Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 37 Kekhawatiran Raymond


__ADS_3

Inilah yang membuatnya ingin berada di kota lain. Kota di mana jauh dari keluarga istrinya yang selalu menginginkannya untuk melakukan segala sesuatu yang mereka perintahkan. Tak jauh beda dengan Tania. Mereka selalu menginginkan segalanya sesuai dengan keinginan mereka.


Dari awal Raymond tidak menginginkan pernikahannya dengan Tania karena hal itu. Dia tidak ingin menjadi pesuruh dari keluarga Tania.


Namun, takdir berkata lain. Semua atas kendali orang tua Tania sehingga Raymond harus menerima tawaran orang tua Tania untuk menikahi Tania.


Kini mereka sudah berada di cafe tempat Tania dan Velicia makan siang waktu itu. Dan dia juga mengajak Raymond menempati bangku yang sama dengan yang ditempatinya bersama Velicia saat itu.


"Nyaman kan tempatnya?" tanya Tania pada Raymond sambil memakan makanannya.


Raymond tersenyum dan menganggukkan kepalanya serta memakan makanannya tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


Mereka makan dengan diam. Tania sibuk dengan ponselnya ketika makan. Dan Raymond tidak bisa melarangnya.


Sudah berkali-kali Raymond melarang kebiasaan Tania yang sedang makan dengan memainkan ponselnya, tapi sayangnya itu hanya menjadi ocehan biasa. Tania tetap saja tidak menghargai Raymond yang sedang makan bersamanya.


Setelah Tania habis memakan makanannya, dia beranjak dari kursinya dan berkata,


"Sayang, aku ke toilet dulu ya."


Raymond pun mengangguk dan tersenyum padanya. Diperhatikannya istrinya itu dari tempat duduknya saat ini.


"Ternyata dia sudah tau toiletnya di mana," ucap Raymond sambil tersenyum.


Seketika dia teringat jika kemarin siang bertemu dengan Velicia di cafe tersebut. Dan dia tersenyum melihat kursi yang didudukinya sekarang ini adalah kursi yang diduduki oleh Velicia waktu itu.


Segera dia kembali mengirim pesan pada Velicia menanyakan tentang keadaannya saat ini serta makanan apa yang telah dimakannya tadi. 


Setelah mendapat balasan dari Velicia, Raymond kembali bertanya padanya melalui pesan yang dikirimkannya pada Velicia.


Ve, apa suamimu sudah berada di sana untuk menemanimu? 

__ADS_1


Hanya beberapa detik saja Raymond sudah mendapatkan balasan dari Velicia.


Sudah Ray. Dia sedang membeli mineral water di luar.


Raymond bernafas lega membaca balasan dari Velicia. Dia hanya khawatir jika Velicia tidak ada yang menunggunya. Bahkan dia khawatir jika Velicia tidak makan dengan baik karena tidak ada yang membantunya atau menunggunya.


"Sayang, kita jalan-jalan yuk," ucap Tania setelah duduk di kursinya.


Raymond memandang wajah istrinya yang sepertinya sangat mengharap. Dia menghela nafasnya. Sebenarnya dia ingin beristirahat di rumah sekarang ini. Tapi ekeinginan istrinya untuk berjalan-jalan di malam hari membuatnya harus mengalah.


"Baiklah. Tapi hanya sebentar saja ya. Aku sangat lelah hari ini," ucap Raymond sambil menatap lembut istrinya.


Tania menganggukkan kepalanya dengan antusias. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan menarik tangan Raymond untuk segera pergi dari tempat itu.


Raymond menghentikan langkahnya sehingga menahan langkah kaki Tania yang hendak menariknya keluar dari cafe tersebut.


Kaki Tania pun terhenti dan dia menoleh ke arah suaminya seolah bertanya alasannya menghentikannya.


"Sebentar, aku akan membayar ke kasir dulu," ucap Raymond sambil menahan tangan Tania yang menariknya.


"Harusnya tadi kita tidak membawa mobil kalau kamu ingin berjalan-jalan. Kamu tidak percaya sih dengan apa yang aku katakan," ucap Raymond ketika mereka sudah berada di dalam mobilnya.


Seketika bibir Tania mengerucut mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya seolah menyalahkannya.


