
Suasana hati Raymond dan Velicia sangat baik. Mereka memiliki janji untuk bertemu dan kembali melakukan perjalanan akhir pekan.
Layaknya sepasang kekasih remaja yang sangat antusias bertemu, mereka berdua pun mengacuhkan segalanya pada hari itu demi bisa bersama.
“Sayang, ini kan hari libur, kenapa kamu sudah rapi? Kamu akan pergi ke mana?” tanya Tania sambil meletakkan cangkir kopinya setelah meminumnya.
“Aku ada acara camping bersama anak-anak,” jawab Raymond dengan senyumnya.
“Sepertinya suasana hatimu sedang senang. Apa jangan-jangan kamu tau jika aku mempunyai hadiah untukmu?” ucap Tania sambil tersenyum manis pada suaminya.
Raymond memandang istrinya sambil mengernyitkan dahinya. Kemudian dia berkata,
“Hadiah?”
Tania tersenyum lebar sambil mengeluarkan sesuatu yang disimpannya di atas kursi dekat dia duduk saat ini dan berkata,
“Ini. Lihatlah.”
Raymond menerima map yang disodorkan oleh istrinya padanya. Dia ragu untuk membukanya, tapi tangan istrinya membuka map tersebut yang sudah berada di tangannya.
“Aku telah mendaftarkan pernikahan kita kemarin. Dan pernikahan kita sudah resmi terdaftar sekarang. Jadi, jangan berharap untuk perpisahan kita. Karena itu tidak akan pernah terjadi. Mengerti?” tutur Tania sambil tersenyum manis pada suaminya.
Seketika senyum di wajah Raymond menghilang. Harapannya untuk segera pisah dengan istrinya menjadi lebih rumit sekarang.
Dia menyalahkan dirinya yang pernah mengajak istrinya untuk mengesahkan pernikahan mereka karena dia takut jatuh cinta pada Velicia.
Dan ternyata takdir berkata lain, Raymond dan Velicia selalu dipertemukan dalam situasi yang membuat mereka berdua saling membutuhkan.
...----------------...
“Bunda mau ke mana, pagi-pagi kok sudah rapi?” tanya Ferdi yang baru keluar dari kamar.
Velicia yang sedang duduk di kursi makan membuat sandwich, seketika menoleh ke arah suaminya yang sedang berjalan ke arahnya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
“Cuma mau berkunjung ke rumah teman saja. Anaknya sangat suka dengan sandwich buatanku.”
Ferdi mengernyitkan dahinya. Dia merasa heran pada alasan yang diberikan oleh istrinya. Pandangan Ferdi tak lepas dari wajah istrinya yang terlihat sangat bahagia, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
“Kenapa tidak beli saja sandwich di resto cepat saji atau café-café daerah sekitar sini, kan banyak yang jual?” tanya Ferdi sambil duduk di kursi makan depan Velicia.
Seketika Velicia menghentikan kegiatannya. Dia tersenyum kikuk sambil berkata,
“Iya benar. Mungkin saja anaknya lebih suka sandwich buatanku.”
“Tapi dia menyusahkan orang lain. Kamu kan tidak jualan atau pun menerima pesanan. Mungkin saja dia hanya meminta gratisan dengan alasan anaknya yang memintanya,” sahut Ferdi seraya tangannya mengambil satu buah sandwich dari piring saji yang sudah terdapat beberapa sandwich.
Seketika Velicia menghentikan kegiatannya. Kemudian dia memandang suaminya sambil berkata,
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu karena aku sangat suka dengan anak-anak. Maaf jika pikiran kita tidak sama.”
Ferdi salah tingkah mendengar ucapan dari istrinya. Dia lupa jika istrinya sangat menyukai anak-anak, sedangkan mereka belum memiliki seorang anak pun karena perbuatannya.
Dengan wajah kesalnya, Velicia menata beberapa sandwich ke dalam kotak bekal dan menyisakan hanya dua potong sandwich beserta potongan pinggiran roti untuk suaminya.
“Aku pergi dulu.”
“Aku antar,” ucap Ferdi ketika istrinya sedang memakai sepatu tanpa mencium tangannya terlebih dahulu.
