Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 75 Hujan yang menjadi saksi


__ADS_3

Tania pulang dari cafe dengan besungut kesal. Puluhan kali dia menghubungi Velicia, tapi dari sekian banyaknya panggilan teleponnya itu tidak ada yang diterima oleh Velicia.


Dia merasa diabaikan oleh temannya itu. Hingga sampai rumah pun dia masih saja mengomel.


"Apa susahnya sih pamitan? Mana sudah dipesankan makanan dan minumannya lagi. Ini juga, telepon semuanya gak ada yang diangkat. Maunya apa sih?" Tania mengomel seraya masuk ke dalam rumahnya.


"Ada apa Tania? Tadi aku telepon kenapa tidak diangkat?" tanya Raymond yang duduk di sofa ruang tamu sambil memegang ponselnya seperti menunggu telepon atau pesan dari seseorang.


Tania menoleh ke arah Raymond dan dengan wajah kesalnya itu dia mendekati Raymond.


"Aku tadi makan siang bersama dengan temanku. Iiihhh… nyebelin banget deh. Masa' aku tinggal pesan makanan malah dia pergi gak bilang-bilang. Waktu itu ponselku ketinggalan di meja, jadi aku gak tau kalau kamu telepon. Mungkin temanku yang tau kalau kamu meneleponku. Sayangnya dia pergi gitu aja gak pamit dulu ke aku. Nyebelin banget kan?" Tania mengadu pada suaminya.


"Mungkin saja temanmu itu sedang ada pekerjaan lainnya. Atau mungkin ada kejadian penting yang mengharuskannya untuk berada di tempat tersebut dengan segera," tutur Raymond dengan bijaknya.


Seketika wajah kesal Tania berangsur hilang. Dia menghela nafasnya setelah mendengarkan penuturan dari suaminya.


"Iya sih, dia satu-satunya temanku di kota ini. Aku tidak boleh kesal atau marah padanya sebelum mengetahui alasannya. Atau jika tidak, aku akan kehilangan teman baik sepertinya," ucap Tania yang masih sedikit kesal.


Raymond tersenyum tipis mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya. Kemudian dia berkata,


"Tania, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Raymond sambil menatap serius pada istrinya.


"Apa?" Jawab Tania ragu.


"Sebaiknya kita…-"


"Baiklah, besok kita akan mendaftarkan pernikahan kita," sahut Tania dengan panik seolah dia menolak untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh suaminya.


"Bukan itu Tan. Aku ingin kita berdua-"

__ADS_1


"Kamu kan yang menginginkan pernikahan kita dilegalkan? Baiklah, besok kita akan mendaftarkan pernikahan kita. Maafkan aku yang selalu menunda untuk mendaftarkannya," sahut Tania kembali untuk menyela ucapan suaminya.


"Tania, ku mohon dengarkan apa yang akan aku bicarakan terlebih dahulu. Aku ingin kita-"


"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatirkan apapun. Biar aku yang mengurus semuanya. Kamu hanya tinggal datang bersamaku saja," sahut Tania kembali sambil beranjak berdiri dari duduknya.


Raymond akan membuka mulutnya kembali, berniat untuk mengatakan apa yang diinginkannya. Sayangnya Tania tidak mau mendengarkannya. Dia lebih memilih dengan pemikirannya sendiri.


Ditinggalkannya Raymond yang akan membuka suaranya kembali. Tania tidak mau mendengarkan apa yang akan dikatakannya karena dia merasa sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh suaminya.


Raymond menghela nafasnya. Dia selalu saja kalah dengan istrinya. Bahkan hanya mengatakan keinginannya saja tidak bisa.


Kini dia harus mencari cara yang tepat untuk bisa mengatakan keputusannya akan pernikahan mereka.


Raymond teringat akan Velicia kembali. Dia melihat kembali layar ponselnya yang tidak ada pesan apapun dari Velicia. Bahkan puluhan pesan dari Raymond saja diabaikannya.


Kemudian dia berjalan menuju jendela. Dilihatnya hujan yang sangat deras itu dari kaca jendela rumahnya. Kemudian dia berkata,


Hujan. Apa Velicia tidak kehujanan? Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali? 


