Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 51 Pembuktian


__ADS_3

Ferdi tidak bisa menjelaskan pada Velicia jika memang pada saat itu Lani diantarkan pulang olehnya


Ferdi saat ini merasa seperti makan buah simalakama. Karena kemarin malam dia sudah terlanjur mengatakan pada Velicia hanya mengantarkan ibunya pulang saja. Dan tadi pagi dia juga mengatakan hanya ibunya dan Velicia saja yang duduk di kursi mobil depan sebelah pengemudi.


Kini dia bingung akan mengatakan yang sesungguhnya atau tetap menyembunyikan fakta tentang malam itu.


Lalu apa yang harus aku katakan pada Velicia? Ferdi merasa frustasi bertanya pada dirinya sendiri dalam hatinya.


"Tidak usah bingung Mas, aku sudah tidak butuh lagi jawabanmu. Bagiku, semua ekspresimu telah menjadi jawabanmu," ucap Velicia sambil tersenyum getir melihat ekspresi kaget dari suaminya.


"Ve, bukan begitu. Itu… aku… aku bisa jelaskan semuanya," ucap Ferdi gugup.


Velicia kembali tersenyum meremehkan pada suaminya. Kemudian dia berkata,


"Ceritakan apa lagi Mas? Toh dari tadi Mas Ferdi hanya diam saja."


Ferdi merasa salah tingkah ketika ditatap oleh istrinya. Dia tiba-tiba seperti orang yang kehilangan arah. Kini Ferdi yang sangat percaya diri hilang seketika di hadapan Velicia.


Velicia merasa telah membuang-buang waktunya berbicara dengan suaminya. Dia beranjak pergi meninggalkan suaminya.


"Aku menolongnya kemarin," ucap Ferdi untuk menghentikan langkah Velicia.


Baru saja satu langkah Velicia berjalan, dia menghentikan langkahnya, mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat itu karena mendengar ucapan suaminya.


Velicia tidak menoleh ke belakang, di mana suaminya berada. Dia hanya menghentikan langkahnya dan bersiap kembali melangkah jika Ferdi tidak meneruskan ucapannya.


"Sewaktu aku kembali setelah mengantarkan Ibu pulang, aku melihat Lani diganggu oleh beberapa laki-laki. Setelah itu aku-"


Tiba-tiba Velicia menoleh ke belakang sambil berkata,


"Mas menolongnya dan mengantarkannya pulang?" 


Ferdi menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan istrinya. Dan dia berharap bahwa Velicia bisa memahami situasinya sehingga dia tidak mempermasalahkan masalah itu kembali.


Velicia terkekeh sehingga membuat Ferdi heran. Dalam hati dia bertanya-tanya,


Kenapa Ve tertawa? Apa karena dia merasa bersalah telah menuduhku? Tapi mengapa tertawanya seperti itu? Seperti orang yang menertawakan orang lain.

__ADS_1


"Basi sekali alasanmu Mas," ucap Velicia di sela tawanya.


Dahi Ferdi mengernyit mendengar ucapan dari istrinya. Kemudian dia berkata,


"Memang seperti itu cerita yang sebenarnya Ve. Aku tidak berbohong. Dan kamu bisa menanyakannya sendiri pada Lani jika kamu tidak mempercayaiku," tutur Ferdi untuk membela dirinya sendiri.


"Lalu setelah itu apa? Kenapa tidak dijelaskan sekalian padaku apa yang terjadi? Apa yang kalian lakukan setelah itu hingga Mas Ferdi sampai rumah larut malam?" tanya Velicia berapi-api.


"Ah… pantas saja kata Mas Ferdi tempat jual buburnya sudah tutup. Ternyata itu alasannya," ucap Velicia sambil tersenyum getir dan menatap tajam pada suaminya yang duduk di depannya.


"Tapi aku memang ke sana dan mereka sudah tutup," sahut Ferdi membela dirinya.


Velicia kembali tersenyum meremehkan setelah mendengar apa yang dikatakan Ferdi untuk membela dirinya.


"Bagaimana tidak tutup jika Mas Ferdi datang ke tempat penjual bubur setelah mengantarkan wanita itu pulang? Bahkan aku yang sedang sakit ini pun bisa dikalahkan oleh wanita itu. Hebat sekali dia," ucap Velicia sambil terkekeh menertawakan dirinya yang menurutnya bernasib sangat menyedihkan.


