Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 24 Kedatangan tamu yang membuat was-was


__ADS_3

"Aaahhh… rasanya segar sekali setelah mandi," ucap Velicia sambil memakai handuknya.


Setelah memakai pakaiannya, Velicia keluar dari kamar mandi tersebut.


Tring!


Suara notifikasi ponsel Velicia menghentikan langkah Velicia yang hendak membuka pintu kamarnya.


Velicia berjalan mendekati tasnya dan mengambil ponsel yang berada dalam tas miliknya.


Bibirnya kembali melengkung ke atas ketika melihat pesan dari orang yang sama, sebelum dia masuk ke dalam rumahnya.


Raymond mengirimkan beberapa foto Velicia yang diambilnya kala itu, pada saat sedang bermain gelembung sabun bersama anak-anak di taman.


Velicia tersenyum bahagia melihat foto-foto itu. Dia mengingat saat-saat di taman bermain gelembung sabun bersama anak-anak.


Dia tidak mengira jika Raymond melihatnya dan mengambil beberapa fotonya waktu itu.


Kenapa Raymond sangat perhatian sekali padaku? Apa hanya kebetulan saja? Atau mungkin aku yang terlalu percaya diri? Velicia berkata dalam hatinya dan terlihat rona merah pada pipinya.


"Bunda… Bundanya Lili… Ayo cepat kita makan," seru Ferdi dari meja makan.


"Meow… meow… meow…." 


Lili memutari kaki Ferdi sambil mengusap-ngusapkan kepalanya pada kaki Ferdi untuk meminta makan.


Ferdi berjongkok di depan Lili. Diusapnya dengan lembut bulu halus Lili yang sangat lebat. Kemudian dia berkata,


"Ada apa Lili, kamu minta makan ya?"


"Meow…."


Ferdi terkekeh mendengar jawaban dari Lili. Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju tempat makanan Lili berada.


Dia memberikan makanan pada tempat makan Lili. Dengan cepatnya Lili memakan makanan tersebut. 


"Sepertinya kamu kelaparan," ucap Ferdi sambil terkekeh.


"Kenapa Mas? Apa ada masalah?" tanya Velicia yang baru saja keluar dari pintu kamarnya.


"Enggak, gak ada apa-apa kok. Lili kelihatannya sangat lapar. Ternyata dia menunggu kita untuk meminta makan," jawab Ferdi sambil terkekeh melihat Lili yang sangat lahap memakan makanannya.


Velicia menatap heran pada suaminya. Beberapa saat dia memperhatikan suaminya dan ada pertanyaan dalam hatinya yang tidak akan mungkin dia tanyakan padanya.

__ADS_1


Sebenarnya ada apa Mas? Kenapa hari ini kamu tiba-tiba berubah setelah pulang kerja? Semoga kamu akan terus bersikap seperti ini Mas.


"Apa makanannya sudah disiapkan semua Mas?" tanya Velicia yang masih menatap suaminya sedang tersenyum melihat Lili makan dengan lahap.


Ferdi menoleh, dia menatap istrinya dan tersenyum padanya sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu, ayo kita makan Mas," ucap Velicia pada Ferdi, setelah itu dia berjalan menuju meja makan.


Ferdi pun beranjak dari hadapan Lili dan berjalan menuju meja makan. Duduklah Ferdi di kursi yang berada di depan Velicia.


"Cuci tangan dulu Mas," ucap Velicia sambil mengambilkan nasi putih ke dalam piring Ferdi dan miliknya.


Ferdi menghela nafasnya sejenak sambil menatap istrinya, setelah itu dia beranjak ke dapur untuk mencuci tangannya di wastafel yang berada di dapur.


"Meskipun Lili bersih, tapi tetap saja Mas kita harus mencuci tangan sebelum makan," tutur Velicia seraya meletakkan piring milik Ferdi di hadapannya.


"Tapi kan aku makannya pakai sendok, bukan pakai tangan," sahut Ferdi yang terlihat sedikit kesal.


Kini giliran Velicia yang menghela nafas melihat tingkah suaminya yang masih seperti anak kecil itu.


"Mas, bukannya aku ngomel karena ingin, tapi aku mengingatkanmu Mas. Kamu tau itu kan?" ucap Velicia yang merasa napsu makannya sedikit menghilang melihat tingkah suaminya.


"Iya. Tapi lain kali jangan seperti Ibu yang selalu mengomel meskipun semua perintahnya sudah dituruti," sahut Ferdi dengan nada kesal.


