Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 13 Sebuah perhatian


__ADS_3

Lelah, kata itu sudah terucap dari bibir Velicia. Dia sepertinya sudah lelah akan hati, pikiran dan tenaganya. Semua yang sejak dulu dilakukannya seolah tidak berarti sekarang ini. Dan kini dia merasa ingin menyerah.


Dalam hatinya dia ingin berjuang, tapi tubuhnya lemah seolah melarangnya untuk memperjuangkannya. 


Berjalanlah Velicia menuju kamarnya. Dia mengabaikan semuanya. Mengabaikan keadaan rumahnya yang berantakan dan mengabaikan Lili, kucing adopsi mereka yang dianggap seperti anak sendiri oleh Ferdi.


"Sudahlah, aku harus beristirahat saja terlebih dahulu. Tubuhku rasanya tidak kuat lagi. Biarlah Mas Ferdi yang membereskan semuanya. Aku ingin tau apa dia mampu mengerjakannya," ucap Velicia lirih sambil berjalan dengan berpegangan pada setiap benda yang dia lewati.


Badannya sangat terasa lemah dan tentu saja perutnya yang teramat sakit hingga bisa dipastikan jika dia tidak bisa beraktifitas untuk saat ini.


Tanpa memikirkan apapun Velicia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan mudahnya matanya terpejam setelah dia meminum obat yang diberikan oleh dokter padanya.


Entah dia sudah tidur berapa lama, tiba-tiba dia terbangun karena terganggu oleh suara dering telepon yang memaksa masuk ke dalam indera pendengarannya sehingga berhasil mengusik tidurnya.


"Emmm…," Velicia melenguh sambil mengusap-usap matanya untuk memaksanya terbuka.


Diambilnya ponselnya yang tergeletak di atas meja yang berada di sebelah ranjangnya.


Matanya memicing melihat nama kontak yang berada pada layar ponselnya.


Raymond. Nama itu kini tertera dengan jelas pada layar ponselnya. 


Apa ini benar-benar Raymond yang menelepon? Kok bisa? Bagaimana mungkin dia meneleponku? Dan aku juga tidak menyimpan namanya, Velicia berkata dalam hatinya.


Dering telepon itu kembali terdengar ketika sudah beberapa detik yang lalu menjadi panggilan tak terjawab karena Velicia terlalu lama bertanya-tanya dalam hatinya sehingga telepon tersebut terhenti.


Kini dering telepon itu kembali berbunyi. Dengan ragu Velicia mengangkatnya.


Velicia diam karena dia merasa tidak mengenal sang penelepon. Tapi, disaat dia mendengar suara Raymond dari seberang sana, bibirnya melengkung ke atas dan dalam hatinya dia bersyukur karena Raymond yang sedang menelepon adalah Raymond yang dia kenal.


Ve, kamu baik-baik saja kan? Sedari tadi aku mengirim pesan padamu. Dan tidak ada balasan satupun darimu. Aku hanya khawatir padamu Ve, Raymond segera mengatakan semua kekhawatirannya melalui telepon.


Velicia tersenyum. Senyuman itu menghiasi wajahnya yang masih terlihat pucat.


"Aku baik-baik saja Ray. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Velicia sambil tersenyum meskipun Raymond tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


Bagaimana aku tidak khawatir Ve. Tadi kamu sangat pucat dan tubuhmu sangat lemah. Aku tidak yakin kamu bisa mengurus dirimu sendiri di rumah. Sebaiknya tadi kamu tetap berada di klinik saja, tutur Raymond dengan nada khawatir dari seberang sana.


"Terima kasih Ray. Kamu sangat perhatian padaku. Dari dulu aku tidak suka berada di rumah sakit ataupun klinik Ray. Dan juga aku merasa lebih nyaman beristirahat di rumah," tukas Velicia sambil tersenyum tipis.


Apa kamu sudah makan? tanya Raymond dengan nada khawatir.


"Mulutku pahit Ray, rasanya aku tidak bernapsu makan," jawab Velicia dengan suara lemasnya.


Bukan hanya mulutnya saja yang pahit sehingga tidak bernafsu makan, tubuhnya yang lemas pun membuatnya enggan bergerak ke mana pun untuk saat ini.


Sudah aku duga. Meskipun mulut kamu pahit dan tidak bernafsu makan, setidaknya kamu harus memaksakan untuk makan walaupun hanya beberapa sendok agar perutmu terisi. Dan juga sebelum meminum obatnya sebaiknya kamu makan dulu Ve, tutur Raymond kembali dari seberang sana.


"Baik Bapak Raymond yang terhormat. Nanti ya kalau udah tidak lemas lagi. Aku masih malas beranjak untuk memasak makanan," ucap Velicia dengan lemah.


