
Keesokan harinya Velicia bangun dan beraktifitas seperti biasanya. Rasa sakitnya masih sering terasa, hanya saja dia tidak terlalu merasakannya.
Dengan meminum obat yang diberikan oleh dokternya dia berharap agar penyakitnya cepat sembuh dan tidak kambuh lagi.
Ferdi masih tertidur di atas sofa yang biasanya dia tempati bersama dengan Lili.
Velicia memandang iba pada suaminya. Dia tidak mengira jika kematian Lili bisa berdampak seperti itu pada suaminya.
Rasa kehilangan Lili dari hidup mereka sangat terasa. Hanya saja Velicia bertanya-tanya dalam hatinya,
Apa jika Mas Ferdi kehilanganku juga akan seperti itu? Atau mungkin lebih dari itu? Atau mungkin tidak berarti apa-apa baginya?
Velicia melihat ke arah jam dinding yang bergantung pada dinding ruangan tersebut. Dia tidak tega membangunkan suaminya yang masih terlihat nyenyak dalam tidurnya.
Namun, dia juga tidak bisa membiarkan suaminya itu tertidur lebih lama lagi karena waktu sudah mendekati jam kerjanya.
Dengan sangat terpaksa Velicia membangunkan suaminya. Dalam hatinya dia berdoa agar suaminya tidak marah-marah padanya karena membangunkannya.
"Mas… Mas Ferdi… Mas… bangun Mas. Sudah siang," ucap Velicia sambil mengusap lengan suaminya dengan pelan dan hati-hati.
Perlahan mata Ferdi terbuka dan dengan malasnya dia beranjak dari sofa tersebut dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Velicia menghela nafasnya dan menatap nanar punggung suaminya yang masih saja tidak menganggapnya. Sikapnya masih sama seperti kemarin malam.
Apa aku harus mengingatkannya untuk ke rumah sakit hari ini? Velicia bertanya dalam hatinya sambil menatap suaminya yang sudah masuk ke dalam kamar.
Velicia masih ragu untuk bertanya pada suaminya. Dia lebih memilih untuk menyiapkan sarapan dan jus buah seperti biasanya.
Tring!
Sebuah notifikasi pesan terdengar dari ponsel Velicia.
Segera diambilnya ponsel miliknya dari dalam saku celananya. Raut wajahnya menampilkan kegelisahan hatinya ketika membaca pesan tersebut.
"Apa aku harus melakukannya sekarang? Tapi ini kesempatan kami. Dan dia sudah berjanji. Baiklah, akan ku bangunkan dia sekarang," ucap Velicia sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Setelah dia selesai menata makanan dan jus yang baru saja dia buat, kini dia berjalan menuju kamarnya.
Velicia menghela nafasnya ketika melihat suaminya masih bergelung di dalam selimutnya.
__ADS_1
Didekatinya suaminya itu dan dia kembali menghela nafasnya karena kini Ferdi sedang tertidur dengan nyenyaknya hingga terdengar suara dengkurannya.
Tidak ada pilihan lain untuk Velicia. Dia harus membangunkan suaminya meskipun nantinya dia akan terkena omelannya.
"Mas… Mas Ferdi… Mas… kita sudah ditunggu dokter di rumah sakit," ucap Velicia sambil membangunkan suaminya itu dengan menggerak-gerakkan lengan Ferdi.
Mata Ferdi terbuka dan dia hanya menatap Velicia tanpa berkata-kata.
Velicia mengambil ponselnya dari saku celananya dan mengutak-atiknya sebentar di hadapan Ferdi.
"Barusan aku mendapatkan pesan dari rumah sakit. Dan kita sudah mendapatkan nomor antrian untuk konsultasi dengan dokter," ucap Velicia kembali sambil memperlihatkan layar ponselnya yang berisi pesan dari rumah sakit.
Seolah tidak berminat dengan isi pesan tersebut, dia malah menghadap membelakangi Velicia dan kembali memejamkan matanya.
Velicia yang tadinya merasa iba pada suaminya, kini dia menjadi kesal padanya. Janjinya untuk bertemu dengan dokter mereka kini seolah hanya janji belaka. Bahkan Velicia tidak yakin jika nantinya Ferdi mau melakukan operasi kembali.