Velicia kembali menghela nafasnya dan hanya bisa berkata dalam hatinya,


Sudahlah Mas, sepertinya aku harus mengalah padamu. Malas sudah aku memperingatkanmu. Aku sangat lelah untuk bertengkar denganmu. Baru saja aku bersyukur dengan sikapmu yang sudah kembali berubah seperti dulu, nyatanya… Ah, sudahlah. Aku gak boleh banyak pikiran agar aku bisa cepat sembuh.


Mereka berdua memakan makanannya dengan diam layaknya orang tidak saling mengenal dalam satu meja.


Tok… tok… tok…


Sontak saja Velicia dan Ferdi menghentikan makannya dan mereka saling memandang.


"Siapa Mas?" tanya Velicia dengan menatap penuh tanya pada Ferdi.


"Gak tau. Siapa ya yang datang malam-malam begini?" ucap Ferdi sambil beranjak dari kursinya.


Velicia hendak berdiri mengikuti suaminya untuk membukakan pintu, tapi diurungkannya, dia duduk kembali di kursinya.


Lebih baik aku teruskan makan saja, setelah itu aku ingin beristirahat. Rasanya badanku masih sedikit lemas, Velicia berkata dalam hatinya sambil meneruskan makannya.


"Kalian sedang makan?" 

__ADS_1


Terdengar suara wanita paruh baya yang tidak asing ditelinga Velicia. 


Velicia menoleh ke arah pintu. Dan benar saja apa yang ada dalam pikirannya. Bu Anisa kini berjalan ke arahnya sambil membawa bungkusan di tangannya.


Velicia segera bangun dari duduknya dan mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Iya Bu. Baru saja kita makan," jawab Velicia sambil duduk kembali di kursinya setelah ibu mertuanya juga duduk di kursi depannya, lebih tepatnya di sebelah kursi Ferdi.


Tampak Bu Anisa yang memperhatikan setiap makanan yang tersedia di atas meja makan tersebut.


Dalam hati Velicia sangat ketar-ketir. Dia tidak ingin mendapatkan omelan ataupun ceramah dari ibu mertuanya saat ini. Dia sudah teramat lelah lahir batin untuk hari ini.


Badannya yang masih sedikit lemas dan perutnya yang kadang masih terasa sakit membuatnya ingin sekali tidur di atas ranjang empuk kesayangannya.


"Lumayan enak," ucap Bu Anisa setelah mencicipi semua makanan yang tersaji di meja makan.


Ferdi tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Velicia. Dan Velicia pun membalas senyuman Ferdi dengan wajahnya yang masih sedikit pucat.


"Kalian teruskan saja makannya," tutur Bu Anisa sambil mengambil kerupuk dari dalam toples yang ada di hadapannya.


"Ibu tidak makan?" tanya Velicia dengan suara lembutnya yang sedikit lemah.


"Ibu sudah makan tadi di rumah sebelum datang ke sini," jawab Bu Anisa di sela kunyahannya.


Velicia dan Ferdi pun meneruskan makannya dengan diam, tanpa ada suara ataupun perbincangan.


Setelah mereka selesai makan, Velicia merapikan meja makan sendiri. Inilah yang Velicia tidak suka dari Ferdi saat ini. Dia sudah tidak lagi seperti dulu yang selalu membantu istrinya.


Velicia tersenyum getir ketika membereskan semua peralatan makan dan mencucinya. Dalam hati dia berkata,


Nasib… nasib… sudah badan lemas, masih saja mengerjakan pekerjaan seperti ini. Padahal dia tau kalau istrinya masih sakit, tapi kok ya tega dia membiarkan istrinya mengerjakan ini semua. Apa yang kamu harapkan Ve, kemarin saja ketika kamu benar-benar sedang sakit, anak dan ibu itu bisa menyuruhmu mengerjakan semuanya. Kadang aku berpikir jika aku adalah seorang pembantu di sini, bukan seorang istri.


"Velicia… ke sini lah jika sudah selesai," seru Bu Anisa dari ruang makan.


Velicia pun segera datang memenuhi panggilan ibu mertuanya.


"Ada apa Bu?" tanya Velicia yang tiba-tiba merasa deg-degan.


"Ferdi… kamu juga ke sini lah, Ibu mau bicara pada kalian," Bu Anisa kembali berseru memanggil Ferdi yang sedang duduk di sofa dengan televisi yang menyala.


Velicia menatap Ibu mertuanya dengan penuh tanda tanya. Dalam hatinya dia berkata,


Ada apa ini? Sepertinya Ibu akan mengatakan hal yang penting sekali. Apa Ibu akan menyuruh Mas Ferdi untuk menikah lagi agar bisa memberikan keturunan? Jika itu terjadi, lebih baik aku bercerai saja.

__ADS_1


__ADS_2