Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 96 Penyesalan


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Tania segera diberi pertolongan oleh dokter di ruang IGD.


"Tiga puluh jahitan Pak. Jika lebih dalam lagi, ligamennya akan sobek," tutur dokter yang menangani Tania.


"Terima kasih dok," ucap Raymond.


"Kami permisi dulu," tukas dokter tersebut sebelum meninggalkan Raymond.


Raymond menatap nanar tubuh istrinya yang terbaring belum sadar karena pengaruh obat di bed pasien dengan telapak kaki yang dibalut dengan perban.


Dia menghela nafasnya berat. Dia tidak menyangka jika istrinya akan bertindak sejauh itu.


Kini dia merasa bersalah. Tapi dia tidak mau lagi mengalah. Dia tidak mau mengorbankan dirinya lagi untuk Tania dan orang tuanya.


Beberapa saat kemudian datanglah kedua orang tua Tania. Mereka berlari tergesa-gesa menuju ruang IGD.


"Ray, ada apa sebenarnya?" tanya mama Tania ketika sudah ada di dekat Raymond dan Tania yang masih belum sadarkan diri.


"Bagaimana keadaan Tania?" tanya papa Tania menyahuti pertanyaan istrinya.


Raymond menatap ke arah istrinya yang masih belum juga sadarkan diri. Kemudian dia berkata,


"Kakinya menginjak pecahan kaca. Ada tiga puluh jahitan kata dokter tadi."


"Kok bisa dia sampai menginjak pecahan kaca?" tanya papa Tania kembali.


Raymond kembali memandang istrinya. Dia berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan dari mertuanya.


"Sebaiknya nanti Bapak tanyakan saja pada Tania jika dia sudah sadar," jawab Raymond sambil tersenyum tipis.


Selang beberapa saat kemudian, Tania sudah sadar dan dokter pun memperbolehkannya untuk pulang.


Raymond mendorong kursi roda yang sudah ada Tania duduk pada kursi roda tersebut. Mereka berhenti di depan rumah sakit  menunggu mobil orang tua Tania.

__ADS_1


"Aku akan tinggal di rumah orang tuaku. Dan aku akan memberimu waktu satu minggu untuk membereskan  semuanya," tutur Tania pada suaminya dengan wajah datarnya, tanpa ekspresi dan beraura dingin.


Raymond menoleh ke arah istrinya yang ada di sampingnya. Dia memandang istrinya penuh tanya.


"Selama satu minggu itu, kamu harus bisa memutuskan hubunganmu bersama dengan Velicia. Setelah itu datanglah ke rumah orang tuaku untuk menjemputku. Dan kita akan kembali ke negara di mana kita dulu dipertemukan. Aku muak berada di kota ini," ucap Tania sambil mengeratkan semua giginya menandakan kekesalannya yang mendalam.


"Jika kamu masih menemuinya sekali lagi, lihat saja apa yang akan aku lakukan," ucap Tania kembali dengan menampakkan kekesalannya.


Raymond menghela nafasnya berat, kemudian dia mendekati istrinya dan berkata,


"Tania, aku harap-"


"Akan aku hancurkan keluarganya dan selama hidupnya dia akan dicap sebagai perusak rumah tangga orang dan perebut suami orang," sahut Tania dengan ekspresi bengisnya.


Raymond kembali menghela nafasnya dengan berat. Kemudian dia berkata,


"Apakah perlu sampai sejauh itu?" 


"Kenapa? Apa itu masih belum cukup?" tanya Tania dengan senyum sinisnya.


Beberapa detik kemudian mobil orang tua Tania datang. Raymond membantu menaikkan Tania ke dalam mobil orang tuanya.


"Raymond, datanglah akhir pekan, kita adakan makan bersama. Mumpung kita ada di kota yang sama," ucap mama Tania dari dalam mobilnya.


Raymond hanya tersenyum paksa sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda menghormati mereka. 


Sedangkan Tania duduk di kursi belakang mobil papanya. Dam hanya diam saja tanpa ekspresi melihat lurus ke depan ketika orang tuanya berbicara pada Raymond.


Raymond pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Mobil Tania dibawa oleh sopir papanya ke rumah orang tua Tania yang berada di kota ini.


