Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 14 Mandul?


__ADS_3

Sedikit demi sedikit bubur yang masih hangat itu masuk ke dalam perutnya. Perih, mual dan rasa tidak nyaman dirasakannya ketika makanan itu berhasil masuk ke dalam perutnya.


Bagaimanapun bubur ini harus habis. Aku sudah berjanji pada Raymond untuk memakannya. Dan juga aku harus sembuh. Aku gak boleh tumbang seperti ini. Aku harus kuat untuk diriku sendiri agar tidak mudah diinjak-injak oleh orang lain, Velicia berkata dalam hatinya sambil meringis merasakan perutnya yang sakit ketika makanan sampai di dalam perutnya.


Lama sekali Velicia menghabiskan makanan tersebut. Setelah itu dia kembali meminum obatnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.


Hari ini akan aku nikmati untuk bermalas-malasan dan beristirahat dengan tenang, Velicia berkata dalam hatinya sambil memejamkan matanya.


Entah beberapa jam Velicia kembali tertidur hingga langit di luar sudah menjadi gelap. Rumah Velicia menjadi gelap tanpa ada cahaya lampu yang dinyalakannya.


"Bunda… Bunda… Bundanya Lili," seru Ferdi sambil masuk ke dalam rumah.


"Gelap sekali. Apa benar Velicia ada di rumah?" tanya seorang wanita yang berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti Ferdi.


Ferdi menyalakan semua lampu setiap ruangan. Kemudian dia meletakkan tas kerjanya di sofa dan melepas dasinya.


"Bunda… Bunda… Bundanya Lili, apa kamu ada di kamar?" tanya Ferdi dengan suara lantangnya menuju ke arah kamar.


"Ferdi, lihat ini! Apa istrimu itu tidak pernah membereskan rumah? Ini kan rumah dia juga, seharusnya dia menjaga kebersihan rumahnya dan menatanya supaya rapi, enak dipandang mata dan nyaman dihuni," ucap wanita yang datang bersama dengan Ferdi tadi.


Ya, benar sekali. Wanita itu adalah Bu Anisa, ibu dari Ferdi, mertua Velicia.


Dia kebetulan datang ketika Ferdi akan masuk ke dalam rumahnya. Mereka bertemu di depan rumah dan masuk ke dalam rumah tersebut secara bersamaan.


Ferdi menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah ibunya. Kemudian dia menghela nafasnya berat melihat kekacauan yang diakibatkan olehnya.


Dia lupa jika pagi tadi sebelum berangkat bekerja tidak membereskan semua yang dipakainya.


Dan dia lupa jika Velicia, istrinya itu sedang sakit hari ini hingga kemungkinan tidak bisa membereskan rumah.


"Velicia sedang sakit Bu. Dia harus beristirahat agar cepat sembuh," ucap Ferdi berusaha menenangkan ibunya.


"Meoow… meoooww… meooow…," Lili mengeong menyambut kedatangan Ferdi.


Dia berada di samping wadah makanannya dan menggerak-gerakkannya seolah memberitahu pada Ferdi bahwa dia lapar dan menyuruh Ferdi untuk segera mengisinya.

__ADS_1


Ferdi berjongkok di hadapan Lili, kemudian dia mengusap lembut bulu halus Lili dan berkata,


"Apa kamu lapar Lili?"


"Meooow…," sahut Lili seolah membenarkan pertanyaan yang ditujukan Ferdi padanya.


Ferdi mengambil makanan Lili dan menuangkannya pada wadah makanan tersebut.


Bu Anisa yang berada di dapur berwajah sangat kesal melihat banyaknya piring dan gelas kotor tadi. Kemudian dia mendekati Ferdi dan dia mengernyitkan dahinya. 


"Apa ini Ferdi? Sejak kapan kalian memelihara kucing?" tanya Bu Anisa dengan nada tidak suka.


Sejenak Ferdi menghentikan gerakannya. Kemudian dia menjawab pertanyaan ibunya.


"Kucing ini namanya Lili. Aku yang membawanya ke rumah ini."


"Ferdi, kamu bercanda? Lihat itu, bahkan bak pasirnya tidak diganti dan berserakan di mana-mana. Pasti itu bau sekali. Jorok sekali kalian ini. Bagaimana bisa Velicia sebagai seorang wanita diam saja melihat rumahnya berantakan seperti ini," ucap Bu Anisa dengan nada tinggi.


