Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 90 Berlari padamu


__ADS_3

Lani benar-benar ke rumah Ferdi sepulang dia bekerja. Dengan membawa kantong plastik yang berisi beberapa mainan untuk Cinta, dia kaget melihat Velicia sedang berlari seolah dikejar waktu.


"Itu kan istrinya Pak Ferdi. Mau ke mana dia? Sepertinya dia sedang terburu-buru," ucap Lani sambil menghentikan langkahnya dan melihat penuh dengan tanda tanya ke arah Velicia.


Namun, seketika mata Lani berbinar, senyumnya terukir dengan indah. Dalam hatinya berkata,


Berarti sekarang ini Pak Ferdi sedang sendirian di rumah. Lebih baik aku ke sana sekarang juga.


Kemudian dia berjalan secepat kilat menuju rumah Ferdi. Sesampainya di sana dia melihat rumah Ferdi yang sangat sepi seperti tidak berpenghuni.


Ditekannya bel yang ada di tembok sebelah pagar rumah Ferdi. Bel itu berkali-kali ditekan sehingga membuat Ferdi terbangun dari tidurnya.


"Siapa sih yang membunyikan bel seperti orang kesetanan begini?" ucap Ferdi sambil menguap.


Berdirilah dia dari sofa tersebut dan berjalan menuju luar rumah. Matanya terbelalak karena terkejut melihat Lani yang sudah berdiri di depan pagar rumahnya.


"Lani, kenapa kamu ke sini? Lebih baik kamu pulang saja. Saya tidak mau jika istri saya salah paham dengan kedatanganmu kemari," ucap Ferdi dengan paniknya menoleh ke kanan dan ke kiri.


Lani tersenyum melihat Ferdi yang sedang salah tingkah karena panik akan kedatangan dirinya. Kemudian dia berkata,


"Saya tadi melihat istri Bapak sedang keluar dengan terburu-buru," ucap Lani sambil tersenyum manis pada Ferdi.


Seketika Ferdi menoleh ke arah Lani dan terlihat kaget mendengar apa yang diucapkan Lani padanya.


"Pergi? Pergi ke mana dia?" tanya Ferdi pada Lani yang masih ada di luar pagar.


"Biarkan saya masuk dulu Pak. Setelah itu saya akan mengatakannya pada Bapak," ucap Lani menyindir Ferdi yang belum membukakan pintu pagar untuknya.


Ferdi mencebik kesal karena merasa diatur oleh Lani yang biasanya harus mematuhi perintah Ferdi. Dan kini dia yang harus mematuhi perintah Lani untuk membukakan pintu pagar rumahnya.


"Masuklah," ucap Ferdi setelah membukakan pintu pagar untuk Lani.


Lani tersenyum senang masuk ke dalam rumah Ferdi. Dan dia berjalan masuk ke dalam rumah Ferdi meskipun Ferdi yang menjadi tuan rumahnya belum mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya.


Ferdi menghela nafasnya karena Lani yang seperti biasanya, lancang melakukan sesuatu tanpa berpikir dahulu.


"Jadi, ke mana istri saya pergi?" tanya Ferdi pada Lani sambil duduk di atas kursi ruang tamu.


Lani mengedikkan kedua bahunya sambil berkata,

__ADS_1


"Saya tidak tau Pak. Tadi saya hanya melihat istri Bapak sedang berlari terburu-buru. Mungkin sedang membeli sesuatu," ucap Lani sambil tersenyum lebar pada Ferdi.


Seketika dahi Ferdi mengernyit. Dia mencoba mengingat-ingat dan mencari tahu kemungkinan yang sedang terjadi sehingga istrinya terburu-buru meninggalkan rumah dan tidak berpamitan padanya.


Sekelebat bayangan istrinya yang sedang berbicara melalui telepon di malam hari waktu itu hadir kembali. Dia merasa aneh akan hal itu.


Sungguh senyuman bahagia istrinya pada saat bertelepon dengan orang yang tidak diketahui oleh Ferdi sangat mengganggunya.


"Lani, bisakah saya bertanya sesuatu padamu?" tanya Ferdi pada Lani.


Lani terkejut dengan pertanyaan dari Ferdi. Dia merasa aneh karena Ferdi meminta ijinnya terlebih dahulu sebelum bertanya padanya.


"Emmm… kenapa harus bertanya dahulu Pak. Biasanya juga langsung tanya," ucap Lani sambil terkekeh.


