
Getaran ponsel mereka berdua mengagetkan mereka yang sedang menyelami perasaan mereka masing-masing. Mereka saling menatap ketika melihat nama si penelpon yang tertera dengan jelas pada layar ponsel mereka.
Seketika mereka berdua canggung dan hanya menatap layar ponsel masing-masing seperti sedang berpikir akan menjawab telepon tersebut atau hanya membiarkannya saja, berpura-pura tidak tahu.
Tiba-tiba tangan Raymond menyentuh tombol untuk mematikan ponselnya. Kemudian dia menatap Velicia sambil berkata,
“Mmm… Ve, bagaimana kalau kita di sini hanya memikirkan diri kita sendiri saja?”
Velicia menatap intens manik mata pria yang dicintainya itu dan dia menemukan keseriusan dari matanya. Dia mengangguk setuju dengan apa yang disarankan oleh kekasih hatinya itu.
Kemudian Raymond mengambil ponsel Velicia dan mematikan ponsel tersebut. Setelah itu dia meletakkan ponsel mereka berdua di atas meja yang ada di sana.
Sebenarnya mereka berdua sadar jika cinta mereka menyebabkan rasa sakit untuk orang lain. Mereka tahu jika mereka berdua egois. Tapi,untuk kali ini mereka ingin memikirkan tentang mereka berdua saja.
Mereka ingin merasakan kebahagiaan bersama dengan orang yang dicintainya. Mereka ingin merasakan hidup berdua tanpa ada orang lain yang menghakimi mereka layaknya penjahat yang sangat meresahkan masyarakat. Mereka hanya ingin bersatu dan bahagia dengan cinta yang mereka miliki.
Raymond menarik tangan Velicia dengan lembut dan mengajaknya ke rooftop rumahnya. Di sana terdapat kursi dan meja dan yang ditata apik dengan pemandangan langit malam yang begitu nyata terasa.
Kemudian Raymond menyentuh sebuah tombol dan lampu kecil-kecil di sana menyala dengan sangat indah sekali. Hingga membuat Velicia benar-benar terpukau dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.
“Bagaimana? Kamu suka?” tanya Raymond sambil tersenyum menatap kekasih hatinya yang sedang tersenyum bahagia.
“Ternyata bintang-bintang di sini terlihat lebih indah,” ucap Velicia sambil tersenyum kagum melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit malam.
Raymond tersenyum melihat ekspresi wanitanya yang sangat menyejukkan hatinya. Kemudian dia berkata,
“Pasti hari ini sangat berat bagimu,” ucap Raymond dengan serius sambil menatap wajah Velicia.
Velicia mengalihkan perhatiannya dari langit yang luas itu pada pria yang dicintainya. Lalu dia berkata,
“Tidak. Sama sekali tidak berat buatku. Karena aku tidak sendirian. Aku yakin jika bintang yang paling terang akan datang untuk menolong orang yang sedang tersesat dan putus asa mencari jalan.”
__ADS_1
“Lalu, apa tujuanmu sekarang?” tanya Raymond dengan antusias.
“Kamu tidak tau jika bintang itu barusan datang menghampiri kita?” jawab Velicia sambil tersenyum pada Raymond.
“Jadi…,” Raymond menggantungkan ucapannya, berharap agar Velicia menyelesaikan apa yang diucapkannya.
“Aku sudah menemukan tujuanku saat ini,” ucap Velicia sambil tersenyum manis pada Raymond.
Raymond tersenyum bahagia. Dia merasa lega karena apa yang direncanakannya benar-benar membuat Velicia bahagia.
Velicia melingkarkan tangannya pada lengan Raymond yang sedang duduk di sampingnya. Kemudian dia menyandarkan kepalanya pada bahu pria yang sangat dicintainya sambil menatap bintang yang gemerlap dengan indah di hamparan langit malam yang sangat luas. Dalam hati dia berkata,
Bahkan jika malam ini adalah malam terakhir kita bersama, aku tidak akan menyesali sejauh mana kita melangkah hari ini.
Mereka benar-benar melupakan pasangan mereka yang mungkin saja kini sedang resah dan gelisah mencari mereka berdua. Rasa cinta dan ingin saling memiliki membuat mereka melepaskan segalanya, demi kebahagiaan yang sangat ingin mereka raih dan belum pernah mereka rasakan sepanjang hidup mereka.
