
Ceklek!
Pintu kamar terbuka membuat Ferdi dan Bu Anisa menoleh ke arah pintu tersebut.
Tampak Velicia yang sangat lemah dengan wajah pucat berdiri di tengah pintu.
"Ada apa ini?" tanya Velicia dengan wajah pucatnya yang lesu dan badannya yang terlihat lemah.
"Kamu sakit Ve?" tanya Bu Anisa dari tempat duduknya sambil melihat ke arah Velicia.
"Iya Bu. Tadi tidak masuk kerja," jawab Velicia sambil berjalan lirih dan berpegangan pada tembok menuju dispenser.
Ferdi dan Bu Anisa hanya memandang tiap pergerakan Velicia. Mereka tidak berkomentar, hanya melihatnya saja hingga Velicia akan kembali ke kamarnya.
"Ve, kamu mau pergi ke mana?" tanya Bu Anisa ketika melihat Velicia hendak masuk kembali ke kamarnya setelah mengambil air minum.
Velicia menghentikan langkahnya dan menoleh pada ibu mertuanya. Kemudian dia menjawab,
"Mau istirahat lagi Bu. Supaya cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi besok," jawab Velicia dengan suara lemah.
"Kamu sudah makan? Sudah minum obat?" tanya Bu Anisa kembali.
"Sudah Bu, tadi siang saya sudah periksa ke dokter," jawab Velicia sambil menyandarkan punggungnya pada tembok agar menahan tubuhnya yang masih sangat lemah.
Sungguh tubuhnya masih sangat lemah dan kepalanya terasa berputar-putar. Niatnya tadi bangun hanya mengambil minum karena air minum yang dibawanya ke dalam kamar sudah habis. Dan dia bangun karena merasa tenggorokannya sangat kering.
"Ya sudah kamu istirahatlah," ucap Ferdi berusaha untuk memperlihatkan perhatiannya pada Velicia.
Velicia mengangguk lemah dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Betah banget sih kalian bau kotoran kucing. Mana pasirnya berserakan lagi. Makanannya juga berantakan. Bisa-bisa ada banyak semut di mana-mana kalau begini terus-terusan," ucap Bu Anisa dengan nada seperti menyindir seseorang.
Velicia yang masih tertatih-tatih berjalan menuju ranjang, kini menghentikan langkahnya. Dia mengerti jika ibu mertuanya sedang menyindirnya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga dia berjalan kembali keluar kamarnya.
"Ini mau aku bersihkan Bu. Ibu mau ngapain ke sini malam-malam, tumben?" ucap Ferdi sambil meletakkan Lili di tempat tidurnya.
"Gak boleh Ibu ke rumah anaknya sendiri?" tanya Bu Anisa dengan nada kesal pada Ferdi.
"Bukan begitu Bu, hanya saja biasanya Ibu ke sini kan pagi," jawab Ferdi sambil mengambil bak pasir milik Lili.
Grep!
Tiba-tiba saja ada tangan yang merampas bak pasir dari tangan Ferdi.
"Sini Mas, biar aku saja yang membersihkannya," ucap Velicia lemah dan menampakkan wajah pucatnya dengan datar.
"Gak usah Bunda, biar Ayah saja yang membersihkannya. Lebih baik Bunda beristirahat saja," ucap Ferdi berniat merampas kembali bak pasir tersebut.
Namun, Velicia seolah menolak dengan tatapan tajamnya. Ferdi mengerti jika saat ini istrinya itu sedang kesal. Dia tidak bisa membelanya di depan ibunya karena sudah bisa dipastikan ibunya akan sangat marah nantinya jika dibantah oleh Ferdi.
Ferdi membiarkan saja Velicia membersihkan bak pasir milik Lili dan wadah makan milik Lili.
Lemah, lelah, kepala yang masih berputar-putar, serta perutnya yang masih sakit membuatnya kesal dan sakit hati karena diperlakukan layaknya seorang pembantu oleh suami dan ibu mertuanya.
Hanya karena aku belum hamil saja mereka bersikap seperti ini padaku. Bagaimana jika nantinya aku belum hamil juga? Velicia mengeluh dalam hatinya.