Hujan mengguyur tubuh Velicia yang masih terduduk di trotoar jalan. Tangisannya teredam oleh suara hujan dan air hujan menyamarkan air matanya.


Sengaja dia tidak menghindari hujan. Dia menghukum dirinya sendiri berbasah-basahan ditengah derasnya hujan yang turun saat itu. Banyak pasang mata yang melihatnya, tapi tidak berani bertanya apalagi menolongnya.


Setelah merasa tubuhnya sudah kuat berjalan, Velicia berdiri dan mencoba berjalan meninggalkan tempat itu. Air hujan yang turun membasahi tubuhnya itu menjadi saksi kesedihan hatinya yang teramat dalam.


Langkah kakinya terseret-seret dan jalannya terseok-seok menembus hujan yang turun dengan derasnya. Bahkan badannya kini sudah basah kuyup dan terlihat mengenaskan.


Selangkah demi selangkah dia menyusuri jalan menuju rumahnya. Bahkan ponselnya yang sedari tadi berdering pun diabaikannya.

__ADS_1


Dibukanya secara perlahan pintu rumahnya yang masih tertutup rapat. Dan itu berarti Ferdi masih belum pulang ke rumah. Dulu Velicia merasa sedih jika suaminya pulang telat hingga malam hari, tapi untuk sekarang, dia tidak peduli lagi meskipun suaminya itu tidak pulang ke rumah sekalipun.


Tanpa peduli dengan badannya yang basah kuyup, Velicia masuk ke dalam rumahnya. Bahkan tetesan air dari bajunya tidak dipedulikannya lagi. Lantai rumahnya kini terdapat bercak tetesan air dan bercak kaki basah Velicia dari depan pintu hingga kamarnya.


Tangisan Velicia berlanjut hingga di dalam kamar mandi. Dihabiskannya air mata itu di dalam kamar mandi, berharap agar air matanya habis dan tidak lagi menangisi tentang perasaannya.


"Aku ingin menjadi manusia yang tidak berperasaan. Aku ingin mengakhiri semuanya dan menjadi wanita kuat tanpa sakit hati lagi," ucap Velicia di bawah guyuran air shower yang mengenai kepalanya.


Dinginnya air hujan dan dinginnya air shower tidak dirasanya lagi. Bahkan dia sengaja tidak memakai air hangat untuk showernya.


Dia ingin menghukum dirinya sendiri agar dia tersadar dan mengakhiri semuanya sebelum Tania dan Ferdi mengetahui hubungannya dengan Raymond.


"Sakit… sakit sekali Tuhan… Rasanya aku tidak kuat menahan rasa sakit hati ini. Jujur saja, rasa sakit hati yang ku rasakan karena suamiku tidak sebanding dengan rasa sakit hati yang ku rasakan sekarang ini," ucap Velicia di sela isakan tangisnya.


Setelah puas menumpahkan rasa sakit hatinya melalui tangisnya, Velicia keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama warna hijau.


Warna hijau itu merupakan warna kesukaan Ferdi. Dulu dia memang membeli piyama dan lingerie warna hijau agar suaminya senang melihatnya.


Namun, kini dia tidak menyiapkan untuk suaminya. Dia hanya asal saja mengambil piyamanya dan memakainya.


Direbahkannya tubuhnya di atas ranjangnya, serta dipejamkannya kedua matanya berharap agar itu hanya mimpi dan hari esok tetap menjadi kebahagiaan untuknya.


Nyatanya semua harapannya itu tidak benar. Matanya yang semula terpejam, hanya dalam beberapa menit saja air matanya kembali menetes.


Kenapa harus sesakit ini Tuhan… Aku ingin bahagia, bukan merasakan kembali luka yang telah ku rasakan beberapa waktu lalu, Velicia berkata dalam hatinya sambil memejamkan air matanya dan menggigit bibir bawahnya untuk membiarkan air matanya tetap mengalir di pipinya.


Diambilnya ponselnya itu dan dicarinya nama Raymond pada kontak telepon. Setelah mendapatkan nama Raymond, segeralah Velicia mengirimkan pesan padanya.


Ray, aku harap hubungan kita sampai di sini saja. Jika kita kebetulan bertemu di jalan, berpura-puralah untuk saling tidak mengenal dan tidak menyapa.

__ADS_1


__ADS_2