Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 81 Pagi yang menegangkan


__ADS_3

Malam ini hati Ferdi terasa sangat was-was. Entah mengapa dia seperti ketakutan akan sesuatu. Dia juga tidak mengerti apa yang membuatnya seperti itu. Hingga matanya terpejam dengan sendirinya.


Beberapa saat kemudian, setelah dia tertidur dengan nyenyaknya, tiba-tiba keluar keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Masih dalam posisi memejamkan matanya, Ferdi berwajah ketakutan dan mengerutkan dahinya sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan selama beberapa kali. Dalam tidurnya itu dia merasa terancam hingga dia mengigau dalam tidurnya.


“Tidak… tidak… Bukan aku. Jangan…!” seru Ferdi dalam tidurnya.


Sebenarnya, sedari tadi Velicia masih belum bisa tidur, dia hanya berpura-pura memejamkan matanya saja. Kini dia benar-benar membuka matanya ketika mendengar suaminya berseru ketakutan.


“Mas… Mas… Ada apa? Bangun Mas!” seru Velicia sambil menggerak-gerakkan badan suaminya agar terbangun.


Seketika mata Ferdi terbuka. Dengan nafas yang terengah-engah dia memandang wajah istrinya. Setelah beberapa detik kemudian, dia berkata,


“Aku bermimpi. Sepertinya aku kembali terpuruk seperti saat Ayahku pergi meninggalkan Ibu dan aku. Aku disalahkan oleh banyak orang. Dan sekarang aku kembali dipersalahkan.”


Velicia menghela nafasnya karena merasa kasihan pada suaminya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Hatinya sudah beku untuk suaminya. Dan dia merasa sudah menjadi orang jahat untuk sekarang ini. Menjadi wanita jahat untuk suaminya karena membalas mengkhianatinya dan menjadi wanita jahat yang menyakiti laki-laki yang dicintainya dengan cara membohonginya.


Sebenarnya dia tidak ada niatan sama sekali untuk membalas perselingkuhan suaminya. Hanya saja secara tidak sengaja dia mendapatkan kebahagiaannya di saat dia sedang sakit hati karena perselingkuhan suaminya.


Dia juga tidak ada niatan sama sekali untuk membohongi laki-laki yang berbalas mencintainya. Dia hanya merasa jika dia harus mundur karena laki-laki tersebut merupakan suami dari temannya.


Siapa yang mau meninggalkan kebahagiaan? Sama seperti Velicia yang tidak ingin sekali melepaskan kebahagiaan itu. Terlebih lagi kebahagiaan itu didapatkannya sebagai pengobat kesedihan dan rasa sakit hatinya.


Velicia beranjak dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Ferdi merasa aneh dan sedih.


Dalam keadaan seperti itu dia ingin sekali mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari istrinya. Ingin sekali dia dipeluk dan diberi ketenangan oleh istrinya. Sayangnya kali ini dia tidak mendapatkannya.


Beberapa menit  kemudian Velicia kembali masuk ke dalam kamarnya dengan membawa gelas yang berisi air putih.


“Ini Mas, minumlah,” ucap Velicia sambil memberikan gelas yang berisi air putih tersebut pada Ferdi.


Ferdi menatap istrinya dan tertegun hingga dia tidak menerima gelas yang diberikan Velicia padanya.


“Minumlah ini, agar Mas Ferdi bisa lebih tenang,” ucap Velicia kembali seolah menyadarkan suaminya dari ketertegunannya.


Sontak saja Ferdi tersadar dan menerima gelas tersebut dari tangan Velicia sambil berkata,

__ADS_1


“Terima kasih.”


Velicia pun mengangguk tanpa tersenyum pada suaminya. Kemudian dia kembali ke ranjangnya dan merebahkan tubuhnya dengan posisi yang sama seperti tadi, membelakangi suaminya.


Ferdi kecewa karena istrinya kembali membelakanginya. Setelah meminum habis minuman tersebut, dia meletakkan gelas tersebut pada meja yang ada di dekat ranjangnya.


Dia mencoba kembali tidur dengan posisi yang sama, dengan posisi yang membelakangi istrinya. Dan akhirnya mereka tidur dalam posisi saling membelakangi.


Beberapa saat kemudian, Ferdi merasa tidak bisa tidur. Dia menghadap ke arah istrinya, mencoba untuk membuat istrinya agar menghadap ke arahnya.


Perlahan tangan Ferdi menyentuh pundak istrinya. Mata Velicia terbuka karena merasa ada yang memegang pundaknya. Seketika dia mengedikkan pundaknya seolah menolak sentuhan tersebut.


Ferdi kembali merasa kecewa karena istrinya menolak sentuhannya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak mau istrinya kembali marah padanya.


“Maaf,” ucap Velicia sambil memejamkan matanya dan mengigit bibir bawahnya.


“Tidak. Tidak perlu minta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena aku sering menolak ajakanmu sewaktu masa suburmu. Dan sekarang aku tau rasanya seperti apa jika ditolak ketika akan mengajak melakukannya.


