
Di suatu ruangan, mereka berempat bertemu. Ferdi duduk di sebelah Velicia dan berhadapan dengan Tania yang duduk bersebelahan dengan Raymond. sangat terasa sekali ketegangan dalam ruangan tersebut.
“Aku harus melakukan ini agar aku bisa merasa tenang. Karena aku akan segera melahirkan,” ucap Tania dengan tegas.
“Silahkan jika ada yang mau ditambahkan dalam surat perjanjian ini,” ucap Tania kembali.
“Tidak. Tidak ada yang ingin ku tambahkan. Aku hanya ingin janji dan jaminan bahwa mereka tidak akan kembali bertemu lagi,” ucap Ferdi dengan tegas sambil menatap Tania yang ada di hadapannya.
“Bagaimana Ve, bisakah kamu berjanji di hadapan kami semua?” tanya Tania dengan tatapan mengintimidasinya.
“Mulai sekarang aku tidak akan menemui Raymond lagi. Maaf,” ucap Velicia sambil menundukkan kepalanya.
Raymond menatap sedih wanita yang ada di hadapannya. Dia cinta pertama dan terakhirnya, tapi kini mereka dipisahkan oleh takdir yang mempermainkan mereka.
“Ray, berjanjilah di hadapan kita semua,” ucap Tania sambil menatap tajam pada Raymond.
“Aku juga berjanji tidak akan menemuinya lagi. Maaf jika aku telah menyakiti semua orang. Tapi aku perlu mengatakan bahwa Velicia tidak bersalah,” ucap Raymond dengan menatap satu persatu semua orang yang ada di sana.
“Ray!”
Seketika Tania berseru pada Raymond karena masih membela Velicia meskipun di hadapannya dan banyak orang. Sedangkan Velicia menatap sedih pada pria yang dicintainya dan masih saja membelanya meskipun dirinya sendiri sedang dalam posisi terpojok saat ini. Dan Ferdi, dia menatap nanar Raymond yang terlihat sangat mencintai dan peduli pada Velicia.
“Baiklah, keduanya harus tandatangan di sini,” ucap pengacara yang menangani perjanjian tersebut, mencoba menghentikan Tania yang sudah terlihat emosi.
Raymond menandatangani berkas tersebut meskipun sangat lama untuk menempelkan penanya. Terlihat sekali jika dia enggan untuk menandatanganinya. Velicia melihatnya dan dia tahu jika Raymond sangat terpaksa menandatanganinya.
__ADS_1
Setelah Raymond membubuhkan tandatangannya pada berkas tersebut, Tania segera mengambil berkas tersebut dan penanya untuk diberikan pada Velicia.
Velicia mengambil pena tersebut, tapi sangat lama untuknya bisa membubuhkan tandatangannya pada berkas tersebut. Sama seperti Raymond, dia terlihat ragu-ragu dan enggan menandatanganinya.
“Setelah perjanjian ini kalian tandatangani, kalian tidak bisa melanggarnya. Jika kalian melanggar, kalian harus membayar denda lima belas miliar pada Ibu Tania,” ucap pengacara tersebut setelah berkas tersebut sudah ditandatangani oleh Raymond dan Velicia.
Kemudian mereka keluar dari ruangan tersebut secara bersamaan, dengan Tania dan Raymond yang berjalan bersebelahan dan keluar terlebih dahulu dari ruangan tersebut. Setelah itu Velicia dan Ferdi yang berjalan di belakang mereka.
Velicia berjalan dengan mendongakkan kepalanya seolah dia siap menghadapi kenyataan yang ada. Dalam hati dia menangis dan berkata,
Apa ini benar-benar cinta? Jika ini benar-benar cinta, kami berdua pasti bisa bersatu bagaimanapun caranya. Aku yakin ini hanya pelarian sesaat. Ini hanya perselingkuhan kotor yang telah kami lakukan dan membuat luka yang teramat dalam bagi kami.
Sesampainya di rumah, Velicia segera masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasanya dia menangis di dalam kamar mandi dengan kran air yang menyala untuk meredam suara tangisnya.
Di dalam kamar mandi itu dia menangis tersedu-sedu. Dibasuhnya wajahnya berkali-kali menggunakan air yang mengalir dari air kran yang masih menyala. Dia memperhatikan wajahnya pada cermin yang ada di hadapannya.
