Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 50 Pembelaan diri


__ADS_3

Di dalam bus, mereka saling salah tingkah. Duduk mereka memang saling bersebelahan, tapi tidak sedekat seperti pada saat berangkat tadi.


Tidak ada obrolan dan tidak ada suara sedikitpun dari mereka berdua. Mereka hanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga mereka sampai di halte yang harus mereka turuni.


"Emmm… aku duluan ya Ray. Aku harus mampir dulu di minimarket," ucap Velicia setelah mereka turun dari bus.


Raymond pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu Velicia berjalan ke arah kirinya. 


"Ve, bukannya minimarketnya ke arah sini?" tanya Raymond sambil menunjuk ke arah kanan mereka untuk menghentikan Velicia berjalan ke arah kiri mereka.


Velicia pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang, di mana Raymond masih berdiri di sana.


Dia tersadar jika dirinya salah mengambil arah jalan. Mungkin karena gugup dan salah tingkah hingga dia salah mengambil arah jalan.


Malu? Tentu saja, Velicia sangat malu saat ini. Dia tersenyum kikuk dan mempercepat jalannya sambil meletakkan telapak tangannya pada wajahnya untuk menghalangi Raymond melihat wajah malunya ketika dia berjalan melewatinya.


Raymond tersenyum melihat tingkah lucu Velicia. Kemudian dia berkata sambil terkekeh,


"Ve, gak usah malu. Kita memang sama-sama memalukan. Jadi santai saja meskipun aku juga salah tingkah tadi."


Velicia kembali menghentikan langkahnya. Kemudian dia menoleh ke belakang dan tersenyum pada Raymond.


"Maaf Ray. Sepertinya tadi kita terbawa suasana," ucap Velicia sambil tersenyum getir.


Kekehan Raymond terhenti setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Velicia. Entah mengapa dia merasa kecewa karena mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Velicia.


"Kenapa harus minta maaf Ve?" tanya Raymond dengan memperlihatkan wajah kecewanya.


Sontak saja Velicia terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari Raymond. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya terdiam tanpa berkata-kata. Mereka berdua hanya saling menatap intens menyelami perasaan mereka masing-masing.


Suara klakson kendaraan menyadarkan mereka. Dan mereka berdua pun kembali salah tingkah. 


"Sudah menjelang malam Ve, cepatlah pulang, katanya kamu mau mampir di mini market?" ucap Raymond sambil tersenyum manis pada Velicia.


"Hah?! Eh iya. Aku pulang dulu ya Ray. Terima kasih untuk hari ini," ucap Velicia sambil tersenyum kikuk.


Senyum itu, kenapa senyuman Raymond selalu bisa mengalihkan pikiranku? Wah gak beres ini. Aku harus mengembalikan kewarasanku, Velicia berkata dalam hatinya disetiap langkahnya.

__ADS_1


Raymond berjalan pelan dengan jarak yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dari Velicia. Bukannya dia mengikuti Velicia, tapi memang jalan itulah yang harus dilewatinya untuk bisa sampai di rumahnya.


Raymond tersenyum ketika Velicia melewati minimarket dan tetap berjalan lurus tanpa mampir ke dalam minimarket seperti yang dia ucapkan tadi.


Sepertinya dia hanya beralasan saja. Mungkin dia ingin menghindariku karena malu. Ah… apa yang tadi aku perbuat? Kenapa aku juga bisa terbawa suasana? Aku harus mengembalikan kesadaranku, Raymond berkata dalam hatinya sambil berjalan dan matanya masih melihat punggung Velicia yang berjalan tidak jauh di depannya.


Raymond merutuki kebodohannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Yang dia rasakan hanya nyaman dan senang ketika bersama dengan Velicia.


Dalam hati Raymond mengatakan bahwa itu tidak benar. Dan dalam hatinya dia berniat untuk mengenyahkan rasa itu sebelum berkembang terlalu jauh.


Sesampainya di depan rumah, Velicia sudah melihat jika semua lampu rumahnya menyala. Dia menghela nafasnya karena harus kembali merasakan perasaan sakit hatinya ketika melihat suaminya.


Ceklek!


Pintu rumah itu dibuka oleh Velicia dengan rasa malas.


Dihirupnya udara dalam-dalam, kemudian dihelanya secara perlahan untuk menenangkan hatinya yang mulai kembali tidak tenang.


"Malam sekali pulangnya."


Velicia tidak melihat ke arah suaminya, dia meneruskan kegiatannya, melepas sepatunya dan meletakkannya di tempat penyimpanan sepatu.


