Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 49 Menghibur diri


__ADS_3

"Huffft…," Velicia menghela nafasnya dengan bibir yang bergetar karena tangisnya.


"Maaf Ray, aku membasahi bajumu dengan air mataku," ucap Velicia dengan suara yang bergetar dan tersenyum getir pada Raymond.


Raymond tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan maaf dari Velicia.


"Tidak apa-apa Ve. Aku harap kamu sudah lega menangis dan menceritakannya padaku. Jika memang ada yang bisa aku bantu, pasti aku akan membantumu," ucap Raymond sambil tersenyum menenangkan hati Velicia.


Dada Velicia masih sangat sakit, tapi dengan adanya Raymond di sisinya bisa membuatnya sedikit lega.


Entah mengapa Raymond bisa menenangkan hati Velicia. Mungkin karena pembawaan Raymond yang tenang dan sangat perhatian itu membuat Velicia menjadi lebih tenang dan sangat nyaman bersamanya.


"Terima kasih Ray. Kamu memang teman yang baik dan selalu bisa diandalkan," ucap Velicia sambil tersenyum pada Raymond.


Raymond pun membalas senyuman dari Velicia dan dia berkata,


"Itulah gunanya teman Ve. Maka dari itu kamu harus berbagi cerita padaku, agar aku bisa membantumu."


Velicia hanya tersenyum untuk menanggapi perkataan Raymond padanya. Dia tidak berani berjanji pada Raymond karena dia takut jika tidak bisa menepatinya.


"Apa kamu sudah sembuh Ve?" tanya Raymond dengan menatap intens manik mata Velicia.


Velicia tersenyum getir menanggapi pertanyaan yang diberikan Raymond padanya. Kemudian dia berkata,


"Ya seperti inilah Ray. Kamu pasti sudah bisa menebaknya sendiri."


Raymond menatap iba pada wanita yang ada di hadapannya. Wajah cantiknya kini terdapat bercak air mata yang sempat membanjiri wajahnya.


Namun, dia tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya karena hubungan mereka hanya sebatas teman yang harus menghargai privasi masing-masing.


"Lalu, sekarang kamu akan ke mana?" tanya Raymond kemudian.


Velicia tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu akan pergi ke mana karena dia tidak ingin pulang ke rumah karena merasa kesepian dan mengingatkannya akan suaminya. Tapi dia juga tidak bisa pergi bekerja dengan keadaan seperti itu. 


"Bagaimana kalau kita pergi ke pantai. Hanya kurang lebih satu jam perjalanan dari sini," ucap Raymond yang berusaha menghibur Velicia.


Dahi Velicia mengernyit dan dia memandang Raymond dengan pandangan tidak percaya. Kemudian dia berkata,


"Bukannya kamu harus bekerja Ray?"

__ADS_1


Raymond terkekeh mendengar pertanyaan dari Velicia. Sungguh lucu baginya melihat ekspresi wanita di hadapannya itu saat ini.


"Sudah telat Ve," ucap Raymond sambil menunjukkan jam tangan yang melingkar di tangan kanannya pada Velicia.


"Oh maaf. Bagaimana ini, karena aku kamu jadi telat dan tidak masuk kerja. Maafkan aku Ray. Bagaimana caranya aku menggantinya?" ucap Velicia dengan wajah menyesalnya.


Raymond kembali terkekeh melihat ekspresi Velicia saat ini. Kemudian dia berkata,


"Tidak usah Ve. Lagian hari ini aku tidak ada jam mengajar sebenarnya. Hanya saja aku lebih suka berada di sekolah daripada berada di rumah sendirian."


Dahi Velicia kembali mengernyit mendengar ucapan dari Raymond. Kemudian dia menanyakan apa yang ada dipikirannya.


"Sendirian? Bukannya ada istrimu Ray?"


Raymond tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari Velicia. Rasanya lucu jika dia menceritakan tentang rumah tangganya. Tapi rasanya tidak adil jika dia tidak menceritakannya karena Velicia sudah bercerita banyak padanya.


"Istriku sedang sibuk," ucap Raymond sambil tersenyum tipis.


"Oh begitu," ucap Velicia sambil tersenyum kaku pada Raymond.


"Kami sudah menikah hampir lima tahun. Hanya saja kami baru hidup bersama selama satu tahun. Setelah itu dia meneruskan kuliahnya di luar negeri selama tiga tahun. Dan sudah beberapa bulan ini dia kembali ke Indonesia, tapi kita tetap berpisah karena berbeda kota. Dia ke sini kali ini hanya untuk beberapa hari saja dan akan kembali ke kotanya karena pekerjaannya," tutur Raymond sambil tersenyum getir dan menatap lurus ke depan.


