan taman bunga warna-warni yang berada di cafe tersebut.


Setelah mereka mengambil satu foto, kini Tania menginginkan hal lainnya.


"Sayang, sini! Kita foto bersama," ucap Tania sambil melambaikan tangannya pada Raymond.


"Ve, ajak suamimu. Kita foto berempat ya, mumpung kita berkumpul bersama," ucap Tania pada Velicia.


Velicia tersenyum paksa pada Tania. Tapi dia enggan memanggil suaminya yang kini sudah ada Raymond berdiri di sebelah Tania.

__ADS_1


Tania mengira jika Velicia malu memanggil suaminya. Merasa dirinya peka, Tania segera berjalan ke arah Ferdi dan berbicara padanya.


"Pak, bisa kita foto berempat? Agar kita mempunyai kenang-kenangan pernah makan bersama di sini."


Ferdi menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Tania. Kemudian dia berjalan menuju mereka bertiga yang sudah menunggunya.


"Tolong ambil beberapa foto untuk kami," ucap Tania pada waiters tersebut.


"Baik Bu. Serahkan saja pada saya," ucap waiters tersebut sambil tersenyum lebar.


Setelah itu mereka bersiap dengan berdiri berdampingan bersama pasangan mereka masing-masing.


Tani dan Velicia berada di tengah dan Raymond berada di samping kanan Tania karena di samping kiri Tania sudah ada Velicia yang sedari tadi berdiri di sana. Sedangkan Ferdi berdiri di sebelah kiri Velicia.


"Siap ya… satu… dua… tiga…," ucap waiters sambil memfokuskan kamera ponsel yang dipegangnya.


"Maaf Bu, terlalu berjauhan jaraknya. Tolong lebih mendekat lagi," ucap waiters tersebut memerintah bak photographer profesional.


Tania dan Velicia lebih mendekat lagi. Setelah itu Raymond dan Ferdi juga lebih mendekat pada istri mereka.


Raymond menoleh ke samping, tepatnya di belakang istrinya. Dia melihat tangan Velicia yang ada di belakang tubuh Tania.


Raymond menatap nanar tangan wanita yang dicintainya itu. Dia merasa sangat sedih hanya dengan melihat kekasih hatinya yang tidak bisa dimilikinya. Bahkan, kini dia tidak bisa berdekatan dengannya.


Tangan itu… tangan itu yang biasanya ku genggam. Tangan itu yang selalu membuatku merasa tenang, hangat dan nyaman. Apakah aku tidak bisa menggenggamnya lagi?


Raymond berkata dalam hatinya dengan pandangan matanya yang masih melihat ke arah tangan Velicia.


Tiba-tiba saja tangan Raymond bergerak dengan sendirinya. Awalnya dia ragu, tapi lama kelamaan tangannya bergerak dengan sendirinya memegang tangan Velicia dan menggenggamnya.


Sontak saja Velicia terkejut. Dia membelalakkan matanya. Tapi detik berikutnya dia melihat ke arah tangannya dan melihat Raymond tersenyum padanya.


Entah mengapa bibir Velicia juga ikut tersenyum ketika melihat Raymond tersenyum padanya.

__ADS_1


Kemudian tangan Velicia pun membalas genggaman tangan Raymond, sehingga kini mereka berdua bergandengan tangan dengan eratnya tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing.


"Senyum ya… Satu… dua… tiga… Smile…," seru waitres tersebut memberi aba-aba pada mereka ketika hendak mengambil foto mereka berempat.


__ADS_2