Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 26 Khasiat obat herbal


__ADS_3

Suara laki-laki itu terdengar sangat berat. Sepertinya dia menahan sesuatu ketika mengatakannya.


"Mas… Mas Ferdi kenapa?" tanya Velicia yang bingung melihat tatapan mata suaminya seolah ingin menerkamnya.


"Aku kangen Sayang. Aku ingin melakukannya denganmu sekarang," jawab Ferdi dengan suara beratnya dan nafas yang menggebu-gebu.


"Tapi Mas, di luar ada Ibu…," ucap Velicia dengan suara yang sedikit tercekat di akhir kalimat karena bibir Ferdi telah menjelajah di ceruk leher istrinya.


"Aaaah…."


Suara erangan dan desisan Velicia yang sudah tidak bisa menahannya lagi membuat Ferdi semakin bersemangat.


Lidah Ferdi menjelajah di sekitar ceruk leher Velicia dan di daerah belakang telinganya.


Tangannya tidak menganggur, kedua tangan Ferdi dengan lincahnya membuka kancing piyama milik Velicia.


Seluruh pakaian Velicia sudah teronggok di lantai. Bahkan tangan Ferdi kini mulai menjelajah di setiap jengkal tubuh istrinya.


Sentuhan dan permainan lidah Ferdi mampu membuat Velicia mabuk kepayang hingga dia melupakan rasa sakit hatinya pada Ferdi dan ibunya.


Lenguhan dari mulut Velicia membangkitkan gaairah Ferdi. Diraupnya bibir menggoda milik Velicia itu. 


Ferdi mencium Velicia dengan sangat brutal karena napsunya sudah tidak bisa terbendung lagi.


Ciuman Ferdi yang semakin menuntut itu membuat Velicia kewalahan. Dia mencoba mengikuti apa yang dilakukan oleh Ferdi. 


Semakin lama ciuman mereka semakin membuat napsu mereka bertambah. Hingga tangan Velicia tanpa sadar membantu Ferdi melepaskan bajunya.


Ferdi mengarahkan Velicia berjalan menuju ranjang mereka tanpa melepaskan ciuman mereka.


Kini tubuh Velicia berada pada kungkungan Ferdi. Mata Ferdi berkabut seolah melihat mangsa yang hendak diterkamnya ada di hadapannya.


Tangan Ferdi kembali menjelajah setiap bagian tubuh istrinya. Dia memainkan bukit kembar milik Velicia dan memainkan bunga talang milik istrinya itu.


Lenguhan Velicia semakin menjadi-jadi. Hingga cairan hangat keluar dari milik Velicia.


Ferdi tidak membiarkannya begitu saja. Dia kembali membuat istrinya itu melenguh dengan kembali memainkan bukit kembarnya menggunakan mulutnya. Dan tangannya kini memainkan milik istrinya.


Cairan hangat itu kembali keluar dari milik Velicia. Lenguhannya semakin membuat Ferdi bersemangat. 


Dia membalikkan tubuh Velicia di atas tubuhnya. Kini giliran Velicia yang berada di atas tubuh Ferdi dan melakukan hal yang sama seperti yang Ferdi lakukan padanya.


Ferdi semakin mengerang menikmati apa yang dilakukan istrinya padanya. Hingga dia merasakan milik istrinya yang berkedut, dengan segara dibalikkannya kembali tubuh istrinya itu berada di bawah kungkungannya.

__ADS_1


Ferdi memasukkan senjata laras panjang miliknya ke dalam surga kenikmatan milik istrinya.


Lenguhan Velicia semakin menjadi sehingga membuat Ferdi semakin bersemangat menghentakkan miliknya yang sudah berada di dalam milik Velicia.


Erangan Ferdi menandakan cairan kental miliknya sudah keluar. Dan kini mereka berdua berharap agar benih itu tumbuh dalam kandungan Velicia.


Ferdi merebahkan dirinya di sebelah Velicia yang masih berusaha mengatur nafasnya.


"Sayang, terima kasih," ucap Ferdi sambil mencium dahi Velicia.


"Yes… berhasil," ucap Bu Anisa lirih dengan senyum kemenangan ketika mencuri dengar dari balik pintu apa yang dilakukan anak dan menantunya dalam kamar mereka.


"Semoga kali ini benar-benar bisa menjadi janin yang kami tunggu-tunggu selama ini," ucap Bu Anisa sambil terus menempelkan daun telinganya pada pintu kamar Ferdi dan Velicia.


Kemudian dia berjalan meninggalkan depan kamar itu setelah tidak mendengarkan apapun dari balik pintu tersebut.


Ferdi membawa tubuh Velicia ke dalam pelukannya. Velicia pun tidak menolaknya, dia membutuhkan tubuh suaminya untuk menghangatkan tubuhnya yang tidak memakai apapun.


Tangan Velicia membalas pelukan Ferdi. Kini mereka tidur dengan saling memeluk erat tubuh pasangannya.


Tidak ada obrolan dari mereka. Hanya tubuh mereka saja yang seolah berbicara bahwa mereka saling membutuhkan tubuh pasangan mereka untuk saling menghangatkan dan saling melindungi.


