Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 47 Kejutan untuk Velicia


__ADS_3

Ferdi merasa cemas ketika melihat istrinya tidak ada di dalam kamarnya. Matanya menyisir ke seluruh ruangan kamarnya untuk mencari sosok istrinya.


Dia bergegas keluar dari kamarnya untuk mencari istrinya.


Langkahnya terhenti ketika dia melihat Velicia sudah rapi dan duduk di kursi yang berada di ruang makan untuk menunggunya.


"Ve, kamu kok sudah rapi? Mau ke mana?" tanya Ferdi sambil berjalan menuju tempat Velicia.


Meow… meow… meow…


Lili memutari kaki Ferdi seolah menghentikannya dan mencegahnya untuk berjalan.


Ferdi yang memang sangat menyayangi Lili seketika berhenti untuk mengusap-usap bulu Lili dan memanjakannya. 


Terlihat sekali Ferdi yang sangat menyayangi Lili hingga dia melupakan niatannya untuk mendekati istrinya yang sedari tadi dicarinya.


Velicia tersenyum getir melihat suaminya yang lebih memperdulikan kucingnya daripada istrinya.


Bahkan pertanyaan yang diajukannya pada Velicia belum dijawab dan dia melupakannya karena sedang asik bersama Lili, kucing peliharaannya.


"Mas, ayo cepat sarapan. Bukannya akhir-akhir ini Mas Ferdi harus berangkat lebih pagi?" ucap Velicia sambil mengoles roti tawar yang dia pegang dengan selai coklat dan kacang untuk Ferdi.


Ferdi tidak menanggapi ucapan Velicia. Dia lebih asik bermain bersama dengan Lili.


"Mas, ini sudah aku siapkan sarapannya. Ayo cepat dimakan," seru Velicia dengan sedikit kesal.


"Apa Lili sudah diberi susu untuk kitten? Makanan dan vitaminnya apa sudah diberikan?" tanya Ferdi tanpa memandang ke arah Velicia, dia lebih asik mengusap-usap bulu Lili.


Velicia menghela nafasnya mendengar pertanyaannya tidak dijawab oleh suaminya. Lebih parahnya lagi, suaminya itu malah menanyakan tentang keperluan kucingnya pada Velicia.


"Bukankah itu kucingmu Mas, harusnya kamu juga yang harus merawatnya," ucap Velicia lirih.


Ferdi sedikit mendengar ucapan Velicia. Kemudian dia berkata,


"Kamu kan Bundanya. Jadi harus merawatnya."


Sontak saja mata Velicia membelalak sempurna. Dia sangat keberatan jika dikatakan sebagai Bundanya Lili. Karena dia ingin memiliki anaknya sendiri.


"Mas, bukankah aku sudah pernah bilang jika aku keberatan dipanggil Bunda untuk Lili. Aku menginginkan dipanggil Bunda untuk anak-anakku Mas, bayiku sendiri, manusia bukan hewan."

__ADS_1


Keluarlah sudah semua amarah yang dipendam Velicia semenjak Ferdi membawa Lili ke rumah mereka.


Dada Velicia naik turun mengatakan semua amarahnya. Bahkan nafasnya tidak beraturan mengatakan semua itu pada suaminya.


"Iya Ve aku tau. Maafkan aku. Kasihan Lili jika tidak dirawat dengan baik. Apalagi dia masih kecil. Kita harus merawatnya dengan baik," ucap Ferdi dengan nada mengiba pada Velicia sambil memandang ke arah istrinya yang sedang menatap marah padanya.


Velicia tersenyum sinis pada suaminya. Kemudian dia berkata,


"Kita? Kapan Mas Ferdi pernah mengganti pasir dan membuang kotorannya Lili? Kapan Mas Ferdi pernah mencuci tempat makannya, memberi makan dan minum serta susu dan vitamin dengan teratur? Bukannya hanya aku yang Mas suruh untuk mengurusnya?" 


Sontak saja Ferdi malu akan ucapannya sendiri yang benar-benar telah dibalikkan faktanya oleh istrinya. Dia merasa telah mempermalukan dirinya sendiri.


Dengan segera dia berjalan menuju meja makan dan ketika akan duduk, Velicia segera menghentikannya.


"Cuci tanganmu dulu Mas!" ucap Velicia dengan nada memerintah.


Tidak ada bantahan dari Ferdi. Dia menuruti perintah istrinya karena dia tidak mau jika istrinya itu marah lagi padanya.


Segera dia berjalan menuju wastafel dan mencuci tangannya. Setelah itu dia duduk kembali pada kursi yang biasanya didudukinya pada saat makan.


