
Selama Velicia mengajar, Tania masih memperhatikannya. Hingga saatnya jam pulang anak-anak pun tiba.
Tania berjalan mendekati Velicia yang sedang merapikan mejanya. Kemudian dia berkata,
"Ve, kita makan siang yuk."
Velicia menoleh ke arah Tania yang sudah berada di depannya. Kemudian dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Jam pulang ku masih lama. Apa lain kali saja kita janjian makan siang bersama?" ucap Velicia sambil menatap wajah Tania.
Tania melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,
"Aku tunggu kamu aja deh Ve. Lagian aku gak ngapa-ngapain di rumah. Dan suamiku juga sedang bekerja. Mending aku di sini aja sama kamu."
Velicia tersenyum mendengar perkataan dari Tania. Dia merasa mereka merasakan hal yang sama.
"Tapi mungkin kurang dua sampai tiga jam lagi loh Tan. Dan paling cepat sih satu jam mungkin," ucap Velicia dengan senyum yang menyatakan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa Ve. Aku betah di sini. Aku akan tunggu kamu di luar aja ya," sahut Tania sambil tersenyum pada Velicia.
Velicia pun tidak bisa menolak. Dia merasa iba melihat Tania yang sepertinya tidak memiliki teman di daerah itu.
"Silahkan. Akan aku usahakan lebih cepat. Dan aku akan meminta ijin untuk pulang lebih cepat hari ini. Tapi aku tidak bisa janji, aku hanya bisa mengusahakannya saja," tutur Velicia sambil tersenyum lebar pada Tania.
"Oke Ve. Aku mengerti. Aku akan tunggu kamu di depan tanpa mengeluh," sahut Tania sambil terkekeh.
Tania berjalan-jalan disekitar sekolah TK tersebut. Kemudian dia melihat-lihat permainan anak-anak yang ada di luar. Dia tersenyum dan teringat sesuatu.
"Permisi," ucap Tania di depan pintu ruang guru yang terdapat Velicia dan teman-temannya sedang berbincang untuk berdiskusi sambil mempersiapkan pelajaran untuk anak didik mereka esok hari.
Semua guru menoleh ke arah pintu yang sudah ada Tania di depannya.
Velicia mengernyitkan dahinya melihat wajah sumringah dari Tania. Kemudian dia berkata,
"Ada apa Tan? Apa kamu akan pulang sekarang?"
"Tidak Ve, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Emmm… apa boleh saya menyumbang playground di sini?" ucap Tania dengan mata yang berbinar.
Sontak saja Velicia menoleh pada teman-temannya. Dan mereka pun saling menoleh untuk mencari jawaban di antara mereka semua.
"Mmmm… aku rasa sebaiknya kita tanyakan pada kepala sekolahnya dulu Tan. Kita tidak berhak memutuskan sesuatu tanpa memberitahu pihak kepala sekolahnya terlebih dahulu," tukas Velicia dengan nada sungkan pada Tania.
"Tidak apa-apa Ve. Aku tunggu kabarnya. Dan aku harap kabar itu adalah kabar baik," ucap Tania sambil terkekeh.
Velicia pun ikut tertawa mendengar perkataan Tania. Bahkan teman-teman Velicia pun ikut tertawa mendengarnya.
"Ve, lebih baik kamu pulang saja duluan. Kasihan temanmu sudah menunggu lama. Lagipula pekerjaanmu sudah selesai bukan?" ucap Vira sambil memandang Velicia.
__ADS_1
"Iya Ve, kamu duluan saja. Sebentar lagi juga kami akan pulang," sahut Rani mendukung perkataan Vira.
Velicia menoleh ke temannya yang lain dan mereka pun mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vira dan Rani.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang," ucap Velicia sambil tersenyum pada teman-temannya.
Velicia menarik tangan Tania, mengajaknya berjalan bersamanya.
"Yuk Tan, kita pulang sekarang," ucap Velicia dengan hati riang.
Entah mengapa Velicia merasa senang berbicara dengan Tania. Begitupula dengan Tania, dia merasa sangat nyaman berbicara dengan Velicia.
"Kita makan di mana Ve?" tanya Tania yang berjalan berdampingan dengan Velicia.
"Emmm… di mana ya?" ucap Velicia sambil berpikir.
Velicia hendak menyarankan tempat makan kesukaannya bersama dengan suaminya, yaitu tempat makan yang menyajikan masakan rumahan.
Namun, dia teringat dengan jelas tentang suaminya yang sedang makan bersama dengan Lani sehingga membuat pikiran Velicia kalut karena melihat perselingkuhan suaminya tepat di depan matanya sendiri.
"Di mana Ve?" tanya Tania seolah menunggu jawaban dari Velicia.
