
Di rumah, Velicia menangis tersedu-sedu di kamarnya. Bahkan semua lampu ruangan yang ada di dalam rumah tidak dinyalakannya. Dia mengingat kembali kejadian yang sangat memalukan itu.
Dipegangnya pipinya yang sempat di tampar oleh Tania. Kemudian dia memegang rambutnya yang dijambak oleh Tania dan lengannya yang terkena pukulan Tania dengan menggunakan tongkat penyangganya.
Dia kembali menangis karena masih merasakan sakitnya tamparan, jambakan dan pukulan yang diberikan oleh Tania padanya. Semuanya masih bisa dirasakannya dengan sangat nyata.
Tangisannya kini menyayat hati. Dia tidak mengira jika sisi liar dari dirinya yang keluar, membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Sehingga menerima perlakuan buruk dari orang lain.
Dulu, sebelum dia memutuskan untuk berhubungan dengan Raymond, dia sudah tahu akan konsekuensi dari perbuatannya. Tapi, kini ketika saat itu tiba, dia merasa sangat menderita karenanya.
Saat ini rasa haus dan lapar pun tidak dirasanya. Semuanya begitu cepat terjadi. Perpisahan yang diinginkan Raymond karena tidak mau membuatnya menderita, kini sudah terjadi. Bahkan sebelum perpisahan itu terjadi, dia kini sudah mendapatkan cemoohan dari banyak orang.
Segera dihapusnya air matanya itu. Dia sadar jika air matanya tidak bisa membuat keadaan kembali membaik. Sayangnya air matanya kembali menetes ketika dia mengingat kembali wajah Raymond yang juga sedih, sama seperti dirinya. Wajah pria yang dicintainya itu terlihat begitu sedih seolah tidak rela untuk berpisah dengannya.
Ada apa dengan cinta kami berdua? Apa salah jika kami saling mencintai? Apa aku salah jatuh cinta? Atau mungkin kami berdua yang salah jatuh cinta? Velicia berkata dalam hatinya.
Lama dia termenung meratapi nasibnya. Rumah tangga yang awalnya sangat indah dan membuatnya sangat bahagia, seketika menjadi neraka baginya. Kini dia mendapatkan cintanya yang tidak pernah dirasakannya bersama suaminya. Tapi cinta mereka dihakimi banyak orang. Bahkan semua orang berlaku seperti orang tua mereka berdua yang tidak menyetujui hubungan kasih mereka.
Suara deru mobil yang masuk ke dalam halaman rumahnya menyadarkan Velicia dari lamunannya. Segera diusapnya air matanya dan dia berpura-pura tertidur tanpa mengganti bajunya. Bahkan tasnya masih ada di sampingnya.
Ferdi kaget melihat rumahnya dari luar yang masih gelap, seolah tidak berpenghuni. Wajahnya kembali terlihat kesal memikirkan istrinya yang masih berada di luar rumah dengan pria lainnya yang tidak lain adalah Raymond.
__ADS_1
Masuklah dia dengan emosi yang masih bersemayam dalam dadanya. Dinyalakannya satu persatu semua lampu ruangan yang ada dalam rumahnya.
Tiba-tiba matanya membelalak ketika dia membuka pintu kamarnya dan melihat istrinya terbaring di ranjang tanpa mengganti bajunya dan meletakkan kembali tasnya, seolah dia tidak sengaja tertidur di sana.
Dia menghela nafasnya lega karena mendapati istrinya berada di rumah, tidak seperti yang dibayangkannya tadi sebelum dia memasuki rumahnya. Ditutupnya kembali pintu kamar tersebut tanpa menyapa ataupun membangunkan istrinya.
Velicia melihat ke arah pintu ketika mendengar suara pintu ditutup. Dia memandang pintu tersebut dengan tatapan sedih. Bahkan tanpa disadarinya, air matanya menetes kembali. Dia merasa bersalah pada pernikahannya.
Pernikahan yang disetujuinya ketika suaminya melamarnya, tidak seperti yang dibayangkannya waktu itu. Semuanya terasa berbeda. Bahkan perasaannya pun sudah berbeda. Dulu Ferdi lah pria yang dibanggakannya, tapi sekarang semua rasa itu hilang seiring waktu dan kehidupan yang dijalaninya bersamanya.
