
Pagi yang cerah menyapa mengawali pergantian hari. Matahari yang bersinar dengan cerah seolah memberi semangat pada semua makhluk di bumi.
Begitu pula dengan Velicia. Sebelum dia berangkat bekerja, dia menjemur pakaian dan tersenyum melihat mentari pagi yang seolah menyapanya dan memberi semangat padanya.
Entah mengapa, malam tadi setelah mendengarkan suara Raymond, tidur Velicia menjadi nyenyak. Tidak seperti beberapa hari ini, dia hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak di setiap malam setelah perpisahannya dengan Raymond kala itu.
Sama halnya dengan Raymond. Dia merasa jika hidupnya sia-sia tanpa adanya Velicia di hidupnya. Sangat besar sekali ternyata pengaruh seorang Velicia dalam hidupnya. Wanita itu bisa memporak porandakan benteng besar dalam kehidupan seorang Raymond.
Raymond yang dulunya seorang laki-laki cuek terhadap wanita dan hanya tertarik pada ilmu pengetahuan dan buku-buku, kini dia merasa tidak bisa hidup tanpa seorang wanita yang bernama Velicia.
Senyumannya, perilakunya dan tutur katanya membuat hidupnya menjadi kacau. Dulu, hari-harinya sangat tenang, meskipun dia sudah menikah dengan Tania. Dalam hidup Raymond, Tania tidak berpengaruh apa-apa. Berbeda dengan Velicia yang bisa membuatnya bersemangat menjalani hari-harinya. Di samping itu, dia juga bisa membuat Raymond menjadi bahagia sekaligus sedih.
Seperti pagi ini, Raymond merasa sangat bersemangat sekali. Dia sudah bisa tidur nyenyak semalam. Dan itu semua berkat suara Velicia yang membuatnya tenang sebelum dia memejamkan matanya untuk beristirahat.
Tania selalu memperhatikan ekspresi dan gerak-gerik suaminya. Dia ingin tahu apa yang membuat suasana hati suaminya berganti-ganti akhir-akhir ini. Terlebih lagi sepulangnya mereka berjalan-jalan di taman dan makan di café. Menurutnya sikap suaminya bertambah aneh sejak saat itu. Dan pagi ini, sikapnya kembali berbeda.
Sepertinya suasana hatinya sedang baik. Dia terlihat sumringah pagi ini, Tania berkata dalam hatinya sambil memakan sandwich nya dan memandang suaminya.
Sepertinya pagi ini dia bersemangat sekali. Ada apa sebenarnya? Tania kembali berkata dalam hatinya.
Raymond merasa jika dia sedang diperhatikan. Tapi dia hanya cuek dan berpura-pura tidak mengetahuinya. Dia meneruskan makannya tanpa terganggu sedikit pun.
“Aku berangkat sekarang,” ucap Raymond setelah meminum kopi buatan istrinya.
“Aku antar,” sahut Tania sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu.
Raymond yang sedang memakai tas di bahunya, kini dia menghentikan gerakannya. Dia menatap wajah istrinya sambil berkata,
“Sebaiknya aku jalan saja agar tubuhku kembali sehat.”
“Kenapa? Apa ada hal yang tidak boleh aku ketahui? Ingat Ray, aku istrimu,” tukas Tania dengan tatapan tajamnya seolah mengancam Raymond.
Raymond menghela nafasnya, dia merasa menjadi tawanan istrinya dan keluarganya selama ini. Dalam hati dia berkata,
Sepertinya aku tidak akan mudah lepas darinya. Bahkan untuk bernafas saja aku memerlukan ijinnya.
__ADS_1
Tania mengambil kunci mobilnya dari dalam tasnya yang diletakkannya di kursi sebelahnya. Kemudian dia berkata,
“Ayo kita berangkat sekarang, sebelum lalu lintas menjadi padat.”
Raymond pun menurut, dia berjalan mengikuti istrinya dan masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil itu Raymond berpura-pura sibuk dengan membaca buku untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan istrinya dan akan berakhir menjadi perdebatan seperti biasanya.
“Nanti akan aku usahakan untuk menjemputmu,” ucap Tania sambil mengemudikan mobilnya.
Raymond mengalihkan perhatiannya dari bukunya pada jalanan yang ada di hadapannya sambil berkata,
“Kamu sibuk. Dan aku tidak mau menjadi beban untukmu.”
Tiba-tiba Tania menghentikan mobilnya secara mendadak. Dan benar sekali apa yang dikhawatirkan oleh Raymond. tania kembali kesal dan mengajaknya berdebat.
