
Raymond masuk ke dalam rumahnya setelah selesai menelepon Velicia. Dia menelepon Velicia ketika dalam perjalanan pulang dari bekerja.
Melewati taman bermain membuat Raymond teringat pada Velicia. Segeralah dia menghubungi tempat penjual bubur yang terenak di daerah tersebut untuk diantarkan ke alamat rumah Velicia. Setelah itu dia menghubungi Velicia dan mengabari tentang bubur yang akan dikirim oleh kurir.
Ceklek!
Raymond membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam rumahnya.
Tiba-tiba ada tangan yang melingkar pada pinggangnya. Dan terasa tubuh bagian depan seseorang yang menempel di punggungnya.
"Sayang, aku pulang. Aku kangen sekali sama kamu."
Raymond membelalakkan matanya ketika mendengar suara wanita yang memanggilnya sayang dan sedang memeluknya dari belakang saat ini. Kemudian dia berkata dalam hatinya,
Suara ini… suara…
"Tania?!" celetuk Raymond sambil menoleh ke arah belakang.
Wanita yang memeluk Raymond tersebut tersenyum manis dan berkata,
"Aku sangat merindukanmu Sayang."
Raymond tersenyum kikuk mendengarnya. Hanya saja dia bisa segera menutupinya dengan senyum manisnya.
Kekagetan Raymond itu tak luput dari penglihatan wanita tersebut. Anehnya wanita tersebut memperlihatkan kebahagiaannya melihat wajah kaget Raymond.
"Kenapa? Kaget ya? Apa kamu gak rindu sama aku? Aku kangen banget loh sama kamu," ucap wanita tersebut dengan nada manja sambil memeluk Raymond dari depan tubuhnya.
Raymond tersenyum dan membalas pelukan wanita tersebut. Tampak ada kecanggungan yang dirasakan oleh wanita tersebut dari pelukan Raymond terhadapnya.
Flashback
Tania, seorang wanita dari keluarga terpandang yang secara langsung meminta kepada kedua orang tuanya untuk dinikahkan dengan Raymond.
Waktu itu Raymond mendapatkan beasiswa di sebuah universitas ternama dan dia bertemu dengan Tania pada setiap kesempatan.
__ADS_1
Tania dan Raymond berada dalam fakultas yang sama kelas yang sama. Sehingga mereka tiap hari bertemu dalam semua kegiatan mereka.
Tania sangat mengagumi sosok Raymond yang sangat pintar dan perhatian pada semua temannya.
Karena dia tidak mau perhatian Raymond diberikan pada yang lainnya, Tania meminta pada kedua orang tuanya agar bisa menikahkan Raymond dengannya.
Raymond seorang pemuda miskin yang pintar dan selalu mendapatkan beasiswa di sekolah ternama. Sayangnya, dia seorang yatim piatu yang ditinggal meninggal oleh kedua orang tuanya semenjak SD.
Setelah itu dia dititipkan ke panti asuhan oleh saudara-saudara ayah dan ibunya karena mereka tidak mau menanggung biaya hidup Raymond.
Waktu itu, ketika Raymond dalam tahap akhir kuliahnya, kedua orang tua Tania menemuinya. Mereka secara langsung mengatakan bahwa Tania menginginkannya untuk menjadi suaminya.
Tentu saja Raymond menolaknya. Selain dia tidak ada rasa cinta pada Tania, dia juga belum memikirkan tentang pernikahan. Baginya study nya yang paling utama untuk saat itu.
Namun, Tania si gadis cantik yang sangat modis itu tidak menerima penolakan dari Raymond. Dia selalu saja mendekati Raymond dan memaksanya untuk segera menerima pernikahan tersebut.
Setiap perempuan yang mendekati Raymond akan mendapatkan perkataan kasar dari Tania. Bahkan dia pernah berlaku kasar pada perempuan yang terlihat sedang tertawa dengan Raymond.
Melihat perlakuan Tania yang seperti itu membuat Raymond bertambah tidak suka pada Tania. Sehingga pada saat kedua orang tua Tania kembali menemuinya, dengan tegasnya Raymond menolaknya.
Tidak kehilangan akal, kedua orang tua Tania menyiapkan kejutan untuk Raymond. Rupanya mereka adalah donatur terbesar pada universitas tersebut. Dan mereka mengancam akan menarik beasiswa Raymond jika Raymond tidak mau menikahi Tania.
