Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 111 Sebelum badai


__ADS_3

“Ada apa kamu datang kemari?” tanya Bu Anisa dengan kesal.


“Oh itu… Begini Bu, Pak Ferdi tidak masuk bekerja, jadi saya khawatir,” ucap seorang perempuan sambil tersenyum pada Bu Anisa.


“Kenapa kamu harus khawatir pada putraku? Kamu bukan siapa-siapanya, jadi kamu tidak perlu khawatir padanya,” sahut Bu Anisa dengan ketus.


“Siapa sih Bu? Kenapa Ibu jadi marah-marah seperti itu?”


Tiba-tiba Ferdi keluar dari dalam rumah sambil bertanya pada ibunya dengan wajah kusut dan penampilannya yang seperti orang tidak terurus.


“Lani?!” celetuk Ferdi yang kaget melihat Lani berada di depannya.


Lani tersenyum manis pada Ferdi yang sedang menatapnya. Tapi, sedetik kemudian Lani menatap dengan mulut yang terbuka pada Ferdi. Penampilan Ferdi saat ini membuat Lani merasa prihatin dan ingin berada di sisi Ferdi.


“Pak Ferdi sakit apa?” tanya Lani dengan tatapan iba pada Ferdi.


Ferdi salah tingkah mendengar apa yang ditanyakan oleh Lani. Dia tidak bisa menjawab jujur apa yang ditanyakan olehnya. Dan dia belum menyiapkan jawaban jika ditanya orang lain tentang cuti sakitnya.


“Ada perlu apa kamu sampai datang kemari?” tanya Ferdi dengan gugup.


“Aku membawakan makanan untuk Bapak. Saya khawatir Bapak tidak makan karena tidak ada yang merawat,” jawab Lani sambil tersenyum manis pada Ferdi.


“Masuklah,” ucap Ferdi sambil membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Lani tersenyum senang mendengar Ferdi menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Bu Anisa menghela nafasnya melihat senyum kegirangan Lani yang seolah berhasil mencapai tujuannya.


“Jangan lama-lama, kamu hanya akan menambah masalah saja jika berada di rumah ini,” ucap Bu Anisa memperingatkan Lani ketika akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Lani menelan ludahnya mendengar peringatan dari Bu Anisa yang menatapnya dengan tatapan tidak suka dan sangat ketus padanya.


Lani meletakkan makanan tersebut di meja ruang tamu yang sudah ada Ferdi sedang duduk di kursi ruangan tersebut. Dengan percaya dirinya Lani berjalan ke arah kursi yang dekat dengan tempat duduk Ferdi.

__ADS_1


Namun, ketika dia akan duduk, ada suara yang mengagetkannya sekaligus menghentikannya.


“Sudah, lebih baik kamu pulang saja sekarang. Biarkan Ferdi istirahat agar cepat sembuh,” ucap Bu Anisa dengan ketus dan menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


Glek!


Lani meneguk ludahnya melihat tatapan Bu Anisa padanya. Dia merasa tidak akan bisa tenang mengobrol dengan Ferdi apabila ada Bu Anisa di antara mereka.


Baiklah, lebih baik sekarang aku pulang saja. Besok aku bisa datang kemari lagi. Ok Lani, kamu harus tetap semangat meraih keinginanmu. Seperti yang dikatakan Pak Ferdi padamu, jangan menyerah untuk mendapatkan keinginanmu, Lani berkata dalam hatinya.


Ferdi hanya diam saja. Dia tidak mau ambil pusing dengan ibunya dan Lani. Dia sangat mengerti ibunya yang tidak bisa mengalah jika berdebat dengan orang lain.


“Baiklah Pak, saya permisi dulu. Jangan lupa dimakan ya Pak,” ucap Lani berpamitan pada Ferdi.


Ferdi menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa pun pada Lani. Sedangkan Lani tersenyum kecut melihat Ferdi tidak mengatakan apa pun padanya. Bahkan dia belum sempat duduk di kursi tersebut, tapi Ferdi seolah tidak peduli padanya.


“Permisi Bu,” ucap Lani berpamitan pada Bu Anisa sambil berjalan melewatinya.