Di sepanjang jalan dalam perjalanan pulang, Raymond berpikir tentang apa yang akan dilakukannya setelah ini. 


Berpisah dengan Velicia? Sungguh dia tidak mampu. Dan dia pun yakin jika Velicia juga tidak akan mampu berpisah dengannya.

__ADS_1


"Apa yang akan aku lakukan Tuhan…," ucap Raymond lirih sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Di rumah Velicia, tangisannya masih menyayat hati. Kekecewaannya pada dirinya sendiri membuatnya menjadi wanita lemah yang menangisi perbuatannya.


Memang ada harga yang harus dibayar oleh perbuatan kita. Dan Velicia mengakui itu. Dia memang sudah siap akan konsekuensinya, tapi tidak dibayangkannya selama ini akan seperti ini lah rasanya.


Selama ini dia yang selalu memergoki hubungan suaminya dengan wanita lain, tapi tidak seperti sekarang ini rasanya. Ferdi selalu mengelak sehingga tidak ada fakta yang terkuak dan menyakitkan seperti sekarang ini.


Malam ini, keempat orang itu sama-sama bersedih. Mereka masing-masing memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka.


Raymond memikirkan tentang hubungannya bersama dengan Velicia. Dia tahu jika Tania tidak akan main-main dengan ancamannya. Sehingga Raymond dibuat bingung dengan itu semua.


Di sisi lain, Raymond ingin tetap bersama dengan Velicia. Dia tidak ingin terpisahkan dengan wanita yang sangat dicintainya. Dan di sisi lain, Raymond takut jika Tania benar-benar melakukan ancamannya. Dia takut jika Velicia akan dicap sebagai perusak rumah tangga dan dicap sebagai perebut suami orang.


Velicia, dia memikirkan tentang betapa jahatnya dirinya yang melukai perasaan suaminya dan Tania. Dia juga merasa menjadi penyebab rusaknya rumah tangganya sendiri, meskipun dia tahu jika penyebab utama retaknya hubungannya dengan suaminya karena perbuatan suaminya.


Tania, dia benar-benar merasa dikhianati oleh suami dan temannya. Sikapnya yang selalu mementingkan keegoisan dan emosinya membuatnya berkutat dengan rencana balas dendamnya pada mereka berdua.


Sedangkan Ferdi, dia masih meratapi nasibnya. Dia menyalahkan dirinya sendiri untuk apa yang terjadi sekarang ini. Sepanjang jalan yang ditempuhnya, dia memikirkan apa yang akan dilakukannya. Dia tidak ingin kehilangan istri yang dicintainya.


Kaki Ferdi membawanya pulang ke rumah pada malam yang sangat larut. Tanpa sadar dia membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci. 


Dilihatnya tubuh istrinya yang tertidur di sofa depan televisi bersama dengan Cinta. Hatinya sangat sedih membayangkan akan kehilangan sosok istri penurut, baik dan dicintainya.


Diambilnya selimut dari dalam kamarnya dan diselimutkannya pada tubuh istrinya. 


Lalu, dia memandangi wajah istrinya dan meneteslah air matanya. Sungguh dia tidak bisa kehilangan istri yang paling idaman menurutnya.


Masuklah dia ke dalam kamar, meninggalkan istrinya yang tertidur di sofa dengan jejak air mata yang masih melekat dan terlihat jelas di mata Ferdi.


Ferdi tahu jika istrinya itu terluka, sama seperti dirinya. Karena itu lah dia mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan rumah tangga mereka.


Penyesalan selalu datang terlambat. Kini Ferdi menyesali semua perbuatannya yang mengakibatkan kemungkinan dia akan kehilangan istrinya.

__ADS_1


Begitu pula dengan Tania, dia menyesal karena tidak secepatnya mendaftarkan pernikahannya, seperti kemauan suaminya waktu itu. Kini di saat dia sudah mendaftarkan pernikahannya secara resmi, dia malah disuguhkan fakta yang mengharuskannya melepas suaminya.


Namun, bukan Tania namanya jika dia tidak bisa mengambil kembali miliknya yang direbut orang lain. Dan jika dia tidak bisa merebut kembali barang miliknya, tentu saja dia akan merusaknya agar orang lain tidak bisa bahagia memiliki barang yang direbut darinya.


__ADS_2