Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 78 Kopi pembawa masalah


__ADS_3

"Masuklah!" ucap Ferdi sambil membukakan pintu mobil untuk Velicia yang sedang berjalan setelah mengunci pintu rumah.


Velicia malas sebenarnya menanggapi ucapan dari suaminya. Bahkan menatapnya saja dia enggan.


Namun, dalam hatinya mengingatkannya agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.


Akhir-akhir ini dia bersikap seolah durhaka pada suaminya dan mencari kebahagiaannya sendiri. 


Velicia pun membuka pintu mobil yang ada di belakang, dia tidak mau duduk di depan meskipun Ferdi telah membukakan pintu untuknya.


"Bunda, duduklah di depan. Aku janji, kursi ini tidak aku perbolehkan diduduki oleh siapapun, kecuali kamu. Bahkan Ibu pun tidak akan aku perbolehkan duduk di sini. Percayalah," ucap Ferdi dengan tatapan memohon pada istrinya.


Velicia menghela nafasnya dengan berat. Dia tidak ingin durhaka kembali. Apalagi dia mendengar nama ibu kandung Ferdi yang seolah bersikap durhaka padanya.


Masuklah Velicia ke dalam mobil dan duduklah dia di kursi depan. Bibir Ferdi tersenyum ketika istrinya menuruti kemauannya.


"Apa kamu sudah mendaftar ulang ke rumah sakit?" tanya Ferdi setelah memakai sabuk pengamannya.


"Belum," ucap Velicia datar tanpa ekspresi.


"Daftarlah, aku janji kali ini tidak akan seperti waktu itu lagi. Saat itu pun aku tidak bermaksud untuk membatalkan janji kita untuk ke rumah sakit. Bunda tau sendiri kan kalau waktu itu kita baru kehilangan-"


"Aku tau. Dan untuk sekarang, Mas Ferdi sendiri saja yang mendaftar," sahut Velicia kembali dengan berwajah datar tanpa ekspresi.


"Tapi… aku malu Bunda. Lebih baik Bunda saja yang-"


"Apa ketika Mas Ferdi melakukan vasektomi aku juga yang mendaftarkan?" sahut Velicia kembali dengan ketus dan tersenyum sinis pada suaminya.


Glek!


Ferdi menelan ludahnya dengan kesusahan. Lagi-lagi dia dibuat tidak bisa berkutik oleh istrinya.


Hening, Ferdi tidak berani menjawab pertanyaan istrinya. Dia takut jika istrinya kembali marah padanya.


Dinyalakannya mesin mobilnya dan dilajukannya mobil tersebut menuju tempat bekerja istrinya.


"Nanti akan aku buat janji dengan dokternya," ucap Ferdi lirih, tapi masih bisa didengar oleh Velicia.


Velicia tidak memberikan jawaban apapun dan dia tidak menanggapinya dengan perkataan atau reaksi apapun. 

__ADS_1


Begi Velicia sekarang ini janji Verdi sudah tidak bisa diharapkannya lagi. Bahkan dia sudah tidak terlalu berharap dengan janji apapun dari suaminya itu.


Mobil Ferdi berhenti di depan sekolah TK yang menjadi tempat bekerja sekaligus tempat menghibur diri bagi Velicia. 


Anak-anak yang sangat menggemaskan itu membuat Velicia kuat menjalani rumah tangganya selama beberapa tahun ini. Karena itulah dia tidak ingin melepaskan pekerjaannya itu sebelum dia mendapatkan kebahagiaannya yang sesungguhnya.


Velicia melirik tumbler kopi milik Ferdi. Dan disebelahnya ada sebuah cup kopi dengan tulisan cafe ternama pasa cup tersebut.


Velicia menghela nafasnya setelah melihat itu. Dia merutuki kebodohannya yang dengan telatennya menyiapkan kopi untuk suaminya.


Diambilnya tumbler kopi tersebut dan dibawanya turun keluar dari mobil itu.


"Loh Bun, Bunda… Bun, itu kopinya kenapa dibawa?" tanya Ferdi sambil keluar dari mobilnya.


Velicia yang sudah selangkah berjalan, kini menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suaminya.


"Kopi ini?" tanya Velicia sambil memperlihatkan tumbler kopi yang ada di tangannya.


Ferdi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan istrinya.


Velicia tersenyum sinis dan membuang tumbler kopi tersebut pada tong sampah yang kebetulan ada di dekatnya.