Sebentar lagi ada kurir yang akan mengantar bubur untukmu. Aku sudah memesankan bubur dengan harapan kamu mau memakannya, tukas Raymond dengan tegas seolah tidak mau dibantah.


"Ray, kenapa kamu melakukan itu? Kamu membantuku untuk membawaku ke klinik saja aku sudah sangat merasa bersyukur. Kamu baik sekali Ray. Aku bersyukur memiliki teman sepertimu," ucap Velicia dengan meneteskan air matanya.


Sungguh Velicia tidak mengharapkan hal itu dari Raymond. Dia lebih mengharapkan semua yang dilakukan Raymond hari ini bisa dilakukan oleh Ferdi, suaminya. Hingga tak terasa lelehan air matanya menetes dengan sendirinya.


Sudah aku bilang kan Ve. Kamu teman pertamaku di daerah ini. Dan sudah sewajarnya jika kita sesama teman saling membantu, tutur Raymond dengan suara lembut terdengar sangat penuh perhatian walaupun hanya melalui telepon.


Terdengar suara bel rumah Velicia yang menandakan ada tamu berkunjung di rumahnya.


"Ray, ada suara bel. Sepertinya ada tamu. Aku bukakan pintu dulu ya," ucap Velicia dengan suara lemah.


Sepertinya itu kurir yang mengantarkan bubur untukmu Ve. Tidak usah dimatikan teleponnya. Aku ingin mendengarnya, jika kurir itu tepat waktu pasti akan aku beri bintang lima, ucap Raymond sambil terkekeh di akhir perkataannya.


Velicia tersenyum mendengar candaan dari Raymond. Kemudian dia berkata,


"Baiklah, tunggu sebentar ya. Aku akan membukakan pintunya."


Velicia beranjak dari ranjangnya. Dengan sekuat tenaga dia berjalan tertatih dan berpegangan pada setiap benda yang ada di sekitarnya.


Sesekali dia meringis menahan sakit di perutnya. Hingga tangannya meremas perutnya dan menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang menyiksa pada perutnya.

__ADS_1


Dengan ponsel yang masih menyala, Velicia menemui orang yang telah membunyikan bel rumahnya.


"Dengan Mbak Velicia?" tanya seorang laki-laki yang memakai atribut kurir delivery makanan.


Velicia menganggukkan kepalanya sambil berkata,


"Iya, saya sendiri."


"Ini Mbak pesanannya," ucap kurir tersebut sambil memberikan box makanan yang dibawanya.


"Terima kasih Mas," tukas Velicia setelah menerima box makanan tersebut.


Velicia kembali masuk ke dalam rumahnya. Langkahnya sangat lambat, bahkan dia terkesan menyeret kakinya agar bisa cepat sampai ke dalam rumahnya.


Tubuhnya masih sangat lemah dan terasa sakit semuanya mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan yang dirasakannya pun bermacam-macam.


Sungguh penyakit lambung ini merupakan musuh terberat untuk Velicia. Karena dia sangat jarang sakit, bahkan tidak pernah sakit lebih dari sekedar demam, flu dan batuk.


Ve, apa benar itu bubur yang aku pesankan untukmu? tanya Raymond dari seberang sana yang sedari tadi teleponnya masih terhubung dengan Velicia.


Velicia meletakkan ponselnya di telinganya dengan menahannya menggunakan bahunya sambil kedua tangannya membuka box makanan yang barusan dia terima dari kurir.


"Iya Ray benar. Terima kasih banyak ya Ray atas semua bantuanmu," ucap Velicia sambil tersenyum kecut.


Dia sangat menghargai perhatian dan pertolongan dari Raymond. Hanya saja dia tersenyum kecut ketika melihat bubur tersebut karena bubur itu bukan dari suaminya.


Sangat kecewa sekali dia dengan suaminya itu. Laki-laki yang berstatuskan suaminya tidak seperhatian teman laki-lakinya.


Makanlah Ve. Setelah itu minumlah obatnya dan beristirahatlah. Akan ku tutup teleponnya. Semoga kamu cepat sembuh Ve, tutur Raymond dengan tulus.


"Terima kasih Ray. Akan aku turuti semua perintahmu," ucap Velicia setengah bercanda.


Terdengar suara kekehan Raymond dari telepon tersebut sebelum telepon itu akhirnya benar-benar terputus.


Velicia mengaduk-aduk bubur tersebut dan menyuapkannya sedikit ke dalam mulutnya,

__ADS_1


"Haruskah aku bersedih akan keadaan ini? Ataukah aku harus bersyukur memiliki teman seperti Raymond disaat Mas Ferdi tidak memperhatikanku?" tanya Velicia pada dirinya sendiri dengan tersenyum getir.


 


__ADS_2