Ferdi memejamkan matanya, dia lupa jika ibunya sangat sensitif terhadap kebersihan, terlebih kebersihan di dalam rumah.


Bu Anisa berwajah kesal. Dia duduk di sofa sambil melihat apa yang dilakukan Ferdi bersama kucingnya.


"Apa-apaan ini, bantal, selimut, semua ada di sini. Apa Velicia tadi tidur di sini sewaktu kamu bekerja? Di dapur kotor, di sini juga berantakan. Apa saja yang dia kerjakan di rumah?" Bu Anisa menggerutu sambil duduk dan melipat selimut yang digunakan Ferdi tidur semalam.


"Bu, itu aku….," Ferdi menggantungkan kalimatnya, dia tidak bisa melanjutkan apa yang akan dia katakan.


Gawat jika Ibu tau aku tidur di sofa. Lebih baik aku tidak memberitahunya, Ferdi berkata dalam hatinya.


"Kamu kenapa Ferdi? Kamu tidur di sini?" tanya Bu Anisa menyelidik.


"Tidak, bukan Bu. Sepertinya bantal dan selimut itu akan dijemur tadi," jawab Ferdi berbohong pada ibunya.


"Ck, istri kamu itu setiap Ibu datang ke sini selalu saja membuat Ibu bekerja keras. Waktu itu saja berapa banyak mi instan yang Ibu buang," Bu Anisa kembali menggerutu.


Sontak saja mata Ferdi terbelalak. Dia ingat jika kemarin ketika mencari mi instan dia menuduh Velicia yang menghabiskannya.

__ADS_1


Dan Velicia sudah memberitahukan padanya jika ibunya yang sudah membuangnya. Hanya saja dia lupa akan hal tersebut sehingga sedari tadi dia tidak menanyakannya pada ibunya.


"Kenapa Ibu membuang mi instan itu Bu? Itu kan hal yang lumrah jika ada persediaan mi instan di rumah," ucap Ferdi seolah keberatan dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Lumrah katamu? Gara-gara kebanyakan mengkonsumsi makanan seperti itu bisa membuat kalian lama mempunyai keturunan," sahut Bu Anisa dengan suara meninggi.


"Tapi kan gak tiap hari Bu. Paling juga satu bulan sekali aja. Velicia selalu masak kok Bu buat kita," tutur Ferdi sambil menggendong Lili dan duduk di sofa sebelah ibunya.


"Pokoknya Ibu tetap tidak memperbolehkan kalian memakan mi instan, apapun yang terjadi," tukas Bu Anisa dengan tegas seolah tidak mau dibantah.


Ferdi mengusap-usap lembut bulu Lili yang diletakkan di atas pangkuannya.


Bu Anisa menatap iba pada Ferdi. Dia merasa kasihan pada putranya yang terlihat sangat menginginkan kehadiran seorang anak hingga menganggap kucing sebagai anaknya.


"Kasihan kamu Ferdi, seharusnya yang kamu pangku itu anakmu, bukan kucing," ucap Bu Anisa sambil memandang iba pada Ferdi.


Ferdi hanya tersenyum getir mendengar perkataan ibunya. Kemudian dia berkata,


"Bagaimana lagi Bu, belum dikasih sama yang Kuasa."


"Obat herbalnya tiap hari diminum sama istrimu kan? Banyak sekali anak teman Ibu yang berhasil mempunyai anak setelah mengkonsumsi obat herbal itu tiap hari," tutur Bu Anisa sambil menatap Ferdi untuk mencari jawaban dari pertanyaannya.


"Mungkin memang belum waktunya Bu. Nanti jika sudah waktunya, pasti kita akan memiliki anak," ucap Ferdi menenangkan ibunya.


Bu Anisa menatap tajam Ferdi dengan menyipitkan matanya dan berkata,


"Kamu ini, jangan-jangan salah satu dari kalian ada yang mandul?"


"Bu, kenapa Ibu berbicara seperti itu? Padahal Ibu kan tau jika kita sudah berkali-kali memeriksakan diri kami. Kami berdua baik-baik saja dan memang sepertinya belum waktunya saja kami memiliki anak," ucap Ferdi dengan suara tegas menolak apa yang dituduhkan oleh ibunya.


"Lalu, mana buktinya?" tanya Bu Anisa yang seolah menantangnya.


Ceklek!


"Ada apa ini?"

__ADS_1


__ADS_2