"Loh Bun, kok dibuang?" 


"Buat apa aku membuatkan kopi susah-susah jika toh nantinya tidak akan diminum dan dibuang juga. Sepertinya sekarang Mas Ferdi sudah menyukai kopi buatan orang lain," tutur Velicia sambil tersenyum sinis.


Seketika mata Ferdi terbelalak. Dia tidak mengira jika istrinya mempunyai insting yang kuat. 


"Tapi Bunda-"


Tanpa perlu mendengarkan penjelasan dari suaminya, Velicia segera meninggalkan tempat itu. Dia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan oleh suaminya lagi.


Ferdi kembali seperti orang bodoh yang terbukti berselingkuh. Perkataan Velicia itu mengingatkannya akan kopi pemberian dari Lani yang setiap hari sudah diletakkan di mejanya.


Dia tidak bisa menolaknya karena setiap kali dia datang, kopi itu sudah tersedia di mejanya. Dan dia tidak bisa menghabiskan kopi itu sekaligus dalam waktu bersamaan.


Dan sialnya, kopi dalam tumbler itu terkadang tidak diminumnya karena pada jam makan siang, Lani memberikannya kembali kopi untuknya.


Ferdi masuk ke dalam mobilnya dengan lesu. Ketika dia akan memakai sabuk pengamannya, dia melihat cup kopi yang tadi dilihat oleh Velicia.

__ADS_1


"Sial! Pasti karena cup ini Bunda marah. Lagian kenapa dia gak membuang sekalian cup ini setelah kita makan siang kemarin? Dasar gadis manja!" ucap Ferdi seolah-olah memarahi Lani, tapi anehnya bibirnya tersenyum mengingatnya.


Setelah itu dia melihat ke arah jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,


"Sial! Aku harus cepat. Jika tidak, aku akan terlambat."


Dilajukannya mobilnya itu dengan cepatnya. Sebagai seorang pegawai teladan dia tidak boleh memberi contoh buruk pada anak buahnya.


Hati Velicia kembali hancur, tapi anehnya dia tidak lagi merasakan sakit hati. Dia memang kecewa pada suaminya tentang kopi buatannya yang tidak diminumnya. 


Hanya saja Velicia berpikir jika Ferdi membelinya sendiri, bukan diberi oleh orang lain. Bahkan ketika Velicia mengatakan bahwa Ferdi telah dibuatkan kopi oleh orang lain, dia hanya membicarakan pegawai yang bertugas membuat kopi di cafe tersebut.


Namun, dalam pikiran Ferdi, istrinya sedang membicarakan Lani yang telah memberinya kopi dari cafe ternama.


Mood Velicia saat ini sedang buruk. Bahkan apa yang dikerjakannya tidak ada yang berhasil. Dia pun merasa jika hatinya yang sakit akibat memutuskan untuk melepaskan Raymond itu yang mempengaruhi hari-harinya.


Dia merasa seolah kebahagiaannya telah direnggut paksa setelah dia menikmatinya dalam waktu singkat saja.


"Ve, ap kamu sedang sakit?" tanya Vira sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Velicia.


Velicia melepaskan tangan Vira dari dahinya. Kemudian dia berkata,


"Tidak Vir. Aku hanya merasa ingin sendiri saja."


Vira mengerti jika Velicia saat ini sedang mempunyai masalah. Dengan penuh pengertian Vera menepuk kecil bahu Velicia sambil berkata,


"Baiklah. Semoga masalahmu cepat selesai."


Velicia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menanggapi perkataan Vira padanya.


"Ve, ini sudah siang. Biar kami saja yang menyiapkan bahan mengajar untuk besok. Sebaiknya kamu pulang atau makan siang lah terlebih dahulu agar kamu tidak sakit lagi," ucap Rani sambil menarik tangan Velicia agar keluar dari ruangan tersebut.


Velicia pun menuruti perkataan temannya. Dia berjalan pulang dengan langkah lemasnya menyusuri jalan yang biasa dilewatinya.


Velicia melihat halte bus dari tempatnya saat ini. Dia membayangkan kembali saat itu, saat di mana dia dan Raymond bepergian bersama. 


Bibirnya melengkung ke atas dan menampilkan senyuman manisnya. Terlihat sekali wajah bahagia terpancar karena senyumannya.


"Ve!"

__ADS_1


__ADS_2