Setelah itu dia berjalan melewati Ferdi menuju dapur untuk mengambil minuman.


"Ve, kamu dari mana? Kenapa pulang semalam ini?" tanya Ferdi menyelidik.


Velicia mengambil botol orange jus dari lemari es dan menuangkannya ke dalam gelas. Kemudian dia melihat ke arah jam yang menggantung di dinding.


Dia tersenyum melihat jam tersebut yang menunjukkan jam tujuh lebih tiga menit. Kemudian dia berkata,


"Masih jam tujuh lewat tiga menit. Apa ini sudah sangat malam Mas? Bagaimana jika jam menunjukkan pukul sepuluh empat puluh lima menit? Apakah itu sudah tengah malam?" 


"Maksud kamu apa Ve?" tanya Ferdi  sambil mengernyitkan dahinya.


"Kalau jam segini sudah sangat malam, lalu bagaimana dengan Mas Ferdi kemarin yang pulang jam sepuluh lebih empat puluh lima menit?" tanya Velicia sambil tersenyum getir.


Ferdi kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Velicia. Dia tidak menyangka jika ucapannya seolah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku mengantarkan Ibu pulang, bukannya pergi kelayapan gak jelas ke mana," sahut Ferdi untuk mencoba membela dirinya.


Velicia meletakkan gelasnya di atas meja makan. Kemudian dia meraih tas yang tadinya diletakkannya di atas meja makan dan berjalan menuju sofa ruang tamu di mana Ferdi telah duduk di sana.


"Apa Ibu menggunakan ini semua di mobil Mas semalam?" tanya Velicia sambil melemparkan lipstik dan cermin yang dia ambil dari dalam tasnya ke arah Ferdi.


Ferdi terkejut ketika melihat benda yang ditangkapnya ketika istrinya melemparkan ke arahnya tadi.


Mata Ferdi melotot dan mulutnya menganga karena terkejut mendapati lipstik dan cermin yang berada di tangannya.


"I-ini…," Ferdi tidak bisa melanjutkan perkataannya, tenggorokannya tercekat tidak bisa mengeluarkan kata-kata.


"Aku temukan itu di dalam mobil Mas Ferdi tadi pagi. Lebih tepatnya di jok yang aku tempati," ucap Velicia sambil tersenyum sinis.


Dia sengaja menjeda ucapannya karena dia ingin tahu pembelaan apa yang akan diberikan oleh suaminya untuk dirinya sendiri.


Namun, ekspresi Ferdi yang sangat terkejut itu tidak bisa membuatnya mengatakan apapun. 


Velicia tersenyum sinis menatap Ferdi yang terlihat sangat terkejut. Kemudian dia kembali berkata,


"Apa Ibu menggunakan semua itu? Jika benar, aku sangat terkejut Mas. Rupanya aku kalah dengan Ibu yang mempunyai selera lipstik warna merah menggoda seperti itu. Dan lebih mengejutkan lagi karena Ibu yang seusia itu, masih membawa lipstik dan cermin ke mana-mana," ucap Velicia kembali.


Ferdi hanya terdiam dan melihat lipstik serta cermin yang ada di tangannya. Sepertinya pembelaan dirinya terasa percuma saja. Dia ingin membenarkan jika itu milik ibunya. Tapi dia takut jika nantinya istrinya itu menanyakannya sendiri pada ibunya.


"Kenapa diam Mas?" tanya Velicia sambil terkekeh.


Velicia meraih cermin dan lipstik dari tangan Ferdi. Kemudian dia memperlihatkan punggung cermin tersebut tepat di hadapan Ferdi sambil berkata,


"Apa Ibu bernama Lani? Sejak kapan Ibu menamai barang-barangnya dengan nama Lani?" 


Seketika mata Ferdi terbelalak melihat nama Lani yang ada pada punggung cermin tersebut. Bibirnya bergerak-gerak seolah mengatakan sesuatu, tapi tidak terdengar apapun dari mulut Ferdi.


Velicia tertawa melihat ekspresi Ferdi yang seolah telah tertangkap basah saat ini. Dia bukan menertawakan Ferdi, lebih tepatnya dia menertawakan dirinya sendiri karena terlalu mudah untuk dibodohi oleh suaminya.


"Ve, itu-"


"Apa aku terlalu bodoh hingga sangat gampang sekali kamu bodohi Mas?" tanya Velicia dengan mata yang berkaca-kaca dan suaranya bergetar menahan tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2