Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
BAB 115 Kesedihan yang kelam


__ADS_3

Jangan


menahanku. Jika kamu tidak menahanku, mungkin aku akan melompat ke jurang


bersamamu, Velicia berkata dalam hatinya sambil menatap penuh luka dengan deraian air mata pada Raymond


Raymond mengerti arti dari tatapan mata kekasih hatinya itu yang menatapnya penuh kesedihan dan permohonan dengan lelehan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.


Ferdi menarik paksa tangan istrinya dengan kemarahannya yang menggebu-gebu. Dan Raymond tidak bisa menahannya karena Velicia sendiri yang memintanya untuk tidak menahannya.


Dia tahu hanya dengan mengartikan tatapan matanya. Dan itu membuat Raymond sangat sedih dan kehilangan. Dia merasa dunianya runtuh ketika dipisahkan dengan wanita yang dicintainya.


Raymond dan Velicia saling mencintai dan mereka ingin bahagia dengan hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Sayangnya takdir mempermainkan mereka. Cinta mereka dipertemukan ketika mereka sudah sama-sama memiliki pasangan. Sehingga banyak sekali rintangan yang harus mereka lalui.


Air mata mereka berdua mewakili penderitaan, sakit hati dan kesedihan mereka ketika mereka dipisahkan. Dan mereka akan mengutuk takdir yang kejam jika mereka benar-benar tidak bisa bersatu setelah apa yang mereka lakukan untuk melewati rintangan yang menghalangi kebahagiaan mereka. Karena mereka ingin dihadiahi surga kehidupan setelah pengorbanan yang mereka lalui untuk bisa bersatu dan hidup bersama.


Raymond menatap nanar mobil Ferdi yang membawa Velicia pergi meninggalkan tempat itu. Dan Tania menatap punggung Raymond dengan tatapan bengis dengan emosinya yang terlihat jelas dari wajahnya.


Tania melepaskan tangan Raymond setelah mobil Ferdi yang membawa Velicia pergi tidak terlihat kembali. Dia sudah sedikit tenang melihat Raymond yang sudah tidak memberontak lagi setelah kepergian Velicia.


“Kamu hamil?” tanya Raymond masih dengan posisi membelakangi Tania.


“Kenapa? Apa kamu pikir aku bohong?” tanya Tania dengan menetralkan ekspresinya.


Raymond hanya diam saja, pikirannya sedang kalut dan hatinya berselimutkan kesedihan, sehingga dia tidak bisa berpikir untuk melawan Tania yang sudah sangat keterlaluan menurutnya.


“Jika kita bercerai dan ketika anak ini sudah besar, dia pasti akan tau tentang ini. Lalu, apa yang akan ku katakan padanya ketika dia bertanya?” ucap Tania dengan menekan setiap katanya.


Raymond membalikkan badannya dan dia menatap tania dengan tatapan kekesalannya. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


“Akan aku lakukan dan akan aku turuti semua keinginanmu, asal kamu jangan mengganggu hidup Velicia. Aku mohon,” ucap Raymond dengan tatapan penuh permohonan pada istrinya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Tania meradang, dia tidak terima dengan apa yang diminta suaminya padanya demi wanita selingkuhannya.


“Kamu mengkhawatirkannya? Aku yang sedang hamil dan akan kamu ceraikan. Aku yang menderita karena suamiku direbut oleh temanku sendiri. Dan yang kamu khawatirkan hanya dia? Padahal aku dan anak kita hampir mati karenamu?” tanya Tania dengan menggebu-gebu dan emosinya sudah tidak bisa ditahannya lagi.


“Maaf. Aku benar-benar minta maaf padamu. Tapi dia tidak berbuat apa-apa. Aku yang bersalah,” ucap Raymond dengan sungguh-sungguh meyakinkan Tania agar tidak menyalahkan dan mengganggu Velicia.


“Diam! Dalam posisi seperti ini kamu masih bisa membelanya? Jangan kamu sebut lagi nama wanita sialan itu di hadapanku! Itu sangat menjijikkan dan membuatku ingin muntah. Lebih baik kamu diam dan tidak berbuat apa pun. Tebuslah dosamu seumur hidupmu padaku dan anak kita. Dan ku pastikan, aku akan membalasnya sesuai dengan yang ku terima darimu,” ucap Tania dengan emosinya yang semakin menggebu-gebu dan menatap Raymond dengan penuh kebencian.


