
Badannya yang semakin lemah dan demam yang dideritanya tak kunjung reda membuat Velicia enggan beranjak dari ranjangnya.
Diambilnya ponselnya dari meja yang ada di sebelah ranjangnya, kemudian dia mengirim pesan pada pihak sekolah untuk meminta ijin tidak mengajar hari ini.
Dia berniat untuk beristirahat sebentar dan setelah itu dia akan pergi untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Sayangnya harapannya untuk diantarkan suaminya periksa ke dokter hancur lah sudah. Suaminya itu seperti tidak mempedulikannya.
Air mata Velicia kembali menetes kala memikirkan hal itu. Kini dia seperti sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Dirinya sendirian di dunia ini.
Kedua orang tuanya sudah meninggalkannya saat dirinya masih sangat muda. Dan suaminya yang dulu menjadi sandarannya, kini seolah acuh padanya.
Perlahan mata Velicia terbuka. Beberapa jam dia sudah tertidur. Badannya masih saja demam dan lemah. Bahkan perutnya masih sangat terasa sakit.
Dia kembali berjalan tertatih. Sekuat tenaganya dia gunakan untuk bisa sampai menuju klinik yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
Tiba-tiba Velicia merasakan perutnya kembali terasa sakit. Dia berjalan dengan berpegangan pada tembok suatu bangunan yang dia lewati.
"Bukannya itu Ve?" ucap Raymond ketika melihat Velicia yang sedang memegang perutnya dengan ekspresi meringis.
Sekarang ini Raymond sedang berjalan di sekitar daerah tersebut untuk membeli makan siang. Tak sengaja dia malah melihat Velicia yang sedang kesakitan menepi di jalan dan bersandar pada suatu tembok.
Raymond berjalan cepat untuk bisa segera sampai di tempat Velicia berada. Dia semakin cemas ketika melihat Velicia kini berjongkok dengan kedua tangannya yang menahan perutnya.
"Ve! Kamu kenapa?" tanya Raymond ketika sudah berada di dekat Velicia yang sedang berjongkok dan meringis menahan sakitnya.
Velicia mendongak melihat ke atas. Bibirnya melengkung ke atas melihat wajah Raymond yang terlihat sangat khawatir padanya.
Wajah pucat Velicia membuat Raymond sangat khawatir. Senyuman manis yang diberikan oleh Velicia tidak bisa melunturkan kekhawatiran Raymond padanya.
Raymond pun berjongkok dan kedua tangannya memegang kedua bahu Velicia untuk membantunya berdiri.
"Ray," sapa Velicia dengan senyumnya yang terpancar pada wajah pucatnya.
"Kamu kenapa Ve? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Raymond yang masih dengan menunjukkan rasa khawatirnya melihat wajah Velicia yang pucat.
__ADS_1
"Aku lagi gak enak badan Ray. Aku mau ke klinik," jawab Velicia dengan menahan sakitnya.
"Biar aku antar kamu Ve," ucap Raymond dengan memegang kedua bahu Velicia untuk membantunya berjalan.
Raymond benar-benar membantu Velicia ke klinik. Mereka berjalan menuju klinik dengan Raymond yang membantu Velicia berjalan, memapahnya hingga sampai pada klinik yang dituju.
Mereka berdua benar-benar seperti sepasang suami istri. Perawat dan dokter yang berada di klinik mengira jika mereka adalah pasangan suami istri yang baru menikah.
Dan mereka berdua tidak mengelaknya. Velicia enggan menyahuti perkataan yang menurutnya tidak penting karena tubuhnya masih sangat lemah.
Sedangkan Raymond, dia tidak mengelaknya karena merasa sungkan pada Velicia yang diam saja seolah menyetujui apa yang orang-orang pikirkan tentang mereka berdua.
Dokter yang memeriksa keadaan Velicia menyarankannya agar Velicia tetap berada di klinik tersebut untuk menerima perawatan lebih lanjut karena penyakit maag dan asam lambung yang akut.
Namun, Velicia dengan tegas menolaknya. Dia meminta untuk berobat jalan saja agar bisa beristirahat di rumah.
Raymond yang terlihat sangat cemas tidak bisa memaksa Velicia untuk tetap berada di klinik tersebut. Ingin sekali dia memaksanya, sayangnya dia bukan siapa-siapa bagi Velicia. Hubungan mereka hanya sebatas teman saja sehingga dia tidak bisa memaksakan pendapatnya pada Velicia.