Mata Ferdi terbelalak mendengar ucapan Velicia. Dia merasa tertohok karena apa yang dikatakan oleh istrinya itu benar adanya.


Tanpa disadari oleh Ferdi malam itu, keinginannya untuk segera membelikan bubur istrinya menjadi tertunda karena mengantarkan Lani pulang ke kos-kosannya.


Segera dia membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju kamarnya.


Lagi-lagi Velicia tidak bisa menahan tangisnya. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan segera mengunci pintunya.


Dinyalakannya kran air itu dan dibiarkannya terbuka agar suara air mengalir dari kran tersebut bisa meredam suara tangisnya.


Baru saja dia merasa senang karena hari-harinya bersama Raymond tadi. Tapi kini kebahagiaan itu telah kembali sirna ditelan rasa kecewa dan sedih karena suaminya.


Hatinya benar-benar sakit hingga merasa seperti diiris-iris. Dia membayangkan jika suaminya melakukan perselingkuhan dengan berhubungan badan ataupun berciuman dengan Lani.


Dia juga sangat kecewa dan merasakan sakit hati karena suaminya yang lebih mementingkan Lani daripada dirinya yang berstatuskan istri sahnya.


Hati Velicia sudah bertekad untuk menyudahi tangisnya dan berpikir jernih untuk rumah tangganya. Sayangnya air matanya tak henti-hentinya turun membasahi pipinya.


Diambilnya nafas dalam-dalam sambil mengusap jejak air mata di wajahnya. Dengan sesengukan Velicia menghadap cermin yang ada di dalam kamar mandi tersebut.


Tampak wajahnya yang dibanjiri oleh air mata dan mata bengkaknya yang sedari pagi menangis tanpa henti.

__ADS_1


Mataku sangat bengkak, mungkin ini karena aku menangis mulai dari tadi pagi. Untung saja ada Raymond yang membuatku terhibur meskipun hanya beberapa saat saja, Velicia berkata dalam hatinya sambil menatap dirinya dalam cermin yang ada di hadapannya.


Tiba-tiba bayangan dirinya dan Raymond yang saling menempelkan bibirnya membuat Velicia menutup matanya.


Dia sungguh tidak sanggup membayangkan kembali adegan tersebut. Dia merasa sangat bersalah meskipun mereka sama-sama larut dalam situasi saat itu.


Apa bedanya aku dengan Mas Ferdi jika aku benar-benar melakukannya. Meskipun kami tidak sengaja, tapi ini tidak benar. Kami sama-sama mempunyai pasangan dan pasanganku… suamiku juga berselingkuh, Velicia kembali berkata dalam hatinya.


Velicia kembali terdiam dan menatap wajahnya melalui cermin yang ada di hadapannya itu.


Senyuman Raymond yang sangat manis dan menenangkan, serta pembawaan Raymond yang tenang dan tutur katanya yang sangat menenangkan itu membuat Velicia selalu teringat padanya.


Bahkan perhatian Raymond yang melebihi Ferdi itu membuat Velicia semakin kagum padanya.


Andai saja suamiku seperti Raymond, pasti kehidupan rumah tanggaku tidak akan seperti ini, Velicia berkata dalam hatinya.


Velicia menghentikan kran air yang dinyalakannya tadi sebagai teman untuk dirinya menangis dalam kamar mandi tersebut.


Ceklek!


Velicia membuka pintu kamar mandi dan dia terkejut melihat suaminya yang sudah duduk di ranjang dan bersandar pada kepala ranjang seolah menantikan kedatangan Velicia di sana.


Diacuhkannya suaminya itu dan dia berbaring membelakangi suaminya.


Ferdi menatap dengan tatapan bersalah pada istrinya. Dia merasa jika dia harus segera menyelesaikan masalah mereka berdua agar kehidupan mereka kembali normal seperti pasangan pada umumnya.


"Bunda, Ve, Sayang, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkan suamimu ini?" ucap Ferdi dengan suara yang mengiba pada Velicia yang sudah berbaring dengan memunggunginya.


Velicia tersenyum getir penuh luka mendengar permintaan dari suaminya yang seolah membenarkan tuduhan yang diberikan oleh Velicia padanya.


Sekelebat bayangan Raymond yang sedang tersenyum kembali hadir di matanya.


Merasa sangat bersalah, dia berkata pada Ferdi,


"Lakukan operasi itu kembali."


 

__ADS_1


__ADS_2