
"Ve, kita makan siang yuk!"
Tiba-tiba Velicia dikagetkan oleh suara perempuan yang tidak asing di indera pendengarannya.
Velicia menoleh ke belakang dan dia tersenyum ketika melihat sosok Tania berdiri sambil tersenyum melihatnya.
"Tania?!" celetuk Velicia sambil tersenyum pada Tania.
"Bagaimana keadaanmu Ve? Apa sudah sembuh?" tanya Tania sambil berjalan lebih mendekat ke arah Velicia.
Velicia tersenyum mendengar pertanyaan yang diberikan Tania padanya. Kemudian dia berkata,
"Seperti yang kamu lihat sekarang Tan. Aku sudah lebih baik sekarang."
Tania melihat Velicia dari atas hingga ke bawah, kemudian dia memutar-mutarkan badan Velicia seolah meneliti semua anggota badan Velicia.
"Syukurlah kalau begitu Ve. Sekarang kita bisa makan siang bersama kan? Aku ingin makan siang bersamamu," ucap Tania sambil memegang kedua pundak Velicia.
Velicia tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Tania padanya.
"Ya udah, sekarang aja yuk. Kamu udah selesai kan?" ucap Tania sambil menarik tangan Velicia.
Velicia menghentikan langkah kaki Tania dengan menarik kembali tangan Tania yang sedang memegang tangan Velicia.
Tania menoleh pada Velicia karena kaget tangannya ditarik balik oleh Velicia. Kemudian Velicia berkata,
"Sebentar, aku pamit yang lain dulu ya."
Tania pun tersenyum serta menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Velicia.
Dia melepaskan tangan Velicia dan tetap berdiri di tempat tersebut untuk menunggu Velicia yang sedang berpamitan pada rekan-rekannya.
"Yuk kita berangkat Tan," ucap Velicia sambil berjalan mendekati Tania.
Dengan cepatnya Tania menyambar tangan Velicia dan melingkarkan tangannya pada lengan Velicia.
"Yuk Ve," ucap Tania dengan senyum cerianya.
__ADS_1
Mereka berjalan menyusuri trotoar yang biasanya mereka lewati. Seiring perjalanan, Tania bercerita tentang keluarganya.
"Kita makan di mana Tan?" tanya Velicia setelah Tania sudah selesai bercerita.
Tania tampak berpikir sambil melihat-lihat sekitar jalanan tersebut. Kemudian dia berkata,
"Kita makan di cafe yang waktu itu aja deh Ve. Aku gak tau lagi di mana tempat yang lebih nyaman."
"Apa kita coba makan di lain tempat saja?" tanya Velicia sambil terkekeh.
"Gak usah Ve. Lebih baik di sana saja. Aku sudah sangat lapar sekarang," jawab Tania sambil menarik tangan Velicia agar berjalan lebih cepat.
Velicia pun menuruti kemauan Tania. Mereka berjalan menuju cafe yang pernah mereka kunjungi kala makan siang waktu itu.
Sesampainya di cafe tersebut mereka menempati meja yang sama dengan waktu itu dan mereka memesan makanan pada waiter yang memberikan buku menu pada mereka.
Tania kembali bercerita tentang suaminya, tentang bagaimana mereka bisa menjadi suami istri.
Ada rasa kagum pada Tania dalam hati Velicia. Kagum karena kegigihannya mendapatkan laki-laki yang dicintainya.
Sekelebat bayangan wajah Raymond dan kejadian di pantai waktu itu terbayang di mata Velicia. Tak terbantahkan lagi, hatinya senang mengingatnya. Tapi dia sekuat tenaga untuk mengenyahkan rasa yang ditakutinya akan berkembang lebih jauh lagi.
Velicia tersenyum getir mendengarnya. Dia merasa sangat kecil di hadapan Tania saat ini. Dia merasa perbandingan mereka sangatlah jauh. Dan dia sangat sadar diri jika tidak akan pernah bisa sejajar dengan Tania meskipun mereka berteman dekat.
Mereka pulang dari cafe tersebut dengan berjalan kaki dan berpisah di pertigaan jalan yang memisahkan arah rumah mereka.
