
“Sayang, nanti aku akan menjemputmu. Kita akan mendaftarkan pernikahan kita. Semuanya aku yang akan mengurusnya. Kamu tenang saja, kamu tinggal datang saja bersamaku,” ucap Tania sambil mengoleskan selai coklat pada roti miliknya.
Raymond tidak bergeming. Dia menulikan pendengarannya dan tidak menanggapi ucapan istrinya itu sama sekali. Bahkan roti selai yang ada di piringnya tidak disentuh olehnya.
Tania menghela nafasnya melihat sikap acuh suaminya yang seolah tidak tertarik sama sekali pada apa yang disampaikannya. Hatinya sungguh kesal melihat sikap suaminya yang menurutnya berubah dan tidak seperti yang diinginkannya.
Raymond yang dulu penurut dan hanya melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan Tania dan keluarganya, kini seolah sudah berganti menjadi Raymond yang pembangkang. Bahkan dia berani sekali melawan keinginan kedua orang tua Tania.
Tring!
Suara notifikasi pesan dari ponsel Raymond membuat Raymond tersadar dari lamunannya. Segera diambilnya ponselnya itu dari saku celananya.
Matanya berkaca-kaca melihat layar ponselnya. Segera dia mengambil tasnya yang diletakkannya di atas kursi yang ada di dekatnya.
Tanpa berkata-kata dia segera meninggalkan meja makan tersebut seperti orang yang dikejar waktu.
“Ray! Ada apa? Ingat, nanti aku akan menjemputmu untuk mendaftarkan pernikahan kita!” seru Tania dari tempat duduknya.
Diletakkannya dengan kasar roti selai yang sedang dipegangnya di atas piringnya. Wajahnya besungut kesal diperlakukan seperti itu oleh suami yang selama ini selalu menuruti semua keinginannya.
Bahkan dia tidak tahu rencana pendaftaran pernikahan mereka nantinya akan terlaksana atau tidak.
Raymond berlari menuju tempat kerja Velicia. Dia sudah tidak memikirkan apapun. Dalam pikirannya saat ini hanya Velicia, nama wanita yang sudah merajai hatinya dan memenuhi pikirannya.
Jangan hubungi aku lagi.
Pesan yang dikirim oleh Velicia membuat Raymond hilang akal. Dia tidak bisa menerima keputusan Velicia yang memutuskan hubungan mereka begitu saja tanpa tahu penyebabnya.
Dia berlari dengan sekuat tenaga untuk menemui kekasih hatinya. Bahkan dalam setiap hembusan nafasnya ketika berlari hanya nama Velicia saja yang bisa diucapkannya.
__ADS_1
Dia melihat adegan di mana Velicia diantar oleh suaminya dan dia melihat Velicia membuang tumbler yang dibawanya keluar dari mobil ke tempat sampah. Bahkan dia mendengar perdebatan kecil antara Velicia dengan suaminya.
Raymond menatap nanar wanita yang dicintainya itu berjalan meninggalkan suaminya. Terlihat jelas pada raut wajah Velicia kemarahan yang dipendamnya.
Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah ingin memeluk wanita yang dicintainya itu agar bisa meredakan amarahnya.
Kaki Raymond sudah melangkah ingin menyusul Velicia setelah mobil Ferdi meninggalkan tempat itu. Sayangnya ponsel yang ada dalam saku celananya itu tiba-tiba berbunyi dan menghentikan langkahnya.
Pak Raymond, apa benar Bapak hari ini tidak bisa masuk untuk mengajar? Barusan istri Bapak menghubungi kami dan memberitahukan bahwa Bapak ada keperluan sehingga tidak bisa masuk hari ini. Padahal Bapak tau sendiri kan jika hari ini kita masih melakukan ujian. Kita akan kekurangan tenaga pengajar untuk mengawasi ujian hari ini jika Bapak tidak hadir. Maaf pak, bukannya kami melarang Bapak untuk-
“Saya akan hadir Pak. Saya sudah ada di dekat sekolah. Sebentar lagi saya akan sampai. Maaf jika istri saya membuat keputusan sendiri. Bahkan saya tidak tau jika dia menelepon bapak hari ini. Sekali lagi saya minta maaf Pak,” ucap Raymond dengan tegas menyela pembicaraan pihak sekolah yang sedang berbicara padanya melalui telepon.
