
“Sayang, ayo bangun. Aku akan mengajakmu jalan-jalan,” ucap Tania sambil menggerak-gerakkan tubuh suaminya yang masih tertidur pulas.
Raymond tidak membuka matanya, dia malah menghadap ke lain arah agar tidak diganggu oleh istrinya.
Tania tidak mau menyerah, dia tetap berusaha membangunkan suaminya dengan kembali menggerak-gerakkan badan suaminya sambil berkata,
“Ayolah bangun. Kenapa kamu jadi pemalas begini sih beberapa hari ini?”
“Ini kan weekend, aku ingin bermalas-malasan. Aku malas melakukan apapun,” sahut Raymond dengan mata yang masih terpejam.
“Tidak boleh. Justru karena sekarang weekend, jadi kita harus menghabiskan waktu untuk bersama,” ucap Tania sambil berusaha mendudukkan tubuh suaminya.
Raymond menghela nafasnya setelah badannya berhasil didudukkan oleh istrinya. Dia menatap istrinya dengan tatapan yang mengiba. Sayangnya istrinya itu masih saja tetap dengan keinginannya.
Sepertinya percuma saja aku menolaknya. Di rumahku sendiri pun aku tidak bisa beristirahat dengan nyaman,
Raymond berkata dalam hatinya.
Tanpa berkata-kata, Raymond segera beranjak turun dari ranjangnya dan berjalan dengan malas menuju kamar mandi.
“Yes,” ucap Tania lirih sambil menggerakkan tangannya seperti sedang berselebrasi.
Selang beberapa menit kemudian, Raymond sudah keluar dari kamarnya dengan berpenampilan rapi. Dia menghampiri Tania yang sedang membaca koran sambil meminum kopi buatannya.
“Kita akan ke mana?” tanya Raymond yang sudah duduk di depan Tania.
Tania mengalihkan perhatiannya dari koran pada suaminya yang kini sudah duduk di depannya. Setelah itu dia melipat koran yang dibacanya tadi sambil berkata,
“Kita akan bersenang-senang hari ini,” jawab Tania dengan senyum sumringahnya.
Raymond mengernyitkan dahinya sambil menatap istrinya seolah ingin bertanya sesuatu. Tapi diurungkannya karena dia tidak ingin berdebat kembali dengan istrinya. Bukan karena dia takut pada Tania, tapi dia sedang malas beradu mulut dengan istrinya yang ujung-ujungnya akan membuat mereka menjadi bertengkar dan dia kembali mendapatkan ceramah dari kedua orang tua Tania.
__ADS_1
“Kita akan berjalan-jalan ke tempat-tempat yang indah. Tolong bawa aku ke tempat-tempat seperti itu. Mau kan suamiku?” ucap Tania dengan memegang tangan Raymond yang berada di atas meja makan di mana mereka sedang duduk saat ini.
Raymond menatap wajah istrinya yang terlihat sangat bahagia. Dia tidak tega jika membuat senyuman bahagia istrinya itu menjadi kesedihan. Akhirnya dengan rasa malas dan berat hati, Raymond mengikuti kemauan istrinya itu.
Pagi menjelang siang itu Raymond mengajak istrinya ke taman kota yang ingin dikunjungi oleh Tania pada saat pertama kali dia datang ke kota itu. Suasananya sangat ramai dan banyak anak kecil yang bermain bersama kedua orang tua mereka.
Melihat anak-anak sedang bermain, Raymond teringat akan saat-saat dirinya bersama dengan Velicia di taman tempat mereka tinggal.
Raymond tersenyum tipis sambil menghela nafasnya berat mengingat kembali wanita yang dicintainya. Bahkan dia tidak bisa menghapus nama Velicia yang terukir dengan indah di dalam lubuk hatinya.
Perpisahan itu sangat berat bagi Raymond, hingga beberapa hari ini dia tidak bisa bernafas dengan nyaman. Bahkan di setiap helaan nafasnya ada bulir air mata yang menetes mengingat cintanya.
Sebenarnnya Raymond tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Velicia saat pertemuan mereka yang terakhir kalinya. Dia tidak melihat kejujuran pada mata kekasih hatinya itu. Dia yakin ada alasan yang mengharuskan wanita yang dicintainya itu memutuskan hubungan mereka.
Mereka berdua saling mencintai. Dan Raymond tahu itu. Karena itulah Raymond tidak mencegah kepergian Velicia dari hadapannya hari itu.
