Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 114 Malam sebelum aku terjatuh


__ADS_3

Di sebuah café yang berada di tengah kota, kini Raymond berhadapan dengan Tania. Rupanya setelah Raymond bertemu dengan Ferdi, kini dia menemui Tania.


Tania menatap tajam Raymond yang masih berstatuskan sebagai suaminya. Sedangkan Raymond menundukkan kepalanya untuk mempersiapkan kata-kata yang tidak menyinggung hati Tania.


“Apa kakimu baik-baik saja?” tanya Raymond untuk mengawali percakapan mereka.


“Apa dia yang mengirim kamu untuk menemuiku?” tanya Tania dengan ketus dan menatap tajam pada Raymond.


“Apa dia yang menyuruhmu untuk melihat bagaimana keadaanku sekarang?” tanya Tania kembali dengan wajah dinginnya.


“Tania-“


“Sayangnya aku sembuh terlalu cepat bukan?” sahut Tania tanpa memberi Raymond kesempatan untuk menjawabnya.


“Sayangnya lagi, aku bisa mengejarmu jika kamu akan melarikan diri lagi,” ucap Tania dengan senyum sinisnya.


Raymond menghela nafasnya. Kemudian dia memandang ke arah Tania yang ada di hadapannya dan berkata,


“Aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tidak tau harus berkata apa padamu.”


“Lalu, kenapa kamu ingin bertemu denganku? Apa kamu ingin bercerai denganku?” tanya Tania dengan wajah dinginnya.


“Aku mohon padamu. Aku ingin menyelesaikannya dengan cepat. Aku benar-benar minta maaf padamu,” ucap Raymond sambil menundukkan kepalanya.


Tania memejamkan matanya dengan dada yang bergemuruh dan menahan semua emosinya. Kemudian dia berkata,


“Baiklah. Tapi aku butuh waktu untuk memprosesnya.”


Raymond menganggukkan kepalanya tanpa memandang ke arah Tania. Dia merasa sangat bersalah pada istrinya.


Setelah itu Raymond keluar dari cafe tersebut meninggalkan Tania yang masih duduk sendiri di dalam café tersebut.


Tania dengan wajah datar dan terkesan dingin itu masih melihat ke arah Raymond yang berjalan menuju mobilnya. Setelah itu dia mengambil ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar.


“Buntuti dia,” ucap Tania pada seseorang melalui telepon.


Malam itu Velicia memasak untuk menyambut kedatangan pria yang dicintainya. Dia sibuk mempersiapkan berbagai macam masakan dengan bahan yang tersedia di lemari es.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, dia dikagetkan dengan suara notifikasi pesan yang berasal dari ponselnya. Segera diambilnya ponsel yang ada di saku celananya, berharap bahwa orang yang sedang ditunggunya mengirim pesan padanya.


Bibirnya melengkung ke atas ketika membaca pesan tersebut. Baru kali ini dia benar-benar merasa senang karena mendapatkan pesan dari seseorang.


Tunggulah sebentar lagi. Aku akan segera tiba.


Setelah membaca pesan tersebut, Velicia segera mematikan kompornya dan berlari kecil menuju halaman rumahnya.


Dia segera keluar rumah seolah tahu suara langkah kaki dari pria yang sudah merajai hatinya. Dan benarlah, beberapa detik kemudian Raymond terlihat berjalan memasuki halaman rumah tersebut.


Raymond menghentikan langkahnya ketika melihat wanita pujaan hatinya sedang menunggunya di depan rumahnya. Kemudian dia tersenyum sambil berkata,


“Kenapa kamu keluar? Kamu tidak perlu keluar untuk menjemputku.”


Velicia yang tidak bisa menahan kerinduan dan kebahagiaannya karena melihat kekasih hatinya, dia berlari kecil dan memeluk tubuh Raymond untuk menyalurkan apa yang dirasanya saat ini.


Raymond pun membalas dengan hangat pelukan dari wanita yang dicintainya, sehangat perasaannya ketika bersama dengan Velicia.


Di pertengahan malam ada dua mobil yang masuk ke dalam wilayah pedesaan, tepatnya di daerah pegunungan. Dengan cepatnya pengemudi mobil tersebut melewati jalan menuju tempat di mana Raymond dan Velicia sedang bersembunyi.


Dengan gerakan cepatnya Tania masuk ke dalam rumah tersebut dan menyalakan lampu setiap ruangan yang tadinya sudah dipadamkan oleh si pemilik rumah.


