
Mobil Tania memasuki halaman sekolah tempat Raymond mengajar. Dia menatap sekeliling sekolahan tersebut yang pagarnya masih tertutup rapat.
Turunlah Tania dari mobilnya. Dia membuka gerbang tersebut yang memang tidak digembok, hanya ditutup saja karena ada satpam yang menjaga di dalam pos penjagaan yang terletak di dalam sekolah tidak jauh dari pagar tersebut.
“Ada apa Bu?” tanya satpam tersebut pada Tania yang sedang berdiri dengan membawa payung setelah membuka Sebagian pagar tersebut.
“Saya mencari Pak Raymond. Apa dia ada di dalam?” tanya Tania pada satpam tersebut.
Satpam tersebut mengernyitkan dahinya dan dia melihat ke sekeliling area sekolah yang sedari tadi sepi, tidak ada yang masuk ke dalam sekolahan itu selain satpam yang bertugas.
“Dari tadi pagi hanya kami berdua saja yang ada di sekolah ini Bu. Tidak ada guru atau pun murid yang masuk ke dalam sekolahan,” tutur satpam tersebut yang terlihat sangat meyakinkan.
Sontak saja Tania merasa heran dan terkejut. Kemudian dia bertanya,
“Apa ada acara camping guru dan murid Pak?”
Satpam tersebut kembali mengernyitkan dahinya. Dia mencoba mengingat-ingat sesuatu tentang apa yang ditanyakan oleh Tania padanya.
“Setau saya sih tidak ada Bu. Entah jika mereka membuat acara sendiri dan saya tidak tau,” ucap satpam tersebut sambil terkekeh di akhir ucapannya.
Deg!
*Apa yang sedang terjadi? Di mana sebenarnya kamu berada Ray? *Tania berkata dalam hatinya.
Melihat wajah Tania yang sepertinya sedang berpikir, satpam tersebut mengatakan sesuatu padanya.
“Coba Ibu cari di halte bus yang ada di ujung jalan. Jika mereka memang pergi bersama, pasti mereka akan berkumpul dan pergi bersama dari sana.
Seketika ada harapan untuk menemukan suaminya ketika dia mendengar saran dari satpam tersebut. Kemudian dia berkata,
“Terima kasih Pak. Saya akan mencoba mencarinya di sana. Tapi, apa boleh saya menitipkan mobil saya di sini?”
__ADS_1
“Boleh Bu, silahkan parkir di dalam saja,” ucap satpam tersebut.
Setelah itu, Tania memarkirkan mobilnya di tempat parkir kendaraan guru. Kemudian dia membawa dua payung. Satu payung untuk dipakainya dan satu payung lagi dibawanya untuk suaminya.
Tidak jauh dari halte tersebut, dia melihat suaminya sedang berdiri akan masuk ke dalam bus yang ada di depannya. Mulutnya terbuka akan memanggil suaminya, tapi diurungkannya karena melihat suaminya mengulurkan tangan pada seorang wanita sambil tersenyum padanya.
Seketika Tania melepaskan payung yang dipegangnya. Kedua payung tersebut jatuh di tanah tanpa ada yang kembali dipungutnya.
Kedua matanya menatap tajam ke arah mereka berdua, rahangnya mengeras, dadanya bergerak naik turun, nafasnya memburu dan tangannya mengepal melihat Raymond dan Velicia yang terlihat sangat bahagia bahkan ketika mereka sudah duduk di dalam bus tersebut.
“Kurang ajar kalian berdua!” ucap Tania dengan penuh kebencian.
Tania menatap nanar bus yang berjalan menjauhinya dengan membawa suami serta sahabatnya. Dia menahan air matanya agar tidak menetes. Dengan wajah datar dan penuh kekecewaan itu dia berjalan seperti orang linglung menuju rumahnya.
Derasnya hujan tidak menghalanginya untuk bisa berjalan menuju rumahnya. Bahkan dia meninggalkan mobilnya di sekolah tempat suaminya mengajar.
Air hujan yang mengguyurnya tidak dirasakan dingin olehnya. Dia tetap berjalan meskipun hujan bertambah deras membasahi tubuhnya.
Lantai rumah yang kering kini menjadi basah karena bercak kaki dan air yang menetes dari baju Tania.
Dia melihat sekeliling rumah yang sangat sepi. Kemudian matanya tertuju pada foto pernikahan mereka yang berada di atas meja ruang tamu dan foto pernikahan mereka yang bergantung indah di tembok.
