
Velicia pulang dengan hati yang bahagia dari perjalanannya bersama dengan Raymond.
Dia lupa jika suaminya berada di rumah yang kemungkinan seperti kemarin, menunggunya hingga pulang ke rumah.
Ceklek!
Velicia membuka pintu rumahnya dengan sangat hati-hati. Dengan senyumnya yang masih merekah, Velicia masuk tanpa beban apa pun.
"Dari mana jam segini baru pulang?"
Suara Ferdi mengagetkan Velicia yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah.
Seketika langkah Velicia terhenti. Dia menoleh ke arah ruang televisi yang ternyata ada suaminya berdiri di sana dengan menatap tajam ke arahnya.
Velicia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Ah, maaf Mas," ucap Velicia sambil menggigit bibir bawahnya.
"Maaf? Maaf untuk apa? Bunda kenapa sih akhir-akhir ini jadi aneh?" tanya Ferdi sambil menatap intens manik mata istrinya yang terlihat ketakutan.
"Maaf," ucap Velicia kembali dengan penuh penyesalan.
"Bunda! Hentikan! Kenapa Bunda harus meminta maaf?" seru Ferdi dengan menatapnya penuh dengan tanda tanya.
"Bunda dari mana saja seharian pergi dan tidak bisa dihubungi? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Ferdi kembali dengan menaikkan suaranya.
Velicia hanya menunduk ketakutan dan mencengkeram dress nya. Dia benar-benar seperti anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya karena ketahuan berbuat salah.
"Apa Bunda benar-benar selingkuh? Tidak mungkin bukan?" tanya Ferdi sambil tersenyum sambil menggelengkan kepalanya untuk menutupi perasaan takutnya apabila itu benar-benar terjadi.
Velicia menghirup udara dan menghelanya, kemudian dia menatap suaminya sambil berkata,
"Iya benar. Aku berselingkuh. Aku menemui laki-laki lain. Maaf."
"Tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku," ucap Velicia kembali sambil memejamkan matanya dan mencengkeram erat dress nya.
Deg!
Rasanya Ferdi seperti dihantam oleh batuan besar yang membuatnya merasakan sakit seluruh tubuhnya sehingga tidak berdaya.
__ADS_1
Mata Ferdi memerah, tangannya mengacak-acak rambutnya. Dengan memunggungi istrinya dia mengusap-usap tengkuknya dan memandang atap agar air matanya tidak menetes.
"Bunda, Bunda bercanda bukan? Bunda bukan wanita seperti itu. Aku tau persis itu. Bunda jangan berbohong. Ini tidak lucu. Meskipun bercanda, ada hal yang boleh diucapkan dan tidak boleh diucapkan," ucap Ferdi dengan tatapan tidak percaya pada istrinya.
Velicia menyiapkan dirinya. Dia menatap suaminya dengan tatapan penuh percaya diri meskipun dalam hatinya dia sangat takut sekali.
"Aku tidak berbohong. Aku benar-benar berhubungan dengan laki-laki lain," ucap Velicia dengan bibir sedikit bergetar.
"Bunda! Bunda, apa kamu gila?!" seru Ferdi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya
"Aku memang sudah gila. Aku mencintai laki-laki lain. Dan aku tidak bisa mengendalikan rasa cinta yang semakin hari semakin dalam dan semakin besar," ucap Velicia dengan lelehan air matanya yang sudah tidak bisa ditahannya lagi.
Kedua tangan Velicia menutup wajahnya, air matanya semakin banyak keluar. Dia merasa bersalah, tapi dia tidak mau kehilangan orang yang dicintainya dan memberikan kebahagiaan padanya.
"Bunda! Hentikan! Kamu bukan wanita seperti itu. Anggap saja itu hanya main-main dan sekarang kamu sudah sadar," seru Ferdi dari tempatnya berdiri, berusaha menyadarkan istrinya.
Velicia menangis semakin keras. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menghentikan tangisannya. Kini dia sesenggukan di depan suaminya yang masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Apa karena setiap hari aku memanggilmu dengan sebutan Bunda? Bunda Lili? Bunda Cinta? Apa karena itu kamu melakukan ini? tanya Ferdi dengan mata yang memerah.
"Tidak," jawab Velicia di sela tangisnya dan menggelengkan kepalanya.
"Lalu, apa karena aku menghindar tidur denganmu? Atau mungkin karena aku tidak mau memiliki anak?" tanya Ferdi dengan suara yang bergetar.
