Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 11 Apa kamu selingkuh?


__ADS_3

Ferdi keluar dari kamar tanpa mengetahui letak mi instan yang sebenarnya. Kini yang dia tahu bahwa semua mi instan yang dibelinya bersama dengan Velicia telah dibuang oleh ibunya kemarin pada saat datang berkunjung ke rumahnya.


Akhirnya Ferdi memesan makanan secara delivery. Dia memesan dua porsi makanan yang sama untuknya dan untuk Velicia.


Setelah makanan sudah datang, Ferdi segera kembali masuk ke dalam kamar untuk memanggil Velicia.


"Bunda… Bunda… makanannya sudah datang. Ayo kita makan," Ferdi membangunkan Velicia.


Kali ini Ferdi membangunkan Velicia dengan lembut. Dia tidak berani membangunkannya sama seperti tadi karena menurutnya jika membangunkan Velicia seperti tadi sama saja dia membangunkan harimau betina yang sedang tidur.


Velicia membuka matanya perlahan. Tanpa bergerak, dia menatap suaminya. Sungguh sudah habis tenaganya untuk berdebat dengan suaminya. 


"Makanannya sudah datang. Ayo kita makan sekarang," ucap Ferdi yang berdiri di hadapan Velicia.


Sebenarnya dia enggan untuk beranjak dari ranjang, tapi perut laparnya itu sungguh membuat Velicia tersiksa.


Akhirnya dengan sisa tenaganya, Velicia turun dari ranjangnya. 


Ferdi melihat Velicia yang mencoba berdiri dengan tubuhnya yang lemah. Tangannya terulur sedikit, tapi segera ditariknya kembali sebelum Velicia meraih tangannya.


Velicia menghela nafasnya dan menatap suaminya dengan tatapan kecewanya. Melihat tatapan istrinya itu, Ferdi segera berjalan keluar kamarnya menuju meja makan.


Velicia pun berjalan pelan dengan sisa tenaganya di belakang suaminya. Dalam hati dia mengeluh,


Kenapa kamu berubah seperti itu Mas? Kenapa kamu tidak memapahku berjalan seperti ketika aku sedang sakit waktu itu? Aku kecewa padamu Mas.


Kini mereka berdua berada di meja makan. Velicia hanya diam saja menikmati makanan yang sedang ada di hadapannya.


Sungguh perutnya sangat tidak nyaman sehingga dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit.


Ferdi yang sangat kelaparan memakan makanannya dengan sangat lahap. Dia menghela nafasnya ketika melihat istrinya yang seolah enggan memakan makanan yang telah dia belikan untuknya.


"Makan yang benar. Jangan suka pilih-pilih makanan. Makanan ini belinya pakai uang, gak gratis," ucap Ferdi disela kunyahan makanannya.

__ADS_1


Sontak saja Velicia mencengkeram sendoknya dengan erat dan melemparnya ke lantai, setelah itu dia beranjak dari kursinya sambil menatap suaminya dengan tatapan tajam. Kemudian dia berjalan menuju kamarnya kembali.


Brak!!!


Pintu kamar itu pun ditutup dengan sangat keras oleh Velicia seperti sengaja membanting pintu tersebut.


Ferdi membelalakkan matanya melihat apa yang dilakukan oleh istrinya. Dia tidak pernah menyangka jika istrinya yang sangat penurut dan pendiam itu kini menjadi pembangkang dan susah dikendalikan.


Ferdi segera mengambil sendok milik Velicia yang dilemparkannya tadi ke lantai. Setelah itu dia membereskan piring dan gelas bekas miliknya. Melihat piring milik istrinya yang masih berisi makanan utuh itu, Ferdi merasa sayang untuk membuangnya.


"Dibelikan makanan mahal-mahal malah gak dimakan. Makannya juga cuma sedikit. Sayang kan kalau dibuang," ucap Ferdi yang setelah itu dia menyendokkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


Di dalam kamarnya, Velicia menangis hingga sesenggukan. Hatinya sangat sakit dikatakan seperti itu oleh suaminya.


Sungguh dia tidak berniat untuk menyia-nyiakan makanan. Dia memang lapar dan ingin sekali memakan makanan tersebut, hanya saja perutnya seolah menolaknya.


Dia merasa perutnya mual ketika terisi makanan dan mulutnya sangat terasa pahit sehingga enggan memakan apapun. Sayangnya dia sangat lapar, hingga dia memaksakan memakannya meskipun sedikit demi sedikit dia suapkan ke dalam mulutnya.


