
Kini mereka ada dalam satu mobil dengan Ferdi yang mengemudikan mobil tersebut dan di sampingnya ada Lani yang sedang memangku Cinta dan mengusap-usap bulu halusnya agar Cinta tertidur di pangkuannya.
“Antarkan perempuan itu pulang terlebih dahulu. Ibu Akan menginap di rumah kalian,” ucap Bu Anisa dengan ketus dan menatap tidak suka pada punggung Lani yang duduk di depannya.
Ferdi menghela nafasnya kesal. Dia sebenarnya ingin berdua dengan istrinya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tapi kini hanya menjadi keinginannya saja, karena Ferdi yakin jika ibunya berada di rumah mereka, semua rencana Ferdi akan berantakan.
“Rumah Lani searah dengan rumah Ibu. Sekalian saja Ferdi antar Ibu pulang,” ucap Ferdi sambil fokus pada kemudinya.
“Kamu mengusir Ibu?” tanya Bu Anisa dengan suara yang meninggi.
Velicia hanya diam saja mendengarkan perdebatan ibu dan anaknya. Dia merasa malas dan tidak berkewajiban menengahi perdebatan ibu dan anak yang sedang meributkan selingkuhan anaknya.
Sedangkan Lani, dia hanya diam mendengarkan Bu Anisa dan Ferdi dengan memanjakan Cinta yang ada di pangkuannya. Lani tahu posisinya saat ini sehingga dia bisa
melihat dengan jelas Bu Anisa yang tidak menyukainya.
Namun Lani tetaplah Lani. Dia gadis yang ceria dan pantang menyerah sehingga apapun yang dilakukan orang lain untuk menghalangi keinginannya pasti tidak akan
mempengaruhinya untuk bisa tetap melakukan sesuai dengan yang diinginkannya.
“Tidak Bu. Lebih baik besok saja Ibu datang lagi ke rumah. Biarkan malam ini aku dan Velicia bersama,” sahut Ferdi menanggapi kekesalan Ibunya.
Hati Lani seolah digores benda tajam mendengarkan Ferdi yang ingin berdua saja bersama dengan istrinya.
Memang sih aku bukan siapa-siapanya Pak Ferdi, aku hanya rekan kerjanya saja. Tapi aku juga ingin merasakan selalu ada di dekat Pak Ferdi, Lani berkata dalam hatinya.
Dia tahu posisinya yang tidak seharusnya berada di antara Ferdi dan Velicia. Hanya saja
perasaan sukanya pada Ferdi tidak bisa dihilangkannya begitu saja.
Awalnya dia merasa kagum pada Ferdi karena Ferdi merupakan sosok atasan yang bertanggung jawab dan menurutnya mempunyai kharisma tersendiri.
Lambat laun rasa kagum itu berubah menjadi rasa suka ketika Ferdi menolongnya saat dia disalahkan oleh rekan kerjanya karena kecerobohannya dalam bekerja.
Kini lama kelamaan rasa suka itu berubah menjadi rasa cinta yang selalu merasakan rindu padanya dan ingin selalu berada di dekatnya.
__ADS_1
“Tidak. Ibu akan tetap menginap di rumah kalian meskipun kamu melarangnya,” Bu Anisa masih saja tetap dengan pendiriannya.
Tiba-tiba Ferdi menghentikan mobilnya. Ternyata mereka sudah sampai di depan tempat kos Lani.
“Turunlah. Letakkan saja Cinta di situ,” tukas Ferdi sambil menunjuk kursi yang diduduki oleh Lani agar Lani meletakkan Cinta di sana.
Lani menatap Ferdi dengan raut wajah sedih. Dengan berat hati dia meletakkan Cinta pada kursi yang didudukinya untuk menggantikannya duduk di sana.
Dengan segera mobil Ferdi meninggalkan tempat itu setelah Lani turun dari mobilnya. Dia mengarahkan mobilnya menuju rumah ibunya. Tampaknya Ferdi benar-benar ingin ibunya pulang agar tidak menginap di rumahnya.
Lani menatap nanar mobil Ferdi yang sudah meninggalkan tempat itu dan sudah tidak terlihat lagi,.ditelan oleh gelapnya malam. Kemudian dia memandang tempat kosnya sambal menghela nafasnya sebelum membuka pagar tempat itu.
