Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 101 Jika aku kehilangannya


__ADS_3

“Kurang ajar!”


Tania berseru sambil tangan kirinya meraih rambut Velicia. Dia menjambak rambut Velicia dengan sekencang-kencangnya. Tangan kanannya yang memegang tongkat penyangga diarahkannya ke tubuh Velicia untuk memukulnya sekuat tenaganya.


“Ve!” ucap Raymond sambil menghalangi tubuh Velicia dari Tania.


Tania menyingkirkan tubuh Raymond yang menghalangi tubuh Velicia. Kemudian dia mendorong tubuh Velicia sehingga terjatuh duduk di jalanan.


“Tania!” seru Raymond sambil berdiri di depan Tania bertujuan untuk menghalanginya.


“Minggir!” seru Tania sambil berusaha menyingkirkan tubuh Raymond dari hadapannya.


Namun, tenaga Tania tak sebanding dengan tenaga Raymond saat ini. Dilepaskannya tongkat penyangga miliknya secara sembarangan dan dia kembali berusaha menyingkirkan Raymond dari hadapannya.


“Minggir!” seru Tania kembali yang masih berusaha menyingkirkan Raymond dari hadapannya.


“Tania, cukup! Ku mohon!” seru Raymond sambil memegang kedua pundak Tania dan menghalanginya agar tidak bisa kembali mendekati dan menyentuh Velicia.


“Dasar wanita perusak rumah tangga orang! Wanita perebut suami orang! Kurang ajar! Sini kamu!” teriak Tania menjadi-jadi.


“Bagaimana bisa kamu berselingkuh dengan suamiku?!” seru Tania sambil memberontak karena tubuhnya kini dipeluk oleh Raymond dari samping, berusaha memeganginya agar Tania tidak bisa mendekati Velicia.


“Kamu bilang kamu temanku dan sekarang kamu merebut suamiku hah?!” seru Tania kembali semakin mejadi-jadi.


Banyak sekali orang berkumpul untuk melihat kejadian itu. Karena mereka berada di jalanan, banyak sekali pasang mata yang menyaksikan mereka. Hingga banyak sekali yang mendekat mengerumuni mereka untuk menyaksikan dan merekamnya.


“Tania sudah, hentikan!” seru Raymond sambil memeluk Tania dan salah satu tangannya meraih tongkat penyangga milik Tania yang berada di bawahnya, kemudian dia memaksanya untuk berjalan meninggalkan tempat tersebut.


“Dasar wanita perebut suami orang! Wanita sialan! Wanita perusak rumah tangga orang! Kurang ajar!”


Umpatan demi umpatan diteriakkan oleh Tania sambil berjalan dalam keadaan dipeluk dan dipaksa berjalan oleh Raymond meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


“Aku akan membunuhnya! Aku benar-benar akan membunuhnya!”


Suara teriakan umpatan dan ancaman dari Tania terdengar jelas di telinga semua orang yang berada di sana meskipun Tania sudah menjauh dari Velicia.


Masih dalam posisi duduk di jalanan, Velicia diam dengan pandangan semua orang yang tertuju padanya dan menggunjingnya. Terdengar jelas di telinga Velicia suara-suara yang memperoloknya dan menggunjingnya. Bahkan sebagian dari mereka mengenalnya.


Tangan Velicia mencengkeram roknya, matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangisnya. Malu, sedih, menyakitkan dan terhina, itulah yang dirasakannya saat ini.


Perlahan dia berdiri dan berjalan dengan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu. Dia kini layaknya sampah masyarakat yang dipandang rendah oleh semua orang.


Bisakah cinta yang menyedihkan dianggap cinta? Jika cinta yang aku miliki bukan cinta yang sebenarnya. Maka, kamu yang seperti fatamorgana karena tidak bisa aku miliki, haruskah kita tidak bertemu lagi? Apa aku bisa menghilangkan rasa cinta ini? Apa aku bisa hidup tanpa dirimu?


Sepanjang perjalanan, Velicia berkata dalam hatinya di setiap langkahnya meninggalkan kenangan buruk, menyedihkan dan menyakitkan di jalan tersebut.


Raymond segera membawa Tania masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di tepi jalan sekitar minimarket tersebut. Tanpa berkata-kata, Raymond segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu menuju rumah orang tua Tania yang berada di kota tersebut.