Harapan Velicia sudah pupus. Dia merasa rumah tangganya sudah di ujung tanduk. Dalam hatinya dia berkata,
Apa hanya aku saja yang berjuang demi keutuhan rumah tangga kami? Bolehkah aku menyerah? Aku lelah jika harus begini terus.
Velicia menghela nafasnya dengan kasar. Kemudian dia berniat untuk terakhir kalinya membangunkan suaminya.
"Ck, apaan sih? Kamu pergi aja sendiri. Aku mau tidur!" seru Ferdi sambil memejamkan matanya.
"Mas Ferdi sudah janji untuk ke rumah sakit hari ini. Apa Mas Ferdi lupa?" tanya Velicia dengan kesal.
"Kamu gak lihat aku sedang berduka?!" tanya Ferdi dengan menaikkan nada bicaranya.
"Mas! Kenapa kamu jadi seperti ini hanya karena seekor kucing?"
Keluar sudah kekesalan Velicia. Dia mengutarakan semua yang ada dalam pikirannya.
"Seekor kucing katamu? Dia Lili. Dia sudah seperti anak kita sendiri. Tega sekali kamu mengatakan seperti itu. Jangan-jangan kamu-"
"Ya benar. Aku yang meracuninya. Laporkan saja aku ke Polisi agar mereka menyelidikinya. Dan kamu bisa memenjarakan istrimu ini. Puas kamu?!" ucap Velicia dengan histeris.
Kemudian dia keluar dari kamar itu meninggalkan Ferdi yang mematung karena terkejut dengan ucapan Velicia yang sama sekali tidak pernah membentaknya seperti sekarang ini.
Brak!
__ADS_1
Suara pintu ditutup dengan kerasnya. Dan itu sukses membuat Ferdi terkaget dari dalam kamarnya.
Dengan rasa kesalnya pada suaminya itu hingga membuat Velicia menjadi emosi. Dia melampiaskannya pada pintu rumahnya ketika menutupnya sebelum dia berangkat bekerja.
Rasa kesal dan marah hingga menjadi emosi kini dirasakan oleh Velicia. Dengan perasaan itu dia berjalan cepat keluar dari rumahnya.
Dia tidak tahu ke mana tujuannya kini. Dia hanya menuruti ke mana langkah kakinya menuntunnya.
Tanpa sadar, kini dia sudah berada di taman yang juga terdapat taman bermain di sana. Tempat yang selalu dikunjunginya untuk menenangkan dirinya.
Banyak anak-anak kecil bermain di sana. Hatinya lebih senang dan tenang ketika melihat mereka tertawa dan bercanda.
"Sepertinya aku harus berada di sini sampai nanti," ucap Velicia sambil melihat anak-anak kecil yang sedang bermain bersama.
"Lucu sekali, aku bahkan tidak punya tempat untuk ku kunjungi di saat seperti ini. Ke sekolah pun aku tidak berani. Aku lebih takut ditanya oleh mereka daripada diomongkan di belakangku," ucap Velicia sambil terkekeh.
Kini Velicia tampak seperti orang yang sedang curhat pada dirinya sendiri. Jika ada yang mendengarnya, mungkin saja dia dikira orang yang baru saja gila,karena melihat pakaian Velicia yang belum compang-camping.
Lama dia di sana hingga anak-anak itu pulang dan berganti dengan anak-anak yang baru.
Velicia enggan pulang karena dia tidak mau bertemu dengan suaminya. Berjam-jam dia meninggalkan suaminya, tapi tetap saja rasa kesal dan marahnya pada suaminya itu masih tetap ada di hatinya.
"Velicia?!" celetuk Raymond tanpa sadar.
Kebetulan suasana saat itu sedang sepi pada saat Raymond mengucapkan nama Velicia.
Seketika Velicia menoleh ke arahnya dan dia terkejut mendapati Raymond yang sudah berada tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
"Ray?!" celetuk Velicia ketika melihat Raymond.
Mereka berdua tidak menyangka jika mereka akan bertemu dalam keadaan seperti ini.
Mereka berdua sudah saling menghindari dan saling mencoba mengenyahkan perasaan mereka.
Entah mengapa seolah takdir mempermainkan mereka.
Kenapa kita bisa bertemu dalam kondisi seperti ini? Velicia berkata dalam hatinya.
Apakah ini takdir? Ataukah ujian bagi perasaan kami?
__ADS_1
Velicia dan Ferdi secara bersamaan berkata dalam hati mereka.