Seketika senyum Lani mengembang. Kekecewaan yang tadinya dirasakannya karena Ferdi tidak mempedulikan kedatangannya, kini berganti dengan kesenangan karena perhatian Ferdi walaupun hanya melalui kata-kata.


Selang beberapa jam kemudian Bu Anisa dengan berat hati pulang dari rumah Ferdi. Dia diusir oleh Ferdi karena Bu Anisa yang tak henti-hentinya mengomel padanya.


Beberapa jam kemudian datanglah Tania ke rumah Ferdi. Dia hanya memberitahukan pada Ferdi rencana yang dimilikinya untuk suaminya.


“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Tania pada Ferdi yang terlihat acak-acakan.


Ferdi hanya diam saja karena dia belum memiliki rencana apa pun untuk istrinya sehingga dia tidak bisa mengatakan apa pun pada Tania.


Tania menghela nafasnya melihat Ferdi yang sepertinya hanya terpuruk tanpa memiliki rencana apa pun. Kemudian dia kembali berkata,


“Apa kamu akan menceraikan Velicia jika dia kembali nanti? Aku tidak akan menceraikan Raymond apa pun yang terjadi. Setelah dia kembali nanti, aku akan membawanya pergi ke luar negeri untuk menjauh dari istrimu. Jadi, kuatkan dirimu untuk menghadapi istrimu dan menjalankan rencana kita.”

__ADS_1


Setelah itu dia berdiri dari duduknya dan meninggalkan Ferdi tanpa mengatakan apa pun padanya ketika dia keluar dari rumah Ferdi.


......................


Di lain tempat, Velicia dan Raymond benar-benar menikmati kebersamaan mereka. Di tempat itu, di daerah pegunungan dengan pemandangan yang sangat indah dan udara yang sangat segar, mereka berkeliling daerah di sekitar dengan menggunakan sepeda.


Velicia sangat bahagia dibonceng pria yang dicintainya meskipun hanya menggunakan sepeda. Kedua tangannya melingkar di pinggang Raymond dan mereka tertawa dengan candaan yang mereka berikan.


Dia menikmati sinar matahari yang menerpa kulitnya. Dia meletakkan kepalanya pada punggung Raymond dan tersenyum sambil berkata dalam hatinya,


Biasanya sinar matahari ini tidak berarti apa-apa untukku. Tapi kali ini, aku merasa sinar matahari saat ini sangat berarti bagiku. Rasanya sangat menggembirakan karena bersama dengannya. Aku ingin tau apa yang membuat kita benar-benar sangat bahagia. Hanya dengan hal kecil saja, jantungku bisa berdegup kencang jika melakukannya dengan pria ini.


Di sinilah sekarang mereka berada. Di dekat sawah mereka memakan makanan yang mereka bawa. Baru kali ini Velicia sangat menikmati makanannya. Tidak ada hal yang sangat membahagiakan baginya saat ini kecuali makan bersama dengan kekasih hatinya di tempat yang indah dengan masakan yang dibuatkan oleh pria yang sangat mencintainya.


Tangan Raymond menyentuh tepi bibir Velicia untuk membersihkan sisa makanan yang menempel di sana. entah mengapa, mata Velicia tertutup ketika tangan Raymond menyentuh bibirnya.


Cuuup!


Bibir Raymond menempel dengan lembut pada bibir Velicia. hanya sekilas saja bibir mereka menempel, tapi bisa membuat jantung mereka berdua berdegup dengan kencang.


Mata mereka beradu ketika bibir Raymond sudah terlepas dari bibir Velicia. Sedetik kemudian bibir mereka melengkung ke atas dan tangan mereka saling menggapai untuk memeluk tubuh orang yang dicintainya.


“Aku sangat mencintaimu Ve,” bisik Raymond di telinga Velicia.


Hati Velicia serasa dipenuhi dengan bunga-bunga, perutnya terasa seperti digelitik dan jantungnya berdegup dengan kencangnya sehingga bisa dirasakan oleh Raymond.


“Aku juga sangat mencintaimu Ray,” bisik Velicia di telinga Raymond dengan wajahnya yang merona malu.


Malam menjelang, mereka pun tidur setelah melakukan beberapa kegiatan romantis mereka seharian tadi layaknya remaja yang sedang berpacaran.


“Emmm… mmm… Tidak…! Jangan…!”

__ADS_1


__ADS_2