Sesampainya di rumah orang tua Tania, Raymond mencoba membantu Tania untuk memeganginya ketika berjalan menggunakan tongkat penyangga. Tapi, dengan cepatnya tangan Tania menghempaskan tangan Raymond dari kedua pundaknya.


Sedangkan Raymond, dia masih saja terlihat datar tanpa ekspresi. Sepertinya perasaannya sedang bercampur-campur saat ini. Dia merasa khawatir pada wanita yang dicintainya dan dia merasa kecewa dan terbebani pada istrinya saat ini.


Tidak lama kemudian, pintu rumah tersebut terbuka menampakkan sosok wanita yang hampir mirip seperti Tania.


“Mama…,” ucap Tania sambil memeluk mamanya.


Mama Tania tersenyum mendapat pelukan dari putrinya sambil berkata,


“Anak manja, malu itu ada suami kamu,” ucap mama Tania sambil tersenyum pada Raymond.


Raymond tersenyum tipis menanggapi ucapan dari ibu mertuanya. Kemudian dia mengikuti Tania dan mama mertuanya masuk ke dalam rumah.


“Siapa Ma?” tanya papa Tania yang sedang duduk kursi ruang tengah sambil menonton televisi.

__ADS_1


“Anak manja Papa nih datang,” jawab mama Tania sambil berjalan masuk ke dalam ruang tengah.


Tania pun ikut bersama mamanya menuju ruang tengah. Sedangkan Raymond mengikuti mereka di belakangnya.


“Loh, ada Raymond juga ternyata,” ucap papa Tania sambil tersenyum pada Raymond.


Raymond tersenyum tipis menanggapi sapaan dari papa mertuanya. Dia masih berdiri di sana, sedangkan Tania, mamanya dan papanya sudah duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.


“Dari mana saja kalian?” tanya mama Tania sambil tersenyum pada Tania dan Raymond.


“Mama kayak gak pernah muda saja. Kita baru pulang dari pacaran lah. Iya kan Ray?” Tania menjawab pertanyaan mamanya dan dia meminta dukungan dari Raymond.


Raymond kembali tersenyum tipis tanpa mengatakan apa pun. Dia masih betah berdiri di tempatnya tadi. Seolah dia tidak mau berlama-lama di sana dan segera pamit untuk undur diri.


“Lihat Pa, mereka berdua sangat manis sekali. Mungkin karena bertahun-tahun tidak bersama,” ucap mama Tania sambil terkekeh.


Papa Tania ikut terkekeh menanggapi perkataan dari istrinya. Berbeda dengan Raymond dan Tania yang diam saja tanpa tersenyum mendengarnya.


“Oh iya Pa, Raymond akan mengundurkan diri dari sekolahan tempat dia mengajar saat ini. Dia akan ikut denganku untuk menggantikan kedudukan Papa nantinya,” tukas Tania dengan tegas pada papanya.


“Benarkah? Bagus sekali keputusanmu itu Ray. Papa akan membiayai sekolahmu agar kamu bisa menjadi seorang profesor seperti Tania. Setelah itu kamu bisa menggantikan kedudukan Papa,” ucap papa Tania sambil tersenyum senang.


Seketika wajah Raymond terlihat kaget. Dia tidak mengira jika istrinya akan senekat itu dengan melibatkan peran orang tuanya untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka.


Dan hal yang paling tidak disukai oleh Raymond kembali terjadi. Peran kekayaan dan kedudukan keluarga Tania kembali membuat Raymond menjadi kecil di mata mereka. Harga diri Raymond selama ini diinjak-injak oleh mereka sehingga dia tidak bisa memutuskan apa pun untuk hidupnya. Bahkan masa depannya pun mereka yang menentukan.


Selama ini dia hanya diam dan menuruti semua yang mereka inginkan. Tapi kali ini dia sudah muak. Sejak dia memutuskan untuk menolak keinginan orang tua Tania untuk menggantikannya dan lebih memilih menjauh dengan menjadi seorang guru di kota ini, dia sudah memutuskan untuk memilih masa depannya sendiri.


“Tentu saja benar Pa. Bukankah Papa ingin mempunyai menantu seorang profesor?” tanya Tania sambil melihat ke arah Raymond dan tersenyum sinis padanya.


Raymond menghela nafasnya. Dia belum bisa mengatakan apa pun kali ini. Dia harus memikirkan segalanya, karena untuk sekarang ini bukan hanya dirinya sendiri yang harus dipikirkannya, ada Velicia yang harus dilindunginya dari kenekatan Tania.

__ADS_1


__ADS_2