Mata mereka terpejam dengan harapan bisa tidur dengan nyenyak bersama pasangan mereka.


Namun, kenyataannya jauh berbeda. Selang beberapa saat, mata mereka kembali terbuka karena sedari tadi mereka belum bisa tidur.


Mata Velicia pun terbuka. Dia sebenarnya juga belum bisa tidur. Hanya saja dia ingin mengistirahatkan badannya dengan harapan agar besok dirinya akan lebih sehat lagi setelah tidur nyenyak.


Sayangnya keinginan suaminya itu tidak bisa ditolak lagi. Tangan Ferdi sudah kembali memainkan bunga talang milik Velicia.


Bukit kembar Velicia pun sudah masuk dalam mulutnya. Velicia merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya yang membuat gaairahnya bertambah.


Ferdi menuntun Velicia menuju sofa dan mendudukkannya sambil berkata,


"Kita main di sini ya Sayang."


Tidak ada jawaban dari Velicia, hanya ada desisan yang keluar dari mulutnya merasakan permainan lidah Ferdi pada surga kenikmatannya.


Tubuh Velicia menggelinjang merasakan sentuhan-sentuhan dari tangannya dan permainan lidah dari Ferdi. Keluarlah kembali cairan hangat milik Velicia yang sudah dikeluarkannya berkali-kali.


Sebenarnya rasa sakit pada perutnya kembali terasa setelah dia meminum obat herbal yang diberikan oleh ibu mertuanya tadi. Hanya saja dia mengabaikan rasa sakit itu ketika gaairahnya dibangkitkan oleh Ferdi.


Ferdi kembali memasukkan senjata laras panjangnya pada surga kenikmatan milik Velicia. Dia kembali menghentakkan dengan cepat dan semakin cepat ketika menuju titik kepuasan mereka.

__ADS_1


Erangan kedua manusia itu membuat kamar mereka tak lagi sepi. Sprei yang tadinya masih rapi, kini menjadi kusut karena ulah mereka. 


Cairan kental milik Ferdi kembali dikeluarkan di dalam milik Velicia. Lagi-lagi mereka berharap agar benih tersebut bisa tumbuh menjadi janin yang kuat hingga bisa menjadi bayi yang siap untuk menyambut kebahagiaan mereka berdua.


Setelah mereka menuntaskan haasrat mereka, Ferdi meraih tubuh Velicia untuk digendong menuju ranjang mereka.


Tubuh Velicia pun kembali dibawa ke dalam pelukannya. Rasa ini, Ferdi sudah lama tidak merasakannya. Hanya pertengkaran kecil yang selalu mereka lakukan, terutama karena tekanan dari Bu Anisa mengenai keturunan yang sampai sekarang belum dapat mereka miliki.


"Hoek… hoek… hoek…."


Ferdi membuka matanya ketika mendengar suara orang yang sedang muntah dari dalam kamar mandi.


Dia melihat jam dinding yang tergantung pada dinding kamarnya.


Masih jam empat pagi, Ferdi berkata dalam hatinya.


Segera dia turun dari ranjang dan mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut.


"Bunda… kamu kenapa? Apa yang sedang terjadi?" tanya Ferdi dengan membantu memijat tengkuk leher istrinya.


Velicia hanya menggelengkan kepalanya. Tampak sedikit pucat wajahnya dan badannya terasa lemas. Dia hanya berpikir jika penyakitnya yang kemarin belum sembuh total.


Ferdi menuntun istrinya kembali berbaring di ranjang. Kemudian dia berkata,


"Aku ambilkan minuman hangat dulu ya."


Velicia mengangguk lemah menanggapi perkataan suaminya. Setelah itu Ferdi keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat minuman hangat.


"Tumben jam segini sudah bangun? Mana istrimu? Bisa-bisanya masih tidur dan membiarkan suaminya membuat minuman sendiri," tanya Bu Anisa ketika datang ke dapur dan melihat Ferdi membuat minuman.


"Ini untuk Velicia Bu. Dia barusan muntah-muntah," jawab Ferdi sambil mengaduk minuman yang dibuatnya.


Mata Bu Anisa berbinar mendengar yang dikatakan oleh Ferdi. Kemudian dia berkata,


"Pasti sudah bereaksi."


Ferdi mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Maksud Ibu apa?" tanya Ferdi dengan membawa gelas yang berisi minuman hangat untuk dibawa ke dalam kamarnya.


"Nanti Velicia suruh minum kembali obat herbal itu. Dan untuk kamu hanya diminum ketika malam hari sebelum tidur," tutur Bu Anisa sambil tersenyum dan mengusap pundak Ferdi.


Ferdi kembali mengernyitkan dahinya sambil menatap ibunya penuh tanya.

__ADS_1


Bu Anisa yang mengetahui tatapan Ferdi segera menjelaskan padanya.


"Mungkin saja istrimu muntah-muntah karena hamil. Jadi, berikan obat herbal itu nanti agar janinnya kuat," tutur Bu Anisa sambil tersenyum senang pada Ferdi.


__ADS_2