
Ferdi menerima telepon dari Lani, pegawai magang yang satu divisi dengannya. Sontak saja dia menjadi cemas karena Lani mengatakan bahwa dia sekarang sedang kecelakaan dan meminta tolong padanya.
Seingat dia Lani sedang sakit saat ini. Hari ini pun dia tidak masuk bekerja karena sedang sakit. Dan kini dia memberi kabar padanya jika dia kecelakaan dalam perjalanan ke rumah sakit.
Cemas, tentu saja dia mencemaskan keadaan Lani. Karena dia sebatang kara di kota ini dan keluarganya ada di kota lain.
Kini Ferdi dihadapkan dengan dua pilihan. Pergi menolong Lani atau kembali ke kamar inap istrinya yang sedang menunggu minuman darinya.
Setelah berpikir beberapa saat, Ferdi memutuskan untuk pergi membantu Lani. Dengan kantong plastik yang berisikan mineral water berukuran botol besar, Ferdi segera berlari menuju tempat yang alamatnya dikirimkan oleh Lani melalui pesannya.
"Ke mana ya Mas Ferdi, kok gak datang-datang? Apa toko di sekitar sini tutup semua? Ah, lebih baik aku minum teh hangat ini dulu saja sambil menunggu minuman dari Mas Ferdi. Padahal aku sedang ingin minum air putih," ucap Velicia sambil meraih gelas yang berisikan teh hangat di atas meja di sebelah tempat tidurnya.
Tring!
Terdengar notifikasi pesan dari ponsel Velicia. Segera dilihatnya ponselnya itu untuk mengetahui siapa yang sudah mengirim pesan padanya.
"Siapa ya yang mengirim pesan? Apa mungkin Mas Ferdi?" ucap Velicia sambil tersenyum memikirkan Ferdi yang mengirimkan pesan padanya mengatakan untuk menunggunya sebentar karena masih dalam perjalanan menuju kamarnya.
Namun senyuman Velicia seketika lenyap karena yang mengirimkannya pesan padanya adalah Raymond, teman barunya yang sangat khawatir dan selalu baik padanya.
"Kamu memang baik Ray. Kamu selalu perhatian padaku," ucap Velicia sambil tersenyum getir.
Dia tidak kecewa menerima pesan dari Raymond, bahkan dia senang dan merasa sangat beruntung menerima perhatian yang sangat besar menurutnya.
Hanya saja dia kecewa karena bukan suaminya yang mengiriminya pesan setelah beberapa saat meninggalkannya untuk membeli minuman di sekitar klinik.
Velicia membalas pesan dari Raymond. Dan dia tidak lupa mengucapkan terima kasih untuk semua yang dilakukan oleh Raymond padanya dan berterima kasih karena telah mengkhawatirkannya.
Merasa lama menunggu Ferdi tak kunjung datang, Velicia mencoba menghubunginya.
Namun, teleponnya tak kunjung diangkat oleh Ferdi, hingga membuat Velicia semakin khawatir padanya.
"Kamu ke mana Mas? Apa kamu baik-baik saja?" Velicia bertanya-tanya dalam kesendiriannya.
Velicia sangat cemas. Dia khawatir jika terjadi sesuatu pada Ferdi, contohnya kecelakaan. Pikiran buruk itu selalu menghampirinya dan membuatnya sanagt cemas akan keadaan suaminya.
Hanya membeli minuman di sekitar Klinik tidak memerlukan waktu yang lama bukan? Itulah yang ada dalam pikiran Velicia.
__ADS_1
Ferdi dengan paniknya pergi menuju tempat kecelakaan Lani. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memikirkan istrinya yang sedang menunggunya, dia menuju tempat tersebut menggunakan taksi yang kebetulan sedang lewat pada saat dia mencari kendaraan untuk pergi ke tempat tersebut.
Ponselnya yang bergetar pun tak dirasanya. Pikirannya hanya tertuju pada Lani yang meminta tolong padanya.
Sungguh tidak waras pikiran Ferdi saat ini. Istrinya yang sedang sakit di klinik pun juga membutuhkannya. Tapi dengan dalih Lani yang lebih membutuhkannya, dia pergi untuk menolongnya.
Sesampainya di tempat kejadian kecelakaan, Ferdi segera mencari sosok Lani di antara banyaknya orang yang tampak sedang mengerubungi sesuatu.
Ferdi menembus kerumunan orang-orang tersebut untuk mencari sosok Lani.
"Lani!" seru Ferdi memanggil Lani ketika melihatnya duduk dengan siku dan lutut yang sedikit tergores terkena aspal jalanan.
Lani menoleh ke arah sumber suara yang dia yakini pemilik suara tersebut adalah Ferdi.
Lani tersenyum dan segera berjalan cepat menuju Ferdi.
Grep!