"Tidak. Awalnya aku sakit hati karena hubungan perselingkuhanmu dengan wanita itu. Tapi… tapi aku tidak ingin membalasnya. Aku…."
Velicia tidak bisa menghentikan tangisnya, bahkan perkataannya tidak bisa diteruskannya karena air matanya kembali menetes dengan derasnya. Bahkan ingusnya sedikit keluar bersamaan dengan deraian air matanya.
"Lalu kenapa? Aku tidak berselingkuh. Lani hanya bawahanku dan kita memang bertemu di kantor karena pekerjaan kita yang mengharuskan kita seruangan bersama yang lainnya," tukas Ferdi menjelaskan agar istrinya percaya padanya.
"Aku jatuh cinta padanya. Aku mencintai pria lain," ucap Velicia di sela isakan tangisnya.
Seketika Ferdi tidak bisa berkata-kata. Bahkan air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya.
"Bunda, kamu gila? Kamu bercanda bukan? Kamu bukan wanita seperti itu. Aku kenal betul kamu seperti apa. Kamu wanita yang tidak mungkin melakukan itu," ucap Ferdi dengan bibir yang bergetar dan menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya.
"Maaf. Tapi… tapi aku… aku mencintai pria itu," ucap Velicia sambil menangis.
Seketika Ferdi merasa dunianya hancur. Istri yang dicintainya mengaku berselingkuh dengan pria lain dan mengakui perasaan cintanya pada pria tersebut.
__ADS_1
Kedua tangan Ferdi menutup wajahnya. Dihapusnya air matanya yang tadi menetes di pipinya dan ditahannya air matanya agar tidak menetes kembali.
Tangannya menjambak rambutnya, frustasi akan situasi yang dihadapinya saat ini. Setelah itu dia berkata,
"Aku akan berpura-pura tidak mendengar semua ini."
Kemudian dia pergi meninggalkan Velicia yang masih berdiri dan menangis di hadapannya.
Brak!
Ferdi menutup keras pintu rumah mereka. Dan dia pergi dengan berjalan kaki membawa rasa sakit dalam hatinya.
Jalanan yang dilaluinya terasa sangat panjang. Dia tidak memiliki tujuan. Dia hanya menuruti ke mana langkah kakinya mengajaknya pergi.
Selepas kepergian suaminya, Velicia terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu.
Dia memang tidak ada niatan untuk berselingkuh sama sekali meskipun dia tahu suaminya telah berselingkuh.
Namun, hubungan pertemanan dan kedekatannya dengan Raymond membangkitkan rasa suka dan cinta mereka berdua.
Kini, mereka tidak bisa lagi menghilangkan rasa itu. Bahkan mereka berdua merasa saling membutuhkan dan Raymond merasa tidak bisa hidup tanpa Velicia. Begitu juga dengan Velicia yang seolah menjadi gila jika tidak bisa bertemu dengan Raymond.
"Sekarang aku harus bagaimana?" ucap Velicia di sela tangisnya.
Meow… meow…
Cinta menghampiri Velicia yang sedang terduduk di lantai dan menangis. Cinta mengusap-usapkan bulu halusnya pada tangan Velicia.
Velicia menoleh ke arah tangannya. Dia melihat cinta yang seolah ingin dimanjakannya.
Diambilnya Cinta dan dibawanya dalam pangkuannya. Kemudian diusapnya perlahan bulu halus Cinta sambil berkata,
"Cinta, maafkan Bunda ya. Jika Bunda tidak ada di rumah ini, Cinta harus tetap sehat."
Air mata Velicia kembali luruh. Dia tidak menangisi perbuatannya karena dia sudah tahu resikonya. Dia hanya menyayangkan apa yang dimilikinya dahulu, sebelum dirinya menjadi stres karena perbuatan suami dan mertuanya.
Dahulu dia sangat senang berada di tengah-tengah keluarga Ferdi. Ibu Ferdi sangat menyayangi Velicia seperti anaknya sendiri dan Ferdi pun sangat memperhatikan Velicia.
Namun, semua itu berubah setelah Ferdi yang tidak menginginkan hadirnya anak di antara mereka, sehingga semuanya ini terjadi.
__ADS_1
"Ini pilihanku. Dan aku harus menerima resikonya," ucap Velicia sambil mengusap bulu halus dan lembut pada tubuh Cinta.