Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 80 Rasa cinta yang menyiksa


__ADS_3

Raymond terperangah mendengar permintaan wanita yang ada di hadapannya saat ini. Wanita yang namanya sudah melekat dalam hatinya itu menggoreskan luka dalam hati Raymond melalui kata-katanya.


“Tapi Ve, kenapa?” tanya Raymond lirih dengan tatapan penuh dengan kesedihan.


“Aku memang wanita seperti ini. Aku wanita kejam yang suka bosan dengan laki-laki. Dan sekarang aku sudah bosan denganmu. Hapuslah nomorku, karena aku sudah menghapus nomormu,” ucap Velicia dengan tegas dan tatapan dingin seolah dia tidak berperasaan.


Cedaaar...!!!


Tiba -tiba suara petir menggelegar seolah mewakili jeritan hati Raymond. Bahkan kini langit pun ikut menangis mewakili air matanya. Hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya itu menyamarkan air mata seorang pria yang sedang patah hati.


Velicia berjalan dengan cepat meninggalkan Raymond yang masih mematung dengan berurai air mata. Seolah langit juga menangisi perpisahan mereka, hujan pun turun dengan derasnya bersambut dengan suara petir yang menggelegar.


Air mata Velicia sudah tidak bisa ditahannya lagi. Tangannya memegang dadanya yang terasa sesak terhimpit karena kesedihan. Di bawah derasnya air hujan itu, dia menangis menumpahkan semua rasa sakit yang ada di hatinya.


Dipukulnya dadanya berkali-kali dengan keras oleh tangan kanannya. Bahkan tubuhnya merasa tidak bertenaga dan tidak kuat untuk melangkah. Tangisnya begitu kuat mewakili isi hatinya. Dalam hatinya dia berkata,


Aku berterima kasih padamu karena tidak mencegahku untuk pergi Ray. Seandainya kamu mencegahku, aku tidak tau akan bisa tetap bertahan dengan pendirianku atau tidak. Aku yakin jika aku akan kembali berlari padamu jika kau menahanku.


Di bawah derasnya air hujan, Raymond menatap nanar kepergian wanita yang dicintanya itu. Badannya kaku tidak bisa digerakkan dan air matanya yang luruh tak terbendung lagi  itu dibiarkannya bersatu dengan air hujan yang mengenai wajahnya.


Lama dia berdiri di bawah derasnya air hujan untuk meratapi nasib percintaannya. Baru saja dia merasakan kebahagiaan karena cintanya bersambut hangat oleh wanita yang sangat dicintainya, sayangnya kisah mereka hanya berjalan sebentar saja. Dan itu membuat luka yang teramat dalam baginya.


Raymond dan Velicia sama-sama menderita. Mereka pulang dengan keadaan basah kuyup dan terlihat seperti orang yang kehilangan segalanya. Bahkan mereka mengabaikan sapaan orang lain yang berpapasan dengannya.


Velicia mengurung dirinya dalam kamarnya. Dia enggan melakukan apapun selain tiduran dan memejamkan matanya. Bahkan dia tidak merasakan haus dan lapar karena tersiksa oleh perasaan cintanya yang harus berakhir karena terpaksa.


Ferdi merasakan ada yang aneh dengan istrinya. Sikapnya saat ini seperti bukan Velicia yang dia kenal. Hingga dia berpikir jika istrinya sedang dirasuki oleh makhluk lain dan berakhir membenci suaminya sendiri.


Tok… tok… tok…


Suara pintu yang diketuk itu membuat Ferdi yang sedang memperhatikan istrinya dari pintu kamarnya itu beralih membukakan pintu rumah mereka.

__ADS_1


“Ibu? Ngapain Ibu datang ke sini malam-malam begini?” ucap Ferdi setelah membukakan pintu rumahnya.


Bu Anisa menatap kesal pada putranya yang menyambutnya dengan perkataan tidak menyenangkan.


“Dasar anak nakal. Harusnya kamu senang Ibumu ini masih kuat berjalan dan bisa ke sini setiap saat,” tutur Bu Anisa dengan nada kesal sambil memukul-mukul lengan Ferdi.


“Bukannya begitu Bu, kalau Ibu ke sini tiap hari, bisa-bisa putra Ibu dan menantu Ibu tidak bisa melakukan proses produksi. Katanya Ibu ingin segera memiliki cucu dari kami,” ucap Ferdi dengan nada kesal pada Ibunya.