Keesokan paginya, Velicia terbangun dan dia tidak mendapati Raymond di sebelahnya. Dia cemas dan panik.
Satu hal yang ditakutinya adalah takut ditinggalkan orang yang dicintainya, seperti saat dia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya untuk selamanya. Kini dia sudah menemukan cintanya dan dia tidak mau kehilangannya.
“Ray…! Ray…! Ray, kamu di mana?!” seru Velicia sambil menuruni tangga.
Dia mendengar suara dari arah dapur. Dan dia menghela nafasnya lega ketika melihat punggung pria yang dicintainya sedang melakukan sesuatu di sana.
“Ray, aku mencarimu,” ucap Velicia sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Raymond dan memeluknya dari belakang.
Raymond menoleh dan tersenyum melihat wajah pagi wanitanya. Kemudian dia memutar badannya dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Velicia dan memeluknya.
Setelah beberapa saat, dia menguarai sedikit pelukannya dan menatap wajah Velicia sambil berkata,
“Udara di sini sangat segar. Aku hanya berjalan-jalan sebentar untuk membeli sayuran. Aku ingin memasak untukmu.”
__ADS_1
“Memasak?” celetuk Velicia seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raymond.
Raymond tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memperlihatkan pada Velicia bahan apa saja yang sedang disiapkannya sambil berkata,
“Lihatlah.”
“Wah… sayurannya segar-segar sekali. Apa karena di sini daerah pegunungan, jadi sayurannya bisa sesegar ini?” ucap Velicia dengan mata yang berbinar melihat sayuran-sayuran yang ada di hadapannya.
Raymond memegang kedua pundak Velicia dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari tempatnya memasak sambil berkata,
“Duduklah di sini. Aku akan memasak untukmu.”
“Di sini hanya ada sayur-sayuran yang bisa di masak. Apa kamu tidak keberatan?” tanya Raymond sambil mengupas sayuran.
“Aku tidak keberatan Ray, selama kamu yang memasaknya untukku,” jawab Velicia sambil tersenyum melihat pria yang dicintainya sedang memasakkan sesuatu untuknya.
Velicia tersenyum, dia sangat bahagia diperlakukan seperti itu oleh seorang pria, apalagi pria itu sangat mencintainya. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Bahkan dia merasa dijadikan sebagai pembantu, bukan sebagai seorang istri.
Setelah beberapa saat, makanan yang dimasak oleh Raymond sudah jadi. Dia mengajak Velicia makan di gazebo belakang rumah yang terdapat kebun di sana. Suasananya sangat asri, menyegarkan dan menenangkan.
“Sangat damai jika bisa tinggal di sini,” ucap Velicia sambil matanya menyusuri sekitar tempat itu.
“Apa kamu mau tinggal di sini Ve? Aku sudah mengatakan pada kedua orang tua Tania bahwa aku akan menceraikan Tania,” tukas Raymond setelah menelan makanannya.
Velicia menatap Raymond sambil tersenyum padanya. Dia tidak menjawab pertanyaan Raymond, tapi dia tahu jika Raymond lebih dari sekedar tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh Velicia padanya.
Di tempat yang berbeda, Ferdi merasa frustasi di rumahnya. Dia menghubungi ponsel Velicia yang sejak kemarin malam tidak bisa dihubunginya. Kali ini dia juga masih mencoba untuk menghubungi ponsel istrinya, tapi hasilnya tetap sama. Hanya suara operator saja yang dia dengar.
Merasa sangat frustasi, dia segera menghubungi nomor polisi dan melaporkan istrinya sebagai orang hilang.
“Halo, saya ingin melaporkan bahwa sudah sejak kemarin istri saya tidak pulang. Apa bisa melacak keberadaannya dengan menggunakan ponselnya?” tanya Ferdi pada seorang Polisi yang berada di seberang sana melalui telepon.
__ADS_1
“Ferdi… Apa kamu tidak bekerja? Sudah jam berapa ini? Kenapa mobilmu masih ada di rumah?”
Tiba-tiba saja suara Bu Anisa yang berseru sambil berjalan masuk ke dalam rumah membuat Ferdi kaget dan mematikan teleponnya.