Velicia terkejut mendengar penuturan dari Raymond tentang fakta rumah tangganya. Ternyata yang mengalami pahitnya berumah tangga bukan hanya dia saja, Raymond pun juga mengalaminya. Hanya saja masalah yang mereka hadapi berbeda.


Raymond pun tersenyum mendengar ucapan Velicia. Dan dia menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan oleh Velicia padanya.


"Bagaimana, apa kita akan pergi jalan-jalan atau pulang saja ke rumah?" tanya Raymond dengan senyuman manisnya yang mampu membuat Velicia terpanah.


"Kalau aku bilang minta ke pantai, apa kamu mau Ray?" tanya Velicia dengan sungkan sambil menatap Raymond dan memberikan senyum kakunya.


"Bukannya tadi aku yang menawarkan kamu untuk pergi ke pantai ya Ve?" ucap Raymond sambil terkekeh.


Velicia pun ikut terkekeh dan dia menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Raymond padanya.


"Baiklah Ve, ayo kita berangkat sekarang," ucap Raymond sambil beranjak dari duduknya.


Velicia pun beranjak dari duduknya dan berjalan di samping Raymond menuju halte bus yang ada di seberang jalan.


Di dalam bus, mereka duduk berdampingan layaknya pasangan yang sedang bepergian. 

__ADS_1


"Apa kamu mau mendengarkan musik?" tanya Velicia pada Raymond sambil menyodorkan satu sisi headsetnya.


Raymond menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Velicia. Kemudian dia mengambil headset tersebut dan meletakkannya pada telinganya.


Mereka berdua menikmati musik yang berasal dari ponsel Velicia dengan berbagi headset milik Velicia.


Sesampainya mereka di pantai yang dituju, mereka berdua tersenyum senang karena pantai pada saat itu sangatlah sepi. Hanya ada mereka berdua di sana.


"Sepi ya Ray, jadi tambah nyaman di sini," ucap Velicia sambil melepas sepatu hak tingginya.


Raymond memperhatikan sepatu milik Velicia dan dia berkata,


"Ve, bukannya tidak nyaman memakai sepatu seperti itu?" 


Velicia melihat sepatu yang dia jinjing saat ini. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Bagaimana lagi Ray, tuntutan pekerjaan."


"Lain kali kamu harus memakai sepatu yang nyaman saja Ve. Sepatumu yang berhak tinggi seperti itu simpan saja di tempat kerjamu dan pakailah di saat kamu sedang bekerja saja," tutur Raymond sambil menatap dalam mata Velicia.


Tiba-tiba saja Velicia merasa gugup dan seolah terhipnotis oleh mata Raymond, dia menganggukkan kepalanya menyetujui saran dari Raymond.


"Baguslah jika kamu mau menuruti saranku. Sekarang ayo kita bermain ombak Ve," ucap Raymond sambil menarik tangan Velicia dan mengajaknya berlari di tepi pantai.


Mereka berdua berkejar-kejaran di tepi pantai dan bermain air dengan saling mencipratkan air.


Setelah itu Raymond menggandeng Velicia dan mengajaknya bermain ombak. Dengan senangnya mereka berkejar-kejaran dengan ombak. Hingga mereka lelah dan duduk di bawah pohon kelapa yang berada di tepi pantai tersebut.


Tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya ketika mereka berada di sana dan bisa sejenak melupakan masalah rumah tangga mereka.


Pemandangan yang sangat indah pun mulai terlihat. Matahari terbenam membuat mata mereka berdua terpukau.


Suasana yang sepi dengan pemandangan yang indah, serta deburan ombak menemani matahari yang sedang terbenam membuat Velicia dan Raymond terhanyut dalam suasana.


Lama kelamaan wajah mereka berdua saling mendekat dan mereka berdua saling memejamkan matanya. 


Tangan Raymond berada pada kedua lengan Velicia dan kedua tangan Velicia melingkar di leher Raymond.


Tanpa mereka sadari bibir mereka saling bertemu. Dengan mata yang saling menutup, bibir mereka saling menempel.

__ADS_1


Tiba-tiba suara ombak menyadarkan kedua insan tersebut. Mata mereka saling terbuka dan mereka sama-sama menarik bibir mereka.


Bibir mereka yang hanya menempel itu membuat mereka saling salah tingkah. Tapi mereka sadar jika mereka sama-sama terbawa oleh suasana hingga mereka tidak sadar jika bibir mereka saling bertemu. 


__ADS_2