Sesampainya di rumah, seperti biasanya Velicia yang terlebih dahulu sampai. Velicia menghela nafasnya ketika membuka pintu rumahnya dan menemukan Lili sedang tergeletak di lantai.
"Lili!" seru Velicia sambil berlari ke arah Lili.
Velicia sangat panik mendapati Lili yang sedang melihat ke arahnya dengan tatapan kosong dan nafasnya sudah terengah-engah.
Segera diambilnya ponsel miliknya dari dalam tasnya. Kemudian dia menghubungi nomor ponsel suaminya.
"Mas, Lili… Lili…," ucap Velicia dengan panik dan dia tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena takut suaminya akan memarahinya.
Sontak saja Ferdi yang sedang makan bersama dengan anggota divisinya langsung berdiri dari tempat duduknya karena kaget mendengar nama Lili disebut oleh Velicia.
__ADS_1
Lili kenapa? tanya Ferdi sambil menampakkan wajah paniknya.
"Dia terbaring di lantai pada saat aku pulang. Dan dia sangat lemah sekarang," jawab Velicia dengan panik dan takut pada suaminya.
Kamu apakan dia? Apa kamu sengaja memberinya makanan atau minuman yang bisa membunuhnya? tanya Ferdi yang bersiap akan pergi dengan menjinjing tasnya.
Velicia sangat terkejut mendengar tuduhan dari suaminya. Dia merasa hatinya sangat sakit karena dituduh oleh suaminya.
"Iya benar. Aku sengaja memberinya sesuatu yang salah agar aku tidak lagi merawatnya. Puas?" ucap Velicia sambil menangis mendengar tuduhan dari suaminya.
Kamu… Sudahlah, cepat bawa dia ke klinik hewan. Aku akan ke sana sekarang juga, ucap Ferdi sambil berjalan cepat meninggalkan rekan-rekan kerjanya tanpa berpamitan pada mereka.
"Pak, Pak Ferdi, ini bagaimana bayarnya? Bukannya Bapak yang mentraktir kami karena membeli mobil baru," seru salah satu rekan kerja Ferdi ketika melihat Ferdi berjalan meninggalkan mereka.
Namun, Ferdi menulikan telinganya. Dia tetap saja berjalan keluar tempat makan tersebut meninggalkan rekan-rekannya yang masih makan di sana.
"Sudah, biar aku saja yang bayar," sahut Lani sambil menatap nanar punggung Ferdi yang berjalan meninggalkan mereka.
"Kamu baik sekali Lan. Apa kamu menyukai. Pak Ferdi sampai mau menggantikannya untuk membayar semua ini?" tanya salah satu dari mereka.
Lani menoleh ke arah orang yang bertanya padanya, dia menatap kesal padanya sambil berkata,
"Apa hubungannya denganmu? Apa aku biarkan saja kalian membayar sendiri-sendiri makanan yang kalian makan?"
Seketika yang lainnya memukul badan orang tersebut dan melempar gulungan tisu pada orang tersebut. Merasa sudah membuat kesal semua rekannya yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal, kemudian dia berkata,
"Bukannya begitu, aku hanya bercanda saja kok."
"Lagian besok juga pasti akan diganti sama Pak Ferdi," sahut Lani dengan kesal.
"Pasti. Mintalah padanya, tagih terus kalau belum diganti uangnya sama Pak Ferdi. Kamu masih magang di tempat kita, jangan sampai kamu tekor gara-gara menggantikan Pak Ferdi untuk membayar semua ini," ucap orang tersebut kembali.
Lani bersungut kesal mendengar ucapan orang tersebut. Meskipun orang tersebut lebih senior dari dirinya, dia tetap saja kesal padanya.
Dia tidak tau aja kalau keluargaku kaya. Meskipun aku hanya anak kos-kosan saja, aku mampu membelikan kalian makan seperti ini setiap hari, Lani berkata dalam hatinya.
Velicia segera membawa Lili keluar dari rumahnya dengan menggendongnya dan berlari kecil menuju klinik hewan yang tidak terlalu jauh dan tidak juga terlalu dekat dari rumahnya.
__ADS_1
"Tolong, tolong selamatkan kucing saya?"