Sampai kapan aku harus tinggal di tempat ini? Aku kesepian dan aku ingin menikah serta mempunyai suami seperti Pak Ferdi, Lani berkata dalam hatinya sambil menatap
bangunan yang telah menjadi tempat tinggalnya selama ini.
“Sudah sampai. Turunlah Bu,” ucap Ferdi setelah menghentikan mobilnya tepat di depan rumah ibunya.
Bu Anisa menatap tajam ke arah putranya yang melihatnya dari kaca spion yang ada di
seolah tidak ingin turun dari mobil tersebut.
“Ayolah Bu… turunlah. Ibu harus pulang untuk merawat anak-anak kos itu,” Ferdi mencoba
membujuk ibunya.
“Kenapa Ibu harus merawat mereka? Putra Ibu saja selalu melawan pada Ibu. Dan Ibu ingin tahu apa tujuanmu melakukan hal itu. Apa kamu benar-benar tidak mau memiliki
keturunan? Apa kamu lebih tertarik menjadi Ayah dari seekor kucing?” ucap Bu Anisa dengan kesal.
Seketika badan Ferdi menegang. Dia tidak mengira jika ibunya sudah mengetahui tentang apa yang dilakukannnya agar istrinya tidak bisa hamil.
“Dan apa karena perempuan itu anak kos-kosan jadi kamu prihatin padanya? Ingat Ferdi, Ibu tidak akan memaafkan perselingkuhan dengan didasari alasan apapun,” ucap Bu Anisa kembali dengan tatapan tajamnya pada Ferdi melalui kaca spion yang ada di tengah.
“Kita akan membicarakan itu besok Bu. Sekarang Ibu pulang saja,” ucap Ferdi tanpa menghadap ke belakang, di mana ibunya berada.
__ADS_1
“Tidak,” ucap Bu Anisa singkat, menolak permintaan putranya.
“Jangan seperti anak kecil Bu. Kita sudah sampai di depan rumah Ibu. Jadi, Ferdi mohon Ibu segera turun karena hari sudah sangat larut. Kasihan Velicia yang baru saja sampai dari luar kota,” ucap Ferdi untuk mengusir ibunya.
Seketika Velicia menatap suaminya dengan sinis melalui kaca spion yang ada di tengah. Kemudian dia berkata,
“Kenapa aku yang dijadikan alasan?”
Glek!
Ferdi menelan ludahnya melihat tatapan kebencian istrinya dari kaca spion yang berada di tengah. Dia merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengkondisikan mulutnya.
Bu Anisa semakin kesal pada putranya. Dia menatap putranya itu lebih tajam lagi penuh dengan kemarahan.
Merasa dirinya terancam oleh kemarahan ibu dan istrinya, dengan segera Ferdi turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil ibunya.
“Ferdi mohon Bu… Turunlah sekarang dan kita akan bicara lagi besok,” ucap Ferdi dengan raut wajah memohon.
Mulut Bu Anisa terbuka, dia akan menolak kembali permintaan putranya. Hanya saja
Velicia yang merasa risih dan semakin pusing dengan perdebatan ibu dan anak itu, dia segera mengambil tindakan.
“Ibu pulang saja sekarang. Besok kita bicara lagi ya Bu. Ve tidak mengusir Ibu, Ve hanya
tidak suka jika Mas Ferdi dan Ibu ribut seperti ini. Besok kita bicara lagi jika suasana hati Ibu dan Mas Ferdi sudah tenang,” ucap Velicia dengan lembut dan menatap Bu Anisa dengan tatapan memohon.
Bu Anisa tidak tega melihat tatapan mata Velicia yang seperti memohon padanya. Dia tersenyum pada menantunya itu dan segera keluar dari mobil tersebut tanpa berbicara apapun pada putranya.
Setelah itu Ferdi masuk ke dalam mobilnya dan duduk Kembali di kursi pengemudi. Dia menoleh ke belakang untuk meminta istrinya duduk di sebelahnya.
“Bunda, duduklah di kursi depan. Kasihan Cinta tidak ada yang memangku,” ucap Ferdi yang diacuhkan oleh Velicia.
Masih tidak menyerah, Ferdi Kembali membujuk istrinya itu dengan berkata,
“Bunda, masa’ Bunda tega melihat Ayah menjadi seperti sopir begini jika Bunda duduk di kursi belakang.”
__ADS_1
Velicia menulikan pendengarannya, dia memejamkan matanya seolah dia tertidur dan tidak mendengarkan apapun.