Membelikan makanan untuk selingkuhannya saja dia gak ngomel sama sekali. Giliran sama istri sendiri malah ngomel. Gak tau apa kalau istrinya sedang sakit, bukannya dirawat, dimanja, malah diomelin terus.Aku capek harus selalu mengalah dan berjuang sendiri. Bolehkah aku menyerah?


Lelah karena menangis dan sakit hati, tak terasa Velicia tertidur dengan air matanya yang masih membasahi wajahnya.


Sempat ragu untuk masuk ke dalam kamarnya, Ferdi lebih memilih untuk menonton televisi terlebih dahulu. Dia berniat akan masuk ke dalam kamarnya ketika istrinya sudah tidur dengan pulas.


Nyatanya kini Ferdi tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Sedangkan Lili tidur di tempat tidurnya sendiri.


Malam ini, kejadian semalam terulang. Setiap orang yang ada di rumah itu tidur sendiri-sendiri seperti malam kemarin.


Pagi pun menyapa. Alarm pada ponsel Velicia berbunyi. Dengan malasnya Velicia mematikan alarm tersebut. 


"Auuuchh…," rintih Velicia ketika dia bangun dari tidurnya.


Badannya serasa lemas dan sangat tidak nyaman dirasanya. Ingin sekali dia tetap berada di tempat tidurnya tanpa harus berangkat bekerja.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. Tampak Ferdi yang masuk ke dalam kamar tersebut dengan handuk yang menggantung di lehernya.


Tampaknya dia sudah mandi di kamar mandi yang terletak di luar kamarnya. Padahal mereka biasanya selalu mandi menggunakan kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.


Velicia enggan banyak bicara. Sungguh hari ini dia sangat malas sekali beranjak dari tempat tidurnya. Sayangnya dia harus tetap berangkat bekerja hari ini.


Kakinya terasa kedinginan ketika menapaki lantai kamarnya. Hingga di dalam kamar mandi, dia menggigil kedinginan. Bahkan air yang tersiram di badannya terasa seperti air es baginya.


Segera diselesaikannya kegiatan mandinya itu. Secepat kilat dia memakai bajunya dan segera dia keluar dari kamar mandi. 


Semakin lama badannya semakin menggigil. Sehingga tanpa berpikir panjang lagi Velicia berbaring di atas ranjang dengan menyelimuti dirinya sebatas leher.


Badan yang mengigil itu terasa lebih hangat sekarang. Dan tanpa sadar matanya lama kelamaan terpejam.


Ferdi yang baru selesai berganti pakaian itu sedari tadi melihat istrinya tanpa berkomentar.


Dia merasa serba salah. Jika dia mendekati istrinya, dia takut akan kena marah. Tapi dia merasa khawatir melihat istrinya yang sepertinya sedang sakit.


Perlahan Ferdi mendekati istrinya. Dengan ragu tangan Ferdi menempel pada dahi Velicia. Dia bermaksud untuk memeriksa suhu badan istrinya.


"Badan kamu panas. Lebih baik kamu ijin saja tidak usah masuk kerja," tutur Ferdi setelah melepaskan tangannya dari dahi Velicia.


Mata Velicia terbuka, kemudian dia melihat suaminya dengan tatapan nanar. Dia ingin mengatakan bahwa sekarang ini dia membutuhkan suaminya untuk bersamanya.


Namun, Velicia tidak bisa mengatakannya. Sudah bisa dipastikan jika Ferdi menolaknya.


Mas, apa kamu bisa menemaniku untuk periksa ke dokter? Ah, mungkin ia tidak akan mau jika ijin tidak masuk dari pekerjaannya. Apalagi selingkuhannya sekantor dengannya. Bodoh sekali kamu Ve, mengharapkan orang yang hatinya sudah tidak memilihmu, Velicia menertawakan dirinya sendiri dalam hatinya dengan memandang lekat pada Ferdi.


"Harus ada surat dokter jika tidak masuk bekerja," ucap Velicia lemah.


"Ijin saja terlebih dahulu, nanti siang setelah kamu beristirahat, pergilah ke dokter untuk memeriksakan dirimu," tutur Ferdi dengan menghadap arah kaca dan memakai dasinya yang biasanya dipakaikan oleh Velicia.

__ADS_1


Velicia tersenyum tipis. Getir sekali rasanya mendengar jawaban dari suaminya yang tidak sesuai dengan harapannya.


Mas, apa kamu benar-benar berselingkuh? pertanyaan itu tentu saja ditanyakan dalam hati oleh Velicia ketika melihat Ferdi sudah keluar dari kamarnya untuk berangkat kerja.


__ADS_2