
Setelah selesai makan Velicia segera mencuci piring dan gelas bekas makannya. Kemudian dia bergegas membersihkan meja makan dan peralatan dapur yang telah digunakannya.
Ferdi menatap heran dengan penampilan istrinya yang terkesan lebih santai dan lebih muda dari usianya.
"Aku berangkat dulu Mas," ucap Velicia sambil memakai tas ransel di punggungnya.
"Bunda pergi ke acara pindahan rumah teman Bunda menggunakan tas ransel? Kenapa tidak memakai tas kecil?" tanya Ferdi dengan tatapan heran melihat tas ransel yang akan dibawa Velicia pergi saat ini.
Sontak saja Velicia kaget, tapi dia berhasil menyembunyikannya. Dengan keras dia menutupi kegugupannya ketika dia menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Oh ini, iya Mas. Aku membawa baju ganti untuk jaga-jaga saja. Takut jika tiba-tiba turun hujan. Teman-temanku juga membawa baju ganti juga. Kita sudah sepakat dan janjian untuk membawanya."
"Sudah Mas, aku berangkat dulu," ucap Velicia yang terkesan terburu-buru meninggalkan rumahnya.
"Bunda, tunggu!" seru Ferdi sambil berjalan cepat menyusul Velicia yang akan membuka pintu rumahnya.
Velicia menoleh ke belakang dan sudah ada suaminya di sana. Kemudian dia berkata,
"Ada apa Mas?"
Ferdi mengarahkan tangan kanannya pada Velicia. Melihat istrinya tidak meresponnya dan hanya melihatnya sambil mengernyitkan dahinya, Ferdi pun berkata,
"Cium tangan dulu."
Velicia bernafas lega dan dia segera mencium punggung tangan suaminya. Kemudian dia kembali berpamitan padanya.
Ferdi menatap punggung istrinya itu dengan tatapan penuh kekhawatiran. Entah apa yang sedang dikhawatirkannya, dia pun belum terpikirkan.
"Cinta… Cinta sini… Ayo main sama Ayah," seru Ferdi sambil berjalan ke arah ruang televisi.
Meow… meow… meow…
Anak kucing berjenis persia berwarna abu-abu itu pun berjalan mendekati Ferdi yang menganggap dirinya sebagai ayah darinya.
Bermainlah Ferdi bersama dengan Cinta. Anak kucing itu bisa menemani harinya dan membuatnya tertawa, tapi tidak dengan kekosongan hatinya yang kini mulai terasa.
__ADS_1
"Kenapa hatiku merasa cemas? Apa yang terjadi?" ucap Ferdi sambil melihat awan yang terlihat dengan jelas melalui kaca jendela dari tempat duduknya kini berada.
Cinta menjilati pipi Ferdi ketika dia sedang menggendongnya sambil melamun melihat langit dan merasakan kecemasannya.
......................
Di suatu tempat hiburan, tepatnya di luar kota, Velicia dengan tawa bahagianya memasuki tempat hiburan.
"Kamu sudah datang," ucap Raymond dengan senyum bahagianya menyambut kedatangan Velicia.
Velicia membalas senyum Raymond sambil menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
Raymond tersenyum melihat semburat merah pada pipi wanita yang sedari tadi ditunggunya itu. Wanita yang kini sudah ada di depannya, dengan berstatus temannya dan berstatus istri dari pria lain.
Tangan Raymond terulur di depan Velicia, berniat meminta tangannya untuk bergandengan tangan dengannya.
Velicia pun menyambut uluran tangan Raymond sambil memberinya senyuman manisnya.
"Apa kamu sudah lama menungguku?" tanya Velicia sambil berjalan bergandengan tangan dengan Raymond.
Raymond menggelengkan kepalanya sambil menoleh ke arah Velicia yang ada di sebelahnya dan berkata,
Velicia tersenyum malu ketika Raymond menatapnya dan menggandeng tangannya. Raymond pun tersenyum melihat Velicia yang lagi-lagi tersenyum malu-malu padanya.
Mereka berdua berjalan bersama dengan bergandengan tangan menyusuri taman hiburan tersebut.
Satu-persatu wahana telah mereka mainkan. Rasa sedih, kesal dan tertekan karena masalah mereka pun seolah hilang sudah, sirna terkena hembusan angin kebahagiaan yang mereka alami saat ini.
