Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 98 Ceraikan aku!


__ADS_3

Raymond memperhatikan dari jauh wanita yang telah mengambil hatinya. Ingin sekali dia mendekatinya, menggandeng dan menggenggam tangannya. Hanya saja ditahannya karena dia tidak mau jika Tania mengetahui pertemuan mereka walaupun tidak disengaja.


Tania wanita yang nekat, Raymond tahu itu. Karena itulah Raymond lebih memilih untuk melihat dari jauh kekasih hatinya.


Raymond mendekati meja Velicia dan dia meletakkan sesuatu di mejanya. Terlihat jelas wajah kaget Velicia ketika melihat gift box berwarna merah muda di depannya. Sontak saja Velicia melihat gift box tersebut, kemudian mendongak melihat wajah si pemberi benda tersebut.


Seketika bibir Velicia melengkung ke atas ketika melihat wajah si pemberi benda tersebut yang juga sedang tersenyum manis padanya.


“Ray,” celetuk Velicia sambil tersenyum manis melihat wajah pria yang dicintainya.


Raymond tersenyum manis dan menunjuk gift box tersebut sambil berkata,


“Untukmu.”


“Apa ini Ray?” tanya Velicia sambil memegang gift box tersebut.


“Bukalah,” jawab Raymond sambil tersenyum manis, kemudian dia duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat Velicia berada.


Velicia mengerutkan dahinya melihat Raymond yang duduk di kursi lainnya. Tidak seperti biasanya yang duduk di dekatnya.


Namun, pikirannya itu segera ditepisnya karena dia percaya pada Raymond. Dia percaya jika prianya itu tidak akan membuatnya bersedih. Karena selama ini dialah yang selalu menghibur Velicia di saat dia sedang bersedih.


Raymond mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Beberapa detik kemudian, ponsel Velicia berbunyi, ada suara notifikasi pesan masuk di sana.


Dengan segera dia mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut. Dia menoleh ke arah Raymond berada dan Raymond menganggukkan kepalanya, sebagai tanda agar Velicia melakukan apa yang tertulis pada pesannya.


Velicia segera memasukkan gift box tersebut ke dalam tasnya, sesuai dengan permintaan Raymond yang menyuruhnya untuk membaca pesan yang ada dalam gift box tersebut di rumah.


Mereka duduk berhadap-hadapan dengan meja yang berbeda dan jarak yang tidak terlalu jauh hingga mirip sepert long table yang hanya diduduki dua orang yang berada di ujung meja yang berbeda.


Mereka saling tersenyum dan meminum kopi mereka bersamaan sehingga seperti benar-benar sedang bersama. Tapi tak lama kemudian, ada beberapa orang yang duduk di meja yang berada di antara mereka, sehingga kini mereka ditutupi oleh beberapa orang yang duduk di sana.

__ADS_1


Raymond kembali mengirimkan pesan pada Velicia. Dia mengatakan bahwa sepertinya mereka harus pulang sekarang, karena tidak ada tempat yang akan mereka tuju untuk saat ini.


Velicia pun menurut, dia beranjak dari duduknya dan membawa barang-barangnya keluar dari café toko buku tersebut. Raymond pon demikian, dia keluar dari café toko buku tersebut dengan membawa buku-buku yang telah dibelinya.


Seperti biasanya, mereka berjalan dengan jarak sekitar satu meter. Karena jalanan yang hanya setapak, Raymond berjalan di belakang Velicia dengan tetap mengambil jarak aman.


Jika tidak memikirkan Velicia dan hanya memikirkan egonya, pasti sekarang ini Raymond sudah menggandeng tangan Velicia dan menggenggamnya layaknya pasangan kekasih pada umumnya.


Sayangnya semua itu tidak bisa terjadi sebelum mereka mengakhiri hubungan mereka dengan pasangan mereka masing-masing.


Dan itu menyesakkan hati mereka. Raymond dan Velicia merasa sangat tersiksa karena tidak bisa bersama dengan nyaman. Mereka merasa seperti pasangan kekasih yang selalu sembunyi-sembunyi karena tidak disetujui oleh orang tua mereka.


Lagi-lagi mereka harus berpisah di pertigaan jalan yang memisahkan arah jalan rumah mereka. Berat rasanya berpisah dari orang yang sangat dicintai. Begitu pula dengan mereka yang tidak ingin berpisah walaupun hanya sedetik saja.


Namun, kenyataan tidak seperti harapan mereka. Kini mereka harus segera berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


Sesampainya di rumah, Velicia kaget melihat suaminya yang sudah berada di dalam rumah. Ferdi duduk bersama dengan Cinta di sofa sambil menonton televisi.