Mereka masih berjalan bersama menyusuri trotoar di sepanjang jalan tersebut. Sambil memikirkan tempat makan siang mereka, Velicia melihat ke sekitar jalan yang mereka lewati.
"Tania, apa ada makanan yang kamu ingin makan sekarang? Aku bingung menentukan apa yang akan kita makan nanti," tanya Velicia sambil terkekeh.
Velicia mengikuti arah telunjuk Tania. Dia menganggukkan kepalanya menyetujui ide Tania untuk makan siang di cafe tersebut.
Mereka lebih memilih berada di luar cafe yang berada di sekitar taman dengan payung besar di atasnya.
"Ve, aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Tania sambil beranjak dari duduknya.
"Oke, kamu lewat situ, terus lurus aja, ada tulisan toilet nanti di sana" tutur Velicia sambil menunjuk arah toilet.
"Oke, aku tinggal ke toilet dulu ya Ve," ucap Tania sebelum di berjalan menuju arah toilet.
Velicia mengutak-atik ponselnya selagi menunggu makanannya datang dan juga menunggu Tania yang belum kembali dari toilet.
Velicia tersenyum getir melihat layar ponselnya sambil berkata,
"Apa yang kamu harapkan Ve? Suamimu menelepon atau mengirim pesan untukmu? Jangan harap Ve. Jangan mengharapkan hal yang tidak mungkin."
"Ve?!"
Tiba-tiba terdengar suara yang berhasil mengagetkannya.
Velicia menoleh ke kanan dan ke kiri hingga menoleh ke belakang untuk mencari orang yang memanggilnya.
__ADS_1
"Raymond!" celetuk Velicia sambil tersenyum manis melihat Raymond yang kini sedang berjalan mendekatinya.
"Apa kabar Ve? Bagaimana keadaanmu?" tanya Raymond sambil tersenyum manis pada Velicia.
"Sudah lebih baik Ray. Berkat kamu," jawab Velicia sambil tersenyum lebar.
"Apa kamu benar-benar sudah sembuh Ve? Aku takut kamu berjalan tertatih-tatih seperti waktu itu," ucap Raymond dengan nada khawatirnya.
Velicia tersenyum melihat kekhawatiran Raymond padanya. Dia sangat merasa bersyukur memiliki Raymond yang ada pada saat dia sedang membutuhkan pertolongan.
"Memang belum sembuh betul Ray, tapi setidaknya keadaanku saat ini sudah lebih baik. Dan… aku sudah tidak berjalan seperti nenek-nenek lagi Ray. Tenang saja," tutur Velicia sambil terkekeh di akhir perkataannya.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi jika ada apa-apa, kamu harus memberitahukan padaku Ve. Aku siap membantumu," ucap Raymond dengan senyuman manisnya.
Velicia pun menyambut senyuman manis Raymond. Dia membalas senyuman manis Raymond itu dengan senyuman manisnya yang tidak kalah dengan senyuman Raymond.
"Akan aku ingat itu selalu Ray. Dan jangan harap kamu bisa ingkari janjimu itu," ucap Velicia sambil terkekeh.
"Baiklah Ve. Aku berjanji dan tidak akan aku ingkari," sahut Raymond sambil terkekeh.
"Oh iya, kamu dengan siapa Ve? Apa perlu aku mengantarmu pulang? Mumpung aku masih ada jam istirahat sekarang," tanya Raymond dengan nada serius.
"Terima kasih Ray. Tidak usah repot-repot. Aku sedang bersama temanku. Tadi kami baru pulang dari bekerja dan mampir ke sini untuk makan siang," jawab Velicia sambil memberikan kembali senyuman manisnya.
"Perempuan atau laki-laki?" tanya Raymond menyelidik.
"Perempuan Ray. Kenapa? Apa kamu cemburu?" tanya Velicia sambil terkekeh, dengan niatan untuk bercanda dengan Raymond.
"Ah kamu ini Ve. Aku bertanya serius loh. Aku ingin memastikan kamu pulang dengan aman," ucap Raymond dengan serius menatap Velicia.
"Terima kasih Ray. Lain kali aku pasti akan mentraktirmu sebagai ucapan terima kasihku padamu," tutur Velicia dengan lembut dan senyumnya yang mampu membuat Raymond terpanah.
Raymond tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, setelah itu dia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,
"Aku duluan ya Ve. Jam istirahatku sebentar lagi akan selesai."
Velicia pun mengangguk dan dia melambaikan tangannya pada Raymond serta berkata,
"Hati-hati."
Raymond menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya pada Velicia seraya berkata,
"Ingat Ve, kalau ada apa-apa hubungi aku."
Setelah melihat anggukan kepala dari Velicia, Raymond segera berjalan meninggalkan cafe tersebut.
Velicia masih saja memandangnya meskipun punggung Raymond sudah tidak terlihat.
__ADS_1
"Siapa Ve? Apa dia temanmu?"