"Ck, kamu ini. Kamu jawab saja pertanyaan yang saya ajukan," ucap Ferdi sambil mencebik kesal pada Lani.


Lani pun tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya dengan antusias.


Melihat Lani yang menganggukkan kepalanya, Ferdi segera bertanya,


"Kira-kira apa yang dilakukan seorang wanita yang sudah bersuami bertelepon malam-malam tanpa sepengetahuan suaminya?"


"Kemungkinan dia sedang puber Pak, seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Atau mungkin istri Bapak sedang berselingkuh," ucap Lani dengan memperlihatkan wajah seriusnya.


Sontak saja mata Ferdi terbelalak. Dia kaget mendengar jawaban dari Lani yang sama dengan apa yang ada dalam pikirannya.


"Oh, bukan istriku. Istri temanku. Entah kenapa temanku menanyakan hal itu padaku," ucap Ferdi sambil tersenyum kaku dan salah tingkah pada Lani.


Sedangkan Lani menatap iba pada Ferdi yang terlihat jelas menyembunyikan sesuatu.


Di taman, Raymond dan Velicia seolah tidak terpisahkan. Mereka berdua selalu bergandengan tangan dan tidak mau melepasnya sedetik pun.


Mereka sudah lupa akan status mereka, karena tertutup oleh kebahagiaan yang sedang mereka rasakan saat ini.


"Apa kamu tidak lapar Ve? Aku belum makan seharian ini. Apa kamu mau menemaniku makan?" tanya Raymond sambil memandang Velicia dan memberikan senyuman manis padanya.


Velicia tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari Raymond. Kemudian dia berkata,


"Sebenarnya aku juga lapar Ray."

__ADS_1


Raymond terkekeh melihat ekspresi lucu dari wanita pujaan hatinya. Setelah itu dia beranjak dari duduknya dan dengan tangan mereka yang masih saling bergandengan, Raymond berkata,


"Ayo Ve, kita cari tempat makan dulu."


Velicia pun menurut, dengan senyumannya dia menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Raymond.


Mereka berjalan berjauhan seperti orang yang tidak saling mengenal. Tapi, ketika Raymond berbelok ke arah warung tenda kaki lima yang tidak jauh dari tempat mereka berada, Velicia pun ikut masuk ke dalam warung tersebut.


Dalam warung tersebut Velicia dan Raymond makan dalam satu meja. Mereka teringat pada saat pertama kali mereka bertemu kembali setelah berkenalan.


Canda tawa mereka menyelingi kegiatan makan mereka. Hingga tak terasa makanan mereka pun habis tak tersisa.


Tiba-tiba saja ponsel Velicia berbunyi. Dering ponselnya yang lirih itu membuat Raymond melihat ke arahnya.


Velicia terlihat kikuk setelah melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya dan melihat ke arah Raymond.


Setelah itu dia memasukkan ponselnya dalam tasnya tanpa mau mengangkat telepon tersebut.


"Siapa Ve? Apa itu dari orang rumah?" tanya Raymond pada Velicia yang seperti sedang salah tingkah saat ini.


"Tidak. Hanya panggilan dari teman," jawab Velicia sambil tersenyum kaku.


Raymond menangkap ada yang aneh dari sikap Velicia. Dia menduga jika telepon yang tadi tidak diangkatnya adalah telepon dari suaminya. 


Namun, Raymond tidak mau tahu. Selama Velicia ada dengannya, saat itu juga dia akan bersikap egois dengan selalu membuatnya bahagia.


"Sudah Ve makannya?" tanya Raymond sambil menatap intens manik mata Velicia dan tersenyum padanya.


Velicia pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,


"Mau ke mana sekarang kita Ray?" 


Terlihat Raymond berpikir untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Velicia padanya. Dalam hati dia berkata,


Aku ingin sekali membawamu ke tempat yang jauh, sehingga tidak ada orang yang bisa mengenali kita. Aku harap kita bisa tinggal dengan bahagia di tempat itu.


"Terserah kamu Ve. Asal bersamamu, ke mana saja pasti aku mau," jawab Raymond sambil tersenyum manis pada Velicia.


Dan hal itu membuat semburat merah di wajah Velicia keluar. Dia merasa sangat malu saat ini mendengar ucapan Raymond. Dan rasa malunya itu membuatnya melambung tinggi menuju kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2