Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 91 Merasakan jatuh cinta yang sebenarnya


__ADS_3

Malam mulai larut dan Velicia belum juga kembali ke rumah. Sehingga Ferdi sangat resah menantinya. Segala pikiran buruk tentang istrinya menghampirinya.


“Tidak, Bunda tidak seperti itu. Dia tidak mungkin seperti itu,” ucap Ferdi untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Dengan segera dia menyambar ponselnya yang ada di meja dan menghubungi kembali nomor istrinya. Wajah Ferdi berubah menjadi cemas ketika nomor istrinya tidak bisa dihubungi. Bahkan dia mengulanginya berkali-kali dan hanya operator saja yang menjawab panggilannya.


“Ke mana dia sampai selarut ini?” tanya Ferdi dengan cemasnya.


Dia kembali duduk termangu di sofa dengan lampu ruangan yang sudah dimatikan. Pikirannya benar-benar kalut. Berbagai macam pikiran buruk tentang istinya kembali menghampirinya. Tapi dengan cepatnya pikiran buruk itu disanggahnya.


Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Dengan pelan dan hati-hati Velicia masuk ke dalam rumah dengan harapan suaminya sudah tertidur. Kakinya melangkah dengan pelan. Dia mengendap-endap layaknya seorang pencuri yang takut jika pemilik rumahnya terbangun jika terdengar suara langkah kakinya.


“Dari mana saja Bunda jam segini baru pulang?” tanya Ferdi dengan aura tidak bersahabat.


Sontak saja Velicia terkejut dan menoleh ke arah sofa yang sudah ada Ferdi berdiri di sana dengan menatap tajam padanya.


“Ehmmm Mas, Mas Ferdi sudah makan? Sudah minum obat?” tanya Velicia dengan kikuk dan tersenyum paksa pada suaminya.


Ferdi berjalan mendekatinya. Kemudian dengan tatapan tajamnya dia berkata,


“Bunda, kamu sudah gila? Ini sudah jam berapa?” tanya Ferdi sambil menunjuk ke arah jam dinding yang tergantung di dinding dekat mereka berdiri.


Velicia mengikuti arah telunjuk suaminya. Dan dia terkejut ketika melihat jam dinding yang sudah menunjuk angka sebelas lebih lima puluh lima menit. Dia tidak mengira jika waktu berjalan begitu cepat ketika dia bersama dengan laki-laki yang dicintainya dan mengakibatkan suaminya menunggunya di rumah hingga larut malam dia kembali pulang ke rumah.


“Maaf, tadi aku bertemu dengan temanku dan mengobrol hingga lupa waktu,” jawab Velicia sambil tersenyum paksa pada suaminya.


“Sampai jam segini? Bunda, apa Bunda sudah tidak waras? Atau jangan-jangan Bunda… Ah sudahlah, kita sudahi saja perdebatan ini. Cepatlah tidur dan jangan ulangi lagi,” ucap Ferdi dengan kesal.


Kemudian Ferdi berlalu pergi meninggalkan Velicia yang masih berdiri dengan rasa bersalahnya memandang suaminya masuk ke dalam kamar mereka.


Di dalam kamar, seperti biasanya, mereka tidur dengan saling memunggungi. Dan mereka berdua masih dengan pemikirannya masing-masing.

__ADS_1


Di sisi lain, Raymond masih bertelepon sepanjang jalan dengan Velicia selama mereka berjalan pulang ke rumah masing-masing. Tawa dan senyum bahagia mereka berdua menghiasi wajah mereka yang disinari cahaya bulan. Bahkan wajah Lelah mereka tertutupi oleh kebahagiaan mereka.


Sama seperti Ferdi yang menunggu istrinya pulang ke rumah. Begitu pula Tania yang cemas menunggu suaminya untuk pulang ke rumah.


Dari jendela dia melihat ke arah jalan yang biasanya dilewati oleh suaminya. Dan tidak lama kemudian dia melihat suaminya berjalan sambil menelepon dengan senyum yang terlihat sangat bahagia.