Sontak saja Bu Anisa kembali memukul badan Ferdi. Kali ini pukulannya itu tidak hanya pada lengannya saja, bahkan punggungnya pun menjadi sasaran kekesalan dari ibunya.


“Memangnya kamu sudah melakukan operasi?” tanya Bu Anisa dengan nafas yang terengah-engah karena kelelahan memukul putra badungnya itu.


“Ck, Ibu mah kepo,” seru Ferdi sambil mencebik kesal pada Ibunya.


Seketika tas besar milik Bu Anisa mendarat dengan indah di punggung Ferdi. Terlihat jelas kekesalan dari wajah Bu Anisa yang sedang kesal pada putranya sendiri.


“Kalau jadi Velicia, pasti Ibu sudah meninggalkanmu sejak dulu,” ucap Bu Anisa sambil berjalan menuju ruang tamu.


“Bu, apa Ibu mempunyai kenalan orang pintar yang bisa membantu Velicia?” tanya Ferdi lirih sambil menatap ke arah pintu kamarnya, dia takut jika Velicia mendengarnya.


Dahi Bu Anisa mengernyit mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya. Kemudian dia berkata,


“Ada apa dengan Velicia? Apa dia sedang sakit?”


Ferdi menghela nafasnya dan duduk di sebelah ibunya. Dia memandang kembali pintu kamarnya yang terdapat Velicia di dalamnya.


“Sepertinya Velicia ketempelan makhluk lain,” jawab Ferdi sambil memandang serius pada ibunya.


“Ketempelan? Apa maksudmu?” tanya Bu Anisa yang semakin penasaran.


“Akhir-akhir ini dia bersikap aneh Bu,” jawab Ferdi sambil menghela nafasnya.

__ADS_1


“Aneh bagaimana? Coba kamu jelaskan!” seru Bu Anisa dengan tidak sabaran.


Sontak saja Ferdi membekap mulut ibunya agar Velicia yang berada dalam kamarnya tidak bisa


mendengarnya.


“Dia sering marah pada Ferdi Bu. Dan Velicia yang sekarang tidak lagi menjadi Velicia yang penurut, perhatian dan penuh kasih sayang pada suaminya.” tutur Ferdi sambil menerawang jauh membayangkan sikap Velicia padanya akhir-akhir ini.


Bu Anisa melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia menatap putranya dengan tatapan kesal sambil


berkata,


“Bukannya karena kehadiran wanita genit itu yang membuat istrimu seperti itu padamu? Jika seandainya benar karena hal itu, Ibu tidak akan keberatan jika Velicia meninggalkanmu. Ingat Ferdi, Ibu tidak suka dengan wanita itu. Jika Ibu tau kamu berdekatan dengannya lagi, akan Ibu sunat kamu sekali lagi.”


Mata Ferdi terbelalak sempurna mendengar ancaman dari Ibunya. Dia tidak mengira jika curahan hatinya pada ibunya akan mendapatkan ancaman darinya, bukan simpati seperti yang diinginkannya.


Setelah itu Bu Anisa beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar yang biasanya digunakannya untuk menginap di sana.


“Bu, Ibu akan menginap di sini?” tanya Ferdi dengan sedikit berseru karena ibunya sudah masuk ke dalam kamar yang berada di sebelah kamarnya.


Brak!


Pintu kamar tersebut ditutup oleh Bu Anisa tanpa menjawab pertanyaan yang ditanyakan Ferdi padanya.


Dia melihat ke arah tempat tidur Cinta yang terdapat Cinta di atasnya sedang tertidur dengan nyenyak. Bahkan dia tidak terganggu sekalipun ketika Ferdi dan ibunya sedang berseru dan menutup pintu dengan kerasnya.


Merasa dirinya sendirian karena tidak ada yang menemaninya, akhirnya Ferdi memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.


Direbahkannya tubuhnya itu di atas ranjang yang sudah ada Velicia tidur dengan nyenyaknya dengan posisi membelakanginya. Kemudian dia berkata dalam hati,


Untung tadi aku sudah makan bersama dengan yang lainnya sebelum pulang ke rumah. Jika tidak, pasti sekarang aku sudah kelaparan.

__ADS_1


__ADS_2