
Velicia duduk di kursi yang terletak di hadapan ibu mertuanya. Sedangkan Ferdi, dia berjalan dari tempat duduknya sambil berkata,
"Ada apa sih Bu."
"Duduklah di sini, Ibu akan mengatakan sesuatu pada kalian," ucap Bu Anisa dengan suara tegas seolah tidak ingin dibantah oleh siapapun.
Duduklah Ferdi di kursi yang ada di sebelah Velicia. Mereka berdua bersiap, duduk dengan tegap seolah sedang disidang.
Velicia menatap Ibu mertuanya dengan penuh tanda tanya. Dalam hatinya dia berkata,
Ada apa ini? Sepertinya Ibu akan mengatakan hal yang penting sekali. Apa Ibu akan menyuruh Mas Ferdi untuk menikah lagi agar bisa memberikan keturunan? Jika itu terjadi, lebih baik aku bercerai saja.
"Kalian berdua, apakah kalian sudah membuahkan hasil? Maksud Ibu, apa Velicia sudah hamil?" tanya Bu Anisa sambil menatap Ferdi dan Velicia secara bergantian.
Sontak saja Ferdi dan Velicia benar-benar kaget. Mereka selalu saja dihadapkan dengan pertanyaan yang sama dari Bu Anisa. Hanya saja biasanya mereka ditanya secara personal, tapi sekarang mereka berdua secara bersamaan disuguhi kembali oleh pertanyaan itu dari mulut Bu Anisa.
"Belum Bu," jawab Velicia lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Bu, jika Velicia sudah hamil, pasti kami akan memberi kabar bahagia itu secara langsung pada Ibu. Jika kami belum mengabarkannya, berarti Velicia belum hamil Bu," ucap Ferdi dengan penuh penekanan di setiap katanya sambil menatap ibunya.
Tampak raut kekecewaan dan kekesalan dari wajah Bu Anisa. Dia sangat ingin mempunyai cucu dari Ferdi dan Velicia karena dia hanya memiliki Ferdi sebagai putra satu-satunya.
"Ibu hanya menginginkan cucu dari kalian. Setiap Ibu berkumpul bersama dengan teman-teman Ibu, mereka selalu membicarakan tentang cucu mereka. Apa salah jika Ibu mengharapkan kalian agar lebih cepat mempunyai keturunan?" ucap Bu Anisa dengan memperlihatkan wajah sedihnya.
Velicia terdiam, hatinya trenyuh dengan mendengar apa yang diucapkan oleh ibu mertuanya.
"Ve mengerti Bu. Bahkan sangat mengerti. Ve juga ingin segera menjadi seorang Ibu. Sebab itulah Ve tetap menjadi guru di TK itu, agar Ve bisa merasakan mempunyai anak Bu. Ve sangat tau apa yang Ibu rasakan. Tapi… bagaimanapun juga kami berusaha. Jika Tuhan belum mengijinkan kami untuk memiliki anak, maka kami tidak akan pernah bisa memiliki anak sampai Tuhan mengijinkannya Bu," tutur Velicia dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
"Sudah Ferdi bilang dari dulu, kenapa kita tidak adopsi anak saja sih? Siapa tau jika kita adopsi anak maka Ve bisa cepat hamil," tukas Ferdi menengahi percakapan ibunya dan istrinya.
__ADS_1
"Tidak. Sampai kapanpun Ibu tidak akan setuju. Lebih baik kamu menikah lagi saja. Siapa tau dengan kamu berpoligami, istrimu yang baru bisa segera memberimu keturunan. Ibu tidak menginginkan cucu dari keturunan orang lain. Ibu menginginkan cucu dari keturunanmu sendiri," sahut Bu Anisa dengan emosi.
Daaaar!
Bagai tersambar petir, hati Velicia sangat sakit. Bahkan air matanya tidak keluar saat ini. Mungkin karena sudah sering sakit hati hingga air matanya mengering. Velicia hanya bisa merasakan hatinya bagai teriris-iris hingga sangat sakit dan menusuk di dalam hatinya yang paling dalam.