Dengan sekuat tenaga dia menyelesaikan tugasnya dan menahan rasa sakit hatinya hingga air matanya tertahan di pelupuk matanya.
Tahan… tahan Ve. Sabar… Kamu hanya bisa menerima tanpa bisa melawan. Mungkin ini sudah kodratmu, Velicia berkata dalam hatinya untuk menguatkan dirinya.
Ferdi menatap iba pada istrinya, dia ingin sekali membantunya, tapi dia ragu. Ferdi takut jika nantinya ibunya malah akan berkata sesuatu yang akan menyakiti hati Velicia. Sedangkan Ferdi tidak tega melihat istrinya dalam keadaan sakit melakukan seluruh pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh dirinya tadi sebelum dia berangkat bekerja.
Ketika semua sudah selesai, Velicia berjalan dengan sisa tenaganya untuk sampai ke dalam kamarnya. Dia sangat lelah dan tidak kuat lagi jika harus beraktifitas seperti biasanya.
"Ve, ini bantal dan selimut kenapa ada di luar? Berantakan lagi," ucap Bu Anisa ketika Velicia berjalan melewatinya.
__ADS_1
Velicia menghentikan langkahnya. Dia menghela nafasnya sangat berat, kemudian dia menatap tajam ke arah suaminya.
Dia kecewa dengan suaminya yang hanya diam saja tanpa membelanya karena itu memang perbuatan suaminya, bukan perbuatan Velicia.
Dengan rasa kesalnya Velicia mengambil bantal dan selimut tersebut untuk dibawa masuk ke dalam kamarnya.
Bu Anisa menatap heran dengan perlakuan Velicia. Tapi seperti biasanya, Bu Anisa masa bodoh dengan apa yang terjadi.
Ferdi menatap nanar punggung Velicia yang berjalan tertatih dengan meremas perutnya dan menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit pada perutnya yang semakin menjadi.
Sedangkan Bu Anisa beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Kemudian dia membuka lemari es dan berkata,
"Ada bahan apa saja di sini yang bisa dimasak?"
Ferdi beralih melihat ke arah ibunya yang berada di dapur. Kemudian dia berjalan menghampirinya.
"Masak yang ada saja Bu. Atau kita delivery makanan saja agar Ibu tidak capek memasak," jawab Ferdi yang sudah berada di sebelah ibunya.
"Kebiasaan kamu ini. Sudah berapa kali Ibu bilang jika makanan yang beli di luar itu tidak sehat. Bagaimana bisa kalian punya anak jika yang kalian makan makanan yang instan dan tidak sehat?" tutur Bu Anisa sambil mengeluarkan semua bahan makanan yang berada di dalam lemari es.
Ferdi kembali menghela nafasnya. Dia benar-benar serba salah saat ini. Dia yakin jika beginilah yang dirasakan oleh Velicia jika menemani ibunya pada saat berkunjung di rumahnya.
Di dalam kamarnya, Velicia meletakkan bantal dan selimut milik Ferdi di sofa yang berada dalam kamar mereka. Kemudian dia merebahkan badannya di atas ranjangnya.
Air mata Velicia sudah tidak bisa tertahankan lagi. Air matanya keluar dengan derasnya. Dia menangis mengeluarkan sakit hatinya.
Dulu dia merasa bersyukur mempunyai Ferdi dan Bu Anisa sebagai keluarganya. Tapi nyatanya kini mereka sudah berubah.
Hanya karena Velicia belum hamil hingga usia pernikahannya yang sudah menginjak lima tahun ini, Bu Anisa selalu memojokkannya dan memaksanya untuk melakukan apa saja agar dia bisa hamil.
Sepertinya Bu Anisa lupa jika semua atas kehendak Tuhan. Hanya kuasa Tuhan yang bisa membuat apapun yang tidak mungkin bisa terjadi kapanpun.
Tangisan Velicia semakin menyesakkan dadanya. Semua yang dirasakannya kini ditumpahkannya melalui air matanya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Apa aku harus tetap bersabar? Ataukah aku harus menyerah dengan semuanya?" Ucap Velicia lirih di sela tangisannya.