
Malu, sedih dan menyakitkan menerima hinaan dan sindiran dari banyak orang. Bukan hanya yang kenal akan dirinya saja, bahkan orang-orang yang tidak mengenalnya pun ikut manghakiminya seolah mereka manusia suci yang tidak pernah melakukan satu kesalahan pun selama hidupnya.
Jalan yang ditempuh Velicia untuk menuju rumahnya terasa sangat jauh. Bahkan dia mengeluh dalam hatinya karena terlalu lama dia berjalan kaki dan jaraknya masih sangat jauh untuk sampai rumahnya.
Sesampainya di rumah, Velicia mendudukkan dirinya di sofa. Dengan jendela yang masih tertutup tanpa cahaya lampu satu pun yang menyala dari semua ruangan di rumah itu, Velicia merenung dan meratapi nasibnya.
“Huuufffttt… Aku capek sekali,” ucap Velicia sambil tersenyum getir mengolok dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja air mata Velicia menetes, sekuat apa pun dia menahan dan sebaik apa pun aktingnya, dia masih saja tidak bisa menutupi apa yang dirasakannya saat ini. Bahkan senyumannya pun terlihat hambar meskipun dia selalu tersenyum agar tidak ada yang mengasihinya.
“Ternyata capek pikiran lebih melelahkan daripada capek badan,” ucap Velicia sambil tersenyum getir.
Seketika bayangan peristiwa di sekolah tadi kembali hadir di mata Velicia. Kakinya ditekuk di depan dada dan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Rasa sesak di dalam dadanya semakin terasa. Bibirnya bergetar menahan tangisnya dan tangan kanannya beralih memukul dadanya dengan kepalan tangannya untuk menghilangkan rasa sesak yang semakin menyiksa di dalam dadanya.
Ceklek!
Terdengar suara pintu terbuka. Masuklah orang tersebut ke dalam rumah.
“Astaga! Ada orang rupanya. Kenapa gelap-gelapan seperti ini?”
Suara dari seorang wanita paruh baya yang masuk ke dalam rumah menyadarkan Velicia dari keterpurukannya.
Dengan segera Velicia menghentikan gerakannya yang masih memukul dadanya dan dia segera menurunkan kakinya dari sofa. Kemudian dia berdiri di depan wanita itu dan berkata,
“Ibu?! Bagaimana Ibu bisa masuk-“
“Ibu memiliki kunci duplikat rumah ini. Kemarin Ferdi yang memberikannya kepada Ibu. Dia bilang jika Ibu harus sering-sering datang ke rumah untuk menemanimu yang mungkin saja merasa bosan sendirian di rumah karena sekolah sedang libur,” ucap Bu Anisa sambil memberikan kantong plastik berwana putih pada Velicia.
Velicia menerima kantong tersebut dan membukanya sambil berkata,
“Apa ini Bu?”
“Itu buah Tin dan madu penyubur kandungan. Semoga saja kamu bisa cepat hamil,” jawab Bu Anisa sambil tersenyum pada menantunya itu.
“Ibu, maaf. Tapi-“
“Kenapa? Bukannya Ferdi sudah menjalani operasi kembali? Ibu selalu berdoa agar kalian secepatnya diberikan keturunan,” sahut Bu Anisa menyela ucapan Velicia.
Velicia memejamkan matanya sambil menghela nafasnya. Kemudian dia menghirup nafas dalam-dalam dan menghelanya perlahan. Setelah itu dia membuka matanya kembali dan berkata,
“Bu, maafkan saya. Saya meminta Mas Ferdi agar menceraikan saya.”
“Apa? Cerai? Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar? Atau Ferdi tergoda dengan wanita yang selalu menempel padanya itu?” tanya Bu Anisa dengan wajah terkejut dan berkata dengan gugup.
Velicia memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya. Kemudian dia berkata,
“Tidak. Saya… saya menemui pria lain. Saya menyukai pria lain,” jawab Velicia sambil meneteskan air matanya dan menundukkan kepalanya.
“Hah?!” celetuk Bu Anisa yang terkejut mendengar pengakuan dari menantunya.
__ADS_1
“Saya mencintai pria lain. Maafkan saya Bu,” ucap Velicia sambil menangis tergugu dan bersimpuh di kaki ibu mertuanya yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
Deg!
Sontak saja Bu Anisa membelalakkan matanya. Keterkejutannya mendengar penuturan dari menantunya itu membuatnya mematung dengan nafas yang tidak beraturan.
“Maafkan saya Bu… Saya-“
Bruk!
“Ibu!”
Tubuh Bu Anisa tergeletak di lantai. Dia tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
“Ibu! Bangun Bu! Ve mohon…,” ucap Velicia di sela tangisnya.
Velicia berusaha menyadarkan ibu mertuanya. Tapi sayangnya ibu mertuanya itu masih saja belum sadar. Dia berusaha mengangkat ibu mertuanya itu ke dalam kamar yang biasanya ditempatinya ketika menginap di rumah itu. Sayangnya tubuh Velicia tidak sekuat itu. Tenaganya tidak sebesar yang diperkirakannya.
Ceklek!
“Ibu!”
Seru Ferdi dari arah pintu. Dia baru saja masuk ke dalam rumah dan disuguhi pemandangan yang membuatnya sangat panik.
Velicia menoleh ke arah pintu dan dia melihat suaminya berjalan dengan cepat ke arahnya. Tangis Velicia semakin menjadi, dia tidak menyangka jika keegoisannya untuk tetap mempertahankan perasaannya bisa membuat banyak orang terluka.