Raymond menghela nafasnya berat. Dilihatnya ke arah jalan yang dilalui oleh Velecia. Bahkan Velecia pun sudah tidak lagi ada di sana.
Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk mengejar Velecia karena ada kewajiban yang harus dikerjakannya.
Jalanan yang dilaluinya terasa panjang dan melelahkan. Semangatnya luntur sejak kemarin malam dia mendapatkan pesan dari kekasih hatinya yang memberitahukan padanya untuk mengakhiri hubungan mereka.
Ketika dia sudah selesai mengerjakan pekerjaannya, segera dia meninggalkan ruang guru dan berpamitan pulang pada semua rekan pengajar yang ada dalam ruangan tersebut.
Dia berlari menuju sekolahan tempat mengajar Velicia. Dan dia tidak menemukan apa-apa. Bahkan sekolah itu sudah kosong tak berpenghuni.
“Ah… aku lupa. Ini kan sekolah TK, mana mungkin masih ada orang di sini pada jam segini?” ucap Raymond sambil melihat bangunan sekolah TK yang ada di hadapannya dan bergantian melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya.
Seketika mata Raymond berbinar, sepertinya dia menemukan sesuatu dalam pikirannya. Kemudian dia berkata,
“Sepertinya aku tau di mana dia berada di jam segini,” ucap Raymond sambil bergegas berlari menuju tempat yang ada dalam pikirannya.
Mata Velicia tidak lepas memandang anak-anak kecil yang dengan riangnya bermain dan bercanda. Biasanya dia akan tersenyum melihat anak-anak tersebut bertingkah lucu.
__ADS_1
Bahkan Velicia sering tertawa lepas melihat kelucuan batita dan balita yang sedang bermain bersama di tempat itu.
Kini Velicia mirip seperti patung yang bermuka datar tanpa ekspresi. Bahkan tidak ada senyum yang menghiasi wajah cantiknya itu. Wajahnya kini penuh kesedihan yang tidak dapat dibaginya pada siapapun.
Merasa sudah terlalu lama dia berada di tempat itu, Velicia berdiri dari duduknya dan beranjak untuk berjalan meninggalkan tempat itu.
“Ve!”
Suara yang menyerukan Namanya itu mengalun indah di telinganya.
Dengan cepatnya Velicia berbalik arah ketika orang tersebut mendekatinya.
“Ve, kita bicara sebentar. Aku mohon…,” ucap Raymond dengan nada memohon dan tatapan matanya benar-benar memperlihatkan kesedihan serta permohonan padanya.
Velicia memejamkan matanya. Dengan sekuat tenaga dia menahan air matanya yang sudah mengumpul di pelupuk matanya. Hatinya benar-benar sakit mendengar permintaan dari laki-laki yang dicintainya.
Mereka berdua sama-sama terluka. Rasa cinta yang mereka miliki membuat mereka berdua menjadi menderita. Tak ada yang bisa menolong dan membantu untuk menyembuhkan luka mereka kecuali diri mereka sendiri.
Raymond memegang tangan Velicia. Sayangnya, dengan cepatnya Velicia menghempaskan tangan itu hingga tangan Raymond terlepas dengan kasar dari tangan Velicia.
“Aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” ucap Velicia dengan suara yang bergetar.
Mata Velicia berkaca-kaca, buliran air matanya terkumpul di pelupuk matanya hingga jika dia berkedip sekali saja, sudah bisa dipastikan air mata itu akan lolos dengan sendirinya.
“Aku mohon Ve. Aku ingin kita bicara,” ucap Raymond mengiba pada Velicia.
Velicia menguatkan hatinya dan menetralkan wajahnya seperti semula. Dia berusaha keras agar air mata dan kesedihannya tidak terlihat oleh Raymond.
Kini dia berperan kembali menjadi wanita jahat yang tidak berperasaan. Dia membalikkan badannya untuk berhadapan dengan laki-laki yang dicintainya.
__ADS_1
“Seperti yang aku minta kemarin. Lupakan aku dan anggap kita tidak pernah kenal. Jangan pernah sapa aku jika kita bertemu kembali. Dan hapuslah nomorku sekarang juga, karena aku sudah menghapus nomormu sejak kemarin,” tutur Velicia dengan raut wajah datar tanpa ekspresi dan terlihat sangat dingin tidak berperasaan.