Lani memeluk Ferdi dengan erat sambil menangis. Sedangkan Ferdi yang tidak siap menerima pelukan Lani hanya diam saja, dia kaget dengan apa yang dilakukan Lani padanya.
Ferdi tidak mengira jika Lani akan memeluknya di hadapan orang banyak. Dia datang ke tempat itu hanya untuk menolongnya yang sedang terkena musibah dan sebagai orang yang dimintai tolong oleh Lani.
"Aku takut Pak," ucap Lani di sela isakan tangisnya.
"Sudah, sudah tidak apa-apa. Syukurlah kamu baik-baik saja. Apa lukamu sudah diobati?" ucap Ferdi sambil mengusap-usap punggung Lani menggunakan tangan kanannya dan tangan kirinya berada di pinggangnya.
Lani menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ferdi. Dia tetap menangis dalam pelukan Ferdi. Dan hal itu membuat Ferdi merasa tidak tega padanya.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja untuk memeriksa luka-lukamu dan sekalian memeriksakan penyakitmu tadi. Bukankah kamu tadi hendak periksa ke dokter bukan?" tanya Raymond sambil menatap lembut mata Lani setelah mengurai sedikit pelukannya.
Lani pun mengangguk dan tangan Ferdi mengusap bekas air mata yang ada di pipi Lani. Hal itu membuat Lani merasa senang. Dia tersenyum manis pada Ferdi dan memeluknya kembali karena perasaan senangnya itu.
Dengan segera Ferdi melepaskan pelukan Lani dan melihat sekitar dengan gugup. Dia sadar jika tidak sepantasnya dirinya berpelukan dengan perempuan lain selain Velicia, istrinya.
Lani tampak kecewa ketika pelukannya dilepaskan oleh Ferdi. Wajahnya berubah menjadi sedih dan tidak bersemangat.
"Lebih baik kamu segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya. Saya akan pulang sekarang," ucap Ferdi dengan memandang wajah Lani yang tampak sedang sedih.
__ADS_1
"Apa tidak bisa Bapak mengantarkan saya?" tanya Lani dengan harapan yang sangat tinggi agar Ferdi bisa mengantarkannya pergi ke rumah sakit.
"Maaf, saya sedang ditunggu oleh istri saya. Dia sedang dirawat di klinik," jawab Ferdi dengan tegas.
"Jadi istri Bapak juga sakit?" tanya Lani yang kaget mendengar jawaban dari Ferdi.
Ferdi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Lani.
"Dan Bapak langsung ke sini setelah menerima telepon dari saya?" tanya Lani kembali untuk meyakinkan apa yang dipikirkannya.
Ferdi kembali menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Lani padanya.
Mata Lani berbinar mendengar jawaban dari Ferdi. Dalam hatinya dia berkata,
Daebak, dia datang ke sini setelah aku telepon dan dia meninggalkan istrinya yang sedang sakit hanya karena telepon dariku. Kemajuan nih, mungkin saja Pak Ferdi sudah ada rasa padaku. Hanya saja mungkin dia belum menyadarinya. Ayo Lani, semangat… Sepertinya sebentar lagi Pak Ferdi akan mulai menyukaimu.
"Kalau begitu saya ikut Bapak saja. Lebih baik saya diperiksa di klinik tempat istri Bapak dirawat saja. Boleh kan Pak?" ucap Lani dengan sangat antusias.
Tanpa basa-basi Lani segera menarik tangan Ferdi masuk ke dalam taksi yang sudah ada di tempat itu.
Ferdi hendak duduk di kursi depan dekat sopir, tapi dengan segera Lani menarik tangannya dan membuka pintu belakang serta memaksa Ferdi masuk untuk duduk di kursi belakang bersamanya.
Di kursi belakang Ferdi dan Lani duduk berdampingan. Lani melirik kantong plastik yang sedari tadi dibawa oleh Ferdi ketika menemuinya. Kemudian dia berkata,
"Ehemmm… kering banget tenggorokanku. Pak, apa yang Bapak bawa di kantong plastik itu minuman?" tanya Lani sambil menunjuk kantong plastik hitam yang dibawa oleh Ferdi.
Ferdi melihat kantong plastiknya, kemudian dia berkata,
"Iya, ini minuman untuk istri saya."
"Boleh saya minum Pak. Tenggorokan saya kering sekali. Nanti minumannya akan saya ganti ketika kita sudah sampai. Pasti di sana banyak yang jual minuman," ucap Lani dengan menunjukkan wajahnya yang mengiba.
Merasa tidak tega pada Lani yang mengiba padanya, Ferdi memberikan minuman tersebut pada Lani.
"Ini, minumlah," ucap Ferdi sambil memberikan minuman tersebut pada Lani.
Di dalam kamar inapnya, Velicia tidak bisa tidur. Dia masih menunggu Ferdi.
__ADS_1
"Di mana kamu Mas? Aku menunggumu. Apa kamu baik-baik saja?"