Ferdi membawa masuk ibunya ke dalam kamar yang biasa ditempatinya dengan cara menggendongnya. Velicia mengikuti di belakangnya dengan lelehan air matanya yang masih saja menetes meskipun sudah dihapusnya berkali-kali.
Velicia duduk dipinggiran ranjang sambil menatap ibu mertuanya yang masih saja belum sadarkan diri. Kemudian dia melihat jam yang tergantung di dinding dalam kamar tersebut.
Pantas saja Mas Ferdi sudah pulang, ternyata aku terlalu lama melamun tadi, hingga tidak menyadari jika waktu yang berlalu dengan begitu cepat, Velicia berkata dalam hatinya.
“Mas, apa tidak lebih baik Ibu kita bawa ke rumah sakit saja?” tanya Velicia sambil memandang Ferdi untuk menyampaikan pendapatnya.
Ferdi memandang istrinya dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. Ingin sekali disaat itu juga dia menanyakan tentang apa yang terjadi pada istrinya, tapi diurungkannya karena dia masih belum tahu kondisi ibunya.
Dia keluar dari kamar itu tanpa mengatakan apa pun pada istrinya. Kemudian, tidak lama setelah itu dia kembali dengan membawa sebuah botol.
“Lebih baik kamu beri Ibu ini dulu, siapa tau Ibu akan sadar,” ucap Ferdi sambil memberikan botol yang berisikan minyak kayu putih.
Velicia menerima botol tersebut dan segera membalurkannya pada tubuh ibu mertuanya. Tidak lama setelah itu, terdengar dengkuran halus dari mulut Bu Anisa. Ternyata Bu Anisa tertidur di saat dia sedang pingsan.
Velicia melihat ke arah Ferdi dan Ferdi mendekatkan telinganya pada mulut ibunya. Kemudian dia berkata,
“Kita keluar saja. Ibu sedang tidur. Lebih baik kita tinggalkan Ibu agar dia bisa beristirahat.”
Velicia bernafas lega dan dia menatap sedih pada ibu mertuanya. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kamar tersebut.
Ferdi berjalan mengikutinya keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
“Kita bicara di luar.”
Velicia menghela nafasnya, dia menguatkan dirinya untuk menghadapi suaminya. Apa pun itu harus dihadapinya, karena dia sudah memutuskan apa yang akan dilakukannya.
Ferdi duduk di kursi teras dan menghadap lurus ke jalanan. Velcia duduk di kursi sebelahnya dan ikut memandang lurus ke arah jalanan.
“Apa yang terjadi sehingga Ibu bisa pingsan tadi?” tanya Ferdi tanpa menoleh ke arah istrinya.
Velicia kembali menghela nafasnya dan memejamkan matanya sambil berkata,
“Aku tadi mengatakan pada Ibu jika kita akan bercerai.”
Sontak saja Ferdi terkejut dengan keberanian istrinya untuk menyampaikan keinginan perceraiannya pada ibunya.
“Kamu gila? Apa pernah aku mengatakan akan menceraikanmu?” tanya Ferdi dengan menatap kesal pada istrinya.
“Aku mohon, lepaskan aku,” ucap Velicia sambil mengiba menatap suaminya yang terlihat kesal padanya.
Ferdi mengalihkan pandangannya, dia kembali menatap ke arah depan melihat ke arah jalanan.
“Aku tidak bisa hidup seperti ini. Menipumu, membohongi ibumu dan membodohi diriku sendiri dengan berpura pura tidak terjadi apa-apa,” ucap Velicia kembali yang masih memandang suaminya dan mengiba padanya.
Seketika Ferdi kembali menoleh ke arahnya dan kembali memberinya dengan tatapan kesalnya sambil berkata,
“Lalu bagaimana denganku? Apa kamu pikir aku baik-baik saja? Apa kamu tidak memikirkan sedikit saja perasaanku? Apa kamu pikir aku senang dengan semua ini?’
“Karena itulah aku meminta padamu. Lepaskan aku,” ucap Velicia dengan tatapan mengiba pada suaminya.
“Lakukan apa yang kamu inginkan, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Lihat saja, apa kamu bisa bercerai sendiri tanpa aku?” tukas Ferdi dengan kesalnya.
Velicia menundukkan kepalanya,air matanya kembali keluar dari pelupuk matanya. Dia sangat menderita dengan semua yang terjadi pada hidupnya. Dan dia ingin melepas semuanya untuk hidup dengan menanggung resiko dari perbuatannya.
Mendengar tangisan dari istrinya itu membuat Ferdi bertambah kesal. Dengan emosinya dia berkata,
“Apa menurutmu si pria brengsek itu akan benar-benar bercerai dengan istrinya? Tidak. Dia tidak akan pernah bercerai dari istrinya. Bahkan aku sudah bertanya padanya.”
Seketika Velicia menoleh pada Ferdi dan berkata,
“Kamu bertemu dengannya?”
Ferdi tersenyum sinis dan menatap kesal pada istrinya. Kemudian dia berkata,
“Kamu pikir kita janjian untuk bertemu? Kamu salah. Aku memukulinya setengah mati hari ini.”
Tangis Velicia kembali pecah. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya pria yang dicintainya karena pukulan dari suaminya.
Ferdi yang sedang kesal dan menghadap ke arah jalanan, kini dia menoleh kembali ke samping, di mana istrinya berada. Hatinya bertambah bergemuruh melihat istrinya menangis karena mendengar pria yang menjadi selingkuhannya telah dipukuli oleh suaminya.
Ferdi berdiri dari tempat duduknya dan dia masuk ke dalam rumahnya. Dia kesal terhadap istrinya dan dia tidak mau bertambah emosi melihat istrinya menangisi pria lain di hadapannya.
__ADS_1