Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 68 Marahnya Velicia


__ADS_3

Velicia tidak bergeming sama sekali. Dia tetap duduk di tempatnya sedari tadi. Dengan memejamkan matanya, dia berpura-pura untuk tidur dan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.


Ferdi tidak bisa berkata-kata lagi. Dia terpaksa mengemudikan mobilnya layaknya seorang sopir yang sedang mengantarkan nyonyanya.


Ketika mobilnya berhenti, dengan cepatnya Velicia turun dari mobil tersebut dan masuk ke dalam rumah.


Ferdi menghela nafasnya, dia tidak pernah membayangkan jika istrinya akan kembali salah paham pada Lani.


Melangkahlah dia masuk ke dalam rumahnya. Dengan langkah was-was dia melihat ke sekitar ruangan rumahnya untuk mencari keberadaan istrinya.


Pasti dia sudah masuk ke dalam kamar. Hufffttt… alamat tidur di luar lagi sepertinya ini nanti, Ferdi berkata dalam hatinya.


Dengan perlahan dia membuka pintu kamarnya dan matanya menelisik seluruh ruangan sebelum dia masuk ke dalam kamar.


Tampak Velicia sudah tertidur dengan posisi membelakangi tempat tidur Ferdi.


Baru kali ini dia merasakan getirnya ditolak oleh pasangan. Biasanya dia yang menolak istrinya ketika diajak berhubungan suami istri pada saat istrinya itu sedang dalam fase masa subur.


Velicia memang lelah, tapi hatinya lebih lelah dibandingkan dengan fisiknya. Baru saja dia berniat untuk memperbaiki kembali rumah tangga mereka karena ibu mertuanya telah mendukungnya. Sayangnya hanya dalam hitungan menit saja harapannya itu hanya bersisa tiga puluh persen saja.


Dia tidak bisa menangis saat ini. Rasanya seperti air matanya sudah habis jika untuk suaminya.


Ferdi merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya. Di hanya bisa memandang punggung istrinya saja. Dan akhirnya mereka berdua tidur dengan saling memunggungi.


Keesokan harinya, seperti biasanya, Velicia menyiapkan pakaian suaminya dan menyiapkan sarapan mereka. Serta hal yang wajib baginya menyiapkan kopi dalam tumbler untuk dibawa bekerja oleh Ferdi.


Mereka sarapan dalam keadaan diam. Bahkan Velicia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya berkomunikasi dengan suaminya melalui gerakan saja.


Dia enggan meminta tolong atau pun menyuruh suaminya. Semuanya dilakukannya sendiri tanpa ingin berkomunikasi dengan suaminya.


Velicia meletakkan tumbler kopi milik Ferdi di meja depannya ketika mereka sedang makan.


Ferdi menatap istrinya tanpa berkata-kata. Dia melihat kemarahan pada mata istrinya, sehingga dia merasa takut ketika akan berbicara.


"Bunda, tolong nanti jangan lupa meminumkan obatnya Cinta," ucap Ferdi dengan ragu sambil menatap istrinya diiringi senyuman manisnya.


Velicia menghentikan kegiatannya, dia beralih menatap Ferdi. Dengan senyuman sinisnya dia berbicara,

__ADS_1


"Bawa saja dia ke kantor. Bukannya di sana ada Bundanya Cinta?"


Ferdi menghela nafasnya berat, seolah dia menjadi korban yang dizalimi orang banyak.


"Bunda, sudahlah, aku mohon jangan marah lagi. Bunda salah paham. Aku dan Lani tidak ada hubungan apa pun," ucap Ferdi membela dirinya.


Velicia tertawa seperti orang bodoh. Dia benar-benar merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Tidak ada apa-apa? Lalu, apa yang aku lihat ini cuma mimpi?" tanya Velicia di sela tawanya.


"Memang benar begitu. Aku tidak bohong," ucap Ferdi membela dirinya.


Namun, sekelebat bayangan Lani ketika mencium bibirnya membuat Ferdi merasa terganggu. Senyum Lani yang ceria dan energik membuat Ferdi tanpa sadar tersenyum.


Ferdi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memukul-mukul kepalanya agar bayangan wajah Lani hilang dari mata dan kepalanya.


"Jika Mas Ferdi melihatku berjalan dengan laki-laki lain dan aku bilang hanya berteman saja, apa Mas Ferdi percaya?" tanya Velicia dengan melipatkan kedua tangannya di depan dadanya dan tersenyum meremehkan pada Verdi.