"Kan aku gak tau kalau tiba-tiba ingin jalan-jalan," protes Tania yang tidak mau disalahkan oleh Raymond.


"Aku tidak menyalahkanmu, hanya saja lebih praktis jika kita tadi berjalan kaki saja. Sekarang kita bingung akan memarkirkan mobilnya di mana. Lihat parkirannya semua sudah penuh," tutur Raymond sambil mengemudikan mobilnya berputar-putar di area taman untuk mencari tempat parkir.


"Iya… iya… aku salah. Aku minta maaf," ucap Tania yang merasa bersalah.


Mereka sudah berputar-putar mencari tempat parkiran mobil selama kurang lebih lima kali putaran dan mereka masih belum mendapatkan tempat parkir.

__ADS_1


"Udah deh kita pulang saja. Dari tadi cuma muter-muter aja gak ada tempat parkirnya," ucap Tania dengan wajah kesalnya.


"Iya, lebih baik kita pulang saja. Aku juga sudah lelah, ingin segera istirahat," sahut Raymond sambil mengemudikan mobilnya ke arah jalan rumahnya.


Di dalam kamar inap Velicia, Ferdi merasa takut untuk mendekati istrinya. Dia hanya memandang Velicia dari sofa tempatnya dia duduk saat ini. 


Sedangkan Velicia, dia tidak bisa tidur karena banyaknya beban pikiran yang dia miliki. 


Namun, pengaruh dari obat yang dia minum membuatnya tidak bisa menahan rasa kantuk yang hadir sedari tadi. Sekuat tenaga dia menahannya, tapi rasa kantuk itu masih tetap saja mampu mengalahkannya.


Kini Velicia tertidur bukan karena keinginannya, melainkan karena pengaruh dari obat yang diminumnya.


Ferdi tidak bisa tidur. Dia memikirkan banyak hal yang baru saja dia hadapi. Dirinya merasa jika hari ini merupakan hari sialnya.


Semuanya datang bertubi-tubi sehingga dia tidak bisa mencari solusinya. Bahkan dia tidak bisa membela dirinya sendiri.


Apa salahku sehingga tiba-tiba saja aku menjadi tersangka atas semua apa yang terjadi? Hufffttt… malangnya nasibku. Haruskah aku mengaku salah pada Velicia? Ah… bodohnya aku, jika aku meminta maaf dan mengaku salah padanya, dia akan mengira jika aku memang melakukannya.


Ferdi sibuk meratapi nasibnya dan beradu pendapat dalam hatinya dengan dirinya sendiri.


Mata Ferdi tidak hentinya menatap Velicia yang sedang tidur nyenyak dalam pengaruh obat.


Dia sedang berpikir bagaimana caranya membatalkan janji pertemuannya bersama dengan dokter spesialis kandungan itu.


Selama ini dia selalu mau jika diajak oleh Veliica untuk berkonsultasi mengenai keturunan mereka karena dokter tersebut adalah dokter yang sudah sangat lama menangani kasus mereka mulai dari awal mereka memeriksakan diri mereka.


Dan sekarang, dia tidak mengetahui siapa yang akan memeriksanya. Dengan segenap hatinya dia berdoa agar dia bisa terlepas dari kegelisahannya dari dalam hatinya.


Aku harus bagaimana? Apa aku harus jujur saja? Atau mungkin diam saja agar Velicia tidak mengetahuinya? Ferdi berkata dalam hatinya


Pikiran Ferdi melayang jauh hingga membuatnya tidur terlelap tanpa memikirkan kembali semua permasalahan yang melandanya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Velicia terbangun terlebih dahulu. Dia memandang iba pada Ferdi yang tidur di sofa dalam ruangan tersebut.


Mas…Mas… ini juga salahmu. Seandainya kamu tidak berselingkuh dan sikapmu tidak berubah secuek itu padaku, pasti aku akan tetap percaya padamu. Apa salahku Mas? Aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri dan menantu yang baik. Tapi kenapa kamu bisa melakukan ini padaku? Velicia berkata dalam hatinya sambil menatap tubuh suaminya yang masih saja bisa tidur di sofa minimalis ruangan tersebut.


__ADS_2