Dilihatnya jam yang ada di ponselnya. Kemudian dia berkata,


“Jam dua belas malam. Ke mana saja kamu sampai larut malam begini Ray? Kenapa kamu terlihat sangat bahagia sekali?” ucap Tania yang masih melihat suaminya berhenti tepat di halaman rumah demi menyelesaikan teleponnya.


Sekitar lima belas menit Raymond menyudahi teleponnya. Kemudian dia masuk ke dalam rumahnya dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.


“Dari mana saja kamu Ray?”


Suara Tania menghentikan langkah Raymond. Kemudian Raymond menoleh ke arah ruang tamu yang ternyata sudah ada istrinya di sana.


Tania berdiri sambil melipat kedua tangannya dan menatap tajam penuh tanya padanya. Kemudian dia berjalan mendekati Raymond dan kembali bertanya padanya,


“Dari mana saja kamu Ray?”


“Sampai larut malam begini? Lihat ini Ray, sudah jam berapa?” tanya Tania dengan emosi.


Raymond melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia menghela nafasnya. Dalam hati dia berkata,


Sudah selarut ini. Aku kira tadi baru jam sembilan malam. Kenapa waktu berjalan begitu cepat jika bersama dengan Velicia?


“Kami sudah lama tidak bertemu. Jadi wajar saja kami mengobrol hingga lupa waktu,” jawab Raymond sambil berjalan masuk menuju kamarnya.


Tania sangat kesal, dia tidak mendapatkan jawaban yang membuatnya percaya. Dia berjalan mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar mereka.


Tania menunggu suaminya keluar dari kamar mandi dengan merebahkan dirinya di atas ranjangnya. Dia berniat untuk mencari informasi dari suaminya dengan memberinya layanan di ranjang sebagai ritual suami istri di malam hari.

__ADS_1


Sayangnya, ketika Raymond keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai kaos dan celana pendeknya. Kemudian dia melirik ke arah ranjangnya yang sudah ada istrinya dengan gaya menggoda melihat ke arahnya.


Raymond bergegas keluar dari kamarnya menuju ruang kerjanya. Dia menghindari istrinya yang mungkin saja akan marah padanya.


Selang beberapa menit Tania masuk ke dalam ruang kerja Raymond. Seperti dugaannya, Tania dengan wajah kesalnya berjalan menghampiri Raymond sambil berkata,


“Kamu menghindariku Ray?”


Raymond yang sedang membaca buku, kini mengalihkan perhatiannya dari buku beralih melihat ke arah istrinya.


“Kenapa aku harus menghindarimu?” tanya Raymond dengan santainya.


“Lalu, kenapa kamu tidak tidur?” tanya Tania menyelidik.


Raymond kembali mengalihkan perhatiannya pada bukunya sambil berkata,


“Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tidurlah dahulu. Sebentar lagi aku akan tidur.”


Tania kesal, dia hendak mengatakan sesuatu tapi diurungkannya karena dia sadar jika nantinya akan menghambat rencananya.


“Baiklah, aku akan ke kamar terlebih dahulu. Jangan lama-lama, ini sudah malam dan kamu harus beristirahat,” ucap Tania sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Setelah kepergian istrinya, Raymond teringat akan sesuatu. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Velicia. Bibirnya melengkung ke atas setelah melihat  pesannya itu sudah terbaca. Dan kini dia tinggal menunggu balasan dari wanita  yang menyita seluruh pikirannya.


Di dalam kamar, Velicia yang matanya sudah terpejam merasakan getaran ponselnya dari bawah bantalnya. Dia menoleh ke belakang di mana suaminya sudah terlihat tidur dengan nyenyak.


Kemudian dia mengambil ponselnya dari bawah bantalnya. Seketika bibirnya melengkung ke atas dan dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


Hanya dengan membaca pesan dari Raymond saja membuat rona bahagia terlihat di wajah Velicia. Kini dia benar-benar merasakan jatuh cinta.


Semua yang dirasakannya bersama dengan Raymond belum pernah dirasakannya dengan suaminya. Karena itulah dia tidak ingin melepaskan Raymond. Karena jika dia melepaskan Raymond, sama saja dia melepaskan kebahagiaannya.

__ADS_1


__ADS_2