Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 99 Fakta yang harus diterima


__ADS_3

Cerai. Kata yang tidak diinginkan oleh setiap pasangan suami istri. Itu pula yang dirasakan oleh Ferdi. Dia merasa seolah tiba-tiba dunianya runtuh. Rumah tangga yang tadinya baik-baik saja, tiba-tiba sang istri meminta untuk bercerai. Keangkuhan Ferdi dan kepercayaan pada dirinya yang terlalu tinggi membuatnya lupa akan kewajibannya sebagai seorang suami pada istrinya.


Sama dengan yang dirasakan oleh Tania. Dia sama sekali tidak mengira jika apa yang dilakukannya selama ini menjadi salah satu penyebab ketidaknyamanan suaminya. Dia terlalu percaya diri sehingga merasa jika suaminya tidak akan bisa lepas darinya. Dan sekarang dia harus  menerima kenyataan bahwa suaminya mencintai wanita lain.


Mendengar kata cerai yang keluar dari mulut istrinya, Ferdi merasa sangat emosi. Dia membanting pintu rumahnya ketika keluar dari rumahnya. Istirahat makan siangnya menjadi kenyang tanpa memakan makanan apa pun.


Akhirnya dia kembali ke kantor tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu. Kemarahannya tergambar jelas di wajahnya. Hal itu tidak luput dari perhatian Lani. Dia sangat tahu jika Ferdi saat ini sedang marah. Ingin sekali dia mendekatinya dan bertanya padanya. Tapi segera diurungkannya karena dia tahu jika Ferdi pasti akan menyemprotnya dengan kata-kata yang akan menyakiti hatinya.


Sepanjang hari Ferdi hanya uring-uringan saja. Dan itu sangat mengganggu rekan kerja yang seruangan dengannya.


“Pak, mendingan Bapak keluar dulu deh cari udara segar biar gak uring-uringan terus,” ucap Lani yang sudah berdiri di dekat meja Ferdi.


Ferdi yang dalam posisi duduk dan mengerjakan pekerjaannya, seketika mendongakkan kepalanya untuk melihat Lani yang sedang berdiri di hadapannya. Kemudian dia melihat ke seluruh ruangan, di mana semua rekannya melihat ke arahnya sambil menganggukkan kepalanya padanya.


“Huffttt…,” Ferdi menghela nafasnya sambil berpikir sejenak.


Kemudian dia merapikan pekerjaannya dan beranjak dari duduknya, berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Kini dia berada rooftop gedung perkantorannya, di mana biasanya digunakan para pekerja untuk beristirahat.


Dengan pemandangan hamparan langit yang luas, dia meratapi nasibnya. Apa yang dihadapinya saat ini membuatnya memikirkan semua sikap dan perbuatannya pada istrinya.


Aku harus bisa memperbaiki sikapku dan tetap mempertahankan rumah tangga kami, Ferdi berkata dalam hatinya.


Setelah beberapa saat dia berada di tempat itu, dia turun untuk kembali ke ruangannya. Rasa kecewa dan sakit hati masih dirasakannya. Hanya saja kini dia sedikit lebih tenang dan sudah tahu apa yang akan dilakukannya.


Tiba-tiba Ferdi kaget ketika bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak diduganya pada saat keluar dari lift yang dinaikinya.

__ADS_1


“Loh, bukankah anda temannya Velicia?” tanya Ferdi dengan senyum ramahnya.


“Iya benar. Apa anda punya waktu sekarang? Saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda,” jawab Tania dengan memperlihatkan wajah datarnya tanpa ekspresi pada Ferdi.


Ferdi merasa aneh dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini. Hanya saja dia tidak bisa menolak permintaan Tania karena dia merupakan teman istrinya. Dan juga alasan lainnya adalah karena dia ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Tania padanya.


Ferdi berpikir sejenak. Setelah beberapa detik kemudian, dia menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan dari Tania.


“Silahkan ikuti saya,” ucap Ferdi sambil mengarahkan tangannya ke suatu tempat.


Dengan bantuan kaki yang dibalut perban dan tongkat penyangga di tangannya, Tania berjalan mengikuti Ferdi di belakangnya. Ternyata Ferdi membawa Tania masuk ke dalam lift untuk menuju ke rooftop.