“Dari mana saja kamu?” tanya Ferdi dengan tatapan menyelidik pada istrinya.


“Emmm… habis dari toko buku, membeli semua perlengkapan untuk tahun ajaran baru,” jawab Velicia sambil menunjukkan tas belanjaan yang ada di tangannya.


Kemudian dia meletakkan tasnya di atas meja makan dan juga meletakkan tas belanjaannya di sana. dengan santainya Velicia mengambil minuman di dalam lemari es dan meminumnya.


Ferdi hanya memperhatikannya tanpa berkata apa-apa. Dia merasa serba salah kali ini. Dia takut jika dia marah-marah, istrinya pasti akan pergi ke pelukan pria lain yang sedang dicintainya saat ini. Tapi, sebagai seorang suami, dia tidak bisa begitu saja membiarkan istrinya pergi dan pulang seenaknya seperti akhir-akhir ini.


“Bunda, aku sengaja pulang untuk makan siang bersama denganmu. Tapi ketika aku sampai di sini, kamu tidak ada di rumah,” ucap Ferdi dengan ekspresi sedihnya agar istrinya luluh padanya seperti biasanya.


Velicia memandang suaminya sambil menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,


“Maaf. Kamu tidak memberi kabar, jadi aku tidak tau.”

__ADS_1


“Aku ingin memberi kejutan padamu,” sahut Ferdi dengan tatapan mengiba pada istrinya.


Sebenarnya Ferdi sangat sakit hati dan kecewa pada istrinya yang dengan jujurnya mengatakan bahwa dia sedang memiliki hubungan dengan pria lain. Dan parahnya lagi, istrinya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mengendalikan perasaannya sehingga dia dengan jelas mengatakan bahwa dia mencintai pria tersebut.


Namun, Ferdi sadar jika semua itu seperti sebuah akibat dari perbuatannya selama ini yang mencurangi istrinya. Karena itulah dia memilih untuk berpura-pura tidak mengetahui apa pun dan berusaha untuk mengembalikan keharmonisan mereka seperti pada saat pertama mereka menikah.


“Apa kita sekarang akan makan siang bersama di luar? Aku hanya punya waktu empat puluh lima menit lagi. Kira-kira di mana kita akan makan tanpa harus menunggu lama?” tanya Ferdi sambil tersenyum kaku pada istrinya yang melihatnya dengan ekspresi datarnya.


“Lebih baik Mas Ferdi cepat berangkat. Aku sudah kenyang, karena aku sudah makan tadi,” ucap Velicia dengan wajah datarnya.


Seketika senyum Ferdi pudar. Hatinya bergemuruh. Dia sangat marah karena dia menunggu dengan sia-sia. Dalam hatinya dia menebak dengan siapa istrinya makan siang. Tapi dia tidak mau mendengar. Dia menolak untuk mendengar nama pria yang ada di antara mereka.


Namun, tanpa sadar bibirnya berucap,


“Dengan siapa? Apa dengan pria itu?”


Dengan wajah datarnya tanpa ekspresi, Velicia mengedipkan kedua matanya dan sedikit menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diberikan suaminya padanya.


Sontak saja darah Ferdi mendidih. Lagi-lagi dia merasa kecolongan karena istrinya pergi dengan pria lainnya.


“Bunda!” seru Ferdi dengan nafas yang terengah-engah dan wajahnya yang menampakkan kemarahannya.


“Kenapa? Bukannya aku sudah mengatakan jika aku mencintainya? Ceraikan saja aku,” ucap Velicia dengan mata yang berkaca-kaca.


Mulut Velicia memang pedas saat ini. Dia kini memerankan sebagai wanita jahat yang menyakiti hati semua orang. Dalam hatinya, dia sedang menangis. Ini sama sekali bukan dirinya. Sayangnya dia tidak ingin lagi disepelehkan oleh orang lain. Dia ingin bahagia, karena itulah dia berperan menjadi wanita jahat untuk mencapai kebahagiaannya.


“Jangan mimpi. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu,” ucap Ferdi dengan mengeratkan gigi-giginya.


“Sudah tau rasanya jika pasanganmu memiliki orang lain? Itu yang aku rasakan selama ini,” ucap Velicia sambil tersenyum sinis.


“Ceraikan aku dan bersatulah dengan wanita itu,” ucap Velicia kembali.

__ADS_1


Tanpa menjawab dan berkata apa pun, Ferdi berjalan menuju pintu meninggalkan istrinya yang masih berdiri di sana.


Brak!!!


__ADS_2