Tawa bahagia tidak pernah lepas dari mereka berdua. Sepanjang hari mereka bersenang-senang dan tertawa bersama. Bahkan tangan mereka tidak pernah terlepas satu sama lain.
Entah mengapa aku nyaman bersamanya. Aku sadar jika ini tidak seharusnya ku lakukan dan tidak seharusnya terjadi. Tapi aku tidak bisa begitu saja menolaknya. Hati dan pikiranku selalu ada bersamanya. Rasa yang aku miliki saat ini berbeda dengan rasa yang aku miliki untuk suamiku, Velicia berkata dalam hatinya sambil menatap Raymond yang duduk di sampingnya dan tersenyum manis padanya.
Aku memang baru sebentar bertemu dengannya, tapi aku merasakan getaran yang berbeda dalam hatiku. Getaran itu membuatku bersemangat dalam menjalani hidupku, hari-hariku dan membuatku lupa akan masalah yang aku hadapi selama ini. Bahkan ketika aku bersamanya membuatku nyaman dan ingin selalu bersamanya. Rasa ini berbeda dengan yang aku rasakan pada istriku. Dan aku tahu jika aku salah, memilih perasaanku daripada mencoba mencintai istriku, Raymond berkata dalam hatinya sambil menatap Velicia dan tersenyum manis padanya.
Mereka berdua menikmati hari ini dengan sangat bahagia. Layaknya pasangan muda yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Bahkan gandengan tangan mereka tidak pernah terlepas sedetikpun. Hanya pada saat tertentu saja mereka melepasnya dan kembali bergandengan tangan seolah tidak ingin terpisahkan.
Tiba-tiba hujan turun dan mereka berdua berlari mencari tempat untuk berteduh. Banyak pengunjung yang juga berteduh di antara mereka.
"Ah, aku lupa. Sepertinya aku membawa payung di dalam tasku," ucap Velicia sambil membuka tasnya.
Kemudian dia mengambil sebuah payung berwarna merah muda sambil berkata,
"Nah, ini dia. Kenapa aku bisa lupa?"
Velicia terkekeh ketika menemukan payungnya dalam tas ransel miliknya. Raymond pun ikut terkekeh menanggapinya.
"Ray, sepertinya sudah sore. Sebaiknya kita pulang. Kita pakai ini saja sampai ke halte bus yang ada di depan," ucap Velicia sambil memperlihatkan payungnya pada Raymond.
Raymond melihat jam yang berada di tangan kanannya. Setelah itu, dia pun menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Velicia.
"Ya sudah, kita pakai payung ini saja untuk berdua," ucap Raymond seraya mengambil alih payung yang ada di tangan Velicia.
Mereka pun berjalan keluar dari taman hiburan tersebut dengan menggunakan payung milik Velicia dengan sepayung berdua.
Tangan Raymond merangkul pundak Velicia agar tubuh mereka saling merapat dan terhindar dari hujan sambil berkata,
"Agak merapat Ve. Jangan sampai kamu kehujanan. Aku gak mau kamu sakit nantinya."
Velicia tersenyum dan lebih merapatkan tubuhnya. Dia merasa nyaman berada sedekat itu dengan Raymond. Tanpa sadar tangan Velicia melingkar pada pinggang Raymond.
Tentu saja Raymond tidak menolaknya. Dia tersenyum bahagia karena merasa Velicia juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Sungguh suasana yang romantis mendukung mereka hari ini. Hujan yang turun membuat mereka berbagi payung dan lebih dekat lagi dari sebelumnya.
Tangan mereka masih saling merangkul hingga mereka sampai di halte bus yang ada di depan taman hiburan tersebut.
Tiba-tiba saja hujan bertambah deras hingga jalanan terasa tidak terlihat. Bus pun tidak juga datang selama beberapa saat mereka menunggu di sana.
Raymond melihat Velicia menyilangkan kedua tangannya pada bahunya sambil mengusap-usap lengannya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu kedinginan. Ke sini lah Ve, lebih mendekatlah agar kamu tidak basah dan kedinginan," ucap Raymond sambil menarik tubuh Velicia ke dalam pelukannya.
"Ve, aku ingin bersamamu."