Haruskah aku menjalani kehidupan yang sama seperti selama ini, seolah-olah tidak ada yang terjadi? Jika benar harus seperti itu, aku harap aku cepat mati agar aku tidak merasakan semua ini. Perasaan yang menyiksaku dan rasa malu pada semua orang yang memandang rendah padaku, Velicia berkata dalam hatinya diiringi air matanya yang tidak hentinya menetes di pipinya.
Matanya terpejam menyelami apa yang terjadi saat ini. Hatinya terasa sangat sakit mengetahui miliknya telah dimiliki orang lain. Bahkan dirinya saat ini bisa dikatakan sudah kalah karena tidak memiliki hati istrinya. Hanya tubuhnya saja yang ada di rumah bersamanya.
Malam ini, mereka berdua kembali tidur terpisah. Dan tidak ada makan malam bersama meskipun perut mereka sama-sama belum terisi.
Velicia tidak bisa tidur, dia hanya bisa merenung dan meratapi semua yang tejadi. Dia ingin bahagia meskipun rasanya seperti menghadapi kematian setiap harinya. Hukuman karena perselingkuhan seperti berada di dalam neraka baginya.
Aku dan dia mendapatkan surga pada awalnya dan pada akhirnya aku dan dia merasakan seperti hidup di neraka setiap harinya. Tersiksa karena perasaan cinta kami yang tidak bisa bersatu dan tersiksa karena hubungan kami yang berakhir bukan karena keinginan kami.
Velicia berkata dalam hatinya sambil menangis tergugu dengan tangan kanan yang mencengkeram baju di dadanya karena rasa sakit yang tak tertahankan di dalam dadanya. Serta tangan kirinya yang menutup bibirnya agar suara tangisnya tidak keluar dan tidak bisa terdengar oleh suaminya.
__ADS_1
Keesokan paginya Velicia terbangun dari tidurnya. Ternyata semalam dia tanpa sengaja tertidur sambil menangisi apa yang terjadi. Segera dia bangun dan membersihkan badannya. Dia berharap agar matanya tidak membengkak karena terlalu lama menangis hingga dia tertidur.
Setelah dia berpakaian rapi, kini dia keluar dari kamarnya untuk memasak sarapan seperti biasanya. Masih dengan suasana hati yang tidak nyaman, dia mencoba bersikap seperti biasanya. Tidak ada pilihan lain untuknya saat ini. Dia harus kembali menjadi Velicia yang tidak memiliki hati untuk siapa pun. Meskipun dalam hatinya masih terukir dengan indah nama Raymond di sana.
Ferdi yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di luar kamarnya merasa heran melihat istrinya yang sudah berpakaian rapi di hari liburnya.
“Bunda mau ke mana?” tanya Ferdi sambil mengusap rambutnya menggunakan handuk kecil yang berwarna putih.
Velicia menghentikan kegiatannya yang sedang memasak nasi goreng dan menoleh ke arah Ferdi. Kemudian dia menjawab,
“Mau ke sekolahan.”
Ferdi mengernyitkan dahinya sambil menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya pada istrinya sambil berkata,
“Bukannya sekarang sedang libur?”
“Hari ini mulai pendaftaran murid baru. Kalau tidak percaya, datang saja ke sana. Untuk melihat aku berbohong atau tidak,” jawab Velicia dengan wajah datarnya.
Kemudian dia kembali meneruskan kegiatan memasaknya tanpa menghiraukan tatapan Ferdi yang terlihat tidak percaya padanya. Dia kini tidak peduli dengan pandangan orang lain. Dia hanya menjalani hidupnya bagaikan seorang robot yang tidak peduli dengan apa pun dan tidak memiliki rasa apa pun.
Setelah itu Ferdi masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian kerjanya yang sudah disiapkan oleh istrinya. Sungguh Ferdi merasa tidak nyaman dengan keadaan mereka saat ini. Dia juga tidak bisa mengubah apa yang terjadi. Kini mereka hanya bisa menjalani kehidupan mereka mengikuti alur kehidupan yang ada.
__ADS_1