"Bu! Kenapa Ibu berkata seperti itu? Velicia istriku, sampai kapanpun hanya dia istriku. Tidak ada yang lain. Tega sekali Ibu mengatakan hal seperti itu di depan menantu Ibu sendiri. Ferdi tidak menyangka jika Ibu bisa mempunyai pikiran seperti itu," seru Ferdi di hadapan Ibunya.
Velicia hanya diam. Dia tidak kuasa menahan kesedihan dan sakit hatinya. Dia hanya tersenyum getir dengan kepalanya yang menunduk.
Ternyata benar apa yang aku pikirkan tadi, Velicia berkata dalam hatinya.
"Ibu kan hanya mengatakan yang sebenarnya. Lagi pula semua teman Ibu yang menyarankan itu semua pada Ibu. Sayangnya dari dulu Ibu tidak mau melaksanakannya," ucap Bu Anisa dengan nada meninggi di hadapan Ferdi yang memarahinya.
Setelah itu semuanya diam untuk beberapa detik. Kemudian Bu Anisa meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja makan.
Mata Ferdi terbelalak. Baru kali ini dia diperintahkan oleh ibunya untuk meminum obat herbal.
"Untuk apa Bu? Aku tidak memerlukan obat-obatan ini," ucap Ferdi sambil menggeser obat-obatan herbal yang ada di hadapannya untuk menjauh darinya.
"Supaya kalian cepat mendapatkan keturunan," jawab Bu Anisa dengan tegas.
"Tapi Bu, kami sehat. Dan kami tidak perlu obat-"
"Sudahlah, jangan hanya mengeluh saja. Cepat minumlah. Ibu akan menginap di sini untuk malam ini," ucap Bu Anisa sambil membukakan kemasan obat herbal tersebut untuk Velicia dan Ferdi.
Dengan terpaksa mereka berdua meminum obat herbal tersebut dengan pantauan dari Bu Anisa.
Glek!
__ADS_1
Mereka berdua menelan obat tersebut dengan wajah tidak suka. Obat-obatan itu terasa pahit dan berbau menyengat sehingga Velicia yang perutnya masih sakit menjadi mual dan ingin muntah.
Namun, sebisa mungkin dia menahannya karena sudah bisa dipastikan jika ibu mertuanya itu tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja sebelum menelan obat herbal tersebut.
"Pahit Bu!" ucap Ferdi sambil mengeluarkan lidahnya setelah meneguk habis obat herbal tersebut.
"Bagus! Sekarang kalian cepatlah tidur. Dan ingat, semua obat herbal ini harus kalian minum setiap hari," ucap Bu Anisa sambil menata beberapa obat herbal dalam lemari es.
Tanpa berkata-kata, Velicia segera masuk ke dalam kamarnya. Hatinya sungguh sakit mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya tepat di hadapannya.
Wanita mana yang tidak akan bersedih jika ibu mertuanya menyuruh anak laki-lakinya untuk menikah lagi di hadapan istrinya.
Velicia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dia sangat ingin sekali mengeluarkan air matanya agar hatinya bisa lega kembali meskipun nantinya akan terluka lagi.
Sayangnya air mata itu tidak keluar meskipun sekuat tenaga Velicia berusaha untuk mengeluarkannya.
Ditatapnya cermin yang ada di hadapannya dan diperhatikannya wajahnya sendiri dengan seksama. Kemudian dia berkata dalam hatinya,
Apa mungkin air mataku sudah kering karena terlalu sering aku menangis? Tuhan… apa yang harus aku lakukan jika Mas Ferdi benar-benar akan menikah lagi? Sungguh aku tidak ingin dimadu. Dan sampai kapanpun aku tidak akan mau untuk dimadu. Lebih baik aku berpisah saja dengannya daripada harus hidup dengan menyiksa batinku setiap harinya.
Setelah itu dia keluar dari dalam kamar mandi dengan perasaan yang masih sama seperti sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.
Grep!
Tangan Velicia ditarik oleh seseorang. Dan tubuhnya dihempaskan dengan pelan pada tembok.
"Sayang, aku kangen sama kamu. Ayo kita nikmati malam ini seindah mungkin," ucap seorang laki-laki yang sudah mengunci badan Velicia dengan kedua tangan kokohnya.
__ADS_1