Seandainya aku tau akan sesakit ini, aku pasti tidak akan memulainya.
Raymond pun demikian. Di dalam ruang kerjanya, dia menangis ketika melihat foto Velicia yang diambilnya ketika berada di taman bermain bersama dengan anak-anak di sana.
Dia pun sama sakitnya. Dia merasa tidak pernah merasakan rasa sakit yang seperti sekarang ini sedang dirasakannya. Hingga membuat air mata seorang pria tidak henti-hentinya keluar dan suara tangisnya yang tersedu-sedu tidak bisa diredamnya. Sangat menyedihkan dan menyakitkan hati orang yang mendengarnya.
Raymond memegang dadanya yang terasa sangat sakit di dalamnya, hingga dia memukul-mukul dadanya, berharap rasa sakitnya bisa berkurang. Tapi hatinya semakin sakit dan suara tangisnya semakin menyayat hati.
Kini Raymond dan Velicia sama-sama merasakan rasa sakit dan tersiksa yang teramat sangat, hingga mereka berdua merasa ingin mati saja dan enyah dari dunia ini agar tidak lagi merasakan rasa sakit dari kehilangan cinta pertama dan terakhir mereka.
__ADS_1
Keesokan harinya, Ferdi berangkat kerja seperti biasanya. Dan Velicia berada di rumah dengan penampilan yang pucat, seperti orang yang tidak ada lagi harapan untuk hidup.
Tiba-tiba bel berbunyi dan dengan langkah santainya dia menuju luar rumahnya untuk membukakan pagar rumahnya.
“Silahkan masuk,” ucap Velicia dengan wajah datarnya, tanpa menunjukkan ekspresi apa pun pada orang yang bertamu di rumahnya.
Masuklah orang tersebut mengikuti Velicia yang berjalan masuk ke dalam rumahnya. Kemudian dia duduk di hadapan Velicia yang masih memandangnya tanpa ekspresi apa pun.
“Jam segini bukannya kamu harus ada di kantor? Ada perlu apa kamu kesini?” tanya Velicia lirih dan terlihat gelisah karena malu ditatap dengan intens oleh orang yang ada di hadapannya saat ini.
“Saya tau jika Pak Ferdi mengajukan permohonan untuk dipindah ke kantor cabang di kota lain,” ucap orang yang ada di hadapan Velicia.
Velicia hanya menghela nafasnya berat mendengar perkataan yang keluar dari mulut orang tersebut.
“Saya tidak akan berbelit-belit lagi. Saya menyukai Pak Ferdi. Bukan hanya sekedar menyukai, tapi saya mencintai Pak Ferdi jauh dari yang anda bayangkan. Karena saya sangat mencintainya,” orang tersebut menjeda perkataannya karena melihat reaksi Velicia yang tersenyum tipis mendengarnya.
“Apa anda tau betapa menderitanya Pak Ferdi akhir-akhir ini? Itu semua karena anda. Apa anda tau jika sangat menyakitkan untukku ketika melihat dia menderita? Saya tau jika anda tidak merencanakan perselingkuhan. Saya pun juga begitu. Saya tidak bisa begitu saja melepas Pak Ferdi. Saya tidak bisa melepas cinta saya pada suami anda,” ucap orang tersebut dengan menatap tajam pada Velicia.
Velicia kembali menghela nafasnya dan dia merasa pusing akan semua yang di hadapinya saat ini. Belum selesai luka hatinya mengering, kini datang seseorang yang mengaku sangat mencintai suaminya. Dengan wajah yang terlihat sangat kusut, dia berkata,
“Lalu aku harus bagaimana? Kamu ingin aku melakukan apa?”
“Tolong tinggalkan Pak Ferdi. Lepaskan dia. Jika perlu, campakkan dia. Anda mencintai pria lain dan seharusnya anda juga bersama dengan pria yang anda cintai,” ucap orang tersebut mengingatkan perasaan cinta Velicia pada Raymond.
Velicia kembali menangis merasakan kembali sakitnya luka dari cintanya di hadapan orang tersebut.
__ADS_1
“Aku mohon, tinggalkan suami anda.”