Sudah tersaji beberapa roti selai coklat dan kacang di depan Ferdi. Dan tanpa berkata-kata dia memakan roti tersebut sampai habis. Setelah itu dia meminum jus buatan istrinya sampai habis.


Ferdi pun menerima tumbler yang berisi kopi buatan istrinya. Kemudian dia berkata,


"Kamu mau ke mana kok sudah rapi?" 


"Aku mau kerja. Percuma di rumah, aku malah sedih memikirkan nasibku," jawab Velicia sambil tersenyum getir.


Ferdi menghela nafasnya mendengar jawaban dari istrinya. Dia merasa tersindir karena banyaknya kesalahan yang baru disadarinya kemarin.


"Tapi dokter kan menyuruhmu untuk beristirahat Ve sampai keadaanmu benar-benar pulih," ucap Ferdi yang mencoba agar istrinya mau tetap berada di rumah untuk beristirahat lebih lama lagi.


"Aku sudah lebih baik Mas. Dan aku kangen sekali dengan anak-anak di sekolah," ucap Velicia sambil tersenyum getir mengingat rindunya pada anak-anak didiknya, bukan pada anak kandungnya yang belum bisa dimilikinya.


Ferdi kembali merasa tersindir dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Kemudian dia berkata,


"Ya sudah, akan aku antarkan kamu ke sekolah. Tapi kamu harus janji, jika tubuhmu tidak kuat, kamu harus beristirahat atau mintalah ijin untuk pulang."


Velicia tersenyum getir mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya. Penuturan dari Ferdi itu kini ditertawakan oleh Velicia karena dia merasa lucu jika mendengar Ferdi mengkhawatirkan istrinya.

__ADS_1


Jika dulu kamu berkata seperti itu pasti aku akan menurut Mas. Tapi sekarang, sepertinya aku harus berpikir ulang agar aku tidak kembali dibodohi olehmu, Velicia berkata dalam hatinya.


"Ayo kita berangkat," ucap Ferdi sambil beranjak dari duduknya.


Velicia menghela nafasnya melihat Ferdi meninggalkan tumbler kopinya di atas meja. 


"Kamu sengaja meninggalkannya atau tertinggal Mas?" ucap Velicia lirih sambil membawa tumbler kopi tersebut.


Velicia mengunci pintu rumahnya sambil membawa tas dan tumbler kopi milik Ferdi. 


Bahkan melihat Velicia sedang kerepotan seperti itu pun Ferdi tidak membantunya. Dia sudah duduk di dalam mobilnya untuk bersiap mengemudikannya.


Velicia berjalan menuju mobil tersebut dengan wajah datar menahan kekecewaan dan kekesalannya pada suaminya.


"Ayo Ve, masuklah," ucap Ferdi dari dalam mobilnya sambil melihat Velicia yang ada di luar mobil dengan kaca jendela yang sudah dibukanya.


Velicia pun membuka pintu mobil tersebut dan masuk ke dalamnya, dia duduk di kursi depan, lebih tepatnya di samping Ferdi yang sedang bersiap mengemudikan mobilnya.


Ketika kakinya bergerak, dia merasakan seperti menginjak sesuatu. Kemudian tangannya berusaha menggapai benda yang ada di dekat kakinya.


Ferdi yang sedang mengemudikan mobilnya masih fokus pada jalanan yang ada di depannya.


Dia merasa ada yang aneh dengan istrinya, kemudian dia melirik istrinya yang sedang bergerak seperti tidak nyaman dengan duduknya.


"Kenapa Ve?" tanya Ferdi tanpa menoleh ke arah Velicia.


"Bolpoinku jatuh," jawab Velicia asal agar tidak dicurigai oleh suaminya.


Ferdi pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa bersuara menanggapi jawaban dari istrinya.


Mata Velicia membelalak, nafasnya tidak beraturan dan dadanya naik turun melihat benda yang ditemukannya di bawah kursi yang didudukinya.


Velicia mencengkeram kuat benda tersebut untuk menahan emosinya. Dan segera dimasukkan dalam tasnya benda-benda tersebut agar tidak diketahui oleh suaminya.


"Kemarin, kemarin apa Ibu duduk di kursi ini?" tanya Velicia dengan suara yang sedikit bergetar meskipun emosinya itu sudah ditekannya sekuat tenaga.


"Iya, memangnya kenapa Ve?" tanya Ferdi sambil fokus pada jalanan yang ada di depannya.


"Apa ada orang lain yang duduk di sini kecuali aku dan Ibu?" 

__ADS_1


__ADS_2