"Kamu yakin Ve?" tanya Raymond dengan menampakkan wajahnya penuh kekhawatiran.
Raymond menghela nafasnya. Dia sungguh tidak bisa menghentikan lagi keinginan Velicia yang menolak untuk melakukan rawat inap di klinik tersebut.
Hati Velicia sungguh tenang mendapatkan perhatian dari Raymond yang seharusnya diberikan oleh Ferdi, suaminya.
Kamu baik sekali Ray. Seharusnya Mas Ferdi yang melakukan ini semua padaku, membantuku dan memperhatikanku. Kenapa aku mendapatkan ini dari Raymond? Velicia berkata dalam hatinya dengan memandang Raymond yang sedang berjalan memapahnya di sebelahnya.
"Ve, apa kamu yakin bisa merawat dirimu sendiri? Kamu pasti butuh orang untuk merawatmu. Harusnya tadi kamu rawat inap saja di klinik agar kamu cepat sembuh," tutur Raymond yang terlihat sekali sangat mengkhawatirkannya.
Velicia tersenyum tipis. Dia sangat mengharapkan kalimat itu keluar dari mulut suaminya. Nyatanya semua itu hanya harapannya saja.
Raymond benar-benar nyata. Dia yang selalu mengkhawatirkannya dan selalu menolongnya. Bahkan semua tindakannya sangat manis jika hanya sebagai seorang teman saja.
"Terima kasih Ray kamu sudah mengantarku dan mengkhawatirkanku. Aku bisa kok merawat diriku sendiri," ucap Velicia sambil tersenyum tipis dengan wajahnya yang sangat pucat.
__ADS_1
Raymond memandang wajah Velicia dengan iba. Kekhawatiran Raymond tidak bisa dihilangkannya ketika melihat wajah Velicia yang semakin memucat.
"Ve, berikan aku ponselmu," ucap Raymond sambil menengadahkan tangannya meminta ponsel Velicia.
Velicia mengernyitkan dahinya. Tapi tak urung dia juga memberikan ponselnya pada Raymond sambil bertanya,
"Buat apa?"
Raymond segera mengambil ponsel Velicia. Tanpa menjawab pertanyaan Velicia, dia mengutak-atik ponsel Velicia sebentar, kemudian menyerahkannya kembali padanya.
"Itu nomor HP ku. Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi saja aku. Siapa tau aku bisa membantumu," tutur Raymond sambil memberikan kembali ponsel tersebut pada Velicia.
Velicia kembali tersenyum dan mengangguk. Terlihat sedikit kebahagiaan tersirat pada wajah pucat Velicia.
"Terima kasih Ray atas semua bantuanmu. Maaf aku menyita waktu makan siangmu," ucap Velicia dengan menampakkan wajah menyesalnya.
"Tidak masalah Ve. Aku senang bisa membantumu. Karena kamu teman pertamaku yang membantuku saat pertama kali aku pindah di daerah ini," tukas Raymond sambil tersenyum manis pada Velicia.
Perjalanan menuju rumah Velicia terasa cepat. Mereka berdua berpisah tepat di depan rumah Velicia.
Entah apa yang ada di benak Velicia hingga dia tidak takut jika ada Ferdi atau orang yang mengenalnya mengetahuinya.
Dia hanya berpikir jika mereka benar-benar berteman dan saling menolong, sehingga tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dari orang lain.
Persetan dengan pikiran dari orang lain, yang terpenting adalah hidupnya yang tenang. Itulah prinsip kehidupan Velicia selama ini.
Setelah masuk ke dalam rumahnya, Velicia melihat bekas piring makan, gelas, dan cangkir kopi masih tergeletak di tempat cuci piring.
Velicia menghela nafasnya berat. Kemudian dia melihat ke arah sofa yang terdapat selimut dan bantal yang berantakan, belum dilipat oleh Ferdi setelah dia bangun tidur tadi.
Matanya beralih melihat bak pasir milik Lili yang belum diganti, serta makanan Lili yang bercecer di sekitar wadah makannya.
Velicia kembali menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Dalam hatinya dia mengomel pada suaminya yang sama sekali tidak pernah mau membantunya mengurusi rumah.
__ADS_1
Lebih parahnya lagi jika ibu mertuanya itu datang, dia yang pasti diomeli dan disindir habis-habisan olehnya.
"Tuhan… aku capek. Aku lelah berjuang sendiri. Apa aku bisa bersantai sebentar saja? Atau aku harus melepas semuanya?" ucap Velicia dengan air mata yang menetes pada wajah pucatnya.