Deg!


Ferdi merasa tertohok dengan pertanyaan yang ditanyakan oleh istrinya padanya. Dia benar-benar memikirkan apa yang ditanyakan oleh istrinya itu. 


Velicia kembali tertawa. Dia merasa sangatlah lucu mendengar perkataan suaminya.


"Karena terlihat dengan jelas itulah aku menilai kalian pasangan yang serasi," ucap Velicia di sela tertawanya.


Kemudian dia mengambil tasnya yang diletakkannya di kursi makan sebelahnya tadi.


Dalam hatinya sangat berkecamuk seolah meluap-luap amarah di dalamnya. Tanpa mengatakan apa pun, Velicia meninggalkan Ferdi yang masih mematung dengan raut wajah kaget yang duduk di depannya.


Melihat reaksi suaminya seperti itu, Velicia segera meninggalkan suaminya untuk berangkat kerja terlebih dahulu.


Air matanya yang ditahannya sedari tadi kini menetes seiring langkah kaki Velicia. Dia tidak mengira akan sesakit itu mengatakan tentang perselingkuhan suaminya.


Ferdi memang tidak bisa menyalahkan pendapat istrinya karena dia sendiri tidak bisa membuktikan yang sebenarnya.


Bukti yang dipegang oleh Velicia bisa dikatakan menjadi bukti yang sangat kuat. Sedangkan Ferdi tidak mengelaknya lagi. Dia merasa apa yang akan dikatakannya lebih menyakiti hati velicia, istrinya.

__ADS_1


"Huffft…," Ferdi lemas, sambil menghela nafasnya dia meletakkan tumbler kopi tersebut dalam tasnya.


Kemudian dia bersiap-siap akan berangkat bekerja. Hari ini dia merasa lemas karena permasalahan rumah tangganya yang dihadapinya.


Sedangkan Velicia, dia menangis sepanjang jalannya menuju tempat kerjanya.


Air matanya itu keluar tidak ada habisnya. Padahal baru kemarin malam dia merasa air matanya sudah kering untuk suaminya, sayangnya hari ini air matanya sangat banyak sekali ditumpahkannya untuk suaminya.


Jangan bersedih Ve. Kamu harus kuat dan kamu harus bisa menghadapinya. Kamu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi yang akan membelamu, Velicia berkata dalam hatinya sambil mengusap kasar bulir air mata yang merusak pagi harinya.


"Ve, kamu kenapa?" tanya Raymond yang terlihat sangat khawatir pada Velicia yang sedang tergugu duduk di kursi yang berada di trotoar.


"Eh Ray. Aku hanya ingin duduk sebentar," ucap Velicia menahan emosinya yang sedang bergemuruh.


"Apa ada sesuatu Ve? Atau mungkin ada  yang bisa aku bantu?" tanya Raymond pada Velicia dengan sangat lembut.


"Huuufffttt…," Velicia menghela nafasnya dengan sangat berat. 


Sungguh dia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya di hadapan Raymond jika Raymond mengetahui apa yang terjadi pada rumah tangganya.


"Tidak ada apa-apa Ray," jawab Velicia dengan suara yang bergetar sambil memaksakan senyumnya pada Raymond.


"Ve, ceritalah padaku agar aku tidak cemas padamu," ucap Raymond dengan suara lembut serta tatapan memohon pada Velicia.


Velicia hendak memaksakan senyumnya dan menggelengkan kepalanya, tapi apalah dayanya, air matanya malah keluar ketika dia memaksakan senyumnya.


Melihat air mata Velicia kembali keluar, Raymond tidak bisa tinggal diam lagi. Dengan cepatnya tangan Velicia ditariknya hingga Velicia tidak bisa lepas dari gengamannya.


Kebetulan sekali taksi sedang lewat di hadapan mereka, sehingga Raymond tanpa berpikir panjang menghentikannya.


Raymond dan Velicia duduk di kursi belakang. Setelah itu Raymond membisikkan tujuannya pada sopir taksi tersebut.


Tangan Raymond tidak melepaskan sedikit pun genggaman tangannya dari Velicia. Bahkan di sepanjang perjalanan, tangan Raymond menggenggam erat tangan Velicia seolah tidak mau kehilangannya.


"Ray, kita akan ke mana?" tanya Velicia dengan tatapan penuh tanda tanya pada Raymond.


Sedangkan Raymond hanya tersenyum manis pada Velicia sambil berkata,

__ADS_1


"Nanti kamu akan tau sendiri."


__ADS_2