Foto-foto tersebut baru dipasangnya beberapa hari yang lalu oleh Tania. Dan kini dia menatap dengan amarah foto-foto tersebut.
Prang!
Foto yang ada di atas meja dibantingnya ke lantai. Kemudian diambilnya foto yang bergantung di tembok dan kembali memecahkannya dengan cara yang sama, membantingnya ke lantai hingga kaca dari pigora-pigora tersebut menjadi serpihan dan berceceran di lantai.
Tania duduk di kursi ruangan tersebut dengan dikelilingi pecahan kaca di sekitarnya. Dia tidak mempedulikan bajunya yang basah dan tubuhnya yang sedang menggigil kedinginan. Baginya panas yang ada dihatinya bisa menghangatkan badannya.
Lama dia duduk di sana tanpa bergeming sedikit pun. Dia memikirkan apa yang terjadi dan memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini.
__ADS_1
Meninggalkan Raymond karena sakit hati telah dikhianatinya? Apakah mungkin seorang Tania bisa menyerahkan miliknya pada orang lain, meskipun orang itu adalah sahabatnya?
Tania memikirkan semuanya hingga dia kembali emosi. Diambilnya gelas yang ada di meja, gelas bekas minumnya tadi sebelum dia berangkat menyusul suaminya.
Prang!
Gelas itu kini menjadi serpihan kaca yang menyebar di lantai. Mengingat wajah suaminya yang sangat bahagia, Tania kembali emosi.
“Aaaaaaakhhhh…!!!” Tania berteriak histeris disaat petir menggelegar bersamaan dengan teriakannya.
Bahkan semua barang yang ada di sekitarnya dibantingnya. Seolah tidak puas dengan semua itu, dia berjalan ke arah rak dapur dan melewati pecahan kaca tersebut tanpa merasakan sakit di kakinya.
Seperti orang yang kesetanan, dibantingnya semua barang-barang yang ada di dapur ke sembarang arah. Bahkan tangannya sempat tergores pinggiran barang yang tajam.
Darah yang ada di telapak tangan dan telapak kaki tak dirasanya. Baginya hatinya yang paling sakit karena miliknya telah direbut oleh wanita lain.
Bagi Tania, miliknya adalah miliknya. Tidak ada yang boleh menyentuhnya, terlebih memilikinya. Dan bisa dipastikan jika dia akan menghancurkan siapa pun yang berusaha merebut miliknya.
Di tempat berbeda, Raymond dan Velicia kini sedang berjalan di taman rekreasi yang penuh dengan berbagai macam bunga. Mereka berjalan menyusuri taman tersebut dengan bergandengan tangan sepanjang jalan.
“Untung saja hujannya sudah berhenti,” ucap Velicia sambil tersenyum melihat indahnya hamparan tanah luas yang ditumbuhi dengan aneka macam bunga yang berwarna-warni.
Raymond tersenyum melihat wajah cantik wanita yang sangat dicintainya. Tak henti-hentinya dia memandang wajah Velicia dan selalu tersenyum ketika melihatnya.
“Ve, apa kamu mau bersamaku jika aku sendiri?” tanya Raymond sambil menatap serius pada wanita yang sedang bersamanya.
Seketika Velicia menoleh pada Raymond. dia menatap Raymond dengan penuh tanda tanya. Banyak sekali hal yang sebenarnya ingin dikatakannya dan dia juga ingin melakukan banyak hal bersama dengan Raymond, tapi status mereka yang masih terikat dengan pasangan mereka masing-masing membuatnya tidak bisa bebas seperti pasangan yang lainnya.
“Maksudku, jika seandainya aku sudah bercerai dan kembali melajang, apa kamu mau hidup bersamaku? Kita hidup bersama dan menua bersama,” ucap Raymond dengan tatapan serius pada Velicia.
Velicia menatap Raymond dengan tatapan kebahagiaan. Dalam hatinya dia berkata,
__ADS_1
Akhirnya aku mendengar apa yang ingin aku dengar selama ini. Pernyataan cinta yang tulus dan keinginannya untuk hidup bersama hingga kami sama-sama menua dan ajal menjemput kami. Sangat sederhana dan terkesan seperti rayuan. Tapi aku menyukainya, karena aku melihat ketulusan dan kejujuran dari matanya.