“Silahkan,” ucap Ferdi sambil menunjuk kursi yang ada di sana.


Tania duduk dan memandang Ferdi yang sedari tadi mengulas senyum padanya. Kemudian dia berkata,


Sontak saja senyum Ferdi memudar. Dia terdiam sejenak dan mengarahkan pandangannya ke lain arah sambil berkata,


“Semuanya sudah berakhir.”


Tania tersenyum sinis mendengar jawaban dari Ferdi yang sepertinya menutupi perbuatan istrinya. Sejenak dia memandang Ferdi yang terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukannya. Kemudian dia berkata,


“Apa anda tau siapa pria yang menjadi selingkuhan istri anda?”


Seketika Ferdi kaget dan raut wajahnya mengatakan bahwa dia tidak tahu siapa pria yang berselingkuh dengan istrinya.

__ADS_1


Tania tersenyum sinis melihat perubahan ekspresi dari Ferdi saat ini. Dia menatap Ferdi seolah memberi peringatan dengan wajah datar dan aura dinginnya. Kemudian dia berkata,


“Saya rasa dia belum memberitahu anda.”


Ferdi mengeratkan pegangan kedua tangannya yang sedang mencengkeram bangku taman tersebut. Di hadapannya kini, Tania dengan ekspresi wajahnya mengatakan segalanya. Tanpa dia  memberitahukan siapa pria tersebut, Ferdi mengetahui siapa pria yang dimaksudkan oleh Tania.


“Dia berselingkuh dengan-“


“Tidak. Semua sudah berakhir. Saya tidak mau tau lagi,” sahut Ferdi menyela ucapan Tania.


Terlihat jelas Ferdi yang sangat takut dan cemas. Dia tidak melihat ke arah Tania ketika berbicara. Bahkan tangannya kini saling bertautan dan bergerak cemas, terlihat seperti tidak nyaman dan seperti sedang terancam.


Tania kaget mendengar perkataan Ferdi. Wajah datarnya seketika berubah memperlihatkan wajah kagetnya sambil berkata,


“Sudah berakhir?”


Ferdi mengangguk meskipun dia melihat ke arah bawah. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Tania ketika berbicara padanya. Hanya sesekali jika dia kaget dengan ucapan Tania, dengan tidak sadar dia melihat ke arahnya. Dan kemudian dia akan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Baiklah. Saya tidak akan berbicara lagi karena anda sudah mengatakan bahwa hubungan mereka sudah berakhir. Tapi pastikan Velicia tidak akan melebihi batasnya. Katakan padanya, jangan memikirkan pria itu lagi dan jangan menemui pria itu lagi,” tutur Tania dengan memperlihatkan kembali aura dingin dan wajah datarnya serta mendongakkan dagunya untuk mempertahankan harga dirinya.


Kemudian dia beranjak dari duduknya dan mengambil tongkat penyangganya. Dia berhenti sejenak untuk menguatkan hati dan tubuhnya yang sudah terbakar oleh emosi. Setelah itu dia meninggalkan tempat itu dengan Ferdi yang masih duduk di bangku tersebut.


Ferdi mengingat kembali saat-saat dia dan istrinya bertemu dengan Tania dan suaminya. Dia mengingat pandangan Raymond yang tidak biasa pada Velicia. Sedangkan Velicia terlihat salah tingkah dan tidak nyaman pada saat itu. Kemudian dia mengingat di mana Velicia berpamitan ke toilet dan Raymond yang juga berpamitan untuk menerima telepon.


Setelah itu dia mengingat saat-saat ketika istrinya akhir-akhir ini yang pulang larut malam dan sangat senang ketika bertelepon di malam hari ketika dia sedang tidur.

__ADS_1


Semua itu membuat emosi Ferdi kembali. Dia menjambak rambutnya dengan frustasi. Kepalanya kembali mendidih memikirkan apa yang nantinya akan terjadi. Dia tidak mau kehilangan istrinya yang selam ini dicintainya.


Dia sadar jika selama ini dia lalai dalam menjaga hubungan baik dengan istrinya. dan kini dia menyalahkan dirinya sendiri. Dalam kecemasan dan emosinya dia berpikir. Dan akhirnya dia memutuskan sesuatu.


__ADS_2