“Tidak usah,” sahut Velicia dengan kesal tanpa menoleh ke arah suaminya.
Tuh kan marah… mulut kamu sih Fer gak bisa ngerem, Ferdi berkata dalam hatinya.
Sedangkan Velicia segera meninggalkan rumah ketika Ferdi sedang termangu karena jawaban dari istrinya.
......................
“Pak Guru, apa kita akan berangkat wisata sekarang?”
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan Raymond dari belakangnya.
Raymond menoleh ke arah belakang dan seketika senyumnya mengembang melihat kekasih hatinya sudah berdiri di belakangnya.
“Ve, kamu sudah datang?” tanya Raymond sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangannya pada Velicia.
Velicia tersenyum sambil menerima uluran tangan Raymond. Seperti biasanya, mereka menunggu bus datang di halte bus yang tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Bagi mereka bus lebih nyaman dibandingkan dengan taksi. Karena mereka bisa lebih santai dan bisa mengobrol layaknya pasangan kekasih dibandingkan dengan menaiki taksi yang mereka rasa tidak bebas berbicara karena akan terdengar oleh sopir.
Tiba-tiba saja hujan kembali turun. Mereka berdua saling menatap dan tersenyum.
“Sepertinya hujan selalu menghubungkan kita,” ucap Raymond sambil terkekeh.
Velicia pun tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan dari Raymond. Mereka masih menunggu bus yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka. Canda dan tawa mereka mengisi waktu yang mereka habiskan untuk menunggu bus tersebut.
Di rumah, Tania tiba-tiba mendengar suara hujan. Dia segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela.
“Ternyata benar-benar hujan. Raymond pasti tidak membawa payung. Lebih baik aku hubungi saja dia,” ucap Tania sambil melihat hujan melalui kaca jendela.
Kemudian dia berjalan menuju ruang tengah dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia menghubungi nomor ponsel suaminya, tapi hanya suara operator yang menyuruhnya untuk meninggalkan pesannya.
Setelah itu dia menghubungi nomor sekolahan tempat Raymond mengajar. Dan lagi-lagi telepon itu hanya menjadi panggilan tak terjawab. Berkali-kali dia menghubungi nomor Raymond dan nomor sekolahan, tapi hasilnya tetap sama, dia tidak bisa berbicara pada siapa pun.
“Lebih baik aku antarkan saja payung ke sekolahan. Siapa tau mereka masih berkumpul di depan kelas sambil menunggu hujan reda,” ucap Tania sambil melihat ke arah tempat penyimpanan payung yang ada di dekat pintu.
Tania mematikan televisinya dan mengambil kunci mobil yang ada di tempat penyimpanan kunci. Kemudian dia mengambil payung dan bergegas menuju mobilnya untuk mengantarkan payung tersebut ke sekolahan Raymond.
Bus yang ditunggu oleh Raymond dan Velicia sudah datang. Tampak dari luar bus tersebut hanya ada beberapa orang saja di dalamnya dan sepertinya mereka tidak ada yang kenal dengan Raymond dan Velicia.
Raymond mengulurkan tangannya pada Velicia sambil tersenyum manis padanya. Dan Velicia pun menerima uluran tangan Raymond serta membalas senyuman manis Raymond padanya.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam bus tersebut dan duduk di kursi yang kosong. Dengan tangan yang masih bergandengan, mereka duduk bersebelahan dan tersenyum bahagia.
Tidak jauh dari halte bus tersebut, ada pasang mata yang melihat mereka berdua ketika akan masuk ke dalam bus. Binar kebahagiaan mereka terpancar jelas pada wajah mereka berdua. Bahkan senyuman mereka menyakiti hati orang tersebut.
__ADS_1
Kedua matanya menatap tajam ke arah mereka berdua, rahangnya mengeras, dadanya bergerak naik turun, nafasnya memburu dan tangannya mengepal melihat Raymond dan Velicia yang terlihat sangat bahagia bahkan ketika mereka sudah duduk di dalam bus tersebut.
“Kurang ajar kalian berdua!”