“Sayang, lihatlah mereka. Sangat lucu bukan?” tanya Tania sambil menunjuk sekelompok anak kecil yang sedang bermain di arena playground.
Dia memperhatikan sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan putra kecilnya. Tiba-tiba ada bayangan dirinya bersama dengan Velicia dan seorang putra kecil sedang bermain bersama. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia, hingga membuat Raymond tersenyum tanpa sadar.
Tania mengikuti arah pandang suaminya. Dia melihat keluarga kecil tersebut, kemudian dia berganti melihat ke arah suaminya yang sedang tersenyum melihat ke arah keluarga kecil tersebut.
“Sayang, apa kamu menginginkan kehadiran anak di antara kita?” tanya Tania pada suaminya sambil memegang tangan suaminya.
Raymond tersadar karena sentuhan tangan Tania yang berada di tangannya. Kemudian dia menoleh ke arah istrinya yang duduk di sebelah kanannya.
“Apa kamu menginginkan kehadiran seorang anak dalam rumah tangga kita?” tanya Tania mengulangi pertanyaannya kembali.
Mendengar pertanyaan itu membuat Raymond salah tingkah. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena jujur saja dia memang sangat ingin mempunyai anak sejak pernikahan mereka. Dia berharap sikap Tania akan berubah jika sudah menjadi seorang ibu.
Namun, kini dia tidak yakin jika istrinya itu bisa merubah sikapnya. Dan lebih parahnya lagi, terlepas dari apapun, Raymond berniat akan berpisah dengan Tania. Keputusannya sudah bulat dan dia tidak takut pada apapun yang akan menghalanginya untuk terlepas dari keluarga Tania dan mendapatkan kebahagiaannya.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya, Raymond segera beranjak dari duduknya dan berjalan tanpa mengajak istrinya untuk bersamanya.
“Sayang, tunggu! Kamu mau ke mana?” seru Tania sambil berjalan mengikuti di belakang suaminya.
“Aku lapar. Aku mau membeli makanan,” jawab Raymond tanpa menoleh kebelakang, di mana istrinya sedang berjalan mengikutinya.
“Ray, bagaimana kalau kita makan di café yang waktu itu?” tanya Velicia yang sudah berada di samping Raymond.
“Terserah kamu saja,” jawab Raymond singkat sambil berjalan.
Yes!, Tania bersorak dalam hatinya sambil tersenyum lebar berjalan di sebelah Raymond.
Langkah Raymond sangat lebar dan cepat, hingga Tania kesusahan mensejajarkan langkahnya dengan langkah suaminya.
Tibalah mereka di sebuah café yang tidak asing bagi Tania dan Raymond. Menurut Tania, café tersebut merupakan tempat bersejarah baginya untuk mendapatkan teman baik di kota ini.
Sedangkan menurut Raymond, café tersebut sangat membekas di hatinya kala mengingat pertemuannya dengan Velicia yang secara tidak sengaja, seolah takdir yang mempertemukan mereka.
“Ve!” seru Tania sambil melambaikan tangannya pada wanita yang sedang duduk di salah satu meja bersama dengan seorang laki-laki.
Sontak saja Raymond mengikuti arah pandang istrinya dan matanya terbelalak sempurna ketika melihat bahwa wanita yang dipanggil oleh istrinya adalah wanita yang ada dalam hidupnya saat ini.
Mata Raymond dan Velicia beradu pandang. Mereka saling menatap untuk menyampaikan perasaan mereka yang paling dalam. Hingga mereka mengabaikan Tania dan Ferdi yang saling bertegur sapa.
“Hai Ve… Apa kamu sudah lama di sini? Maaf ya, suamiku ini tadi mengajakku ke taman kota. Maaf jika kamu menunggu lama,” ucap Tania sambil duduk di kursi yang ada di depan Velicia dan suaminya.
“Menunggu? Apa maksudnya?” tanya Velicia dengan kikuk dan berwajah bingung melihat Tania.
“Kemarin aku mengirim pesan padamu dan mengajakmu makan siang di tempat ini. Apa kamu lupa?” tanya Tania sambil tersenyum pada Velicia.
Seketika Velicia menoleh ke arah suaminya dan menatap tajam padanya seolah meminta penjelasan darinya.
__ADS_1
“Maaf. Aku yang membaca dan membalas pesannya. Akhir-akhir ini kamu sering murung dan melamun, jadi aku hanya ingin memberimu kejutan dengan mempertemukanmu bersama temanmu,” ucap Ferdi sambil tersenyum takut pada istrinya.