Velicia diam. Dia tidak tahu harus menanggapi apa ucapan suaminya. Karena jujur saja jika sekarang ini dia merasakan patah hati sehingga terasa sangat menyiksa dan merasa menderita.


Merasa istrinya tidak menanggapinya, Ferdi kembali menghadap membelakangi istrinya. Entah mengapa perasaannya sangat berbeda. Dia merasa was-was akan sesuatu yang tidak diketahuinya.


Pagi pun menyapa. Seperti biasanya Velicia segera bangun dari tidurnya untuk bersiap-siap berangkat bekerja dan menyiapkan sarapan untuk mereka.


“Ibu, kapan Ibu datang?” tanya Velicia kaget ketika melihat ibu mertuanya sudah ada di dapur sedang sibuk memasak.


Bu Anisa menolah ke arahnya dan tersenyum padanya. Kemudian dia berjalan mendekati Velicia yang sedang menengadahkan gelas pada dispenser untuk mengambil minuman hangat.


“Gimana semalam?” tanya Bu Anisa pada Velicia yang sedang meminum minumannya.


Velicia mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya. Setelah dia meneguk minumannya, dia berkata,


“Memangnya ada apa dengan semalam Bu?”


“Semalam pada saat Ibu datang, Ibu disuruh cepat pulang oleh Ferdi. Dia takut Ibu mengganggu kalian yang akan melakukan proses penanaman bibit,” ucap Bu Anisa lirih sambil terkekeh.


Sontak saja Velicia tersedak minuman ketika dia kembali meminum minumannya. Dia sama sekali tidak menyangka jika suaminya akan berbuat seperti itu. Dia berbohong pada ibunya untuk mengusir ibunya agar tidak menginap di rumah mereka.

__ADS_1


Bu Anisa segera mengusap punggung Velicia untuk mengurangi rasa sakit karena tersedak. Kemudian dia berkata,


“Pelan-pelan minumnya Ve. Ibu gak minta kok,”ucap Bu Anisa sambil terkekeh.


Maaf Bu, Ve tidak bisa melakukannya sekarang. Hati Ve tidak menginginkannya untuk saat ini, Velicia berkata dalam hati sambil tersenyum pada ibu mertuanya.


“Duduklah di sana, masakannya akan segera selesai,” ucap Bu Anisa sambil berjalan kembali ke dapur.


Velicia membantu ibu mertuanya menyiapkan peralatan makan mereka di atas meja makan. Setelah semua hidangannya sudah siap di atas meja makan, keluarlah Ferdi dari kamarnya dengan menggunakan pakaian kerjanya.


“Oh iya, kamu belum membuatkan suamimu kopi Ve? Biasanya yang pertama kali kamu siapkan adalah kopi untuk dibawa suamimu bekerja,” tanya Bu Anisa pada Velicia yang sedang menyendok nasi goreng yang akan dimakannya.


Seketika badan Ferdi menegang. Dia merasa sedang terancam. Dia takut jika istrinya itu memberitahukan masalah kopi pada ibunya.


Velicia tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari ibunya. Sambil mengunyah makanannya dengan tenang dia berkata,


“Sekarang sudah tidak Bu.”


Dahi Bu Anisa mengernyit. Dia tidak mengerti maksud dari jawaban menantunya. Dengan rasa ingin tahunya Bu Anisa berkata,


“Kenapa? Padahal selama ini kamu tidak pernah mau Ibu buatkan kopi karena menurutmu kopi buatan istrimu yang ternikmat. Apa dokter melarangnya?”


Seketika Velicia tersenyum sinis sambil melihat ke arah suaminya setelah mendengar apa yang ditanyakan oleh ibu mertuanya.


“Itu dulu Bu, sekarang sudah beda,” jawab Velicia sambil tersenyum getir.


“Maksudnya?” tanya Bu Anisa kembali dengan rasa ingin tahunya.


“Untuk apa Ve capek-capek membuatkan suami Ve kopi jika nantinya tidak diminum dan berakhir dibuang karena dia lebih memilih kopi buatan orang lain,” jawab Velicia sambil tersenyum sinis melihat ke arah suaminya yang sudah memucat ketakutan.


Sontak saja Bu Anisa membelalakkan matanya dan menatap Ferdi dengan tatapan tajam sambil berkata,


“Siapa? Apa wanita yang tidak tau diri itu? Wanita yang ada bersamamu di klinik hewan malam itu?”


Mata Velicia terbelalak ketika mendengar perkataan ibu mertuanya yang mengarah pada Lani. Dan melihat ekspresi suaminya yang seperti sedang ketahuan berbohong. Dalam hati dia berkata,


Ah betapa bodohnya aku yang sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Kenapa malah aku berpikir jika Mas Ferdi lebih menyukai buatan pagawai café ternama itu dan tidak mencurigai siapa yang memberinya kopi itu?

__ADS_1


"Ferdi!!!" teriak Bu Anisa pada putranya dengan tatapan matanya yang bengis.


__ADS_2