Raymond diam, dia berpikir tentang tawaran yang diajukan oleh kedua orang tua Tania.
"Kami jamin kamu tidak akan rugi menikahi anak kami. Lihat saja Tania, dia gadis cantik dengan penampilan yang tidak akan membuat kamu malu. Dan tentunya nanti setelah kamu lulus, kamu bisa menjadi dosen di universitas ini," ucap Rania, mama Tania dengan bangganya membicarakan Tania.
Raymond masih saja diam. Pikirannya kalut. Dia tidak mau hidupnya diatur siapapun. Hanya kurang sebentar saja kuliahnya usai. Bagaimanapun dia harus bisa bertahan menyelesaikannya.
"Kamu orang yang cerdas Ray. Kamu pasti bisa melihat dengan jelas tawaran yang menguntungkan atau malah merugikanmu," tutur Dimas dengan senyum liciknya.
Menguntungkan? Menguntungkan yang bagaimana menurut kalian? Anak kalian memang cantik, modis, berkelas dan pastinya ingin menang sendiri. Lalu, apakah saya harus menyerahkan diri saya untuk menjadi suaminya dan selamanya akan diinjak-injak olehnya?
Tentu saja semua itu hanya bisa diucapkan oleh Raymond dalam hatinya saja.
"Ray, jawab dong. Jangan diam aja," ucap Tania yang sedang duduk di dekat Raymond sambil menggerak-gerakkan lengan Raymond.
__ADS_1
Raymond tersadar dari pikirannya sendiri. Dia menoleh ke arah Tania yang berada di sebelahnya. Kemudian dia beralih melihat ke arah kedua orang tua Tania secara bergantian.
Baiklah, aku akan mengulurnya hingga aku lulus baru aku jawab, Raymond berkata dalam hatinya.
"Saya akan memikirkannya terlebih dahulu," ucap Raymond sambil memandang kedua orang tua Tania.
Mendengar jawaban dari Raymond membuat Dimas seperti terhina. Raut wajahnya memperlihatkan kekesalan.
"Sayangnya kami tidak punya banyak waktu," sahut Dimas dengan tersenyum dingin pada Raymond.
Tangan Raymond mengepal mendengar ucapan dari Dimas. Sepertinya papa dari Tania itu enggan melepaskan Raymond.
"Kamu harus memutuskannya sekarang juga. Mau menerima tawaran kami atau… melepas beasiswamu," tutur Dimas sambil menatap tajam pada Raymond.
Mata Raymond terpejam, kepalan tangannya semakin kuat. Dia benar-benar merasa terpojok sekarang ini.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa ini terjadi padaku? tanya Raymond dalam hatinya.
"Ray, apa kurangnya aku? Apa aku kurang menarik bagimu?" tanya Tania dengan merangkul lengan Raymond dan merengek padanya.
Raymond memaksakan senyumnya pada saat Tania melihatnya, dia tidak bisa maju dan tidak bisa mundur saat ini. Dengan berat hati dia memutuskan untuk menuruti permintaan Tania dan kedua orang tuanya.
Raymond menarik nafasnya dalam-dalam kemudian dia mengeluarkan nafasnya itu secara perlahan, tapi terasa berat dan sesak dalam dadanya.
"Baiklah, saya terima. Tapi saya hanya meminta agar tidak menikah sekarang," ucap Raymond dengan dadanya yang merasa sangat berat.
Sontak saja Tania memeluk erat tubuh Raymond dan mencium pipi Raymond di hadapan kedua orang tuanya.
Rasa bahagia yang sangat besar itu diperlihatkan oleh Tania pada semua orang. Dari situlah Raymond mengerti jika rasa cinta Tania padanya itu tidak salah, yang salah hanya caranya untuk mendapatkan orang yang dicintainya.
Dan Raymond, menjadi korban dari keegoisan Tania yang memaksakan cintanya dengan menggunakan harta dan kekuasaan orang tuanya.
"Bagaimana Tania? Apa kamu setuju?" tanya Dimas dengan tegas pada Tania.
Tania memandang Rania seolah meminta pendapat mamanya. Rania hanya tersenyum padanya seolah mengatakan bahwa semuanya terserah pada keputusan Tania.
__ADS_1
"Ya, aku mau," jawab Tania dengan mata yang berbinar.
Flashback end