Ferdi mengikuti Tania di belakangnya dan dia ragu untuk menaiki tangga yang terlihat sebuah kamar di lantai atas tersebut.


Brak!


Pintu kamar di buka oleh Tania sehingga membuat Raymond dan Velicia yang sedang tidur dengan saling berpelukan terbangun oleh suara tersebut.


“Tania,” celetuk Raymond ketika melihat Tania menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.


Terlihat gurat kemarahan dari wajah Tania ketika melihat wajah Velicia yang kaget ketika melihatnya. Kemudian dia melihat Raymond sambil berkata,


“Bukankah aku sudah memberitahumu untuk tidak menemuinya lagi?”


“Apa kalian tau apa yang kalian lakukan sekarang?” tanya Tania sambil menatap penuh kemarahan pada Velicia dan mengeratkan giginya ketika berbicara.


“Kamu menghancurkan hidupku dan kehidupan anak kita!” ucap Tania menggebu-gebu sambil melihat ke arah Raymond.

__ADS_1


Raymond dan Velicia hanya diam saja. Mereka tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Tania.


“Apa kamu masih tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan? Ray, aku hamil. Sekarang ini aku sedang mengandung anakmu,” ucap Tania yang berusaha untuk meyakinkan Raymond.


Deg!


Dada Velicia terasa berat. Hatinya terasa sakit mendengar apa yang dikatakan oleh Tania. Dia merasa semuanya akan sia-sia jika Tania memang benar-benar hamil anak Raymond.


Raymond tidak bisa berkata apa-apa. Dia sangat syok sekarang ini mendengar kabar kehamilan dari Tania.


Seandainya itu Velicia, pasti aku akan senang mendengarnya. Tapi ini… kenapa Tania bisa hamil anakku? Raymond berkata dalam hatinya.


Tiba-tiba saja Ferdi masuk ke dalam kamar tersebut dan dia terlihat sangat marah melihat Velicia menggunakan piyama sedang berada di ranjang yang sepertinya telah digunakan oleh dua orang. Tangan Ferdi mengepal dengan kuat dan nafasnya naik turun mengiringi kemarahannya.


Sedangkan Velicia melihat Raymond dengan tatapan tidak percaya dan terlihat jelas kesedihan yang mendalam di matanya.


Sepertinya ini akhir dari semuanya. Sisi tepi tebing yang berarti tujuan akhir kita, Velicia berkata dalam hatinya.


Melihat istrinya yang mengacuhkan kehadirannya, Ferdi segera menarik tangan Velicia dan membawanya keluar dari kamar tersebut.


“Ve!” seru Raymond ingin mengikuti Velicia, sayangnya dia dihalangi oleh Tania sehingga tidak bisa mengikuti Velicia yang dibawa pergi oleh suaminya.


“Tania, minggir,” ucap Raymond dengan nafas yang naik turun karena menahan emosinya.


Akhirnmya dia bisa menyingkirkan Tania dari hadapannya. Kemudian dia menuruni tangga dan keluar rumahnya untuk menyusul Velicia yang dibawa pergi dengan paksa oleh suaminya.


“Ve, tunggu! Aku akan menjelaskan semuanya,” ucap Raymond dengan tangan yang ditarik oleh Tania sehingga langkahnya terhenti.


Velicia pun menghentikan langkahnya sehingga langkah kaki Ferdi pun ikut terhenti. Raymond meneteskan air matanya melihat wanita yang dicintainya dibawa pergi darinya. Dia tidak ingin dipisahkan dengan orang yang dicintainya. Sama dengan Velicia yang tidak mau kehilangan dan ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya.


Velicia menoleh ke belakang, di mana Raymond sedang berusaha membebaskan lengannya dari tangan Tania. Dia menatap pria yang dicintainya dengan tatapan penuh kesedihan sambil berkata dalam hatinya,


Walaupun jika aku mencintai dengan sepenuh hati. Dan bahkan jika aku memberikan hidupku. Satu orang yang tidak bisa ku miliki adalah… kamu.


Jangan menahanku, jika kamu tidak menahanku, mungkin aku akan melompat ke jurang bersamamu.


Mereka saling menatap sedih dengan lelehan air mata yang menetes pada pipi mereka ketika Ferdi menarik paksa tangan Velicia masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Tania menarik tangan Raymond untuk menahannya agar tidak bisa berlari mengejar wanita yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2