Di dalam mobil Ferdi, Velicia masih saja menangis. Bahkan tangisannya menjadi-jadi hingga menyayat hati Ferdi yang mendengarnya.


Bayangan Tania yang mengatakan bahwa dirinya sedang hamil kembali, seolah nyata di hadapannya. Ferdi mengacuhkannya, dia masih saja fokus mengemudi dengan wajah yang terlihat sangat emosi.


“Aku mohon padamu. Lepaskan aku. Bagaimana bisa orang sepertiku bisa hidup bersama denganmu? Aku mohon…,” ucap Velicia lemah dan memohon pada suaminya.


Seketika Ferdi menghentikan mobilnya hingga membuat Velicia terkejut. Kemudian dia berkata,


“Aku mengerti. Bahkan aku sangat mengerti. Karena itulah, aku mohon padamu… Lepaskan aku… Aku mohon…,” ucap Velicia dengan suara bergetar disertai air matanya yang jatuh dengan derasnya.


Ferdi masih dengan pendiriannya. Dia tidak mau melepaskan istrinya meskipun dia memohon dengan air mata darah sekalipun.


“Lebih baik kita mati berdua saja karena aku juga tidak ingin hidup seperti ini,” ucap Ferdi dengan tegas dan menatap lurus ke depan dengan matanya yang berkaca-kaca.


Ferdi menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga membuat Velicia sangat ketakutan.


“Tidak. Jangan lakukan itu!” seru Velicia untuk menghentikan suaminya.


Ferdi mulai membelok-belokkan kemudinya dengan kecepatan tinggi di daerah sekitar tebing, hingga membuat Velicia teriak ketakutan.

__ADS_1


“Hentikan! Akan aku turuti semua kemauanmu!” teriak Velicia disertai tangisnya sambil mencoba menggapai kemudi yang dipegang oleh Ferdi.


Seketika mobil itu berhenti. Ferdi menghentikan mobilnya di sebuah lahan kosong yang penuh dengan semak-semak.


“Sialan! Sialan! Brengsek!” seru Ferdi mengumpat sambil memukul-mukul kemudinya hingga klakson mobilnya berkali-kali berbunyi dengan sangat keras.


Velicia sangat ketakutan dan menangis tersedu-sedu. Dia tidak pernah melihat suaminya sangat marah seperti itu.


Setelah tenang, Ferdi kembali menjalankan mobilnya menuju rumahnya. Velicia masih menangis, hanya saja suara tangisannya diredamnya. Hanya air matanya saja yang setia mengalir membasahi pipinya.


Keesokan harinya, Ferdi dan Velicia duduk berhadap-hadapan untuk membicarakan tentang mereka. Velicia hanya menundukkan kepalanya tanpa berbicara sepatah kata pun.


 “Aku akan dipindah tugaskan ke cabang di kota lain. Kita akan pindah ke sana. persiapkan dirimu,” ucap Ferdi untuk mengawali pembicaraan mereka.


“Mas Ferdi, apa kita harus hidup seperti ini Apa kamu sanggup hidup denganku yang seperti ini?” tanya Velicia dengan tatapan memohon pada suaminya.


“Tentu saja tidak akan mudah. Tapi mau bagaimana lagi. Kita belum mati, jadi hidup kita harus tetap berjalan,” ucap Ferdi dengan memandang lurus ke depan tanpa memandang istrinya.


“Apa kita tidak bisa hidup dengan tenang seperti dulu?” tanya Ferdi kembali pada istrinya.


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Ferdi. Segera dilihatnya nama si penelpon dan segera diangkatnya setelah dia membaca nama Tania pada layar ponselnya.


“Halo,” sapa Ferdi pada Tania.


Kita berempat akan bertemu dan membuat kesepakatan,ucap Tania dari telepon.


“Tentu saja kita harus membicarakan semuanya. Atur saja dan berikan alamatnya padaku,” ucap Ferdi sambil melihat ke arah Velicia.


Beberapa saat setelah itu, mereka berada di sebuah ruangan yang terdapat seorang pengacara di sana. Pengacara tersebut memberikan beberapa lembar berkas untuk mereka tandatangani sebagai suatu perjanjian kesepakatan mereka.

__ADS_1


“Silahkan dibaca dan ditandatangani. Kalian harus mentaati semua ketentuan perjanjian yang tertulis di sana,” ucap pengacara tersebut sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja yang ada di hadapan mereka.


__ADS_2