“Kenapa kamu seperti terganggu jika bersamaku?” tanya Tania dengan tatapan kesalnya pada suaminya.
“Tidak. Itu hanya perasaanmu saja,” jawab Raymond sambil memasukkan bukunya ke dalam tasnya.
“Tapi kamu selalu-“
Tiiinnn… tiiinnn… tiiinnn…
Suara klakson mobil yang ada di belakang mobil mereka dan suara teriakan dari pengemudinya menghentikan perkataan Tania.
Segeralah Raymond turun dari mobil tersebut meninggalkan istrinya yang masih kesal padanya. Raymond berjalan tanpa menghiraukan klakson mobil yang sedang mengikutinya. Dia yakin jika klakson mobil tersebut dibunyikan oleh istrinya.
Benarlah dugaan Raymond. Kini mobil Tania sudah menghadang jalannya. Mobil tersebut berhenti tepat di depan Raymond sehingga membuat Raymond berhenti berjalan. Beberapa detik kemudian keluarlah Tania dengan berjalan cepat menghampiri Raymond.
Raymond kembali menghela nafasnya berat. Dia melihat kekesalan dan kemarahan dari wajah istrinya. Dia melihat ke arah sekitar yang sudah dekat dengan sekolahnya.
Bahkan dia melihat banyak pasang mata yang melihat ke arahnya. Mereka semua adalah muridnya. Dan Raymond tidak ingin istrinya mempermalukannya di depan orang-orang yang mengenalnya.
“Tania, kita bicarakan lagi di rumah. Sekarang sudah waktunya aku masuk,” ucap Raymond sambil berlari kecil berpapasan dengan istrinya.
Tania hanya melongo melihat apa yang dilakukan Raymond padanya. Dia merasa tidak terima dan tersenyum tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya itu padanya.
__ADS_1
Baru kali ini suaminya itu bersikap seperti itu padanya. Jemari tangannya menyugar rambutnya dengan kesal sambil berkata,
“Lihat saja apa yang akan aku lakukan Ray!”
Di tempat lain, tepatnya di rumah Velicia, Ferdi menatap curiga pada istrinya. Dia meminum kopi buatan istrinya tanpa mengalihkan pandangannya dari istrinya. Dia masih saja bertanya-tanya dalam hatinya tentang siapa yang berbicara melalui telepon dengan istrinya di jam-jam malam seperti kemarin.
Dia ingin sekali bertanya pada istrinya, tapi dia takut jika istrinya kembali marah padanya seperti akhir-akhir ini.
Baru saja kita baikan, masa’ kita harus bertengkar lagi? Lebih baik nanti saja aku tanyakan padanya, Ferdi berkata dalam hatinya.
“Bunda, hari ini kita ke rumah sakit. Nanti aku akan melakukan operasi,” ucap Ferdi setelah menelan makanannya.
“Hah?!” celetuk Velicia yang sedang terkejut mendengar perkataan suaminya.
“Lebih baik Bunda ijin saja hari ini,” ucap Ferdi sambil tersenyum.
Kemudian dia melihat jam yang ada di pergelangan tangan kanannya sambil berkata,
“Sebentar lagikita akan berangkat.”
“Secepat itu?” tanya Velicia dengan refleknya.
Ferdi mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari istrinya yang aneh menurutnya. Kemudian dia berkata,
“Bukannya Bunda menginginkanku agar cepat melakukannya?”
“Emmm… i-iya. Hanya saja aku pikir perlu menentukan harinya terlebih dahulu,” jawab Velicia gugup.
Ferdi tersenyum tipis mendengar jawaban dari istrinya. setelah itu dia beranjak dari duduknya sambil berkata,
“Aku sudah menghubungi secara langsung dokternya dan dia menyuruhku untuk datang pagi ini. Cepatlah, aku tunggu di dalam mobil.”
Tidak ada pilihan lain, Velicia harus menuruti perintah suaminya. Sekarang ini hidupnya terombang-ambing. Dia merasa sudah tidak tahu mana lagi yang baik dan yang buruk.
Sejak dia memiliki hubungan dengan Raymond, dia merasa menjadi wanita jahat yang merebut suami milik perempuan lain yang tidak lain adalah temannya. Dan dia juga telah mengkhianati suaminya.
__ADS_1
Dengan berjalan lemas Velicia menuju mobil suaminya setelah mengunci pintu rumahnya. Di setiap langkahnya dia bertanya-tanya dalam hatinya,
Setelah ini apa yang akan terjadi? Benarkah yang aku lakukan sekarang ini? Dan apakah aku akaan mendapatkan kebahagianku seperti yang aku harapkan selama ini?